
NEW YORK_****AS****
Alexia melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman dengan mata sembab sehabis menangis. Sudah lebih dari tiga jam dia menangis diatas makam Ayahnya.
Padahal hari ini adalah hari bahagianya, wanita itu baru saja menyelesaikan kuliahnya dan mendapat gelar yang ia mau. Akan tetapi itu semua tetap terasa kurang karena ketidak hadiran sang Ayah diacara berharganya.
Alexia tiba dirumah mereka dengan keadaan setengah basah, karena tadi dia memutuskan untuk berjalan kaki dan sempat diguyur hujan.
Jejak basah dan tanah dari langkah kaki Alexia mengotori lantai marmer putih yang tampak bersih mengkilap.
"Alexia... Apa kau sudah gila! Kau membuat rumah kami kotor! " seru Margareth, Adik tiri Alexia.
Alexia yang saat itu sudah berada didepan pintu kamarnya membalikan badan dan menatap Margareth dingin. Dia sedang malas beradu mulut dengan hama seperti Margareth, tapi mendiamkannya juga bukan pilihan yang bagus, nanti dirinya merasa menang dari Alexia.
"Rumah kami? Apa kau ingin berperan sebagai saudara tiri Cinderella yang menguasai rumah tuan putri saat Ayahnya tiada. " sahut Alexia dengan tatapan jijik kearah Margareth.
Sebenarnya dia masih bingung kenapa Margareth dan Beatrix Ibu tirinya masih berada dirumah ini, walau Ayahnya sudah tiada. Padahal keduanya tidak mempunyai hak sama sekali.
Dengan angkuh Margareth melipat kedua tangannya didepan dada, wanita yang lebih muda dua tahun dari Alexia itu tersenyum miring, seolah mengejek Alexia.
"Jadi kau menyebut dirimu tuan Putri... Silahkan menyombongkan diri sesukamu, karena setelah ini kau tak akan bisa berkata apa-apa lagi. "
Kening Alexia mengerut bingung, dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Margareth barusan. Apalagi wanita itu segera pergi setelah ia mengatakan hal itu.
Tapi peduli setan dengan Margareth. Sekarang Alexia benar-benar lelah dan perlu istirahat.
Alexia segera membuka pintu kamarnya, wanita itu lalu membawa tubuh kotornya dan langsung berbaring ditempat tidur. Alexia tidak perduli dengan kasurnya yang ikut basah sekarang, lagi pula dia tidak berniat untuk tidur disini malam ini.
Memang semenjak Ayahnya meninggal dua bulan yang lalu, Alexia jadi jarang menginap di rumahnya sendiri. Dan membuat Ibu serta Adik tirinya tinggal disana, seperti mereka yang memiliki rumah itu.
Alexia hanya akan datang apabila dia merindukan sosok kedua orang tuannya , mengenang kembali memori indah mereka saat keduanya masih hidup dan mengurus Alexia bersama-sama.
Tok..
Tok...
Tok...
Saat kedua matanya hendak terpejam tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk diluar pintu kamarnya, dengan berat hati Alexia membawa tubuhnya untuk bangkit.
"Ada apa? " tanya Alexia pada pelayan yang berdiri dihadapan nya sekarang.
Pelayan wanita itu membungkuk dihadapan Alexia lalu mengatakan tujuannya mendatangi Alexia.
"Maaf mengganggu waktu Anda, tapi Nyonya meminta Anda untuk segera menemuinya diruang kerja Tuan. " jelas pelayan itu tak enak hati.
Sementara itu Alexia tampak marah mengetahui kalau Ibu tirinya itu memakai ruang kerja Ayahnya.
"Siapa yang memberi wanita itu izin untuk memasuki ruang kerja Ayahku! " seru Alexia tidak terima.
"Saya tidak tahu Nona, tapi disana juga ada Tuan Gery, pengacara pribadi Tuan Abraham. "
"Yasudah suruh mereka menunggu. " Alexia kembali masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
...****************...
Bbrraakkk....
