
NAINA (9)
Tak ada malam yang lebih indah bagi sepasang pengantin baru, selain malam di mana meleburnya dua hati dalam penyatuan ikatan yang halal lagi suci.
Naina terduduk di tepian ranjang. Memilin ujung hijabnya dengan jemari tangan. Jika kemarin-kemarin ia risau tak berujung, beda dengan saat ini. Hatinya telah tenang, ikhlas membawa kedamaian.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Rian sambil mengusap puncak hijab Naina.
"Iya, Mas."
Naina sedikit gugup. Telapak tangannya dingin seperti es batu.
"Hey, kenapa gugup?" tanya Rian penuh selidik. Dipandanginya wajah Naina yang bersemu merah. Ia tidak tahu bahwa istrinya sedang dilema. Dilema jika apa yang ia dan Rian lakukan malam ini tak sesuai dengan harapan keduanya.
"Eng, nggak papa, Mas."
"Ya sudah, ayo!"
Rian membimbing Naina ke atas ranjang. Digenggamnya dengan lembut jemari tangan gadis itu. Naina semakin salah tingkah.
"Mas," panggil Naina lirih.
"Iya?"
"Kalau nggak seperti yang Mas Rian harapkan, bagaimana?"
Keduanya saling pandang. Rian sedikit merunduk sementara Naina mendongak.
"Berarti bukan rejeki, Dek. Udahlah, ayo. Semangat, ya."
Naina mengangguk.
"Kamu udah siap, 'kan?" tanya Rian.
"Iya, Mas."
Lalu, tiba-tiba.
Sreeek!
Rian dengan cepat merobek amplop yang sudah ia tumpuk di atas ranjang. Sementara Naina sudah bersiap dengan bolpoin dan sebuah buku di tangan.
"Lima puluh ribu, Nai. Dari Mas Husein," ujar Rian. Naina cepat mencatat agar tak kelamaan.
Ya, keduanya sedang sibuk menghitung isi amplop dalam kotak walimah. Karena besok, Naina akan ke rumah Rian, suaminya. Ia harus menyelesaikan pekerjaan menghitung jumlah uang malam ini juga. Secepatnya.
Terkadang bunyi gelak tawa terdengar keluar dari dalam kamar pengantin. Naina dan Rian terbahak saat mendapati amplop kosong tanpa isi, atau amplop yang tanpa nama juga hanya berisi lembaran kertas bernilai dua ribu rupiah.
Hingga hampir tengah malam pekerjaan itu belum juga usai.
"Capek, Mas."
"Ayo, sedikit lagi, Nai."
"Matanya udah sepet ini, Mas. Udah ngantuk banget."
Rian tersenyum tipis. "Ya sudah, ayo kita bereskan. Sisanya simpan di tas. Besok di rumahku kita lanjutkan lagi."
Saran Rian diterima. Naina mengangguk. Sambil menguap, ia merentangkan kedua tangannya. Mengantuk sekali.
Rian bersiap mengambil bantal dan bed cover. Hendak menuruni ranjang seperti kemarin. Tapi, Naina menahannya.
"Di sini saja, Mas," ujar Naina sambil memandang lembut.
"Tapi, kamu ...?"
"Nggak papa. Di sini aja. Kita sudah menikah. Jangan dibahas lagi yang sebelumnya."
Naina menepuk sisi ranjang, tempat untuk Rian. Keduanya lalu tersenyum. Malu-malu, juga bingung sendiri. Terlebih Rian. Ia tak menyangka, Naina mengizinkannya seranjang berdua saja.
Ada yang berdebar tak tahu diri. Jantungnya itu bertalu-talu. Rian berusaha menepis keinginannya. Belum saatnya. Ia tak ingin memaksa Naina. Begini dulu. Pelan-pelan saja.
"I love you, Nai," lirih Rian lantas mengecup kening Naina.
***
Persiapan menuju rumah Slamet.
Iring-iringan keluarga pengantin telah siap. Di luar telah banyak saudara yang menunggu. Rian juga sedang bersiap. Ia memakai pakaian yang senada dengan yang akan dipakai Naina.
Sementara, gadis yang bergelar sebagai istrinya itu masih duduk terdiam. Di dalam kamar mandi. Berkali-kali mengusap air matanya yang basah. Kenangan itu datang lagi. Saat ia melihat, pakaian yang harusnya dipakai Arman. Justeru melekat di badan Rian.
Ada yang terkoyak. Juga terluka namun tak berdarah.
Butuh waktu untuk sembuh. Belum juga bisa mengobati luka, kenangan pahit itu mengulang sakit mendera.
"Nai, ayo, sudah mau berangkat."
Dari balik pintu kamar mandi Rian memanggil.
"Iya, Mas."
Naina bangkit. Cepat ia menyibak air di mukanya. Biar luka ia simpan sendiri. Hanya ia dan Tuhan saja yang tahu. Mengingkari hati, terkadang terbawa perasaan sendiri tanpa izin dari sang tuan, membuat rasa tenang perlahan menghilang.
