NAINA

NAINA
11. Sebelas



Hosh! Hosh! Hosh!


Astagfirullah!


Gila! Arman sudah nggak waras!


Jantungku berdegub semakin kencang. Masa bodoh dengan kompor yang masih menyala. Aku tak peduli!


"Dek!"


"Astagfirullah!"


Mas Rian mengagetkanku. Ia menatap penuh curiga. Mungkin, karena melihatku, yang sangat ketakutan.


"Mas! I-itu, di dapur, Mas!"


Telunjukku mengarah ke arah dapur. Saking gugupnya sampai kalimat yang kuucapkan terdengar patah-patah.


Belum selesai aku menjelaskan. Mas Rian sudah berlalu menuju dapur. Sementara aku sendiri, memilih menyandarkan diri di dinding. Kembali begidik ngeri saat teringat ucapan Mas Arman.


Rabbi ....


Bukankah dia penyebab semua masalah? Tapi, kenapa ia juga yang tak terima?


Kuusap wajah kasar. Lalu memijit kening pelan.


"Kamu kenapa, Dek? Nggak ada apa-apa di dapur."


Suara Mas Rian mengagetkanku.


"Kenapa? Gasnya juga nggak bunyi? Ada apa?"


Mas Rian menatapku khawatir. Tapi, apakah secepat itu Mas Arman menghilang?


"Hey, kenapa, sih? Ngelamun terus?"


Kurasakan jemari Mas Rian mencolek hidungku. Dih! Orang lagi panik gini.


Apa aku cerita saja, ya, ke Mas Rian tentang Mas Arman tadi? Tapi ... bagaimana kalau ia jadi kepikiran?


Cup!


"Mas!"


Aku mendelik ke arah Mas Rian.


"Habisnya ngelamun terus. Lagi diajak ngobrol juga."


Ia mengusap lembut pipiku. Kenapa, sekarang aku jadi sangat nyaman dengannya. Rabbi, kenapa jadi begini jalanku?


"Sayang. Udah, yuk. Kita nyari makan di luar aja. Mas udah matiin kompor tadi. Liat masakan di dapur, eum ... agak bosan, hehe."


Mas Rian menggenggam jemariku. Melihat senyumnya, hatiku terenyuh. Tak tega jika merusak bahagianya. Baiklah, soal Mas Arman tadi, aku akan memilih bungkam.


***


Usai berpamitan bersama Ayah mertua. Mas Rian membawaku pergi. Menaiki motor miliknya. Saat aku duduk di belakang. Lagi-lagi ada yang berdenyut sakit, dalam hati dan juga kepala.


Kenangan bersama Mas Arman. Seakan kembali terulang. Dulu, Mas Arman pernah membawaku pergi. Dengan motor Mas Rian, karena motornya tak mau jalan.


"Pegangan, Dek."


"Iya, Mas."


Perlahan, motor yang membawa kami berjalan meninggalkan pelataran rumah Mas Rian. Perasaanku sedikit resah. Rasanya, seperti ada yang memperhatikan dari tadi.


Kutoleh ke arah kiri. Tak ada apa pun. Hanya jalanan sepi sepanjang ini.


"Mas, katanya mau makan? Itu banyak kedai pinggir jalan," ujarku begitu melewati sederet pedagang dengan jualannya yang berjajar.


"Nanti, Sayang. Pegangan, ya," sahut Mas Rian setengah berteriak.


Padahal dari tadi aku sudah pegangan pada bagian belakang. Tapi, Mas Rian masih saja menyuruhku.


"Di depan, Dek. Sini tangannya," ucap Mas Rian lagi.


Aku baru paham. Ah, tapi ....


"Nah, begini."


Mas Rian melingkarkan tangan kananku di perutnya. Membuat seakan aku memeluk ia dari belakang. Duh. Kenapa hatiku berdetak tak keruan begini.


Ia juga kenapa jadi senang tiba-tiba.


