
Sore hampir tiba saat aku dan Mas Rian akhirnya menjejakkan kaki di Stasiun Yogyakarta. Sepanjang perjalanan tadi, aku sama sekali tak bisa menikmati kebersamaan dengan suamiku. Karena mabuk kendaraan ditambah kepikiran dengan Mas Arman.
Mantanku itu, ah tidak, maksudku adik iparku itu. Dia telah benar-benar pergi. Mas Rian menunjukkan pesan terakhirnya padaku. Dan bodohnya, kembali ada rasa iba mengganjal diri.
Kotak pemberian dari Mas Arman telah kutunjukkan pada Mas Rian. Tak ingin ada rahasia di antara kami. Bagaimana pun, saat ini aku menyandang status sebagai istri sahnya. Pun diri ini telah menjadi miliknya.
"Mau muntah lagi, nggak?" tanya Mas Rian saat kami duduk untuk beristirahat sebentar.
Aku menggeleng. "Masa iya udah tiba masih aja muntah."
"Ya kali aja."
"Dih!"
Mas Rian terkekeh mendengar jawabanku. M Tak berselang lama. Kami pun keluar dari stasiun dan langsung memesan mobil via aplikasi online.
"Nggak ngasih kabar ke Budhe Riana dulu?" tanya Mas Rian tiba-tiba.
"Enaknya gimana, Mas?"
"Nanti aja deh, ya. Takutnya entar ... eum."
Mas Rian menatapku dengan tatapan yang mencurigakan.
"Entar apa?" tanyaku penuh selidik.
"Entar ada yang ganggu. Nanti aja deh. Kita nikmati dulu waktu berdua. Kamu pasti capek juga, 'kan?" tanyanya balik.
Dimasukannya gawai ke dalam saku. Lalu ia menatapku dalam. Dibingkainya wajahku dengan kedua telapak tangannya. Dari balik kaca mata beningnya itu ada sorot penuh pengharapan. Aku mengerti. Akhirnya kuanggukkan kepala saja padanya.
"Nggih, Mas."
Aku tersenyum dan mengurai tangkupan tangannya. Dilihat orang jadi tak enak sendiri.
***
Aku dan Mas Rian langsung menuju hotel yang berjarak kurang dari dua kilometer arah stasiun tugu Yogyakarta. Sesuai dengan alamat hotel yang sudah Budhe Riana berikan tentunya.
Ada tiga hari waktu yang akan kami habiskan di Kota Yogyakarta ini. Kami sudah menyusun rencana. Untuk hari pertama, begitu tiba, kami akan menikmati nuansa malam hari di jalan-jalan Kota Yogyakarta juga menikmati aneka jajanan di pinggir jalan. Kata temanku kuliner di Kota ini beragam dan cukup murah harganya.
"Capek, nggak, Yang?" tanya Mas Rian setelah kami check in hotel.
Mas Rian merangkul pundakku. Sementara barang-barang kami yang telah rapi di dalam koper. Dibawa oleh petugas kamar hotel.
"Lumayan, Mas."
Mas Rian tersenyum. Ia tampak manis sekali. Sekilas, senyuman itu persis dengan Mas Arman.
Astagfirullah!
Kenapa justeru mengingat dia?
"Kenapa, Sayang?" tanya Mas Rian menyadarkanku.
Aku menggeleng. "Nggak papa, Mas."
Kami lantas masuk ke dalam lift. Rupanya ada juga yang hendak keluar. Pasangan muda yang kedua tangannya saling menggenggam. Senyum merekah menghiasi kedua pipinya. Kuperkirakan mereka sama seperti kami. Pasangan pengantin baru.
"Dih, ngeliatin aja." Mas Rian membisik pelan.
"Enggak, kok," kilahku.
"Kamu nggak bisa bohong, Nai. Pipinya langsung merah."
Mas Rian menowel pipiku. Rasanya makin panas saja. Aku merunduk menatapi langkah kaki yang membimbing hingga aku berada di dalam lift.
***
Usai menaiki lift akhirnya kami tiba di depan pintu kamar hotel. Petugas masuk lebih dulu membawa barang-barang kami. Tak banyak hanya dua koper saja. Sebenarnya bisa jika cukup kami berdua yang membawa, tapi, Mas Rian sengaja meminta bantuan petugas kamar hotel. Katanya berbagi rejeki. Dari dulu aku memang sudah tahu bahwa Mas Rian adalah orang yang dermawan. Ya, sejak masih bersama Mas Arman.
Kala itu kulihat tumpukan majalah bersampul tulisan dhuafa dan anak yatim di ruang tamu rumah Mas Arman. Ia bilang bahwa Mas Rian yang punya. Ada keterangan untuk donatur, begitu. Jadi, kutarik saja kesimpulan bahwa memang ia orang yang dermawan.
Dari depan pintu kamar kulihat Mas Rian memberikan tip kepada petugasnya.
"Banyak banget ini, Pak?"
"Sudah nggak papa. Terima kasih juga saya sudah dibantu."
Mas Rian tersenyum ramah. Tak lama petugas itu pun berlalu pergi. Di ambang pintu, saat berpapasan, petugas itu tersenyum sopan ke arahku. Kubaca nama yang tertera di seragamnya. Ridho. Begitu tulisan yang tersemat.
