Not Just Friends

Not Just Friends
07



Berita tentang pembunuhan tempo hari menjadi topik yang sedang panas diperbincangkan dikantor. Alexia bahkan mendapat banyak pertanyaan dari rekannya karena lokasi TKP yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya.


Dan hari ini Alexia mendapat kabar kalau si korban merupakan tetangganya sendiri. Seorang pria berumur tiga puluhan yang bekerja sebagai Polisi, dan rumah pria itu tepat berada satu lantai diatas tempat tinggal Alexia.


Berbagai rumor mulai tersebar, tidak sedikit yang mengatakan kalau pelakunya adalah seorang pembunuh berantai yang akan terus mencari korban berikutnya. Beberapa juga beranggapan kalau itu hanya ulah orang mabuk atau orang gila yang sering berkeliaran disana.


Sementara pelaku belum tertangkap Alexia masih merasa was-was, ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. Apalagi sekarang dirinya lebih sering mendapat tugas lembur dari kantor, dan membuat dirinya harus pulang malam.


"*Bagaimana kalau pelakunya benar seorang pembunuh berantai, dan dirinya sedang mencari mangsa baru... Tidak! Itu sangat mengerikan."


"Apa aku pindah saja ya. Ah tidak uang tabunganku akan habis nanti... Oh Tuhan tolong lindungilah aku dari segala mata bahaya*. "


"Apa yang sedang kau fikirkan? " tanya Luca membuat Alexia tersadar dari lamunan nya. Wanita itu lalu menggeleng pelan.


"Tidak ada, aku hanya sedang pusing dengan tugas yang Mrs. Kim beri. " bohong Alexia yang langsung dipercaya oleh Luca.


Pria berdarah Italia itu langsung mengambil beberapa kertas penting yang ada dimeja Alexia.


"Biar ku bantu. " ucapnya enteng.


"Tidak, itu semua pekerjaanku. Aku tidak mau merepotkan orang lain. " tolak Alexia sambil merebut kembali berkas itu, tapi Luca juga tidak mau mengalah. pria itu menarik kembali berkas itu dari tangan Alexia dengan keras.


"Aku akan membantu dirimu, lagipula aku tidak punya banyak pekerjaan dan aku malas terlihat menganggur. " Luca berucap sambil membawa semua tugas Alexia ditangannya.


"Dia tampak perhatian padamu. " ucap Bianca yang sedang lewat tak jauh dari meja Alexia.


"Padamu juga begitu. " balas Alexia yang membuat wajah Bianca bersemu merah.


"Itu karena sikap kalian yang seperti wanita murahan. " celetuk Freya rekan kerja mereka.


"Murahan, apa kau lupa berkaca? Bukannya murahan itu seperti dirimu yang berani menggoda Mr. Juan agar kau dapat menindas junior disini. " sindir Bianca pedas.


Sementara Alexia lebih memilih untuk diam, dan membiarkan dua seniornya itu beradu mulut. Bukan karena tidak mau membantu temannya Bianca, atau karena takut dengan Freya tapi karena Alexia sadar posisinya yang hanya sebagai karyawan baru disini. Bisa-bisa karir nya langsung tamat apabila dirinya terlibat perkelahian dikantor.


Beruntungnya pertengkaran mereka tak berlangsung lama, karena Freya yang lebih memilih untuk keluar dari sana.


"Aku tidak mengerti, apa semua wanita ditempat ini gemar berkelahi. Apa sebaiknya kita buatkan saja erena khusus untuk siapa saja yang ingin bergulat disana. Itu mungkin bisa jadi hiburan untuk pegawai lainnya. " Antonio rekan kerja mereka bersuara sambil menatap Bianca.


Bianca enggan menanggapi Antonio, karena sudah pasti pria itu berniat untuk membela Freya.


