Not Just Friends

Not Just Friends
05



Alexia berdiri dengan setelan kantornya dihadapan sebuah gedung pencakar langit yang tingginya sampai melewati awan. wajar saja karena gedung itu memiliki tingkat sebanyak enam puluh tiga lantai.


Didepan bagunan itu terpampang logo kepala serigala yang terbuat dari perunggu serga huruf R kapital dibelakangnya yang terbuat dari emas.


Rudolpho Company, perusahaan asing asal Italia yang membuka banyak cabang di kota-kota maju lainya. Perusahaan yang terfokus pada bisnis real estate itu sudah beroperasi lebih dari dua puluh tahun di New York, namun tenar baru beberapa tahun belakangan.


Rudolpho Company berhasil menyalip para rivalnya dalam dunia bisnis, setelah hampir dua dekade tertinggal jauh oleh perusahaan raksasa lainnya.


Perkembangan pesat perusahaan itu diisukan karena kematian sipendiri perusahaan Valentino Rudolpho yang langsung digantikan oleh penerusnya yang lebih mahir dalam hal bisnis. Orang-orang biasa memanggilnya Mr. Xaverio Rudolpho, cucu dari Valentino. Meski masih terbilang muda sosok Mr. Xaverio berhasil membawa perusahaan keluarganya kemasa kejayaan.


Hingga saat ini, Alexia masih belum percaya bisa bergabung dengan perusahaan besar itu sebagai karyawan di sana.


Dia harus berterima kasih kepada Felix karena telah menyarankan dia melamar ke perusahaan tersebut, meskipun awalnya dia ragu, sekarang Alexia berterima kasih atas keputusannya untuk mengikuti saran Felix dan berjanji akan mentraktir pria itu ketika dia mendapatkan gaji pertamanya nanti.


Alexia mulai memasuki gedung sambil tersenyum gembira pada karyawan lainnya, dia naik lift untuk menuju lantai sepuluh, tepatnya kantor divisi pemasaran. Karena Alexia bertugas memasarkan gedung perkantoran, toko bahkan bangunan perumahan dan apartemen di sana.


"Buongiorno bellezza..." Sapa Luca, teman kantor Alexia yang juga pengawai baru sama seperti dirinya.


Pria berdarah Italia itu kerap menyapa Alexia menggunakan bahasa dari negara asalnya, dan tak jarang Alexia dibuat bingung olehnya.


"Kamu tidak balik menyapaku! " seru Luca mendapati Alexia yang hanya melewatinya tanpa mengatakan apapun.


"Memangnya apa yang kau katakan barusan? " tanya Alexia sambil merapikan barang bawaan nya diatas meja kerjanya.


"Aku barusan menyapa dirimu, tapi kau tidak membalasnya. "


"Salah sendiri kenapa kau tidak memakai bahasa yang bisa ku pahami. "


Luca lalu pergi dengan wajah ditekuk mendapat respon biasa saja dari Alexia. Dan wanita itu kini sudah mulai menghidupkan komputernya dan mulai bekerja, sebagai karyawan magang dirinya harus terlihat rajin bukan.


"Good morning Alexia. " sapa Bianca senior Alexia yang cukup ramah, usianya hanya setahun lebih tua dari Alexia.


"Morning Bianca. " jawab Alexia tak kalah ramah. Sejauh ini hanya Bianca dan Liam yang bisa ia sebut sebagai teman kerja, dan yang lainnya hanya sebatas rekan kerja.


"Kau serius sekali, padahal hari masih pagi sebaiknya kita membeli kopi dulu. " ajak Bianca yang langsung ditolak dengan halus oleh Alexia. Dia beralasan ada beberapa pekerjaan nya kemarin yang belum beres, dan ingin mengerjakannya sekarang.


"Baiklah...Baiklah... Hati-hati jangan sampai kau menjadi orang yang workaholic. Karena kita juga manusia bukan robot. " Alexia hanya mengangguk mendengar saran dari Bianca.


Sebenarnya Alexia juga bukan sosok yang gila kerja, tapi dia tidak mau jadi bahan gosip para seniornya di kantor kalau dirinya bersantai sementara statusnya masih karyawan magang. Dan Alexia juga mengincar kontrak sebagai pegawai tetap di perusahaan besar itu.


...****************...


Jam makan siang sudah tiba. Alexia merenggangkan ototnya yang mulai kaku karena nyaris setengah hari ia duduk didepan layar komputetnya.


"Mau ke kantin. " Ajak Bianca yang langsung di iyakan oleh Alexia.


Alexia pergi ke kantin tidak hanya berdua dengan Bianca karena Luca yang juga ikut mengekor dibelakang mereka. Entah kenapa sejak dirinya mulai masuk bekerja Luca belum jugaa mendapat satupun teman yang juga pria, dan dia hanya bergaul dengan Bianca dan juga Alexia yang wanita.