"Silakan masuk Nyonya Rian," ucap Mas Rian mengaburkan fokusku. Aku menoleh, ia menunjuk ke arah dalam kamar dengan tatapan menggoda. Kedua alisnya dinaik turunkan.
Mendadak pipiku terasa sangat panas. Rabbi, tingkah suamiku kenapa begini.
Satu langkah kakiku menapaki lantai dalam kamar hotel. Belum sempurna diri ini masuk ke dalam. Kurasakan tarikan tangan Mas Rian yang tiba-tiba.
"Mas!"
Aku terkejut dengan aksinya. Ia menangkapku dan mendekap erat. Dalam hitungan detik posisinya membalik badanku. Kali ini ia membelakangi pintu kamar dan ...
Klek!
Pintu kamar tertutup rapat. Mas Rian menyandarkan punggungnya di belakang daun pintu. Rasa-rasanya jantungku berdegub lebih kencang kali ini.
"Sudah halal, hanya kita berdua. Tanpa ada pengganggu. Dan sejujurnya ... aku sudah nggak sabar, Nai," ujar Mas Rian panjang.
Kedua matanya menatapku lamat. Kami saling bertaut pandang. Dalam beberapa detik, ia berhasil memangkas jarak di antara kami. Gerakannya pelan namun mampu membuatku hanyut.
Aku menarik diri. Mengatur napas yang sedikit tersengal.
"Kenapa?" tanyanya.
"Nai mau ke kamar kecil dulu," lirihku.
"Nanti, deh."
Ia menahanku dan kembali melakukan sentuhan lembutnya. Aku baru ingat akan sesuatu. Astagfirullah.
Cepat kudorong kasar tubuh Mas Rian.
"Kenapa, Nai?"
"Kunci dulu pintunya!"
"Oh, iya."
Mas Rian melepas dekapannya. Lalu bergerak cepat mengunci pintu kamar. Sementara itu, kurapikan kerudungku yang acak-acakan karena ulahnya.
"Sayaaaaang!" Mas Rian membisik lirih. Membuatku merinding mendengarnya. Kurasakan rengkuhan hangat memeluk tubuh. Lalu dengan sekali angkat, ia berhasil membawaku ke atas gendongannya.
***
Mas Rian mendatangiku sebagai suami yang baik. Sungguh, aku ridho atas pernikahan ini. Aku akan berbakti sebagai istri yang baik untuknya. Dan kini, aku telah sangat siap untuk melayaninya.
Bergelung di bawah selimut yang sama. Mas Rian menatapku dalam. Keringat membanjiri tubuhnya. Terpaan napas yang hangat serta irama penuh kasih mewarnai aktivitas kami.
"I love you, Nai," bisiknya lirih.
"I love you to, Mas."
***
Sedih.
Itulah yang kurasakan begitu kami mengakhiri ritual suami istri. Ada rasa kecewa dalam diri ini. Ya, meski dari awal aku tahu bahwa aku tak memilikinya. Selaput daraku yang berharga. Rupanya, memangkas rasa kecewa itu tak mudah.
"Hey, sudah, Sayang. Mas sudah bilang. Itu nggak masalah."
Mas Rian mengusap sudut mataku. Jemari telunjuknya terlihat basah. Ya, aku menangis, namun bukan berarti aku cengeng. Melainkan karena aku sendiri tak puas dengan apa yang kupersembahkan untuk suamiku.
"Kita sudah pernah membahas ini, Naina. Mas boleh jujur?"
Mas Rian mengangkat daguku. Membuat pandangan kami saling bertemu.
"Asal kamu tahu. Terkadang Allah memberikan jalan hidup yang tak pernah kita duga. Coba kalau misalkan kamu dan Arman nggak ada masalah. Mungkinkah kita akan menikah seperti ini? Dari sini kamu bisa melihat mana yang tulus dan mana yang ...."
Mas Rian mengecup lembut keningku. Membuat derai air mata kembali tumpah. Suamiku lelaki yang baik. Ia menerima segala kekuranganku. Ah, hati ini kembali terenyuh.
"Mas," panggilku.
"Kenapa?"
"Makasih untuk semuanya. Nai akan berusaha menjadi istri yang baik."
Kutatap lamat kedua matanya. Diantukkannya keningnya dengan keningku.
"Iya, Sayang."
Mas Rian kembali merebahkanku. Biarkan saja. Tak apa. Hati ini ternyata begitu mudah berlabuh pada pria sebaik dia.
"Boleh lagi?" tanyanya.
Aku mengangguk. Tersenyum dengan kedua pipi yang memanas.
"Tapi, Mas."
"Tapi kenapa?"
"Eum, Naina risih. Dari tadi kurang nyaman."
"Kenapa?"
"Itu, banyak pembaca yang ngintip."
Kulihat wajah Mas Rian mendadak pucat. Sepertinya ia sedang syok. Cepat diraihnya selimut menutupi kami.
"Kalau begini, nggak kelihatan, 'kan?"
"Enggak, sih, tapi, mereka juga menguping."
"Duh!"
"Jadi, gimana?"
.....
Hening dan senyap. Tak ada suara apapun.
- SELESAI -
Terima kasih banyak yang sudah mampir baca. Jangan lupa follow akun author ya. Untuk informasi novel terbaru silakan kunjungi FB Author : Amaliyah Aly
terima kasih banyak >\<