
Alexia membuka mata perlahan berusaha menyesuaikan penglihatan nya yang silau. Alexia melihat ke sekeliling kamarnya yang sudah tampak rapi seperti seseorang telah membersihkan nya . Gorden jendelanya bahkan sudah tersibak membuat cahaya matahari mulai memasuki kamarnya.
Diluar tampak tumpukan salju putih menggunung disemua tempat.
Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul Alexia bangkit dari tempat tidurnya. Saat dia membuka pintu kamar Alexia dapat melihat Felix yang sedang memunggungginya, pria itu tampak sibuk menata makanan diatas meja makan.
"Hhooaammm... Kau memasak? " tanya Alexia sambil menguap lebar didepan Felix.
Sepotong daging langsung masuk kedalam mulut Alexia yang terbuka lebar membuat wanita itu terkejut. Sementara itu Felix tampak tersenyum jahil sambil memegang garpu ditangannya.
"Aku tidak bisa memasak, apa kau lupa? " Felix menjawab sambil mendudukan Alexia ke kursinya.
Alexia mengunyah daging di mulutnya dengan kesal, tapi tidak berselang lama karena ia menyadari sesuatu. Felix sudah berganti pakaian, dia tidak memakai kaos yang terkena noda darah tadi malam lagi.
Dimana dia mendapat pakaian?
"Aku meminta seseorang untuk mengantarkan bajuku tadi pagi, dan juga sarapan untuk kita. " ucap Felix sebelum Alexia bertanya.
Alexia hanya mengangguk, lalu mengambil garpunya sendiri dan memulai sarapan. Astaga, dia bahkan belum berkumur dan membasuh wajahnya, tapi tidak masalah Alexia sudah sering melakukannya saat ia bagun kesiangan waktu dirinya masih sekolah dulu.
"Apa kau sudah mempunyai pekerjaan tetap? " tanya Felix dan Alexia memberikan jawaban dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah mengirim lamaran ke beberapa perusahan, tapi belum mendapat satupun panggilan dari mereka. "
"Kau mau bekerja? " Felix kembali bertanya.
"Tentu, tapi jangan kau tawari aku untuk bekerja di peternakan Kakekmu, aku masih trauma ditendang kuda disana. " sahut Alexia cepat.
Felix tertawa pelan, ia teringat kembali akan kejadian itu. Dulu saat mereka remaja Felix berniat mengajak Alexia berkuda saat gadis itu mengunjunginya di peternakan.
Alexia yang saat itu tidak sabaran ingin segera menunggangi kudanya tanpa menunggu Felix datang, dan alhasil perempuan itu mendapat tendangan yang cukup kuat dari kaki belakang kuda yang ingin ia naiki.
Saat itu Alexia mengalami retak pada pergelangan tangannya. Alexia terus menagis dan membuat Felix merasa bersalah, meskipun itu semua bukan salahnya karena Felix sudah memperingati Alexia sebelumnya, tapi sikap keras kepala wanita itu sendiri yang akhirnya membuat dia celaka.
Meski itu semua murni salah Alexia Felix tetap marah pada dirinya karena sudah lalai, padahal ia tahu sendiri Alexia adalah gadis berkepala batu dan pembangkang mana mungkin Alexia mau mendengarkan peringatan dari Felix.
Ditengah kemarahannya Felix bahkan tega mengeksekusi kuda yang telah membuat Alexia cidera. Hewan yang malang, tapi begitulah Felix yang sebenarnya, dia tidak pernah ragu untuk memusnahkan apa saja yang membuat dirinya marah.
"Tentu saja aku tidak akan menawari pekerjaan di peternakkan padamu yang berlatar belakang tuan Putri, bisa-bisa kau menguteki kuku sapi-sapi yang ada disana. " ejek Felix, karena dulu mereka sempat terkejut melihat semua kuku sapi yang sudah berwarna merah muda karena dicat oleh Alexia.
Alexia tertawa saat kembali mengingat ekspresi kesal Mike kakek Felix, saat melihat sapi-sapi perahnya yang sudah didandani. Alexia bahkan mengukir alis diwajah sapi itu menggunakan arang sisa kayu yang mereka bakar.
"Aku jadi rindu peternakan Kakekmu, apa kita bisa kesana saat musim panas nanti? " tanya Alexia.
"Kau boleh mengunjungi tempat itu sesukamu dan kapanpun kau mau. Asalkan jangan berbuat onar dan mengganggu hewan yang ada disana. " Felix menjawab sambil tersenyum.
