
Alexia berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamar, sementara itu Felix berada di bawahnya beralaskan selimut tebal. Bukan karena Alexia yang menyuruhnya, tapi karena permintaan dari Felix sendiri.
Sebagai seorang yang sudah dewasa tentu tidak benar rasanya kalau mereka berdua tidur diatas kasur yang sama, ya meski mereka sudah berteman sejak lama.
Felix takut hal itu membuat Alexia tidak nyaman, lagi pula tempat tidur Alexia tidak begitu luas seperti miliknya yang dulu. Mereka pasti akan berdesakan kalau harus berbagi tempat itu bersama.
"Felix kau sudah tidur? " tanya Alexia merasa bosan karena dirinya tak kunjung mengantuk.
"Belum, ada apa? " Felix menjawab dengan suara seraknya membuat Alexia sedikit merinding mendengarnya.
"Aku tak kunjung mengantuk, bagaimana dengan dirimu? " Alexia bertanya lagi.
"Aku juga, mungkin karna belum terbiasa tidur dilantai. " gurau Felix sambil terkekeh pelan.
"Kau sendiri yang memintanya, jadi jangan salahkan aku, bagaimana dengan lukamu? Apa masih perih? "
"Sudah tidak. "
Keduanya kembali terdiam, membuat suasana kembali sunyi.
"Alexia... "
"Hm... "
"Apa kau ingat pertemuan pertama kita? " Tiba-tiba saja Felix menanyakan hal itu.
"Aku sedikit lupa, mungkin saat kau dan kakekmu datang kerumah kami!? " jawab Alexia merasa ragu.
Felix terdiam sesaat, sebelum kembali menjawab. "Ya, saat itu kau baru berusia dua belas tahun dan masih bermain boneka barbie. "
"Memangnya kenapa? Bahkan orang dewasa pun banyak yang suka bermain barbie. "
"Hei,,, aku tidak mengejek. Hanya mengingat, saat itu kau tampak sangat bahagia dengan senyum indah yang terpancar diwajahmu. "
"Ya, saat itu kedua orang tua ku masih utuh, meski Mama sudah sering jatuh sakit tapi aku bahagia masih bisa melihat mereka berdua didunia ini. Tapi sekarang... " Alexia tercekat tak mampu melanjutkan kata-kata nya, entah kenapa setiap kali ia mengingat tentang Ayah dan Ibunya tiba-tiba saja air matanya ingin keluar begitu saja, membuat dirinya terlihat sangaat cengeng.
"Maaf sudah membuat kamu bersedih, karena kembali teringat kedua orang tuamu. " Felix meletakan dagunya ditepi tempat tidur Alexia.
"Bukan salahmu, keluargaku memang sudah kacau balau sejak Ibuku tiada, ditambah dengan pernikahan Ayah ku yang membuat semuanya jadi semakin buruk saja. " Alexia memiringkan badannya dan menatap wajah Felix ditepi kasurnya.
"Dan sekarang aku sudah tidak punya orang tua lagi, harta juga sudah tidak ada. Jadi aku harus mulai bekerja keras setelah ini. " Alexia berucap sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Apa yang terjadi selama aku pergi beberapa bulan belakangan? " Felix akhirnya bertanya.
"Beatrix mengambil nyaris seluruh harta Ayah bahkan sampai rumah lama kami juga. Kau bisa membalasku sekarang, karena aku sudah jadi wanita miskin. " gurau Alexia, mengingat saat mereka pertama kali bertemu dan Alexia sempat mengejek Felix dengan sebutan miskin karena dia hanya cucu seorang peternak sapi.
Felix terkekeh tidak menyangka Alexia masih mengingat hal itu. "Aku bukan dirimu yang suka mengejek orang lain. "
Keduanya kembali terdiam dengan mata yang masih saling menatap, tiba-tiba Alexia tersenyum kearah Felix membuat pipi pria itu merona seketika.
"Terima kasih Felix. " ucap Alexia tulus.
"Terima kasih untuk apa? " tanya Felix bingung.
"Sudah menjadi temanku selama ini. Kau tahu aku benar-benar merasa lebih baik ketika kau mau mendengar setiap kali aku bercerita tentang masalahku. " Alexia menatap wajah Felix dengan tatapan sendunya. "Aku mungkin telah banyak merepotkan dirimu selama ini, tapi aku berharap kau tidak bosan berteman denganku. "tambahnya lagi.
" Ck,,, kau memang merepotkan, tapi mau bagaimana lagi. Kau hanya mempunyai aku sebagai temanmu. "
"Ya, kau benar aku hanya memiliki dirimu sekarang. Lalu bagaimana jika suatu saat kau juga menjadi milik orang lain? "
"Cepat atau lambat salah satu diantara kita pasti akan memiliki pasangan, dan bila saat itu telah tiba kuharap kita bisa tetap menjadi teman baik. " Alexia menyuarakan isi hatinya sambil memeluk lengan berotot Felix.
