Not Just Friends

Not Just Friends
12



Sudah tiga hari berlalu seusai kejadian memalukan itu menimpa Alexia, dan sampai saat ini wanita itu masih mengurung dirinya didalam kamar Apartemen nya. Alexia bahkan mengabaikan setiap panggilan dari atasan nya dan dari Bianca, atau juga dari Luca yang mempertanyakan kemana dirinya.


Alexia malu. Tidak! Dia sangat malu. Video dimana ia dipermalukan saat itu diunggah oleh Margareth dan banyak orang menertawakan dirinya, meskipun ada juga yang merasa prihatin dan kasihan.


Tapi tetap saja Alexia merasa malu, dirinya berniat pindah saja dari negara itu dan memulai hidup baru ditempat dimana orang tak mengenal siapa dirinya. Ya, Alexia sudah membulatkan tekadnya untuk pergi saja.


Setelah sebelumnya usaha untuk mengakhiri hidupnya gagal. Karena didetik terakhir Alexia tiba-tiba tersadar kalau tindakannya itu bodoh. Margareth akan tertawa terbahak saat mendapati berita kematiannya nanti, wanita itu akan merasa benar-benar menang karena sudah bisa menghancurkan kehidupan Alexia sedemikian rupa. Apalagi Alexia juga merasa takut akan kematian, bagaimana kalau dia tidak masuk Surga dan malah ditempatkan di Neraka! Bukankah itu sangat mengerikan!?


Seutas tali bahkan masih tergantung rapi diruang tamunya, Alexia terkekeh pelan menyadari kebodohannya tempo hari. Andai dia tidak percaya pegitu saja dengan ucapan Sebastian tentu semua hal buruk itu tak akan menimpa dirinya. Nyatanya dirinya masih saja menjadi wanita bodoh yang tidak bisa apa-apa tanpa bantuan dari Ayahnya.


Dengan langkah pelan Alexia kembali kedalam kamarnya dan mengubur dirinya ditempat tidur. Wanita itu teramat lelah menangisi kesialan dalam kisah hidupnya. Dan sekarang matanya terasa berat, kepalanya juga berdenyut sakit.


Perlahan Alexia merasakan kesadaran nya mulai menghilang, wanita itu tersenyum merasakan sakitnya yang mulai berkurang bersama dengan hilangnya kesadarannya.


Tok...


Tok...


Tok...


Sementara itu diluar Apartemennya Felix datang dan mengetuk pintu dengan tidak sabaran, setelah mengetuk untuk kesekian kalinya Felix pun memutuskan untuk menerobos masuk secara paksa.


Brraaakkk...


Daun pintu itu berhasil dibuka oleh satu tentangan kuat dari Felix, pria itu segera masuk kedalam dengan tergesa-gesa.


Jantungn Felix berdegup kencang mendapati seutas tali menjuntai di ruang tamu. Apa mungkin dia sudah terlambat?


"ALEXIA!!! " teriak Felix dengan nyaring, bahkan nyaris seumur hidupnya dia tidak pernah menyuarakan nama wanita itu sekasar tadi, tapi nyatanya biarpun berteriak senyanring itu tetap tak ada jawaban dari Alexia.


Felix segera melangkah menuju kamar tidur Alexia, karena hanya tempat itu yang tak terjangkau oleh penglihatan matanya. Beruntung nya pintu kamar itu tak dikunci.


Diatas tempat tidurnya tampak sosok Alexia yang sedang terbaring lemah. Felix segera menghampirinya, merasa ada yang aneh dengan tidur wanita itu.


Dan benar saja saat dia menyentuh kening Alexia suhu tubuh wanita itu sangat tinggi, dia sedang demam. Dengan perlahan Felix menggoyang tubuh Alexia berusaha membangunkan Alexia sebisanya.


"Alexia." ucap Felix lembut saat melihat wanita itu mulai membuka matanya.


Alexia mengerjap berfikir kalau sekarang dia sedang berhalusinasi, namun sentuhan hangat tangan milik Felix di pipinya menyedarkan Alexia kalau sekarang dia tidak sedang berada didalam dunia mimpinya.


"Felix... " Alexia berucap lemah sambil menggenggam tangan Felix yang menyentuh pipinya.


"Maafkan aku. " pinta Felix dengan penuh penyesalan.


Alexia tersenyum getir, artinya pria itu sudah tahu tentangnya. Felix memang selalu meminta maaf pada Alexia disaat wanita itu terkena masalah apapun dan dirinya sedang tidak berada di sisinya.


Air mata Alexia mengalir deras, wanita itu pun menangis tersedu merasa marah pada dirinya sendiri yang tidak berdaya saat diperlakukan seburuk itu oleh Margareth.


