Not Just Friends

Not Just Friends
02



Ekspresi marah tergambar jelas diwajah cantik Alexia yang saat ini sedang melihat berita pernikahan Beatrix, mantan Ibu tirinya.


Wanita itu benar-benar gila, bahkan belum genap setahun ia menjanda usai Ayah Alexia meninggal dan kini dia sudah memutuskan untuk kembali menikah. Lebih gilanya lagi pria yang akan menikah dengan Beatrix ternyata adalah Gery. Ya, Gery si pengacara itu.


Membuat semuanya terlihat semakin jelas. Orang-orang busuk itu pasti telah bekerja sama untuk mencuri harta Alexia, dan sialnya mereka malah berhasil. Malang sekali Alexia yang tidak punya cara untuk melawan.


Alexia melemparkan ponsel ditangannya ke lantai penuh emosi, dia bukannya tidak bisa hidup tanpa harta milik Ayahnya, tapi kenyataan kalau selama ini Ayahnya sudah dibodohi oleh Istri dan orang yang dia percayai membuat Alexia lebih mengasihani nasib mendiang Ayahnya itu daripada dirinya sendiri.


"Oh tidak, sekarang aku harus membeli ponsel baru! " seru Alexia saat teringat kalau sekarang dirinya bukan anak orang kaya lagi.


Wanita itu segera memungut serpihan ponsel yang rusak tak berbentuk lalu membuangnya ketempat sampah.


Alexia lalu pergi kedapur untuk memasak makan malam.


Ya, karena kehilangan hak atas rumah lamanya kini Alexia harus tinggal di sebuah Apartemen yang sederhana, karena dia harus menyimpan cukup uang untuk kelangsungan hidupnya nanti.


Dan beruntung nya Alexia menemukan Apartemen ini, ukurannya tidak begitu besar dan hanya memiliki satu kamar, ruang tamu serta dapur yang minimalis, meski tidak begitu luas tapi cukup nyaman untuk ditinggali dan harganya juga tidak terlalu menguras kantong.


Sekarang Alexia tampak sedang fokus membuat beberapa jenis masakan didapur kecilnya, beruntung saat masih remaja dia sempat ikut kursus memasak.


Dan sekarang ia tampak puas dengan hasil masakannya lalu membawanya kemeja makan.


Karena bosan makan dalam keadaan sunyi Alexia memutuskan untuk menyalakan televisi diruang tamu dan menonton berita dari tempatnya makan.


"Aish,,, kenapa media sangat gemar mengekspos kehidupan para selebritis, bukannya mereka juga ingin hidup bebas seperti manusia pada umumnya. " gerutu Alexia saat dia melihat salah satu media sedang memberitakan tentang Jane Millia, seorang model terkenal yang tercyduk sedang berkencan dengan kekasihnya.


Tampak sang model merasa tidak nyaman dan sangat terganggu dengan tindakan para paparazi yang berusaha mendapat gambar sang kekasih, mereka bahkan terus dibuntuti sampai keduanya masuk kedalam mobil.


"Jane yang malang, dia pasti sangat tertekan, " ucap Alexia sambil memakan suapan terakhirnya.


...****************...


Alexia melangkah keluar Apartemen nya dengan mantel tebal membalut tubuh indahnya karena sekarang sudah memasuki musim dingin, dan beberapa jalanan bahkan sudah ditutupi es yang membuatnya jadi licin. Tidak banyak orang berlalu lalang dijalanan karena cuacanya yang dingin.


Kalau orang pada umumnya lebih menyukai musing panas daripada musim dingin Alexia adalah kebalikannya, wanita itu lebih menyukai musim dingin karena dirinya tidak perlu kepanasan dan berkeringat.


"Alexia! "


Wanita itu menoleh kearah suara tadi, memastikan kalau benar namanya yang dipanggil orang itu. Dan benar saja dari kejauhan Alexia dapat melihat Felix temannya sedang berjalan kearahnya. pria itu tampak senang berjumpa kembali dengan Alexia, dan begitu juga dengan Alexia.


Felix memeluk singkat tubuh Alexia lalu tersenyum ramah.


"Ku fikir aku salah lihat tadi, tapi ternyata itu benar dirimu. " Felix berucap sambil membenarkan rambut Alexia yang tersapu angin.


"Kau jahat sekali, kau menghilang begitu saja saat dihari kelulusan dan kau bahkan tidak pernah menghubungiku lagi setelah itu. " Alexia meninju perut berotot Felix menyuarakan kekesalannya.


Padahal selama ini hanya pria itu yang bisa memahami dirinya, tapi dia malah menghilang disaat Alexia membutuhkan kehadirannya.


Felix meringis tampak kesakitan membuat Alexia bingung, dia bahkan tidak memukulnya dengan keras dan Felix yang dia kenal tidak akan mudah kesakitan hanya karena dipukul seorang perempuan.


"Kau berlebihan sekali... Oh astaga kau berdarah! " seru Alexia panik melihat jaket putih Felix basah oleh cairan merah. "Apa pukulan ku terlalu keras, maafkan diriku yang sudah melukaimu. "


"Tidak apa, aku memang sempat terluka sedikit. " Felix berujar dengan wajah menggerut menahan perih di lukanya.


"Kau yakin tak apa, kita bisa pergi kerumah sakit kalau perlu, " tawar Alexia melihat Felix yang kesakitan.