***


Sepanjang jalan aku hanya terdiam. Mengikuti ke arah mana Mas Rian membawa motornya. Hingga kurasakan ada yang aneh. Ketika kami memasuki sebuah kompleks perumahan.


"Mas, mau ke mana?" tanyaku.


Mas Rian diam tak menjawab. Sampai kuulang lagi beberapa kali pertanyaan yang sama. Tapi, suamiku itu masih diam tanpa jawaban. Hanya gerakan tangannya saja yang merespon. Memainkan jemariku dengan tangan kirinya, menahan stang motor dengan satu tangan saja.


"Mas, ih lagi ditanya juga."


Lagi-lagi Mas Rian diam. Dari pantulan spion, kulihat segaris senyuman terulas di bibirnya. Lalu, kurasakan laju motornya melambat dan berhenti tepat di depan sebuah rumah di antara deretan rumah yang lain. Karena memang di dalam perumahan.


Mas Rian mematikan mesinnya dan aku turun dari kendaraan motornya. Kulihat di depanku. Sebuah rumah sederhana bercat cokelat muda.


***


"Ini rumah kita, Sayang."


Mas Rian menuntunku masuk ke dalam rumah. Aku masih tak menyangka bahwa ini adalah rumah pribadinya. Ia ternyata sudah berpikiran jauh.


"Suka nggak?" tanyanya.


Aku menoleh. Suamiku itu tersenyum lembut. Tak pernah terbayang sebelumnya jika Mas Rian sudah memiliki rumah sendiri. Bahkan, Mas Arman yang sudah siap menikah denganku, ia masih belum punya cukup uang untuk membeli rumah sendiri.


"Ini beneran rumah kita, Mas?" tanyaku masih tak percaya.


"Iya. Hasil tabungan Mas beberapa tahun terakhir."


Mas Rian memandangku dan aku balik memandangnya.


"Sepulang dari Jogja, kita pindah ke sini, ya? Biar kamu nggak merasa terganggu sama Arman."


Mas Rian mengusap kepalaku.


Ia mendaratkan kecupan di kening, lama. Lalu mendekap erat dengan tiba-tiba. Saat ini, aku benar-benar merasa nyaman dan tenang. Mas Rian, ia berhasil membuatku terbuai dengan kebaikannya.


"Nai," panggilnya.


"Iya, Mas?"


"Makasih banyak, ya."


"Iya."


Dekapan yang erat membuatku bisa mendengar detak jantung Mas Rian. Debarannya sangat tak beraturan sekali. Andai ia tahu bahwa aku pun sama. Hatiku, sama-sama berdegub dengan kencangnya.


"Nai."


Mas Rian melepas pelukan. Ia sedikit merunduk saat aku mendongak. Kedua mata kami bertemu. Lalu, perlahan kurasakan terpaan napasnya yang hangat. Kubiarkan ia melakukannya. Ia suamiku dan aku ridho atasnya.


Waktu seakan melambat. Ia menyapu seluruh wajahku dengan gerakan lembut bibirnya. Pelan dan sangat hati-hati. Aku menyukainya. Mas Rian lelaki yang baik. Sungguh.


Dengan satu tarikan, ia berhasil membawaku naik ke atas gendongannya. Dua tangannya yang kokoh menahanku agar tak jatuh. Kupegang erat tengkuk lehernya. Melingkarkan tangan di sana.


Mas Rian mengetuk keningku dengan keningnya.


"Kita ke kamar, Sayang," bisiknya lirih.


Entah, aku hanya menurut saja. Sudah saatnya. Aku sendiri telah membuat janji pada hati ini. Bahwa Mas Rian adalah masa depanku. Dan kelak, dalam rahim ini akan tumbuh benih-benihnya.


Klek!


Pintu kamar ditutup. Dengan dorongan kaki, Mas Rian membuat rapat daun pintu itu dengan bingkainya.


"Nggak dikunci, Mas?" tanyaku.