Felix membawa tubuh Alexia kedalam dekapan nya, ia mengusap pelan kepala Alexia sambil menggumamkan kata maaf untuk yang kesekian kalinya.


Alexia hanya mengangguk sambil mengusap air matanya, biar bagaimanapun pun ini semua bukan salah pria itu. Alexia malah bersyukur Felix datang menemui nya, setidaknya sekarang dia punya seseorang yang akan mendengarkan keluh kesahnya.


"Kita akan kedokter, kau sedang demam tinggi. " ucap Felix sambil memegang kedua bahu Alexia.


Namun wanita itu menggeleng, dia merasa malu bahkan hanya untuk keluar dari Apartemennya saja.


"Alexia kau sedang sakit! " seru Felix pelan.


"Aku tidak mau menampakan diri lagi, aku sangat malu semua orang sudah melihat Video itu. " Alexia kembali menangis tersedu dengan nafas yang tak beraturan.


"Husttt... Tolong jangan menangis, aku tidak akan memaksa dirimu untuk keluar. Tapi aku akan mendatangkan seorang Dokter untuk merawat dirimu disini. "


Alexia mentap Felix ragu, tapi Felix segera meyakinkan dirinya kalau Dokter yang akan mengobati Alexia tidak akan mengetahui tentang dirinya.


Karena Felix yang tidak pernah mengecewakan dirinya Alexia pun mempercayainya dan membiarkan Dokter itu datang dan mengobati nya.


...****************...


Alexia terbangun ditengah malam saat dia merasa haus, dia meraba gelas di sampingnya dan mendapati gelas itu kosong. Mungkin Felix lupa mengisi gelas itu tadi sebelum pria itu pergi.


Beruntung sekarang Alexia sudah tidak diinfus lagi meskipun dirinya belum sembuh secara total, karena Alexia yang terus mengeluh sakit saat jarum infus itu tertancap di tangannya. Setelah mendapat izin dari Dokter yang merawatnya Alexia pun melepas infusannya dan diganti dengan berbagai macam obat yang harus rutin di minumnya.


Alexia berusaha bangkit dari tempat tidurnya, meskipun Felix sempat berpesan kalau dia perlu sesuatu cukup hubungi pria itu saja. Tetap saja Alexia merasa tidak enak merepotkan pria itu terlalu banyak. Felix sudah mengorbankan waktunya selama beberapa hari terakhir untuk merawat dirinya, dan sekarang Alexia sudah merasa cukup baikan. Jadi dia tidak akan merepotkan Felix hanya karena dirinya kehausan dan memerlukan air.


Setelah berhasil membawa tubuh lemasnya Alexia membuka pintu kamar, gerakannya tertahan diambang pintu. Hati Alexia mencelos melihat diri Felix yang sedang tertidur meringkuk disofa ruang tamunya, dia bahkan tidak memakai selimut.


Kenapa pria itu masih disini, Alexia mengira Felix sudah pulang saat dirinya tertidur. Apa mungkin selama beberapa hari terakhir Felix selalu tidur disofa itu. Astaga... Sekarang mata Alexia mulai kelabur tertutupi genangan air mata yang menumpuk dipelupuk matanya.


Ditengah segala macam kesialan yang dialami Alexia dalam hidupnya, rupanya Tuhan masih bermurah hati padanya. Lihat, sekarang Alexia masih memiliki seseorang yang sangat perduli akan dirinya.


Alexia segera menyeka air matanya yang mulai jatuh. Tiba - tiba kepalanya tak seberat tadi, dengan cepat Alexia kembali ke kamarnya dan mengambil sebuah selimut tebal disana.


Dengan perlahan Alexia menyelimuti tubuh Felix yang tampak sangat nyenyak dalam tidurnya. Dari dekat Alexia dapat melihat kantong mata pria itu yang menghitam. Felix saat ini tampak sangat kelelahan. Apa Alexia se merepotkan itu saat sedang sakit!?


Alexia mengulurkan tangannya lalu mengusap wajah Felix lembut, dia bisa merasakan kulit pria itu yang dingin.


"Maafkan aku yang selalu merepotkan dirimu, entah sudah seberapa banyak kebaikanmu padaku. Aku merasa sangat buruk karena tidak bisa membalasnya dan malah menambah beban untuk dirimu. " gumam Alexia sambil mengusap pelan pipi pria itu.


"Tapi tenang saja setelah ini aku tidak akan merepotkan dirimu lagi, aku berjanji. Dan janjiku kali ini pasti akan aku tepati, percayalah. " Wanita itu bermonolog di hadapan Felix yang masih berada di alam mimpinya.


Alexia bangkit dari duduknya lalu pergi kedapur kecilnya untuk mengambil air untuk di minum.


"Bajingan! Beraninya kau menyentuh Alexia ku! ".


...----------------...