Not Just Friends

Not Just Friends
11



Alexia menatap pintu apartemennya dengan tatapan kosong, sudah hampir dua bulan sejak Felix berpamitan dan sampai saat ini pria itu tak kunjung kembali. Bahkan untuk mengirim kabar saja dia jarang melakukannya.


Alexia kesepian, dia butuh teman, dan Felix adalah orangnya. Tapi kini pria itu malah menghilang, mungkin sekarang pria itu sedang sibuk dengan hewan-hewan ternaknya tapi apa susahnya memberinya kabar, paling tidak bertukar pesan barang sekali dalam sehari.


Dengan langkah gontai Alexia kembali memasuki kamarnya, disana ia membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Hari ini wanita itu pulang lebih awal, tapi tidak tahu harus melakukan hal apa lagi untuk mengisi waktu luang nya.


Mungkin jalan-jalan sore terdengar bagus, Alexia kembali bangkit dan memperhatikan penampilannya didepan kaca. Tidak terlalu buruk, meski hanya dengan baju kaos biasa dan celana kain panjang miliknya.


Musim dingin sudah berlalu, jadi Alexia tidak perlu menambah jaket atau mantel tebal lagi saat hendak bepergian keluar rumah.


Suasana jalanan cukup padat, banyak orang yang keluar menikmati cuaca yang lumayan hangat pada sore ini. Anak-anak berlarian, orang dewasa joging dan sebagiannya mengajak hewan peliharaannya untuk jalan-jalan.


Alexia tidak terlalu suka keramaian tapi ia juga bosan sendirian terus. Dan sekarang ia sedang berusaha berbaur dengan pejalan kaki yang lainnya. Tidak seburuk yang ia fikirkan, Orang-orang itu tampak sibuk dengan dunianya sendiri dan membuat Alexia menjadi sedikit rileks.


Ditengah perjalanannya Alexia melihat sebuah food truck sedang terparkir didepannya. Melihat itu jadi mengingatkan Alexia pada kenangan ketika dirinya masih menjadi mahasiswa tahun pertama, dulu Felix yang mengajari Alexia untuk mencoba makanan yang dijual di pinggiran.


Tentu awalnya Alexia menolak, karena takut rasanya akan aneh atau tidak enak karena ia sudah terbiasa memakan makanan yang dimasak oleh chef secara khusus direstoran mahal.


Namun akhirnya Felix berhasil meyakinkan Alexia untuk mencoba sebuah masakan sederhana dari seorang penjual food truck dan rasanya tidak seburuk yang Alexia kira, meski diolah dengan bahan dan peralatan seadanya nyatanya makanan yang mereka buat rasanya cukup enak.


Pada akhirnya Alexia ketagihan dan selalu menyeret Felix untuk makan di pinggir jalan. Sampai suatu ketika Abraham, Ayahnya mendapati Alexia yang sedang memakan sosis goreng dipinggir jalan yang sedang ia lewati. Sebagai seorang pengusaha sukses tentu hal itu membuat Ayahnya malu, dengan sedikit paksaan Alexia digiring memasuki mobil mewah Ayahnya lalu dibawa pulang. Meninggalkan Felix yang saat itu sedang bersamanya.


Alexia tersenyum getir takala teringat kembali dengan kenangan itu. Sekarang dia sudah bisa makan di pinggiran sesukanya dan tidak akan ada yang melarang. Tapi sayangnya sekarang Alexia tidak bernafsu sama sekali, mungkin karena sudah terbiasa melakukannya bersama Felix.


Entah apa yang sedang pria itu lakukan sekarang!? Mungkin sedang memerah susu sapi atau memberi makan para babinya atau bisa saja dia sedang asyik berkuda, mengingat itu kegemarannya sejak remaja.


Alexia jadi semakin merindukan pria itu, tapi apa Felix juga merindukan Alexia? Alexia berharap Felix juga merindukan dirinya sama besarnya. Tidak adil bukan kalau hanya dirinya yang merasa begitu.


