
Dua Bulan Kemudian....
Alexia mulai mengepaki barang-barangnya kedalam koper dan tas besarnya. Tentu, dibantu oleh Felix juga. Pria itu tidak pernah absen menemani wanita itu disaat dia mempersiapkan keberangkatannya. Bahkan Felix juga yang mempersiapkan tempat untuk Alexia tinggal nanti, meskipun Alexia sempat menolak. Felix tetap kukuh dengan kemauannya.
"Yap, semua sudah siap. Ayo kita berangkat! " seru Felix yang baru saja memasukan koper besar Alexia, kedalam bagasi mobil yang akan membawa mereka kebandara.
Alexia menatap bangunan disekitarnya, lalu ikut menyusul Felix masuk kedalam mobil setelahnya, merasa sedikit sedih di hatinya karena harus meninggalkan tanah kelahirannya, tempat yang menyimpan beribu kenangan.
Alexia mendesah pelan, dirinya benar-benar kalah oleh Margareth dan Beatrix. Dua wanita ular itu pasti akan bersorak kegirangan saat tahu Alexia yang memilih mundur dan pergi dari Negara itu.
Mengambil nafas panjang sebelum menghembuskannya, kembali ia menatap pemandangan kota dibalik kaca mobil yang membawa dirinya pergi semakin menjauh dari rumahnya. Sebentar lagi dirinya akan benar-benar meninggalkan tempat ini.
Tak terasa setetes air mata jatuh di pipi Alexia, namun belum sempat mengalir sebuah jari hangat sudah menyekanya terlebih dahulu. Felix. Pria itu menatap Alexia dengan pandangan yang sulit diartikan. Jemari hangatnya mulai menggenggam tangan Alexia, berusaha meyakinkan wanita itu kalau semuanya akan baik-baik saja. Tanpa harus mengatakannya secara lisan.
Alexia membalas genggaman Felix tak kalah erat, wanita itu lalu menatap wajah pria itu dengan haru.
"Terima Kasih. " ucapnya entah untuk yang keberapa kalinya dalam hari ini.
"Kau selalu mengulang kalimat itu seharian ini, aku sungguh tidak tahu harus menjawab apa lagi. Jangan betingkah seolah ini adalah pertemuan terakhir kita. "
"Tidak tahu kenapa aku merasa itu semua belum cukup untuk membalas kebaikanmu selama ini. Aku berhutang banyak padamu, dan entah aku bisa membayarnya atau tidak. "
"Sudahh ku bilang tidak usah fikirkan itu semua. Sekarang kau hanya harus fokus pada dirimu sendiri, buat dirimu bahagia dan jangan fikirkan hal lain. "
"Felix... " Bibir Alexia bergetar menahan tangis, seumur hidupnya selain kedua orang tuanya tak satupun ada orang yang menyayanginya seperti Felix.
Jemari Felix langsung menghapus air mata Alexia yang mengalir di pipinya, untuk yang kesekian kalinya juga wanita itu menagis dihari ini. Dia belum benar-benar sembuh dari lukanya, dan Felix tahu itu.
"Aku akan mengharapkan kunjungan mu nanti. " ucap Alexia sembari mengulas senyum termanisnya.
Felix mengangguk singkat lalu mengusap pucuk kepala Alexia dengan lembut. Dalam benaknya Felix benar-benar tidak rela berpisah kembali dengan Alexia, tapi dengan piawainya ia menutupi perasaannya itu dengan senyum manis di wajahnya.
"Tentu. Akan ku usahakan untuk mengunjungi dirimu sesering yang aku bisa. " jawab Felix pasti.
"Jangan terlalu sering, biaya kesana cukup mahal. Nanti uangmu habis hanya untuk ongkos bolak balik kesana, dan bisa-bisa hewan ternak Kakek mu habis terjual nanti. Dia akan marah dan menyalahkan diriku nantinya. " gurau Akexia.
Andai dia tahu kalau Felix bisa saja pergi ke belahan dunia manapun yang ia mau tanpa memikirkan berapa biaya yang akan dikeluarkannya.
Kini pria itu sudah mengambil kursi Kakeknya dalam bisnis aslinya, setelah sekian lama dibiarkan kosong dan hanya dipantau dari jauh oleh Mike.
