
"Kau selalu menutupi kesalahan gadis itu, dan juga membelanya saat sedang dimarahi. Awalnya kukira kau hanya bersikap gentel sebagai seorang pria, tapi lambat laun aku jadi sadar kau sangat menyukai gadis itu. "
Felix terbungkam mendengar rentetan kalimat yang dikeluarkan Kakeknya barusan, dia tidak ingin menyangkal tapi mengakuinya juga belum siap.
"Dan yang lebih parah kau bahkan tega menembak mati Venus kuda kesayangan mu, hanya karena gadis itu cidera karenanya. Dan disitulah titik kelemahan mu. "
"Maksud Grandpa? " Felix bertanya heran.
"Kelak saat kau sudah menjadi orang besar, akan banyak musuh yang berniat menjatuhkan dirimu. Mereka akan menyerangmu dari segala arah. Meski aku yakin kau pasti akan kuat tapi tidak dengan wanita itu. Dia bisa jadi senjata ampuh untuk melumpuhkan dirimu. "
"Tidak seorang pun didunia ini tahu tentang hal itu. Lagipula siapa aku? Aku hanya cucu dari peternak sapi, ya meskipun bisnismu cukup menjanjikan, tapi siapa juga yang mau berbuat hal begitu pada orang seperti kita. "
"Kau yakin!? Baiklah sekarang mungkin tidak, tapi mungkin nanti. Ada banyak hal yang belum kau ketahui didunia ini, dan akupun merasa lebih baik begitu. Sayangnya lambat laun waktunya akan segera tiba. "
"Aku tidak mengerti maksudmu Grandpa? Apa kau sudah mulai gila. " gurau Felix membuat Mike menatapnya kesal.
Pria tua itu lalu memukul pelan kepala Felix, dengan dramatis nya Felix mengaduh kesakitan.
"Aaauu,,, aku akan mengadukanmu pada Grandma lihat saja nanti. " ancam nya.
"Dasar bocah pengadu! "
Mike kembali memukul Felix kali ini lebih keras dan Felix hanya tertawa, berhasil mempernainkan emosi Kakeknya itu.
"Menyetirlah dengan benar pak tua, aku tidak mau mati diusia belia. Kalau kau tentu sudah siap bukan!? " Gurau Felix.
"Bocah sialan, aku juga masih ingin hidup. " Bentak Mike kesal.
"Kalau begitu berhentilah mengomel dan fokus saja menyetir agar kita bisa pulang dengan selamat. "
...****************...
"Kalian sudah kembali. Syukurlah Mike tidak kembali meninggalkan dirimu. " sapa Morena yang sedang menyisir surai kuda kesayangan nya.
"Dia sudah berniat meninggalkan diriku tadi. Apalagi tadi saat didalam truk dia memukul kepalaku berulang kali. " adu Felix pada Morena.
"Mike! " seru Morena yang membuat pria tua itu gelagapan panik.
"Bocah itu berbohong, jangan dengarkan perkataannya babe. " sangkal Mike yang membuat Felix tertawa puas melihat kakeknya yang tampak panik.
Sama seperti dirinya Mike juga tipe yang akan mencintai pasangannya dengan gila-gilaan, pria tua itu bahkan rela melepas pekerjaan nya dan memilih untuk beternak karena menemani hobi Istrinya.
"Dia yang berbohong, marahi saja pak tua itu. Dia bahkan sempat menggoda pegawai pub saat kami sedang singgah tadi. " Felix terus memprovokasi neneknya.
"Babe,,, kau tahu itu semua tidak benar. Sepanjang hidupku tidak pernah aku merayu wanita selain dirimu. "
"Itu benar, suamiku adalah pria yang paling setia jadi jangan memfitnah dirinya begitu! " seru Morena sambil menjewer kuping Felix, membuat Mike tergelak puas melihat ekspresi kesakitan dari cucunya itu.