Alexia menggebrak meja dengan murka, matanya menatap nyalang satu persatu orang yang berada di ruangan itu sekarang. Terutama pada Gery, pria paruh baya yang baru saja membacakan pembagian warisan dari almarhum Ayah Alexia.
Bagaimana mungkin sebagai anak tunggal Alexia hanya mendapat hanya secuil dari jumlah harta kekayaan Ayahnya, dan Beatrix Ibu tirinya mendapat nyaris seluruh harta kekayaan Ayahnya.
Alexia bukanlah anak yang di buang serta dibenci oleh Ayahnya, dia adalah anak gadis kesayangan pria itu. Mana mungkin Ayahnya tega memberinya sedikit saja dari jumlah kekayaannya. Apa lagi di dalam surat wasiatnya Ayahnya mewariskan rumah mereka kepada Margareth. Sangat tidak masuk akal.
Alexia sangat tidak terima kalau dia harus merelakan rumah yang mempunyai seribu kenangan manis dirinya dan kedua orang tuanya itu jatuh ke tangan orang lain.
"Mengamuk lah sesukamu, walau itu akan sia-sia karena kau tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi." ucap Beatrix dengan senyum kemenangan menghiasi parasnya.
"Ini tidak benar, surat wasiat itu pasti bohong! mana mungkin Ayah menulis surat yang isinya begitu, " tolak Alexia masih tidak percaya.
"Saya sendiri yang menemani Tuan Abraham saat beliau membuat surat itu, jadi dapat dipastikan kalau isi dari surat itu bukanlah hasil rekayasa, " ucap Gery meyakinkan.
Alexia menggeleng tidak percaya, apanya yang tidak direkayasa semua isi surat itu jelas mengada-ada.
"Aku akan bermurah hati padamu. Kuberi kau waktu sampai besok pagi untuk mengemasi semua barang-barang milik mu. Lalu setelah itu, pergi dari rumah ini! " seru Beatrix lalu pergi meninggalkan Alexia yang masih meradang, dan Gery ikut pergi juga setelah itu.
"DASAR PEREMPUAN TIDAK TAHU MALU! " teriak Alexia marah, lalu membanting barang-barang yang ada dihadapannya.
Tidak mungkin! Bisa-bisanya dua orang asing itu merenggut begitu banyak hal darinya.
Alexia benar-benar marah pada dirinya sendiri, kenapa dulu dia tidak berusaha lebih keras untuk menggagalkan pernikahan Ayahnya dengan Beatrix dan kini ia hanya dapat menyesali itu semua.
...****************...
Alexia kembali ke apartemen yang sering ia tempati untuk mengemas barang-barang miliknya, karena sekarang tempat itu juga bukan miliknya lagi.
Padahal dulu Ayahnya memberikan apartemen ini sebagai hadiah saat Alexia pertama kali masuk Universitas, dan sekarang Alexia kembali kehilangan tempat tinggalnya untuk yang kedua kalinya.
"Pelacur murahan! " gerutu Alexia sembari menyeret dua koper besarnya keluar dari apartemen itu.
Beruntung masih tersisa beberapa aset milik orang tuanya yang tercatat atas nama Ibunya. Harta itu saja yang jatuh ke tangan Alexia, meskipun jumlahnya tidak seberapa dengan yang sudah Beatrix dan Margareth curi darinya.
Walau begitu Alexia tetap bersyukur karena masih mempunyai pegangan uang untuk dirinya bertahan hidup sementara ia belum bekerja.
Alexia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia bisa sukses meski tanpa warisan dari Ayahnya, dan ia mampu hidup dengan layak bahkan menyaingi dua wanita ular itu dengan usahanya sendiri.
Tidak dengan cara kotor seperti yang Beatrix lakukan!
Orang tuanya harus bangga dialam sana karena melihat putri semata wayang mereka yang bisa bertahan dengan kemampuannya sendiri.
"Ya, mulai sekarang aku harus bekerja keras, akan kubuktikan aku bisa sukses dengan usahaku sendiri. Lihat saja nanti Beatrix sialan aku akan meludah di mukamu saat aku sudah berhasil melampauimu." Alexia bermolog sambil merapikan kamar apartemennya yang baru.
...----------------...