Pria yang menyedihkan, padahal Freya sudah berulang kali menolak dirinya tapi Antonio tetap kukuh dengan perasaannya. Antonio bahkan tanpa ragu terlibat perkelahian antara wanita ketika Freya bertengkar dengan karyawan lainnya.


"Bung, pria tidak ikut campur masalah wanita. Kecuali jika dia banci !" seru Luca dari meja kerja nya.


"Apa kau baru saja mengataiku, bocah magang! " sentak Antonio marah.


"Tidak usah menyinggung status maganngku. Karena aku disini bukan remaja labil yang tunduk akan senioritas."


Astaga kenapa pertengkaran itu malah berlanjut diantara mereka berdua. Dari tempat duduknya tampak Antonio mengepalkan tangannya dengan kuat, sementara Luca masih bersantai sambil sesekali melihat pekerjaannya. Sama sekali tidak terusik dengan aura intimidasi dari Antonio.


"Akan kubuat kau menyesal menginjakan kaki ditempat ini, bocah sombong! "seru Antonio sebelum ia pergi keluar.


...****************...


Alexia mengalikan jumlah uangnya yang tersisa dan harga apartemen yang ditinggalinya saat ini.


" Ah,,, itu terlalu mahal. "dengan wajah murung Alexia menatap nominal uangnya yang tersisa sedikit bila ia jadi membeli sebuah unit apartemen baru.


Apartemen ini bukannya tidak layak atau apa, tapi Alexia merasa kurang aman berada disini dan berniat untuk pindah. Apalagi pelaku pembunuhan itu tak kunjung ditemukan dan bisa saja ia masih berada di sekitar situ.


"Aku harus bagaimana ini! " seru Alexia sambil mengacak rambutnya.


Ditengah kegalauan Alexia tiba-tiba ponselnya bergetar dan dia melihat nama Felix tertera di layar ponsel nya. Alexia segera menjawab panggilan itu.


"Ada apa? " tanya Alexja langsung.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa khawatir padamu. Aku baru melihat berita pembunuhan tetanggamu itu. "


"Ya, kejadiannya benar-benar mengerikan. Tapi tunggu dulu, bukannya dulu kau bilang di peternakan kakekmu susah signal, lalu bagaiman kau bisa menghubungiku sekarang? "


"Aku sedang berada di sebuah perkampungan dan disini signalnya tidak terlalu buruk, lalu bagaimana dengan dirimu disana. Apa kau baik-baik saja? "


"Ya begitulah... Bagaiman dengan Kanada aku sudah lama tidak kesana. "


"Kalau begitu kemarilah gadis pengacau. " itu suara Mike, kakek Felix. Meski sudah lama tidak mendengarnya Alexia tidak mungkin keliru mengenali suara pria tua itu.


"Felix bilang begitu!? "


"Ya, dia bilang dirinya harus menggantikan pekerjaanmu dipeternakkan karena kau sakit. "


"Ah,,, iya kesehatanku memang sedikit menurun belakangan ini. Memang faktor usia jadi tidak heran. "


Dan ya,,, yang awalnya Felix menghubungi Alexia karena ingin berbicara dengannya malah berakhir dengan perbincangan antara Mike dan Alexia. Kakeknya itu enggan memberikan ponsel Felix dan terus mengobrol dengan Alexia walau Felix sudah berulang kali memintanya untuk berhenti.


Lihat, padahal dua orang itu tidak pernah akur dan kerap beradu mulut saat bertemu, tapi kenapa sekarang mereka bersikap seolah mereka sangat akrab.


...****************...


"Bukannya kau bilang tidak suka padanya? " ucap Felix sesaat setelah Mike mematikan sambungan telepon dengan Alexia.


Pria itu tersenyum miring, ia memberikan ponsel itu pada Felix lalu berjalan menjauh dari pub tempat mereka singgah minum tanpa mengatakan apapun.


"Dasar pria tua aneh. " gerutu Felix, dia masih kesal waktunya untuk berbicara dengan Alexia direbut oleh kakeknya sendiri.


