NAINA

NAINA
12. Duabelas



"Mas, tolong! Jangan mendekat!"


"Hm?"


Mas Arman menyeringai. Ia menatapku dengan tatapan tajamnya.


"Ingat batasan dirimu, Mas. Tolong jangan lakukan ini."


Kugenggam semakin erat bed cover yang menutup tubuh.


"Kenapa? Kamu takut?" tanyanya dengan gerakan jemari yang perlahan meraih ujung bed cover. Ia seperti sedang sengaja menakutiku. Telapak tangan kirinya mengusap pelan ranjang.


"Jaga sikapmu, Mas. Tolong. Jangan nekat. Bukankah kamu yang tak menginginkanku?"


Mas Arman menghentikan usapan tangannya. Lantas beralih menatap tajam ke arahku. Lagi dan lagi. Seakan ia ingin menelanku.


Aku tak lelah, terus mencoba menepuk-nepuk Mas Rian agar ia cepat sadar.


"Hahaha. Naina ... Naina, kamu pikir semudah itu menghilangkan rasa? Kalau kamu membatalkan pernikahan dan menghilang. Tentu bakal jauh lebih baik. Tapi, kamu ...?"


Mas Arman menatap tajam. Dari kedua bola matanya, tampak sorot benci dan kecewa melebur jadi satu.


Kulihat jemari tangan Mas Arman meremas ujung bed cover. Seperti bersiap untuk menarik. Jantungku berdegub kencang sekali. Sungguh.


"Kamu yang salah, Mas. Kamu tak mendengar penjelasanku lebih dulu. Sekarang sudah terlambat. Aku dan Mas Rian sudah menikah. Jaga sikapmu itu."


Kutelan saliva. Kering sekali rasa tenggorokan ini.


"Heh?" Mas Arman menoleh. Ia menggeleng dengan bibir menyeringai. "Oke, baiklah. Setidaknya beri aku sedikit kesempatan untuk mencicipi."


Mas Arman bergerak mendekat. Menarik paksa bed cover dalam peganganku. Aku terperanjat dengan tingkahnya.


"Hiyaaaaaaaa!!"


Tanpa disangka-sangka. Dari arah belakang ada yang mendorong. Mas Rian, ia bergerak cepat dari belakang.


"Sialan! Woi! Buka!"


Aku terbelalak. Mas Rian membalik posisi. Kini Mas Arman yang terbungkus dengan bed cover. Dipeganginya dengan erat. Dengan tanpa memakai sehelai benang pun. Suamiku itu ....


Bagaimana bisa ia tiba-tiba tersadar?


"Cepat ke kamar mandi! Pakai baju lengkap! Cepetaan!" Mas Rian berteriak. Sambil menahan pegangan agar Mas Arman tak membuka bed cover yang membungkus seluruh tubuhnya. Sekaligus kepalanya.


Tak kupikirkan rasa malu yang berkumpul dalam dada. Dalam keadaan seperti ini, fokusku hanya pada keselamatanku dan Mas Rian.


Cepat kuturuni ranjang dan memunguti pakaianku. Mengikuti perintah mas Rian agar segera berganti baju di kamar mandi.


***


Tak ingin berlama lama di kamar mandi. Aku harus segera menemui suamiku di luar. Setengah berlari aku keluar kamar mandi.


Suara gaduh menyambut begitu aku datang. Kulihat Mas Rian masih memegang kuat bed cover yang membungkus Mas Arman. Dengan kondisi yang masih sama. Tanpa memakai apa pun. Kualihkan pandangan ke bawah. Sedikit malu melihat hal itu. Aku perempuan normal, dan pertama kali melihat hal itu ... ah, entahlah.


"Tolong pakaikan, Nai! Cepat sini!" Mas Rian berteriak. Sementara suara umpatan masih terdengar dari balik bed cover. Suara Mas Arman. Caci maki begitu nyaring terdengar.