"Emang siapa yang mau datang, Sayang? Nggak ada orang lain," bisik Mas Rian lirih.


Kini, kami berada di ranjang. Mas Rian meletakanku dengan hati-hati.


"Apa kamu takut?" tanyanya.


Aku tersenyum. Sejujurnya aku masih trauma. Kenangan pahit semasa dulu, menimbulkan sensasi yang tak menyenangkan. Namun, demi membuat suamiku itu bahagia, aku mencoba menyamarkannya.


Mas Rian mencium puncak kepalaku. Meski lirih, aku bisa mendengar saat ia membaca doa. Lalu dengan hati-hati, jemari tangannya bergerak lincah.


"Kamu cantik, Nai," ujarnya saat berhasil melepas kancing penutup hijabku. Membuat selembar kain yang menutup kepala, terlepas dan jatuh.


Jantungku berdebar tak beraturan. Sungguh, beragam rasa kini sedang bergemuruh dalam ruang bernama hati. Seperti tadi, Mas Rian menhujamiku dengan ciuman yang bertubi.


Sebagai rekan yang baik. Kubalas setiap perlakuannya. Membuat ia juga merasa bahagia. Meleburkan hati kami berdua. Menyatukan ikatan semakin erat saja.


Satu persatu pakaian yang menempel teronggok di bawah. Lalu semakin meleburlah rasa kami berdua. Hingga pada puncaknya, saat sesuatu itu hampir berhasil. Di antara nyanyian juga rintih kenikmatan ....


Braaaaaaakkkk!


Astaghfirullah!


Jantungku tersentak kaget.


"Aaaaarrrrgh!"


Mas Rian mengerang kesakitan. Ia terhuyung dan seketika ambruk tak sadarkan diri.


Mataku membulat, saat melihat sosok di belakang punggung Mas Rian. Arman. Dia menatap penuh kebencian.


Sadar bahwa tubuh ini tanpa selembar kain yang menempel satu pun. Cepat kugerakkan tangan meraih bed cover dan membungkus rapat tubuhku bersama Mas Rian.


"Dasar perempuan murahan! Aku pikir hatimu tak semudah itu berpaling! Sudah berapa kali ia menidurimu, hah?!"


Arman berteriak, sementara kusibukkan diri menepuk-nepuk Mas Rian. Membangunkannya.


Rabbi ....


Sungguh, aku takut setengah mati.


"Jangan mendekat!" teriakku saat Arman bergerak merambati ranjang.


Arman tertawa terbahak.


"Oh, ayolah Naina. Hanya sebentar saja," ucapnya sambil menggerakkan jari membuka kancing kemejanya.


Astagfirullah!


Astagfirullah!


"Mas! Mas Rian! Mass!"


Kutepuk-tepuk pipi suamiku itu sambil berteriak panik. Berharap membuatnya ia tersadar, tapi sedikitpun Mas Rian tak merespon.


"Tolong jangan mendekat, ka--kamu, pergilah! Ini tidak benar, Arman Hentikan!"


Kucoba bernegosiasi dengannya. Tapi ia malah terbahak. Dan berhasil melepas kemejanya.


Melempar tepat di wajahku.


Ya Allah.


Astagfirullah!


Astagfirullah!


Jantungku menyentak semakin tak keruan. Sakit.


"Tolong jangan ganggu kami."


Aku bergerak mundur. Menggeser tubuh Mas Rian ke belakang. Juga memegang bed cover kuat-kuat. Tak ingin ada yang tersingkap.


Rabbi ... Kenapa bisa seperti ini?


Luruh sudah air dari kedua mataku. Saat melihat Arman sudah berada di atas ranjang. Muak dan benci. Kini, rasaku padanya begitu buruk.


"Sudah kubilang, aku hanya akan mencicipi sedikit," desisnya.


Aku menggeleng.


"Jangan! Jangan menyentuhku!"


Bersambung ....