"Aku tidak akan berbuat aneh-aneh lagi, sekarang aku sudah dewasa. Aku hanya rindu saat kita bertaruh siapa yang bisa memerah susu sapi lebih banyak, dan yang kalah mendapat hukuman membersihkan kotoran kuda. "
"Dan kau selalu kalah, tapi tidak pernah mau melaksanakan hukuman mu. Dasar curang! " Felix ikut mengenang masa-masa itu bersama dengan Alexia.
"Apa lukamu sudah dibersihkan pagi ini? " tanya Alexia pada Felix yang sudah duduk santai disofa sambil menyalakan televisi.
"Belum, kau mau membersihkannya untukku. " Felix hanya bergurau namun jawaban tidak terduga Alexia berhasil mengejutkannya.
"Ya, tunggu aku selesai mencuci piring. " jawab Alexia sembari mencuci peralatan makan mereka tadi.
Wajah Felix kembali merona membayangkan Alexia kembali menyentuh tubuhnya, walaupun hanya untuk membersihkan dan mengganti perban lukanya.
Alexia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari yang Felix duga, kini wanita itu sudah datang dengan kotak P3K ditangannya. Dan tanpa ragu Alexia menyibak baju yang Felix kenakan sampai sebatas dada pria itu.
Jantung Felix berdegup kencang merasakan helaan nafas Alexia didadanya, wanita itu begitu dekat dengannya.
Apa Alexia berniat menggoda iman Felix? Kalau benar begitu maka ia berhasil dengan sempurna. Kini Fikiran pria itu sudah dipenuhi dengan hal-hal nakal, membayangkan kalau sekarang mereka tengah melakukan hal yang berbau dewasa.
Diusianya yang sekarang Felix tidak munafik kalau dia memiliki nafsu untuk menyentuh Alexia lebih jauh, meski ia harus mengurungkan niat nakalnya itu karena mengingat status mereka yang hanya sebagai teman.
Disaat Felix tengah larut dalam pikirannya kini Alexia sudah selesai dengan pekerjaannya. Alexia menarik turun kembali kaos yang dikenakan pria itu membuat Felix tersadar, pria itu berdeham untuk menutupi kegugupan nya.
"Felix... " ucap Alexia menggantung menyadari ada tonjolan besar dibalik celana pria itu.
Alexia tentu tahu benda apa itu, tentu bukan bisul ataupun dompet dan barang lainnya. Jelas kalau itu adalah kejantanan Felix yang sudah tegang. Meski itu hal yang normal, tetap saja Alexia merasa tidak enak apa lagi kalau benda imut itu ternyata terbangun karena ulahnya.
Felix segera bangkit dari duduknya lalu memunggungi Alexia dengan perasaan malu. Sial,,, sekarang dia sudah tidak punya muka untuk berhadapan dengan Alexia.
"Tidak apa, itu normal. " Alexia berucap dengan ragu.
"Ya, itu normal. Tapi maafkan aku yang sudah menunjukan hal itu kepadamu, kau pasti terkejut karena pertama kali melihatnya. " jawab Felix dengan wajah semerah tomat menahan malu.
"Ah tidak juga, dulu teman sekelasku sering tegang begitu saat kami berdekatan. " Alexia tidak menyadari kalau ucapannya barusan berhasil menyulut amarah pria itu. .
"Apa! Jadi kau sering melihatnya? Apa mereka juga menunjukannya secara langsung? "tanya Felix dengan perasaan tidak enak.
Membayangkan Alexia sudah melakukan hal itu dengan pria lain benar-benar bisa membuat dirinya gila. Dia tidak akan rela, dan mencari siapa pria yang sudah merusak Alexia_nya.
" Tentu saja tidak! Tapi kalau tidak sengaja melihat aku pernah. Saat itu kita masih menjadi mahasiswa baru dan aku tidak sengaja melihat senior kita melakukan itu disudut perpustakaan. "jelas Alexia secara rinci.
" Apa! kau sudah pernah melihat Pria dan Wanita bersetubuh secara langsung!?"
"Bukan Pria dan wanita, tapi Pria dengan Pria. Karena itu lah aku bisa melihat benda itu dengan jelas, karena punya pasangan yang ditusuk tergantung jelas dimuka kalau yang satunya aku tidak lihat. "
Felix merasa mual mendengar penjelasan menjijikan itu. Sebagai seorang pria normal dia merasa jijik kepada kaumnya yang memiliki orientasi seksual menyimpang seperti itu.
"Lain kali kalau kau bertemu yang seperti itu lagi cepat pergi atau alihkan pandanganmu, jangan malah menontonnya." Felix memperingati Alexia sambil menahan mual di perutnya.
Alexia hanya mengangkat bahu acuh, dia tentu tidak akan mengindahkan larangan Felix barusan. Menurut Alexia tidak masalah selagi bukan dirinya yang berbuat, kalau hanya sekedar menonton anggap saja sebagai pengalaman.
...----------------...