Kutepis rasa malu dan sungkan. Memungut cepat ****** ***** dan pakaian suamiku. Memasangnya dengan beragam rasa yang tak biasa.


"Diam kau Arman! Keterlaluan kau!"


Mas Rian terus bergerak dan meracau meladeni umpatan Maa Arman. Usai memasang sempurna celananya. Mas Rian membuka bed cover dengan segera.


"Uhuk! Uhuk!" Mas Arman terbatuk. "Sialan kau, Mas!" umpatnya kasar.


Aku terbelalak. Kulihat Mas Arman menatap tajam ke arah Mas Rian. Lalu berlari dengan sekali gerakan mencekik leher suamiku.


Kedua lelaki itu bergelut dengan saling menyakiti satu sama lain. Ada rasa sakit dalam hati saat ini. Mereka seperti itu hanya karenaku? Padahal mereka bersaudara. Mengalir darah yang sama di tubuh keduanya.


"Uhuk! Uhuk!"


Mas Rian tersudut. Suasana semakin mencekam. Di luar, senja memanggil datang. Membuat pencahayaan yang masuk ke dalam tampak terbatas. Remang.


Jemariku bergetar menyaksikan pemandangan di depan. Saat Mas Arman semakin beringas bukan hanya mencekik melainkan membenturkan kepala Mas Rian ke dinding. Berulang kali.


Astagfirullah!


Astagfirullah!


Kugerakkan kepala ke seluruh ruangan. Menyisir apa saja yang bisa membantu suamiku. Sebilah kayu panjang yang tadi Mas Arman bawa tampak tergeletak di bawah bibir ranjang.


"Sudah kubilang jangan sentuh Naina! Uhuk! Uhuk!"


"Mentang-mentang dia istrimu! Begitu? Hah?! Jangan lupa, Mas! Dia milikku!"


"Hentikan ucapanmu Arman! Kau sudah gila!"


"Kau yang gila!"


"Kau!"


Braaaaaakkkkk!


Satu pukulan kuarahkan kepada Mas Arman. Kupilih bagian punggungnya karena aku takut jika berurusan dengan kepala. Pria itu menoleh, menyeringai ke arahku. Wajahnya itu, entah mengapa sekarang sangat kubenci.


Karena lengah. Mas Rian berhasil mengunci tangan Mas Arman. Kini, lelaki itu tak bisa berkutik. Hanya meringis menahan sakit.


Mas Rian berujar tajam. Sementara kulihat Mas Arman menatap ke arahku penuh rasa benci dan tak suka.


***


Aku, Mas Rian dan Mas Arman sudah berada di rumah Ayah Mas Rian. Ayahnya itu menengahi masalah di antara kami. Bagaimana pun, beliau tak ingin dipandang buruk oleh masyarakat. Rencana memperkarakan Mas Arman tak diberi izin olehnya.


"Dia sudah tidak waras! Arman sudah keterlaluan! Dia bahkan hampir menyentuh Naina! Ayah kenapa masih saja membelanya!"


Mas Rian marah-marah. Sementara aku sendiri hanga diam merunduk tak berani mengangkat wajah.


Sungguh, Mas Arman tampak sangat berubah. Dulu, sedikit pun ia tak pernah tak hormat padaku. Selalu menjaga dan melindungi. Tapi, tadi ... ia bahkan hampir menodaiku.


"Iya, Ayah tahu. Tapi, apa kau tak kasihan pada dia? Dia juga adikmu! Apa pandangan orang nanti saat ia harus mendekam di penjara?"


"Tapi dia harus diberi pelajaran!"


"Biar Ayah yang urus. Kalau dia kembali berulah. Akan sendiri yang akan melaporkannya ke kantor polisi!"


Mas Rian mengembus napas kasar. Kusentuh pelan punggung tangannya. Menggenggam erat. Sementara Mas Arman hanya diam membisu. Ia membuang pandang ke arah luar jendela.