William Company. Terlihat seperti perusahaan IT biasa dimata orang lain, namun dibalik itu semua ada sebuah rahasia besar yang belum semua orang tahu. Bahkan Felix juga cukup terkejut saat mengetahuinya.
"Aku akan bekerja lebih giat, agar bisa menghasilkan uang lebih banyak lalu mengunjungi dirimu sesering yang aku bisa. " ucap Felix pada akhirnya.
Alexia tersenyum lalu menyenderkan kepalanya pada lengan kokoh Felix. Entah mengapa berasa didekat pria ini selalu membuat dirinya merasa nyaman dan juga aman.
"Tabung juga uang mu, biar nanti kau tidak melarat saat sudah tua. " nasehat Alexia yang membuat Felix terkekeh geli. Andai dia tahu...
"Ya. Sekarang kau sudah mulai cerewet seperti Nenekku. Oh, apa mungkin itu salah satu tanda penuaan dini. " gurau Felix.
"Jangan asal bicara. Aku berkata begitu untuk kebaikan dirimu sendiri, kau ini... " Alexia mencubit pinggang Felix gemas.
Felix mengaduh kesakitan, tapi wajahnya berseri tampak puas setelah menggoda Alexia dengan kata-kata nya.
...****************...
Felix bersandar dikap mobilnya sambil menatap pesawat yang ditumpangi Alexia mulai mengudara diatas langit kota New York. Pria itu menatap nanar langit malam yang tampak cerah, dia memaki didalam hati. Karena dia meninggalkan Alexia sendirian dan sesuatu yang buruk pun menimpa wanita itu.
"Tuan, bisa kita kembali. Pesawat yang membawa Nona Alexia sudah meninggalkan tempat ini sejak dua puluh menit yang lalu. " ucap Leon karena Felix yang tak kunjung memasuki mobilnya.
Felix mendesah lalu mulai memasuki mobil, dia menyandarkan punggungnya dengan lelah. Ada banyak pekerjaan yang di tanggungnya selama sebulan terakhir, dirinya benar-benar sibuk.
"Apa yang aku minta sudah kau kerjakan? " tanya Felix.
"Sudah Tuan, kita sudah mendapatkan Video itu. Apa kita perlu mempublikasikannya sekarang? " Leon menyahut dari kursi depan di samping sopir yang sedang mengemudi.
" Baik. Yang lainnya sedang kami urus, dan saya yakin anda akan menerima hasilnya kurang dari seminggu sejak hari ini. "
"Kalau bisa lebih cepat lebih baik. "
Leon mengangguk dari tempat duduknya, pria setengah baya itu lalu mengetik sesuatu di ponselnya dengan serius.
Mobil yang ditumpangi mereka mulai berjalan memasuki area kumuh dipinggiran kota, tampak banyak tunawisma di mana-mana. Mereka menemui orang mabuk-mabukan hampir disetiap gang yang mereka lalui.
Laju mobil mulai melambat saat memasuki sebuah gang sempit penuh coretan dimana-mana.
"Tuan anda yakin untuk ikut turun? " Leon terlihat khawatir. Melihat penampilan rapi Tuannya yang sangaat mencolok diantara manusia-manusia kumuh disekitarnya. Dirinya khawatir ada salah satu dari mereka yang memiliki niat jahat saat melihat Felix nantinya.
Felix menegok kearah luar, dilihatnya sebuah pub kecil yang tampak ramai. Kebanyakan adalah pria setengah baya dengan tato di sekujur badan mereka. Mereka tampak tak terurus, sangat kotor seperti tak pernah mandi. Felix bahkan dapat mencium bau tak sedap dari tempatnya sekarang.
"Bukannya itu tujuanku kemari, akan sia-sia perjalan kita kalau aku tidak masuk kesana. "
Felix keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki pub itu dengan di iringi sopir serta Leon dibelakangnya.
Bau tak sedap langsung memasuki rongga hidung Felix saat kakinya mulai menapaki tempat itu. Didalam tampak banyak pria sedang meminum alkohol bahkan sampai menggunakan kokain dengan leluasa, tempat ini memang terkenal dengan sebutan Zona bebas Polisi.