Bahkan ada yang menyebar rumor kalau Luca itu banci tapi untungnya tidak ditanggapi oleh pria itu, dia mengatakan terserah orang lain mau membicarakan dirinya bagaimana.


"Kau carikan tempat duduk untuk kita, biar aku dan Luca yang mengambilkan makanan untumu. " Bianca berucap sambil menyuruh Alexia pergi mencari meja untuk mereka bertiga.


Karena melihat antrean mengambil makanan yang cukup panjang Alexia pun memilih pergi untuk mencari meja saja.


Setelah mendapat satu meja kosong kini Alexia duduk menunggu Bianca dan Luca datang membawa makanannya. Beberapa saat kemudian dua orang itu pun datang.


"Ah,,, hari ini tidak ada makanan Itali aku jadi kurang berselera! " seru Luca sambil meletakan piring Alexia didepannya.


"Kalau kau ingin memakan masakan Italia terus, kembali saja ke negara asalmu bocah." sahut Bianca tidak ramah.


"Kau selalu marah dengan apapun yang kulakukan, sebenarnya apa masalahmu wanita tua. " balas Luca tak mau kalah.


Perdebatan itu akan terus berlanjut jika tidak segera dihentikan, dan Alexia sebagai orang yang netral berusaha menengahi keduanya.


"Sudahlah, apa kalian tidak lapar? Daripada beradu mulut lebih baik kalian makan. " ucap Alexia.


"Entahlah Lex... aku merasa ada yang aneh dengan wanita itu, sejak pertama kali aku bekerja disini dia selalu memusuhiku. " adu Luca.


"Jangan memanggil nama ku begitu Luca, itu terdengar seperti nama pria. " protes Alexia tidak terima.


"Lihat. Kau bahkan baru mengucapkan beberapa patah kata dan Alexia sudah dibuat marah olehmu, dan kau masih bingung kenapa aku terus memarahimu. " celetuk Bianca yang membuat Luca merenggut kesal.


"Jangan mulai lagi. " ucap Alexia cepat, menghentikan Luca yang sudah akan kembali bersuara dan memulai perdebatan lagi.


Luca pun menurut dan memulai makan siangnya, walau sesekali ia masih melemparkan tatapan tidak sukanya pada Bianca.


Saat sedang fokus menyantap makan siang mereka salah seorang karyawan dibelakang mereka bersuara. "Aku jadi penasaran bagaimana rupa Boss kita yang sebenarnya, untuk ukuran pengusaha besar fotonya sangat sulit untuk didapat. "


"Aku juga, menurut rumor yang beredar Mr. Xaverio adalah perwujudan dewa yang nyata. Dia tinggi, gagah serta tampan dan kharismatik. " sahut temannya yang lain.


"Ah,,, beruntungnya dia masih single, jadi masih ada harapan. "


"Apa kau tidak punya kaca huh,,, karyawan biasa seperti mu mana mungkin bisa membuat Mr. Xaverio tertarik! "


"Apa salahnya bermimpi, lagi pula kenapa kau marah. Apa kau kekasihnya. "


"Aku hanya menyadarkan orang yang tidak tahu


malu seperti dirimu itu. Buka matamu lebar-lebar wanita sepertimu mana pantas bersanding dengan Mr. Xaverio yang hebat. "


"Cih,,, lalu menurutmu dirimu yang pantas. Pasang dulu kaca dirumahmu dan lihat penampilan dirimu yang seperti *****. "


BRAK...


PRANKK...


"Kau yang ***** sialan! "


"Ah,,, beraninya kau menjambak rambut berharga ku dasar wanita murahan! "


Tiba-tiba dua wanita itu berkelahi dan membuat meja mereka berantakan. Alexia bahkan sempat terkena sup panas yang dilemparkan oleh salah satu wanita itu.


Kekacauan tidak berlangsung lama karena pihak keamanan yang cepat datang dan membawa dua wanita itu pergi.


"Seperti manusia yang tak punya pendidikan. " gerutu Luca sambil membersihkan rambutnya yang terkena lemparan salad.


"Aku sebagai wanita merasa malu melihat tingkah mereka berdua. " komentar Bianca.


Sementara Alexia hanya dapat meringis pelan merasakan panas dikulit tangannya yang terkena kuah sup panas.


"Astaga tanganmu mulai melepuh! " seru Bianca sambil melihat kulit Alxia yang sudah memerah.


Hari yang cukup sial bagi Alexia, dirinya bahakan belum menuntaskan makan siangnya tapi harus terganggu oleh perkelahian dua betina tidak tahu malu. Dan sekarang tangannya lah yang menjadi korban atas kebodohan mereka.


Benar-benar sial!!!


...----------------...