"Tidak, mungkin kita hanya perlu mengganti perban nya saja. " tolak Felix dengan yakin.


...****************...


"Kau yakin luka ini karena terjatuh? " tanya Alexia untuk yang kesekian kalinya.


Wanita itu memasangkan kain kasa yang baru pada luka diperut Felix. Lukanya memang tidak begitu panjang tapi Alexia yakin itu cukup dalam, dan luka itu seperti bekas tusukan benda tajam bukan karena terjatuh seperti yang Felix katakan.


"Demi Tuhan. Alexia! Kau sudah menanyakan pertanyaan itu lebih dari sepuluh kali. " Felix berujar pelan sambil menatap wajah cantik Alexia yang sedang membereskan kotak P3K dihadapannya.


"Aku kan hanya bertanya. " Alexia mengerucutkan bibirnya merasa kurang puas dengan jawaban yang Felix berikan.


"Dan aku sudah menjawabnya berulang kali. Apa itu semua belum cukup. " sungguh,,, Felix bukannya marah, pria itu hanya gemas dengan sikap perhatian Alexia padanya.


"Kalau begitu, bagaimana kau bisa se ceroboh itu. Jatuh sampai terluka! " seru Alexia tampak seperti seorang kakak perempuan yang mengomeli Adik laki-lakinya yang nakal.


"Kau ini, aku sedang terluka. Bukannya menghibur kau malah mengomeliku. " rajuk Felix dengan wajah memelas.


"Maafkan aku, dan kemana saja kau selama ini? menghilang begitu saja seperti seorang buron! " cecar Alexia.


Felix memegang dagunya tampak berfikir, namun setelah itu ia lantas tersenyum kearah Alexia dan membuat wanita itu bingung olehnya. Tapi bukannya bertanya, Alexia hanya diam menunggu jawaban itu keluar sendiri dari mulut Felix.


"Aku pergi mengurus peternakkan milik Kakek ku di Kanada, karena Kakek ku yang tiba-tiba jatuh sakit. " jawab Felix sambil menatap wajah Alexia.


Alexia ingin percaya pada jawaban Felix karna kakek Felix memang memiliki peternakan yang cukup besar di Kanada. Tapi ekspresi wajahnya sebelum menjawab membuat Alexia sedikit ragu.


"Kalau jawaban nya sesederhana itu kenapa kau harus berfikir dulu sebelum menjawab. Kau bohong ya.! " tuduh Alexia langsung.


Felix memasang wajah tidak terima mendapat tuduhan langsung dari Alexia. Pemuda itu lalu menjawab. "Kalau kau tidak percaya hubungi saja pak tua itu langsung. Ah,,, aku lupa kalau disana susah untuk mendapatkan signal kau tidak akan bisa menghubungi dirinya, kecuali melalui surat. "


Alexia tentu tidak akan melakukan hal itu, lagipula apa ruginya dia kalau memang Felix berbohong. Pria itu mau kemana itu haknya dan Alexia tidak punya hak sedikitpun untuk mengatur kehidupan nya meskipun mereka berdua berteman begitu dekat.


"Baiklah, sekarang sudah larut malam kau mau ku antarkan pulang? " tanya Alexia sambil bangkit dari duduknya.


"Aku mau menginap boleh!? " Tiba-tiba saja Felix meminta untuk menginap.


Sebenarnya bukan pertama kali bagi Felix menginap di kediaman Alexia, tapi kali ini berbeda, kalaau dirumahnya yang dulu ada banyak kamar untuk pria itu tempati, dan sekarang hanya ada satu kamar dan itu milik Alexia sendiri. Mereka berdua tidak mungkin berbagi kamar bukan!?.


"Sebenarnya aku tidak masalah kau menginap, tapi disini hanya ada satu buah kamar... " ucap Alexia menggantung merasa tidak enak menolak permintaan Felix, tapi ia tidak punya pilihan lain.


"Aku mengerti, aku akan pulang saja. " Felix berucap cepat, membuat Alexia tidak perlu bingung memilih kata-kata.


Meski Felix memahami maksud Alexia, dan berniat untuk pulang, namun nampaknya alam kurang mendukung dengan diberitakannya badai salju yang akan menimpa kota mereka sebentar lagi.


Sebagai teman yang baik mustahil bagi Alexia membiarkan Felix keluar menerjang badai salju, apalagi kini pria itu sedang terluka. Sekarang otaknya berfikir keras bagaimana cara agar pria itu dapat menginap. Membiarkannya tidur diruang tamu tentu bukan pilihan yang baik, bisa-bisa dia terkena demam saat terbangun pagi esok.


"Kita berbagi kamar kalau kau mau... " putus Alexia dengan ragu.


"Hm... Kau yakin? " tanya Felix memastikan. "Aku tidak keberatan tidur disofa kalau kau mau. " tambahnya dengan yakin.


"Tidak... Tidak, kau tidak akan tidur disofa. Kita bisa berbagi tempat dikamar, disini sangat dingin kau bisa demam kalau tidur disini semalaman. " tolak Alexia lalu segera pergi ke kamarnya.


Kalau bukan Felix tentu Alexia tidak akan mau berbagi kamarnya dengan seorang pria. Alexia yakin kalau Felix bukan pria jahat yang akan memanfaatkan situasi untuk berbuat yang tidak-tidak, karena mereka sudah saling mengenal cukup lama.


...----------------...