Felix terdiam mendengarnya, dirinya bahkan tidak berfikir sampai kesana. Selama ini dia hanya menikmati pertumbuhannya dari remaja sampai dewasa bersama dengan Alexia, tidak pernah terlintas di benaknya untuk mencari wanita lain.
Tapi mungkin Alexia berbeda, bisa saja wanita itu berencana untuk memiliki kekasih dan membiarkan dirinya sendiri. Felix benar-bekar tidak menyukai hal itu, bahkan membayangkannya saja Felix benci.
"Kau berencana untuk mencari kekasih? Atau kau bahkan sudah mempunyai nya?" tanya Felix penasaran.
Alexia menggeleng pelan lalu mengangkat wajahnya agar dapat melihat ekspresi wajah Felix sekarang. Dan dia mendapati Felix yang sedang menatapnya tajam.
"Justru kau yang kukira akan segera memiliki kekasih, ingat saat kita kuliah kau selalu menjadi incaran wanita dikampus! " seru Alexia sambil menatap Felix kesal.
"Kenapa menatap ku begitu, bukan salahku memiliki wajah setampan ini. " Felix berucap penuh percaya diri membuat Alexia semakin kesal dibuatnya.
"Dasar pria narsis, " gerutu Alexia sambil menarik dirinya menjauh dari Felix.
"Hei aku bukannya narsis, tapi faktanya memang begitu. Dan kau wanita paling beruntung karena aku izinkan menyentuh diriku sesukamu. "
Oh ayolah sisi Felix yang begini hanya ia tunjukan dihadapan Allexia saja, dan kalau dia menunjukan pada setiap wanita yang mendekatinya Alexia yakin wanita itu pasti akan ilfeel dibuatnya.
Alexia memutuskan untuk kembali naik ketempat tidurnya, lalu memunggungi Felix dan berusaha untuk tertidur.
Felix tidak mengganggu Alexia lagi, pria itu malah bangkit berdiri lalu keluar dari dalam kamar. Saat diluar Felix segera memantik korek apinya dan menyulut sebatang rokok ditangannya. Meniupkan asap rokoknya diruangan sempit itu.
Setelah beberapa kali menyesap rokoknya, kini Felix mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sesuatu disana, setelah beberapa saat benda pipih itupun berdering.
"..... "
"Aku mengandalkan dirimu Al, jadi jangan sampai kau membuat kesalahan. Lakukan semuanya dengan rapi agar tidak menimbulkan kecurigaan."
"...... "
"Ya dia aman bersamaku, kalau kau berniat mengkhianatiku lagi. Aku jamin kau akan segera mendapati bangkainya didepan rumahmu saat kau terbangun dari tidurmu. "
"..... "
"Kalau tahu aku tidak pernah bercanda bukan!? "
"...... "
"Buang saja bangkainya ketengah laut atau bakar sampai ketulang-tulangnya. "
Felix mematikan sambungan teleponnya lalu mematikan rokoknya dan kembali memasuki kamar Alexia. Sementara itu Alexia tampaknya sudah larut dalam mimpinya, Felix bahkan mendengar dengkuran halus wanita itu.
Felix tersenyum lalu duduk disamping Alexia yang tertidur, jemarinya tergerak untuk merapikan untaian rambut Alexia yang menutupi wajah cantiknya. Wanita itu sepuluh kali lebih cantik saat sedang terlelap seperti sekarang, dan itu membuat Felix jadi tidak bisa tidur dan terus menatap wajah Alexia.
Mungkin besok pagi dia akan merasa pusing serta kantong mata yang menghitam, Felix tidak perduli. Dia bisa tidur dengan puas esok hari saat pulang ke rumahnya, tapi kesempatan melihat Alexia tertidur seperti sekarang tidak akan datang dua kali.
Jemari Felix menyusuri garis wajah Alexia dengan hati-hati, takut membangunkan wanita itu. Telunjuknya berhenti dibibir Alexia yang terbuka, perlahan Felix menelan salivanya. Sungguh dia ingin mendaratkan kecupan pada bibir Alexia.
Ya... Benar seperti yang orang katakan kalau tidak ada pertemanan yang tulus diantara pria dan wanita, lambat laun salah satunya pasti akan mempunyai perasaan lebih dari sekedar teman.
Dan dalam hal ini Felix lah orang yang pertama kali mempunyai perasaan tersebut, tapi dia enggan mengutarakan nya karena takut merusak hubungan mereka. Dan membiarkan dirinya memendam perasaannya sendiri, entah sampai kapan.
...----------------...