
Hari sudah gelap dan Alexia baru saja menyelesaikan makan malamnya dan sedang mengoleskan salep pada luka bakarnya, memang tidak begitu parah tapi rasanya cukup perih apalagi bila terkena sabun.
Tok...
Tok...
Tok...
Bunyi ketukan pintu menghentikan gerakan Alexia yang sedang membaluri salep pada lengannya. Alexia berdiri dari duduknya lalu membukakan pintu.
Dan diluar sudah tampak Felix dengan mantel tebal membungkus tubuhnya, Alexia dapat melihat ada jejak salju di pakaian pria itu yang artinya dia baru saja menerobos hujan salju diluar.
"Cepat masuk. " ajak Alexia yang merasa kasihan melihat ujung hidung mancung Felix yang memerah akibat suhu dingin.
"Bagaimana pekerjaanmu, apa kau merasa nyaman disana? " Felix melepas mantel tebalnya lalu duduk disofa sambil menyilangkan kaki.
"Ya, aku senang bisa bekerja disana. Apa itu? " Alexia melihat sebuah kotak kecil yang dikeluarkan oleh Felix dari sakunya.
"Harusnya aku memberikan ini lebih awal. Ini hadiah dariku sebagai ucapan selamat karena kau sudah mendapat pekerjaan untuk pertama kalinya. " Felix tersenyum hangat sembari memperhatikan kotak berukuran kecil itu.
Alexia melihat Felix membuka kotak kecil itu yang ternyata isinya sebuah cincin berwarna hitam dengan hiasan permata berwarna ungu.
"Aku tahu kau tidak suka warna gelap seperti ini, tapi demi diriku apa kau mau memakainya? " pinta Felix dengan ragu.
"Mengingat kau adalah teman terbaikku maka aku akan memakainya. " jawab Alexia sambil menerima kotak itu dari tangan Felix.
Felix tersenyum melihat Alexia yang sedang menyematkan cincin itu dijari manisnya, namun tampaknya ukuran cincin itu terlalu besar jadi Alexia memindahkannya kejari tengah.
"Cantik sekali. " ucap Felix tanpa sadar saat dia melihat senyum Alexia.
"Ya, cincin ini sangat cantik. Dimana kau membelinya? " sahut Alexia yang tidak tahu kalau sebenarnya dirinya yang Felix sebut cantik.
"Tanganmu kenapa? " tanya Felix yang baru menyadari luka bakar Alexia.
"Hanya terkena tumpahan sup panas saat aku sedang makan siang dikanntor. " jawab Alexia enteng.
"Kau ceroboh sekali, sudah kau obati. "
Felix menegang tangan Alexia yang tampak memerah, itu pasti perih. Felix merasa marah membayangkan Alexia harus merasakan rasa sakit itu.
"Sekarang sudah tidak apa-apa, aku sudah mengolesinya salep tadi. Lalu bagaimana dengan lukamu, apa sudah mengering? "
Felix mengangguk lalu kembali menatap Alexia. "Lain kali hati-hati. " ucapnya penuh perhatian.
Mereka berbincang cukup lama, sampai Felix tersadar kalau jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Pria itupun memutuskan untuk berpamitan dengan Alexia.
"Aku akan kembali mengunjungi mu dilain waktu. Dan dalam beberapa pekan aku tidak akan kemari karena harus kembali ke Kanada" ucap Felix seraya memeluk hangat tubuh Alexia.
"Why,,, kau akan membiarkanku sendirian lagi. Aku benar-benar benci perpisahan. "
"Aku tidak akan lama disana. Maafkan aku Alexia, aku berjanji akan kembali kesini saat ada waktu luang. "
Alexia membalas pelukan Felix. Lalu mengantar pria itu sampai ke parkiran apartemenya, meskipun sempat ditolak oleh Felix tapi bukan Alexia namanya kalau tidak keras kepala.
"Sudah, sekarang kau cepat kembali kedalam. Suhu disini sangat dingin. " perintah Felix yang tidak segera dindahkan oleh Alexia.
"Aneh... Padahal kau membawa mobil, tapi kenapa saat kau datang tadi ada banyak salju di pakaianmu. Awalnya kukira kau naik transportasi umum dan berjalan kaki kesini. "
Ucapan Alexia sukses membuat Felix kebingungan mencari alasan yang tepat. Tentu ia sedang ingin mengarang cerita karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Alexia.
"Ooo begitu rupanya. Yasudah cepat pulang, takutnya nanti akan ada badai dan kau terjebak diluar. " Alexia mempercayai begitu saja jawaban yang Felix buat.
"Kau yang lebih dulu masuk, aku tidak akan bisa pergi kalau kau masih berada diluar. Ini sudah tengah malam. "
Alexia terpaksa menuruti perintah Felix Kali ini. Dia segera berjalan ke dalam gedung apartemennya, namun belum samai benar-benar masuk kedalam tiba-tiba Alexia mendengar suara nyaring sirine Polisi dan Ambulance yang datang beriringan.