Untuk sesaat tadi. Naina membiarkan kembali teraduk semakin dalam.
"Nai, are you okay?" tanya Rian lagi.
Klek!
Pintu kamar mandi terbuka. Naina sudah rapi dengan pakaiannya. Hanya memang belum berkerudung.
"Udah, Mas."
Naina tersenyum seraya berjalan menuju depan cermin. Diam saja bukan berarti tak tahu. Rian jelas mengerti, berat bagi Naina untuk menerima pernikahan ini. Terlebih dalam beberapa jam lagi ia akan tiba di rumah Rian. Juga bertemu dengan Arman.
Rian mengekori Naina. Di depan cermin, gadis itu sibuk merapikan rambut dan menyiapkan kerudung untuk dipakai setelah ini. Sejujurnya, Naina sedang berusaha meredam hati. Baju yang dipakai Rian. Membuat ia teringat ....
"Sayang, hey," panggil Rian. Dipeluknya Naina dari belakang.
"Jangan gini, Mas. Aku mau siap-siap." Naina mengurai pelukan. Bukannya lepas, Rian justeru membalik badan gadis itu.
Menatap lamat kedua matanya.
"Kamu cantik, Nai. Lebih cantik lagi kalau jangan ada air mata di sini."
Degh!
Apakah Mas Rian tahu aku menangis? Bukankah sudah tersamar dengan sedemikian rupa?
"Mas bicara apa?"
"Mas hanya mau kamu bersabar dulu. Hanya sehari kita di rumah, Mas. Setelah itu kita berangkat ke Jogja."
Naina mengangguk. Ia lalu mendekap erat suaminya. Ada rasa yang tak bisa ia ungkapkan. Tak hanya itu, terbesit pula bagaimana Arman akan memperlakukannya nanti selama di sana. Di kediaman Rian.
"Kamu bersiaplah, aku tunggu di luar."
Rian melepas pelan. Sebelum kemudian mengecup kening Naina. Perempuan itu mengangguk. Manut kata suaminya.
***
Sudah menjadi tradisi di tempat tinggal Naina. Bahwa pengantin akan diantar ke tempat mertua dua hari pasca akad nikah. Selalu ada drama pelepasan. Tangis keluarga yang tak kunjung usai. Padahal jarak rumah Naina dan Rian tidaklah jauh. Masih satu wilayah.
"Jaga diri, Nduk. Ingat. Rian suamimu, Arman adik iparmu. Kamu kudu bisa memposisikan diri. Meski berat, Ibu yakin kamu bisa."
Pesan Mila, ibu Naina terngiang terus di telinga. Benar, wejangan yang bagus. Naina harus bisa.
"Sayang," lembut suara Rian memanggil. Digenggamnya jemari tangan Naina.
Naina menoleh lantas tersenyum. Ia menyandarkan diri di pundak kiri suami. Seiring dengan mobil yang melaju meninggalkan halaman rumah Naina.
***
Tak butuh waktu berjam-jam. Sambutan hangat Naina dapatkan bersama rombongan. Keluarga Rian tengah menunggu. Sajian juga kudapan dipersiapkan untuk menyambut para tamu.
Ada yang berdesir hebat dalam relung hati. Kali ini dentumannya lebih kuat menyentak. Kala kedua matanya bertemu pandang dengan Arman.
Lelaki itu rupanya berdiri di ambang pintu. Menyambut lebih utama kedatangan Rian dan Naina.
"Selamat, ya, Mas," ujar Arman begitu Rian tiba. Ia memeluk sambil tersenyum ke arah kakaknya itu. Rian membalas dengan tepukan, juga berterima kasih. "Selamat juga untukmu, Nai. Semoga kalian berbahagia."
Arman menatap ke arah belakang punggung Rian. Dimana Naina sedang berdiri.
Saat itu juga, andai orang bisa melihat. Hati Naina telah hancur sehancur-hancurnya. Meski terlihat tegar, ucapan Arman tadi terdengar bergetar.
Ah, hatinya pun telah remuk dan patah.
Usai mengucapkan kalimat itu. Arman meninggalkan pergi kediamannya. Pandangan orang-orang yang sedari awal menaruh curiga, semakin tampak aneh saja.
Bisik-bisik terdengar nyaring. Tanpa dulu difilter suaranya.
Arman yang malang. Begitulah kesimpulan yang Naina tangkap. Padahal, pria itu sebab petaka terjadi. Kini ia berlagak seolah paling tersakiti.
"Ayo, masuk," ajak Rian sambil menggenggam tangan Naina.
Naina mengangguk. Diabaikannya rasa yang tak biasa tadi. Lalu dengan cepat diikuti langkah pengiring. Masuk ke dalam rumah Rian. Menikmati jamuan.
Bersambung ....