Felix rupanya salah mengambil kata-kata, seharusnya dia tidak berbohong tentang hal itu karna akan langsung ketahuan. Kalau masalah kesetiaan Mike memang tidak perlu diragukan lagi dan semua orang tahu akan hal itu.
Bagi Mike hanya Morena wanita yang patut untuk dia cintai didunia ini, dia bahkan rela menukar apapun yang dimilikinya kalau itu untuk Morena.
"Rasakan itu Bocah nakal! " ucap Mike puas.
"Ampun... Ampun... Grandpa tolong aku. " Felix berusaha meminta bantuan Mike. Namun Mike malah melengos pergi membiarkan Felix menerima ganjarannya sebagai cucu durhaka.
...****************...
Felix menyaksikan Mike yang sedang memetik gitar sembari bernyanyi untuk Morena, keduanya tampak sangat mesra walau diusia yang sudah tak muda lagi. Hubungan yang diimpikan oleh setiap pasangan dimuka bumi ini.
Setelah Mike menyelesaikan nyanyiannya pria tua itu lalu mengecup kening morena dengan lembut. Felix berdecih, merasa bosan melihat pemandangan itu nyaris sepanjang hidupnya Kakek dan Neneknya selalu menghabiskan banyak waktu untuk bermesraan.
Merasa tidak dianggap keberadaannya Felix pun memutuskan untuk berjalan keluar ruangan itu, ia melihat ke sekeliling area peternakan milik Kakeknya itu.
Dulu dia sering menghabiskan waktu bersama Alexia saat liburan musim panas tiba, nyaris setiap tahun Alexia datang bersama Ayahnya untuk menghabiskan masa liburannya disini.
Selain membuat kekacauan Alexia juga gemar memancing di sungai, meskipun tidak pernah mendapat ikan. Dan dia selalu merebut hasil pancingan Felix dan mengatakan itu hasil pancingan nya. Felix membiarkan hal itu terus terjadi.
Alexia memang selalu berhasil membuat Felix mengalah dalam semua hal, dirinya bahkan rela mengakui kesalahan gadis itu dan mendapat omelan dari Kakek dan Neneknya demi menjaga gadis itu.
...>Flashback on<...
"Felix apa kita bisa pergi memancing sekarang. " ajak Alexia sambil membawa pancingan serta ember ditangannya.
"Nanti setelah aku selesai memberi sapi makan. " jawab Felix. "Kau bisa menungguku di tempat kita biasa memancing. " tambahnya lagi.
"Tidak mau, aku hanya akan pergi bila kau ikut bersama ku. " tolak Alexia sambil bersedekap dada. Alexia dengan kepala batunya memang tak terpisahkan.
"Baiklah, aku akan meminta izin dulu. " pada akhirnya Felix memang harus menuruti kemauan Alexia.
Saat sedang menunggu Felix kembali Alexia merasa bosan, lalu seekor anak babi lewat didepannya. Dan dengan usil Alexia mengejar anak babi itu sambil membawa sebilah kayu ditangannya, menakuti hewan kecil itu agar dia mau terus berlari dan Alexia terus mengejarnya.
Karena terlalu asyik mengejar anak babi itu Alexia tidak sadar kalau sekarang dirinya sudah jauh dari peternakan dan mulai memasuki hutan. Alexia baru tersadar saat tanpa sengaja anak babi yang dikejarnya tadi masuk kedalam lubang berlumpur yang cukup dalam sehingga membuatnya tidak bisa keluar.
"Mati aku... Pak tua itu pasti akan memarahiku habis-habisan setelah ini. " ucap Alexia panik.
Mike pasti menyadari kalau jumlah babinya berkurang walau hanya seekor, dan kalau Alexia kembali tanpa babi itu bisa-bisa ia dilarang untuk kembali kepeternakan untuk selama-lamanya.
