
"Bajingan! Beraninya kau menyentuh Alexia ku. "
Alexia terperanjat, wanita itu mendekat kearah Felix yang ternyata masih tertidur. Rupanya pria itu sedang mengigau.
Alexia tersenyum, bahkan didalam mimpinya Felix masih memikirkan dirinya. Wanita itu lalu merapikan kembali selimut yang sempat ditentang Felix, tidak ingin membiarkan pria itu kedinginan lagi.
Tapi ternyata gerakannya itu malah membangunkan Felix, pria itu terkejut dan langsung terduduk.
"Kau sudah sembuh? " tanyanya dengan binar bahagia terlihat jelas dimatanya.
" Apa kau tidak pulang kerumahmu selama aku sakit? " Alexia balik bertanya.
"Ck..., aku yang bertanya lebih dulu. Jadi jawab dulu pertanyaan ku. Bukannya malah balik bertanya. "
"Ya kurasa aku sudah mulai sembuh. Jadi jawab pertanyaan ku sekarang! "
"Syukurlah... Dan tentang pertanyaan mu barusan, tentu saja tidak! Kau fikir aku mau tidur disofa ini setiap malam. " tentu itu bukan jawaban yang sebenarnya. Karena nyatanya Felix memang selalu tidur ditempat itu sejak pertama kali dia datang kemari.
Felix merasa ragu meninggalkan Alexia sendirian meskipun itu di rumahnya. Dirinya masih merasa ngeri saat teringat tentang seutas tali yang menggantung diruang tamu wanita itu beberapa hari yang lalu.
Mengingat kondisinya sekarang, Alexia bisa saja bertindak nekat. Felix tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya, kali ini dia tidak akan meninggalkan Alexia sendiri lagi. Kalaupun harus maka dirinya akan menyuruh seseorang untuk mengawasi wanita itu dari jauh.
Alexia duduk disamping Felix lalu memeluk lengan pria itu dengan erat.
"Terima kasih Felix. Kau memang teman terbaik yang pernah ada. "
Felix tersenyum, lantas membalas pelukan Alexia tak kalah erat. Pria itu merasa lega karena Alexia tampak kembali bersemangat.
Setelah ini dia berjanji tidak akan membiarkan Alexia terluka lagi, sudah cukup kejadia tempo lalu.
"Felix... " Alexia menggantung kalimatnya merasa ragu.
"Ada apa? Apa kepalamu masih sakit? " tanya Felix sambil membelai kepala Alexia dengan lembut.
"Tidak, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. " ucap Alexia serius. Mata hijaunya menatap kedalam manik coklat Felix.
"Katakanlah."
"Aku ingin pergi dari tempat ini, pergi dari semua hal buruk yang menimpaku, dan memulai hidup baru ditempat yang tak ada seorang pun mengenal diriku siapa." ungkap Alexia dengan sekali nafas.
Felix mengerjap lalu pria itu tersenyum sambil membelai puncak kepala Alexia. Wanita itu menatap ekspresi senang Felix dengan bingung, ia tidak mengira Felix akan bereaksi seperti itu.
"Kau tidak marah atau melarang ku, mungkin!? "
"Untuk apa aku marah, kau ingin pergi lakukan saja kalau itu bisa membuat mu lebih baik. Lagi pula apa bagusnya tempat ini, aku sangat setuju kau pindah. "
Alexia tertawa pelan lalu kembali menyandarkan kepalanya dipundak Felix dengan nyaman.
"Lalu kau berniat pindah kemana? Dan apa tujuanmu setelah tinggal disana? " tanya Felix.
"Entahlah,,, aku ingin tinggal ditempat yang menyatu dengan alam. Aku sudah cukup muak dengan hingar bingar perkotaan. Aku ingin punya ladang dibelakang rumah kecilku dan menanam sayur sendiri. Dan aku juga ingin taman kecil didepan rumah, oh,,, iya aku juga ingin rumah yang tak jauh dari sungai agar aku bisa memancing ikan disana. " ucap Alexia menggebu-gebu.
"Terdengar menyenangkan, tak mau menambahnya dengan hewan ternak, seperti babi, sapi atau domba mungkin? "
"Tidak mau ada hewan, nanti mereka akan buang kotoran sembarangan dan aku harus membersihkannya seperti di peternakan Kakek mu. " tolak Alexia langsung.
