NAINA

NAINA
8. Delapan



NAINA (8)


"Maaf, Nai. Kamu berhak bahagia," ujar Rian.


"Bahagia? Dengan cara Mas mentalakku?! Maksudnya apa? Hubungan ini? Aaaaaarrrrgh!"


Naina menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Rian. Bukankah sudah disepakati bahwa akan membangun rasa bersama-sama. Tapi, kali ini ...?


"Hey, tenanglah." Rian membuka kedua telapak tangan Naina. Tampak jelas wajah sembab itu. Membuat rasa bersalah menghujam di dalam dada. Rian teramat bersalah.


Naina bangun dengan posisi duduk menghadap Rian.


"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin kamu bahagia, Nai. Kamu dan Arman. Kalian--"


"Hentikan, Mas! Sudah! Bukankah kamu sendiri yang bilang akan bertahan? Baru satu hari dan kamu mengucapkan kata itu?" Kedua mata Naina berkaca-kaca.


"Maaf, Nai. Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Bahkan dalam tidurmu kau sebut nama Arman, Nai," ujar Rian lirih sambil menatap lembut kedua mata Naina.


Mendengar hal itu. Naina seakan tercubit. Ia menyadari bahwa suaminya mungkin sedang cemburu. Atau, merasa bersalah telah mengekang bahagianya?


Naina menatap lamat. Jemari tangannya lantas bergerak menggenggam tangan Rian.


"Maaf, Mas. Aku yang salah."


Naina menghela napas.


"Kamu tentu tahu, tidak mudah merubah hati. Maaf ... jika racauan dalam mimpiku membuatmu sakit hati. Tolong, mengertilah, Mas. Ini sangat sulit."


Bulir bening perlahan luruh dari kedua mata Naina.


"Aku sakit, Mas! Hatiku remuk! Dengan statusku yang tak lagi virgin, Mas Arman memutuskan hubungan ini! Bahkan, bukan hanya itu. Demi menyelamatkan harga diri juga kehormatan keluargaku. Aku ... aku terpaksa menikah denganmu!"


Naina meledak-ledak. Ditumpahkannya segala rasa yang mengganjal hatinya. Rian menyaksikan itu, mendengarkan semuanya. Ia tahu Naina sedang emosi. Tak apa, biarkan saja.


Biar ia lega.


Naina terus meracau dengan air mata yang tumpah.


"Aku harus menikah dengan lelaki yang harusnya kusebut kakak ipar! Tolong, mengertilah, Mas. Bukan aku marah dengan pernikahan ini. Aku sudah berusaha ikhlas menjalaninya! Berusaha menerima semuanya, tapi ... tap--"


Bibir yang meracau itu mendadak bungkam. Emosi yang meledak-ledak itu pun seketika hilang. Berganti dengan sentuhan hangat menjalari hati. Rian menghentikan cicitan Naina yang berisik dengan sekali gerakan. Membungkam dengan bibirnya.


"Mas!"


Naina mendorong kasar. Napasnya terengah. Gerakan Rian yang tiba-tiba tanpa persiapan dari Naina. Membuat gadis itu seakan kehabisan napasnya.


"Kita rujuk, Sayang," ucap Rian lirih. Dilihatnya wajah Nai yang memerah. Jika tadi pagi istrinya itu tak membalas kecupan. Beda dengan kali ini. Naina menerima dan memperlakukan sambutan Rian dengan sangat baik. Meski tiba-tiba.


Diusapnya lembut kepala Naina. Menangkup wajah gadis itu. Lalu mengecup pelan ubun-ubunnya. Bibir Rian terus bergerak ke kedua mata Naina, mengecup lagi, ke pangkal hidung, hingga berhenti di bibir yang merona. Sedikit lebih lama di sana.


Rian berusaha menghimpun kepercayaan diri. Naina mencintainya, harus!


Sambutan diterima. Keduanya lantas menumpahkan rasa yang entah seperti apa. Sulit untuk dilukiskan. Meski hanya berupa sentuhan di bibir. Naina tenggelam dalam kebahagiaan.


***


Selepas shalat Zhuhur. Seperti jadwal yang sudah direncanakan. Naina dan Rian kembali menemani kedua orang tuanya di ruang tamu.


Hanya saja, saat ini ada hal yang berbeda. Tak seperti kemarin. Siang ini, kedua pengantin baru itu sesekali curi pandang. Lempar senyum khas orang sedang kasmaran. Keduanya tengah menikmati letup-letup kecil dalam hatinya. Tak peduli meski orang menganggap apa. Bahkan, saat tanpa sengaja saling pandang. Rian dengan usil mengerlingkan sebelah matanya genit.


'Dih! Awas banyak orang lihat!'


Naina menegur dengan tatapan matanya.


'Biarin! Ayo lanjutkan yang tadi di kamar!'


Rian menantang dengan membalas bahasa mata. Ia menggerakkan kepalanya, menunjuk ke arah kamar.


'Udah, ih!'


Naina menggeleng. Ia lalu mengalihkan pandang ke arah lain. Malu. Pikiran lelaki selalu saja begitu. Meski tak dapat dipungkiri, Naina juga mendamba penyatuan hati secara utuh.


Sayangnya, ia belum siap untuk itu. Pelan-pelan saja. Bertahap.


"Ini, Budhe ada dua tiket kereta buat ke Jogja. Udah booking kamar juga buat kalian."