Tidak! Alexia tidak mau hal itu terjadi, dia sangat menyukai tempat ini. Jadi dia harus mengeluarkan anak babi itu sekarang juga.
Dengan tergesa-gesa Alexia memasuki lubang itu, saat ia berada didalam anak babi itu memberontak ketakutan ia berputar-putar membuat Alexia pusing.
Setelah beberapa saat Alexia berhasil menenangkan babi kecil itu dan membawanya naik dari dalam lubang yang licin itu dengan susah payah, namun karena kurang hati-hati Alexia membuat lengannya tergores akar kayu yang tajam. Tapi sekarang dia tidak bisa mengeluhkan rasa perihnya itu.
Hari sudah sore kalau Alexia tidak segera pulang sekarang, maka dia tidak akan bisa menemukan jalan pulang karena gelap.
Untungnya Felix sering mengajaknya bermain di hutan sini jadi Alexia tidak akan tersesat, tantangan nya hanyalah waktu. Dia harus segera keluar dari sana sebelum matahari benar-benar tenggelam.
Setelah beberapa menit Alexia berhasil keluar dari hutan dan menemui jalanan kecil menuju peternakan. Sekarang dirinya hanya perlu menyusuri jalanan itu, agar dapat kembali.
Dengan anak babi di gendongannya Alexia berjalan sambil menikmati pemandangan matahari yang akan segera terbenam, tanpa memperdulikan kekacauan yang sudah ia buat.
Sementara itu dilain tempat Felix sedang mencari Alexia dengan panik, remaja itu bahkan menyuruh semua orang ikut mencari Alexia.
Ada banyak kemungkinan buruk yang ada dikepalanya saat ini, antaranya dia takut Alexia hanyut di sungai diterkam serigala atau yang paling tak masuk akal diculik. Memangnya ada penculik ditempat terpencil itu!?
Entah apa yang sedang gadis itu lakukan serang, yang pasti Felix tidak akan tenang sebelum ia dapat melihat wujudnya saat ini.
Matahari sudah benar-benar tenggelam saat Felix menerobos hutan untuk mencari Alexia, dia bahkan tidak menghiraukan larangan Kakek dan Neneknya.
Dibawah cahaya senter yang dia pakai Felix menemukan sebuah lubang dan jejak berlumpur disekitarnya, tanpa berfikir dua kali Felix yakin kalau itu jejak Alexia.
Apa yang sebenarnya gadis itu fikirkan, bagaimana bisa dia terjebak kedalam kubangan. Seperti hewan babi saja.
Felix terus mengikuti jejak berlumpur itu dan bernafas lega setelah melihat jejak itu berakhir di sebuah jalan setapak yang sering mereka lalui, setidaknya Alexia berhasil keluar dari hutan itu sekarang.
Felix segera kembali ke peternakan untuk memastikan Alexia sudah kembali atau belum, dan saat sudah berada disana baru dia dapat bernafas lega.
Dari kejauhan Felix dapat melihat Alexia yang sedang dimarahi oleh Mike dan seekor anak babi di gendongannya.
"Kau tahu perbuatanmu itu membuat cucuku panik bukaan main, dia bahkan nekat menerobos hutan walau hari sudah gelap! " omel Mike dan Alexia hanya dapat menunduk merasa bersalah.
"Grandpa jangan memarahinya lagi. " ucap Felix dan Alexia langsung berlari lalu bersembunyi dibalik badan remaja itu.
"Cih,,, kau senang karena ada pembelamu. Dasar anak nakal, kalau kau berulah lagi aku tidak akan mengizinkan dirimu untuk berlibur kemari lagi. " ancam Mike lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Felix... Maafkan aku sudah membuat kalian khawatir. " pinta Alexia sambil menatap Felix penuh sesal.
"Tidak apa-apa yang terpenting sekarang kau sudah disini. "
Ooiiikkk... Ooiikkk....Oooiikkk
Anak babi di gendongan Alexia berontak.
...----------------...