"Kalau kau meletakkannya di alam bebas dan bukan di kandang. Kau tidak harus membersihkan kotoran mereka. " jelas Felix perlahan.
"Baiklah... Kau memang sangat tidak suka hewan ya. "
"Bukannya tidak suka. Hhhooaaamm,,, aku hanya malas merawat mereka saja. " Tiba-tiba kantuk mulai menyerang Alexia membuat wanita itu menguap didepan wajah Felix.
"Kembali dan istirahatlah ke kamarmu, kau masih belum pulih sepenuhnya. " pinta Felix.
"Kau akan pulang atau tetap tidur disofa ini? " tanya Alexia.
"Kau maunya bagaimana, kalau kau ingin aku pulang aku akan melakukannya, begitu pula kalau kau memintaku untuk terus menjaga dirimu disini. "
Alexia berfikir sejenak, tentu akan sangat jahat kalau dia menyuruh pria itu pulang saat malam sudah selarut ini. Akan tetapi Alexia juga merasa kasihan melihat tubuh jangkung Felix yang harus meringkuk saat tertidur disofanya yang tak begitu luas.
"Kau mau ikut tidur denganku. " tawar Alexia tiba-tiba. Felix bahkan tersedak ludahnya sendiri sampai membuat pria itu terbatuk-batuk.
"Bukan tidur dalam artian lain, maksudku hanya tidur biasa. Kau tahu maksudku bukan..." ucap Alexia cepat takut Felix salah faham dengan ajakan nya barusan.
"Ya aku mengerti, tapi aku hanya terkejut saja. "
Entah kenapa Felix malah mengiyakan ajakan Alexia tersebut, setelah ajakan pertama wanita itu ia tolak dengan halus dan dirinya malah memilih tidur beralaskan selimut diatas lantai yang dingin, karena saat itu sedang musim dingin.
Alexia meringkuk ke sisi tembok mencoba memberi ruang yang cukup bagi tubuh besar Felix, pria itu lalu mengambil posisi tidur disamping Alexia. Kasur itu tidak begitu besar sehingga membuat bahu keduanya saling bersentuhan.
"Apa kau akan mengunjungi diriku saat aku pergi nanti? " tanya Alexia, wanita itu mengambil posisi miring agar dapat melihat wajah Felix dengan jelas.
"Tentu, asal kau memberitahu dimana tempat mu tinggal. Walaupun itu di puncak gunung sekalipun. " jawab Felix.
"Asal kau tahu aku memang berencana untuk tinggal di daerah pegunungan yang pemandangan nya hijau asri. "
"Apa kau berniat akan tinggal disana untuk waktu yang lama? "
"Mungkin iya, rasanya aku sudah kehilangan gairah untuk mengejar karir disini. Aku lelah, ditambah aku tidak ingin melihat orang-orang itu lagi. "
"Apa kau tidak ingin membalas mereka? " tanya Felix dengan serius.
"Aku ingin, tapi tak punya cara. Mereka punya kekuasaan dan kau tahu sendiri bagaimana aku sekarang. Dan ngomong-ngomong apa kau sudah melihat Video unggahan Margareth? "
"Aku hanya mendengar, tidak mau melihatnya secara langsung. " jawab Felix jujur. Dia hanya mendengar dari apa yang Leon ceritakan, karena dia pasti tidak akan sanggup melihat bagaimana Alexia disiksa.
Dan Leon adalah tangan kanan Felix sekarang. Pria setengah baya itu adalah orang kepercayaan Mike.
Mata Alexia memanas, dia menatap Felix penuh sayang. Entah kebaikan macam apa yang sudah ia perbuat sampai-sampai Tuhan dengan baik hatinya memberi dia seorang teman setulus Felix.
"Tenang aku akan menyelesaikan masalah itu, dan mereka yang terlibat didalamnya akan mendapat balasan yang setimpal. " ucap Felix meyakinkan.
Alexia menggeleng pelan, jemarinya menggenggam tangan Felix dengan erat.
"Jangan buat dirimu terjerumus ke dalam masalah karena aku, mereka bukanlah orang yang bisa kau lawan. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. "
Felix merasa jantungnya berdetak kencang, merasa bahagia mendapat sedikit perhatian dari wanita itu.
Dan walaupun Alexia sudah memintanya untuk tidak ikut campur. Felix tetap akan memberi pelajaran kepada para bedebah itu, tidak satupun orang didunia ini yang boleh menyakiti Alexianya.
...----------------...