"Maaf, Mas. Aku khilaf," ujarnya masih membuang muka. Terdengar menyesal, tapi ekspresinya sama sekali tak mewakili.


"Maaf, sampai kapan pun. Perbuatanmu itu tak bisa kumaafkan. Ayo, Nai. Kita ke kamar. Sekarang!"


Mas Rian bangkit berdiri. Digenggamnya jemari tanganku. Membimbing pergi dari ruang tamu. Aku merasa tak enak sekali. Di sini, aku menjadi pemecah kakak beradik itu.


***


Usai perbincangan yang mencekam tadi. Mas Arman pergi dari rumah. Entah kemana aku tak mau peduli. Sungguh, hati ini menyimpan bara api untuknya.


"Maaf, ya, Nai."


Kurasakan dekapan hangat merengkuh tubuh.


"Nai yang minta maaf, Mas."


"Mas yang salah. Terlalu ceroboh tak menutup pintu."


Aku terdiam mendengar penuturannya.


"Nai," panggilnya. Aku mendongak. Mengamati wajah dan senyumnya.


"Iya, Mas?"


"Bisa kita mulai lagi?"


"M-maksudnya?"


Mas Rian membelai pelan rambut kepalaku. Apakah ia ingin melakukannya lagi? Seperti tadi sore?


"Hey, kamu mikir apa?"


Mas Rian mencubit pucuk hidungku. Seketika aku berkedip.


Kugelengkan kepala. "Enggak mikir apa-apa, Mas," kilahku.


Mas Rian melesakkan kepalaku ke dalam dekapanny.


"Kita mulai lagi semuanya. Maaf, tadi sore Mas terburu-buru. Besok kita tuntaskan di Jogja," ucapnya.


Ah, aku tahu.


"Setelah itu, begitu tiba. Kita pindah ke rumah sendiri. Mas nggak mau kamu terganggu sama Arman lagi."


"Iya, Mas."


Kutenggelamkan diriku dalam pelukan Mas Rian. Malam beranjak semakin larut. Dekapannya terasa sangat menenangkan. Aku sangat menyukainya. Juga nyaman.


***


Pagi kembali tiba di kotaku. Sudah kuhubungi Ibu sejak sebelum subuh Memberi tahu bahwa aku dan Mas Rian akan berangkat ke Kota Jogjakarta. Tak ingin menghubungi Budhe karena nanti saat tiba di sana, Mas Rian ingin jalan-jalan lebih dulu.


Ayah mertua sudah berangkat kerja. Beliau hanya mendapat cuti dua hari sejak akad kemarin. Sedangkan, Mas Arman. Ia sama sekali tak tampak batang hidungnya. Harapanku hanya satu, semoga ia jera dengan ancaman Mas Rian. Sekali ia bertindak, maka jeruji besi sudah menantinya.


"Mas pesan mobil online dulu, ya," ucap Mas Rian.


Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Mas Rian bilang ia tak ingin membawa mobil sendiri. Aku tak keberatan. Menurut saja keinginannya.


Kupatut diri di depan cermin. Penampilanku banyak berubah. Mas Rian mengatur segala yang kugunakan. Termasuk kerudung yang menutup hingga dada. Biasanya aku tak berkerudung seperti ini.


"Mas ingin menjaga kamu, Dek."


Itu yang ia ucapkan saat memintaku berhijab sempurna. Aku sama sekali tak menolak. Bahkan sangat nyaman dengan penjagaannya.


Suamiku, ia lelaki yang bertanggung jawab.


"Ayo, Sayang. Mobilnya sudah di depan." Mas Rian menyeru. Aku bergegas menuju pintu depan seperti perintahnya. Kami pun bergegas. Bersiap melabuhkan diri di Kota Jogjakarta.


Dan mungkin, di sana. Benih suamiku akan tertanam dengan sempurna.


Bersambung ....