Felix ikut keluar dari pub itu lalu berjalan menuju truk mereka, karena kalau dia tidak segera kesana bisa-bisa dia dikerjai lagi oleh Mike. Sudah sering kali terjadi Felix yang ditinggal sendiri oleh Mike dan akan kembali dijemput saat Mike sudah mendapat amukan dari Morena, Istrinya yang juga Nenek dari Felix.


"Felix apa itu kau! " seru seseorang membuat langkah Felix terhenti.


Felix melihat Cassandra teman masa kecilnya waktu ia masih tinggal di Kanada bersama dengan kakek dan neneknya dulu. Cassandra berjalan kearah Felix.


"Senang kembali berjumpa denganmu. " ucap Felix saat jarak mereka sudah tidak terlalu jauh.


"Ya, aku tidak menyangka kita bisa kembali bertemu. Apa kau berniat untuk menetap disini? " tanya Cassandra.


"Kurasa tidak, tapi aku akan sering datang kemari nantinya. "


"Senang mendengarnya, jadi kau akan sering berada di peternakan Tuan Mike. "


Felix menganguk, tampak Cassandra sangat senang mendengarnya.


"Aku ak... "


Saat wanita itu hendak berkata lagi suaranya tiba-tiba tertutup oleh nyaring bunyi klakson dari truk pengangkut sapi milik Mike.


"Cepat naik my little Boy, atau kau ingin bermalam ditempat ini! " seru Mike tanpa menghiraukan ekspresi kesal cucunya.


"Maafkan aku Cassandra, tampaknya kita tidak bisa berbicara lebih lama lagi. Sampai jumpa dilain waktu. "


Felix segera menaiki truk kakeknya dengan wajah masam. Sementara Mike tampak sangat menikmati ekspresi kesal cucu semata wayang nya itu.


"Lain kali jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi. " dengus Felix.


"Kenapa my little Boy, kau tidak terima? bukannya dulu kau sangat gembira dipanggil begitu!? "


"Sekarang aku sudah besar, panggilan anak kecil itu sudah tidak cocok lagi untuk ku! "


"Oh astaga, cucu kesayanganku sudah berani membentak diriku sekarang."


"Ayolah Grandpa,... Tidak perlu berdrama seperti itu. Dan aku juga masih kesal padamu soal telepon tadi. "


"Kenapa? Apa aku tidak boleh berbicara dengan teman wanitamu itu. Padahal aku sudah menganggapnya seperti cucuku sendiri. "


"Bukannya kalian hanya akan bertengkar dan beradu mulut saat bertemu, kenapa malah sok akrab saat ditelepon. "


Mike tidak menjawab dan fokus mengemudikan truknya, mereka akan kembali kepeternakan setelah tadi mengantarkan beberapa ekor sapi kekota. Mike bukannya tidak mempunyai karyawan untuk melakukan tugas itu, tapi ia lebih suka melakukannya sendiri selagi tubuhnya masih mampu.


"Kau ingat saat pertama kali wanita itu datang kepeternakan, dan kekacauan apa yang sudah ia buat! " seru Mike tiba-tiba.


"Hm,,, mungkin saat dia nyaris membakar gudang jeramimu. " tebak Felix dengan tepat.


"Ya, dan itu baru satu dari sekian banyak kekacauan yang dia buat. Tapi kenapa aku tidak pernah mengusir nya dan membiarkan dia kembali berkunjung meski sudah tahu kalau dia hanya akan membuat masalah!? "


"Karena Grandpa dekat dengan Ayahnya. "


"Bukan. Tapi karena cucuku menyukainya. "


Felix terbatuk mendengar jawaban tidak terduga dari kakeknya, ya dia memang menyukai Alexia tapi mendengar orang lain mengetahui perasaannya itu terasa aneh saja, apa lagi dia belum pernah menceritakan nya sama sekali.


...----------------...