"Aku tidak tahu kau suka jalan-jalan. "


Allexia terperanjat kaget mendengar suara bariton di sampingnya. Wanita itu menoleh dan mendapati Sebastian yang sedang menatapnya, pria itu tampak sangat rapi dengan setelan Tuxedo yang di kenakannya.


"Ouh,,, kau membuat diriku terkejut. " ucap Alexia lembut.


Sebastian tersenyum membuat lesung pipinya terlihat jelas.


"Apa kau punya waktu, aku ingin mengajakmu minum kopi sambil mengobrol. Sudah lama kita tidak bertemu. " ajak Sebastian.


Alexia sebenarnya ingin menolak, tapi ia tidak mempunyai alasan yang tepat untuk menolak ajakan Sebastian barusan.


"Baiklah."


Satu kata yang keluar dari mulut Alexia berhasil membuat senyum diwajah pria itu semakin melebar.


Sebastian pun mengajak Alexia memasuki Sport car miliknya. Awalnya Alexia bingung, tapi setelahnya Sebastian menjelaskan kalau dirinya mau mengajak Alexia kekafe favorit pria itu.


Alexia meminta waktu untuk mengganti pakaiannya namun segera ditolak oleh Sebastian, pria itu mengatakan kalau mereka akan menyinggahi kafe biasa dan penampilan Alexia sudah cukup rapi menurutnya.


Perasaan Alexia sudah tidak enak saat mobil yang dikemudikan oleh Sebastian mulai mengarah ke kawasan Upper East Side. Alexia bukannya tidak terbiasa kemari, dulu nyaris setiap akhir pekan ia mengunjungi tempat ini hanya untuk berbelanja.


Tapi kali ini penampilannya yang biasa saja membuat Alexia merasa seperti pengemis diantara orang-orang yang berpakaian rapi disini.


Laju mobil Sebastian mulai melambat dan berhenti tepat didepan sebuah gedung yang tampak ramai.


"Kau mengajakku kemana? " tanya Alexia saat sadar bahwa bangunan tersebut bukanlah cafe seperti yang Sebastian katakan tadi.


Sebastian hanya tersenyum lalu menyeret Alexia untuk turun dari mobilnya dan membawa Alexia memasuki gedung tersebut.


"Sebastian apa yang kau lakukan! " Seru Alexia panik, sekarang dia dapat mendengar suara nyaring musik dj dari dalam gedung serta riuh bunyi tepuk tangan dari orang-orang. Sepertinya didalam sana sedang ada yang mengadakan sebuah party.


Mata Alexia menyipit, merasa tidak enak melihat kelap-kelip lampu disko didalam ruangan itu, sementara itu bunyi nyaring dari musik yang dimainkan seorang dj diatas pentas membuat telinganya sakit.


Sebastian memberi kode pada orang yang berada diatas pentas, lalu musik dj pun berhenti dan lampu kelap kelip mulai dimatikan dan berganti dengan cahaya lampu biasa.


Mata Alexia terbelalak saat melihat siapa saja yang ada di ruangan itu sekarang. Disana sudah berkumpul puluhan teman kuliahnya. Dan mereka semua juga sama terkejutnya mendapati kehadiran Alexia disana, apalagi dengan penampilannya yang sekarang.


"Aaa,,, apaaa ini! " seru Alexia dengan suara bergetar, dia menatap Sebastian meminta jawaban. Akan tetapi pria itu malah melengos pergi membiarkan Alexia kebingungan sendiri.


"Tes... Tes... Tes... "


Keterkejutan Alexia bertambah ketika melihat siapa yang ada diatas pentas sekarang, dengan senyum liciknya Margareth berdiri disana sambil mengenakan gaun mewah sarta riasan cantik diwajahnya, berbanding terbalik dengan Alexia yang mirip seperti kaum jalanan.


"Teman teman mohon perhatiannya! " seru Margareth yang berhasil membuat fokus semua orang tertuju padanya.