Budhe Riana, seppupu Ibunya Naina yang kebetulan tinggal di Jogja menyerahkan empat lembar tiket kepada Naina.


"Lho, Budhe, ini apa?"


"Udah, ambil aja. Ini buat hanimun kalian. Nggak papa, gratis. Kebetulan hotel itu punya kenalan Budhe."


Naina menelan saliva. Duh, rejeki nomplok bisa berlibur ke jogja. Tapi, kalau untuk hanimun? Ah, Naina mendadak malu sendiri.


"Budhe sengaja beli tiket kereta. Biar pengantin barunya menikmati perjalanan panjang." Budhe Riana terkekeh.


Naina menggeleng.


"Pokoknya Budhe tunggu di sana, ya? Entar Budhe masakin gudeg. Kamu pasti suka. Syukur-syukur pulang dari Jogja nanti kamu hamil."


Eh? Lho?!


Kedua pipi Naina memerah. Ia tersipu malu. Bahasan pengantin baru selalu begitu. Tak pernah jauh.


***


Naina dan Rian sedang berada di ruang makan. Mereka hendak makan siang. Bergantian dengan kedua orang tuanya menerima tamu.


"Mas!"


"Hmm?"


"Ada hadiah dari Budhe Riana. Tadi aku dikasih tiket buat ke Jogja."


Naina meletakkan piring berisi nasi dan lauk di depan Rian.


"Iya, Mas tahu. Buat Hanimun, 'kan?" Rian menaik turunkan alisnya. Menggoda Naina.


"Dih!"


"Emang bener, kok. Bentar deh, sini!" Rian menyuruh Naina mendekat. "Rambutnya kelihatan. Tuh, sini," ujarnya lagi.


Naina mendekat. Dirasakannya jemari tangan Rian merapikan rambut yang menyembul. Ia lupa tak memakai bandana sebelum berkerudung tadi. Tiba-tiba saja,


Cup!


"Mas!"


Satu kecupan mendarat di pipi Naina.


"Udah halal, wee! Ga boleh protes!" ujar lelaki berkaca mata itu.


"Tapi, 'kan, ini di tempat umum! Kalau ada yang lihat gimana?"


"Nggak ada, makanya ayo ke kamar!" Rian menggoda lagi.


"Astagfirlah, Mas!"


Naina jadi salah tingkah. Gemas melihat tingkah suaminya itu.


"Udah, makan gih. Entar dimarahin ibu nggak balik-balik!"


"Mas udah kenyang."


"Serius?"


"Iya. Kenyang lihat kamu."


Astaga! Baru Naina sadari kalau Rian gemar menggombal. Ia lalu menggelengkan kepalanya. Tak peduli. Disuapnya nasi ke dalam mulut. Naina sudah lapar.


Keduanya lantas makan bersama. Dari dalam ruang makan itu terdengar suara tawa yang berderai. Mewakili rasa hati yang bahagia.


Sementara itu, di balik dinding, sepasang mata tengah memperhatikan. Ada air mata haru yang keluar dari pelupuknya. Mila, kini ia merasa lega karena putrinya menikmati bahagia. Ia yakin, Rian adalah lelaki yang tak hanya baik, tapi juga menyanyangi Naina.


"Sudah, Buk, jangan nangis. Lihat, Naina juga sudah bahagia. Alhamdulillah Rian lelaki yang baik."


Danu menepuk pelan pundak Mila.


"Ayo, kita balik ke depan. Banyak tamu yang menunggui."


Mila mengangguk. Lantas mengekor suaminya di belakang. Tak henti ia bersyukur. Allah berikan suka dan duka bersamaan. Dalam satu waktu.


***


"Makanlah! Sudah dua hari kamu nggak makan. Jangan bodoh seperti ini!"


Selamet membentak Arman. Dilihatnya putra bungsunya itu di dalam kamar. Sedang tampak frustrasi juga keadaan ruangan yang acak-acakan.


"Kamu sendiri yang memilih mundur. Sekarang kamu juga yang menyesal. Ayah bahkan sudah memalukan diri sendiri. Menghina Naina dan keluarganya! Itu semua gara-gara kamu!"


Telunjuk Selamet terus menghujam ke arah Arman. Mengingat betapa buruknya perkataan yang ia lontarkan pada Naina dan keluarganya. Setelah berpikir, ia baru sadar. Andai ia di posisi Bapak Naina. Sudah barang tentu emosinya meledak-ledak tak terkira. Anaknya dihina dengan membabi buta.


Selamet menepuk punggung Arman. Mencoba menenangkan emosi anaknya saat ini. Ia tahu, Arman menyesal dengan pilihannya dan berniat untuk mendapatkan Naina lagi. Tapi, status gadis itu saat ini telah berbeda. Arman mau atau pun tidak harus menerima kenyataannya.


"Besok iring-iringan pengantin datang. Naina akan tinggal di sini beberapa hari! Jaga sikapmu! Kalau bisa jangan ke luar kamar."


Arman tak menjawab sedikit pun. Kebodohan memang berasal dari dia sendiri. Namun, langkah untuk merubah keadaan berusaha semaksimal mungkin ia jalankan.


Bahkan, ia telah menyusun rencana selama Naina ada di rumahnya.


'Kita lihat saja, berapa banyak rasa yang telah melebur dalam hatimu, Nai?! Sampai kapan pun. Kamu milikku!'


Bersambung ....