Karena memang dasarnya Alexia memiliki sikap ingin tahu yang tinggi, wanita itupun memutuskan untuk kembali keluar dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Tampak dari jauh Alexia melihat beberapa mobil polisi juga ambulance terparkir di dekat taman bermain yang ada disebelah gedung apartemennya. Disana juga sudah ada Mr. Henry dan juga istrinya Larisa mereka berdua adalah tetangga Alexia.
"Kami berdua baru saja pulang dari kantor karena aku menunggu suamiku lembur, saat melewati jalan ini tanpa sengaja kami melihat ada genangan darah yang membeku di samping tempat sampah. Karena penasaran suamiku memutuskan untuk memeriksanya. Lalu tak lama setelah itu dia berteriak dan terjatuh, bahkan nyaris pingsan. Aku ikut memeriksa apa yang dia lihat, dan aku menyesalinya. " Larisa menarik nafas sejenak, lalu kembali melanjutkan penjelasannya. "Betapa mengerikannya penampakkan seonggok tubuh manusia tanpa kepala yang kulihat terbaring dibalik tempat sampah itu. "
Alexia mendengar dengan jelas keterangan yang Larisa ungkapkan kepada salah satu anggota polisi disana.
Seketika bulu kuduk Alexia meremang membayangkan kondisi jasad yang baru saja dilihat oleh tetangganya itu.
Merasa tubuhnya mulai menggigil kedinginan Alexia pun memutuskan untuk kembali keapartemennya.
Jelas itu tadi kasus pembunuhan, padahal dilingkungan ini jarang terjadi tindak kriminal karena biaya keamanannya yang cukup tinggi.
Mulai saat ini Alexia harus lebih berhati-hati karena belum jelas apa motif sipembunuh, dan bisa saja dia masih berkeliaran di sekitar sini.
Uuu... Membayangkannya saja berhasil membuat lutut Alexia gemetar, semoga saja pelakunya cepat ditangkap.
...****************...
Seorang pria tampak berlarian didalam gang sempit seraya membawa satu kantong plastik hitam ditangannya, dia terus berlari sampai ia menemukan sebuah mobil hitam yang terparkir diujung gang.
Pria itu mengetuk kaca mobil, lalu seorang wanita tua yang berada didalam mobil membuka kunci mobilnya dan membiarkan pria tadi masuk.
"Aku gagal membawa dirinya. " ucap si pria sambil mengatur nafasnya yang memburu, wajar saja karena dia terus berlari sejak tadi.
"Lalu kau menghabisinya? " tanya si wanita sambil menyulut sebatang rokok dimulutnya.
Pria itu lalu membuka isi kantong plastik yang ia bawa, wanita tua hanya mendengus melihat sepotong kepala didalamnya.
"Potongan mu itu sangat tidak rapi. " komentarnya tanpa merasa takut.
"Bukan itu yang terpenting. Sekarang aku sudah menyelesaikan tugasku, kau bisa menyerahkan kepala pembelot ini kepada Mr. X dan berhenti mengganggu keluarga ku. "
Wanita tua itu mengangguk singkat lalu melempar kantong berisi kepala itu kekursi belakang.
"Aku tidak janji, tapi nanti akan kusampaikan pada Boss. Sekarang kau hanya perlu menurut dan jangan sekali -kali berfikir untuk berkhianat pada kami, kecuali kau ingin bernasip sama seperti korban mu malam ini. "
"Kalian memang iblis yang nyata, bukannya aku selalu menuruti perintah dari Boss. Tapi kenapa kalian masih mengusik keluarga ku! " seru pria itu marah karena jawaban sang wanita yang tidak sesuai keinginannya.
"Kau seharusnya sadar Rubah muda, saat dirimu memutuskan untuk masuk dalam lingkaran ini maka seluruh hidupmu akan diatur sepenuhnya oleh Boss kita. Tanpa ada pengecualian! "
"Kalau begitu sia-sia saja aku melakukan pekerjaan kotor ini. Niat awalku bergabung dengan kalian adalah untuk membahagiakan keluarga kecilku, karena gaji yang kalian tawarkan cukup besar. "
"Kalau kau ingin membahagiakan keluarga, bukan pekerjaan ini yang kau ambil. Karena seharusnya kau sudah tau dan faham konsekuensinya. "
Wanita itu menyalakan mesin mobilnya lalu menyetir dengan tenang di bawah hujan salju yang tiba-tiba turun.
"Biar kuberi saran. Kalau kau ingin keluargamu selamat maka jadilah Rubah yang patuh dan Tuan akan mengasihani dirimu. "
...----------------...