"Aku mengucapkan Terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan hadir di acara ulang tahun ku ini. "


"Apa maksudnya ini? Kenapa Sebastian membawaku keacara ulang tahun sibrengsek itu? " batin Alexia cemas.


"Aku senang sekali bisa merayakan hari bahagia ini bersama kalian, tapi aku lebih senang lagi mendapati Kakak tiriku yang juga bersedia hadir, meskipun dengan pakaian lusuhnya. "


Sontak seisi ruangan tertawa mendengar kata-kata terakhir Margareth, wajah Alexia memerah malu mendapat penghinaan barusan dari mantan Adik tirinya.


"Aku juga ingin memberi tahu kalian kalau sekarang dia bukan lagi situan putri dari keluarga Rayan. Dia hanya seorang pegawai biasa yang bekerja dari pagi hingga sore, dan kalian tahu sekarang dia tinggal dimana? " Margaareth menjeda kalimatnya lalu terkikik pelan sambil menatap ekspresi marah Alexia.


"Dia hanya tinggal di sebuah Apartemen sempit, bahkan tidak lebih luas dibandingkan dengan kamar tidurku. Menyedihkan sekali. "


Orang - orang kembali tertawa bersama dengan Margareth, sementara Alexia wanita itu tak mampu melawan bahkan membalas kata-kata Margareth saja dia tidak bisa.


"Kalian ingat betapa sombongnya dia dahulu, dibawah nama Ayahnya dia merendahkan kita semua. Dan khusus malam ini aku persembahkan untuk kalian yang ingin membalas dendam pada wanita murahan itu, kalian bisa menjadikannya boneka malam ini! "


Bersamaan dengan itu dua orang berbadan tegap menghampiri Alexia, keduanya lalu menyeret Alexia ke tengah ruangan. Alexia berontak tapi tak berdaya didalam cengkraman dua pria berotot itu.


Dengan air mata berlinang Alexia diikat pada sebuah tiang, lalu Margareth dan Sebastian datang membagikan ember berisi balon yang sudah diisi air berwarna warni.


"Mari lampiaskan kekesalan kalian pada perempuan sombong itu malam ini! " seru Margareth.


Dan balon balon itupun meluncur kearah Alexia lalu pecah dan membuat noda warna warni pada tubuh dan pakaiannya.


Alexia menangis namun enggan memohon untuk dilepaskan, sekarang dia baru menyadari kalau yang menghadiri pesta ini kebanyakan adalah wanita yang tidak menyukainya semasa kuliah dahulu. Entah karena dia lebih popular, lebih pintar atau karena kedekatannya dengan Felix. Dan pria yang ada disana kalau tidak kekasih dari wanita wanita itu, maka mereka adalah pria yang sempat Alexia tolak cintanya dahulu.


Betapa hebatnya Margareth, dia bisa hafal betul siapa saja yang tidak menyukai Alexia. Dan dengan bodohnya Alexia malah terjebak dalam permainan wanita itu.


Manusia - manusia tak berakal itu terus menyerbu tubuh Alexia dengan lembaparan balon air, membuat Alexia kepayahan mengambil nafas. Mereka tertawa terbahak menyaksikan betapa menderitanya Alexia sekarang.


"Ouh... Lihat betapa menyedihkan nya dirimu sekarang. Kau seperti seekor itik buruk rupa yang dikelilingi oleh angsa yang menawan! " seru Margareth sambil mengarahkan kamera ponselnya kepada Alexia yang tampak kacau.


Margareth menyuruh sang dj kembali memainkan musiknya, ruangan itupun langsung ramai oleh terikan serta tawa kencang dari mereka yang menikmati acara itu. Semua orang mulai menari sambil melempar beberapa balon air kewajah Alexia, beberapa dari mereka bahkan sampai melayangkan gamparan kewajah wanita itu.


Sementara Alexia masih tidak berdaya. Dalam hatinya bersumpah akan membalas semua yang sudah Margareth lakukan pada dirinya, wanita itu harus mendapatkan balasan atas perbuatannya.


...----------------...