Ditempat itu segala macam kejahatan legal dilakukan, kau bahkan tidak akan ditangkap meskipun sudah membunuh seseorang sekalipun. Kau akan aman sebab tak akan ada yang melaporkan dirimu, semua orang disitu menerapkan hukum rimba. Karena mereka semua benci Polisi.
Tak ada larangan. Tak ada aturan dan. Tak ada juga Hukum. Disini kau kuat, kau berkuasa begitu juga sebaliknya. Jika kau orang yang lemah jangan coba-coba menapakkan kaki kekawasan ini, kecuali kau mau jadi santapan lezat para penguasa dearah situ.
Leon tampak berbicara pada seorang pelayan, lalu mereka digiring memasuki sebuah ruangan khusus dan disuruh menunggu disana.
Ruangan itu sangat buruk. Bau tak sedap serta lantai yang kotor dan lagi kursi kayu yang mereka duduki juga sangat keras, benar-benar tidak nyaman.
"Maafkan saya seharusnya Tuan tidak perlu sampai menginjakan kaki ketempat busuk ini. " Leon berujar merasa tak nyaman melihat Felix yang berada ditempat kotor ini.
"Apa yang kau maksud dengan busuk pak tua! "
Seseorang muncul dibalik pintu. Tampilannya sangat berantakan, pria itu membawa sebotol minuman keras ditangannya. Wajahnya memerah karena mabuk.
Felix merenggut tak suka saat pria itu duduk didepannya, dia mengeluarkan bau yang tak sedap membuat Felix sedikit mual.
"Apa dia orangnya? " tanya Felix sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan. Matanya melirik kearah Leon namun pria itu menggeleng.
"Bukan Tuan!" jawab Leon, lalu pria setengah baya itu mendorong pria tadi agar sedikit menjauh dari Tuannya.
"Malvin kami datang untuk menemui Ayahmu bukan dirimu. Jadi dimana pak tua itu sekarang? " Leon berucap kasar, namun bukannya marah pria bernama Malvin itu malah terkekeh pelan, meneguk minumannya sekali lagi.
"Morgan sialan itu sedang bersetubuh dengan Dessy si ******. Mungkin sebentar lagi dia akan kemari, aku hanya berinisiatif untuk menyambut tamu nya sebelum dia datang. " jelas Malvin sembari terus terkekeh.
"Kau bercanda. Bukannya Dessy itu saudarimu yang artinya putri Morgan sendiri! " seru sopir yang membawa Felix tadi. Tampaknya mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
Malvin mengangkat bahu acuh, lalu pria itu kembali duduk dan meminum lagi alkoholnya, tanpa menghiraukan ekspresi tak suka Leon.
"Lalu kenapa? Toh orang-orang disini juga melakukannya. Aku juga sudah tidur dengan ****** itu beberapa kali. Oh, kalau kalian tidak percaya periksa saja sendiri. Mereka ada dikamar nomer lima. " Malvin berujar sambil mengangkat lima jarinya ke udara.
Felix semakin mual saat membayangkan seorang Ayah yang tengah menggauli putrinya sendiri. Tempat ini benar-benar Neraka yang nyata, karena ada banyak iblis tinggal di dalamnya.
"Oh, kalau kau juga mau boleh saja Rex. Tapi nanti, setelah aku melakukannya terlebih dahulu, aku sudah menunggu giliran sejak sejam yang lalu. "
Sopir yang bernama Rex itu memasang ekspresi jijik mendengar ajakan Malvin barusan. Memangnya pria gila mana yang mau melakukan hal menjijikan itu, menggilir wanita yang sama dengan beberapa pria yang lain.
"Sialan. Jangan meracau disini, cepat panggil Ayahmu sebelum kami ratakan tempat ini! " ancam Leon sembari menodong ujung moncong pintolnya di kening Malvin.
"Wow... Santai bung,,,. Kenapa para orang tua seperti kalian sering mengancam menggunakan senjata. Tidak gentel sekali. " Malvin cemberut lalu beranjak pergi dari sana sambil mengangkat kedua tangannya karena Leon masih menodonginya senjata sampai pria itu benar-benar keluar dari ruangan itu.
...----------------...