
Tak nyaman.
Begitulah yang Naina rasakan. Betapa tidak, keluarga besar Rian yang sudah banyak Naina kenal. Jelas saja membuat hati perempuan itu sungkan.
Semua mengenal bahwa Naina adalah kekasih Arman. Naina adalah calon istri Arman. Bahkan undangan yang tersebar bertuliskan nama Arman.
Namun, saat ini. Fakta bahwa Rian adalah suami Naina. Menjadi sesuatu yang ... tampak aneh.
Hampir menjelang Zhuhur. Acara sudah selesai. Tamu pengiring kembali pulang. Tinggallah kini Naina sendiri di rumah Rian.
"Mas, aku mau istirahat dulu, ya."
Naina membisik kepada Rian. Kepalanya berdenyut nyeri. Seperti hatinya yang merasai sejak tadi.
"Ayo, Mas antar ke dalam."
Rian berdiri disusul Nai yang mengekori di belakangnya. Tamu yang tinggal hanyalah kerabat dekat Rian. Ada Ayahnya yang sudah mewakili. Tak masalah jika Rian dan Naina pergi.
***
"Gimana, masih pusing?" tanya Rian sambil memijit kepala Naina.
"Enggak, Mas. Udah mendingan. Makasih banyak."
"Besok kita ke Jogja, kalau kamu masih nggak enak badan. Udah aja nggak usah pergi."
Naina menggeleng.
"Enggak, Mas. Nggak enak sama Budhe. Lagian, lumayan bisa jalan-jalan ke Jogja. Kapan lagi dapet yang gratis."
"Eum, begitu? Bukan karena yang lain?" Rian mendekatkan wajahnya. Lalu mencuri sesuatu.
"Mas!"
Naina terhenyak kaget. Pipinya seketika memerah karena malu. Ah, ia tak bisa menolak dengan perlakuan yang tiba-tiba.
"Kenapa? Udah halal ini." Jemari tangan Rian mengusap lembut bibir Naina.
"Aku malu, Mas."
"Malu kenapa?" Rian menyentuh dagu Naina, mengangkat wajah itu sedikit ke atas. "Suami istri saling menyentuh itu berpahala, Sayang. Nikmatnya menikah begini. Saling menyayangi dan menumbuhkan rasa cinta. Yang datang bukan hanya keberkahan, tetapi juga pahala."
Rian tersenyum lembut. Dipandanginya wajah Naina yang cantik. Dua manik hitam dengan bulu mata yang lentik.
"Seperti ini ... lihat."
Lagi, Rian melakukannya. Kali ini bertubi-tubi. Menghujami Naina dengan perlakuan sayang lewat kecupan.
"Maaas!"
Naina mendorong paksa. Napasnya tersengal. Jantungnya berdebar-debar liar.
"Kenapa? Masih pusing?"
"Ih, bukan itu. Tapi ... sabar dulu."
Naina merunduk. Ia menangkupkan kedua telapak tangan di muka. Malu sekali rasanya.
Rian terkekeh geli melihat tingkah istrinya itu. Sengaja ia berbuat usil. Agar Naina tak merasa sesak di rumahnya. Ah, kenangan itu ....
Rian ingin Naina benar-benar mencintainya saja. Bukan yang lain.
"Besok, kita honeymoon. Mau atau tidak. Aku akan meminta hakku, Sayang."
Rian membisik lembut. Ucapannya barusan membuat Naina begidik sendiri. Juga deg-degan sendiri.
***
Sejak bertemu tadi, sampai detik ini juga, Arman belum kembali ke rumah. Ia memilih pergi bukan tanpa alasan. Banyaknya tamu di rumah, dengan beragam pertanyaan yang seragam. Membuat Arman sesak setengah mati.
"Kenapa bukan kamu yang menikah?"
"Ada apa?"
"Kenapa justeru Abangmu?"
"Sabar, ya. Semoga mendapat jodoh yang lebih baik."
Kalimat-kalimat itu terus saja diulang. Panas hati Arman mendengarnya. Meski ia tahu, kesalahan ada pada dirinya sendiri.
Aaaarrrrgghh!
Arman meremas rambut kepalanya. Sakit! Tapi lebih sakit hatinya saat ini.
Tidak! Ini tidak benar! Naina milikku!
Hatinya meracau berkali-kali. Melawan takdir, yang Arman lukis sendiri.
Dilihatnya jam di pergelangan tangan. Sudah hampir sore. Ia harus pulang.
***
Naina tampak segar dengan balutan gamis berwarna merah jambu dan kerudung hijau muda. Rian memberinya tadi. Sebagai hadiah setelah mereka tiba di rumah.
Naina sedang di dapur. Ia menyiapkan makanan untuk Rian. Sementara Rian sendiri, sedang duduk di teras depan berbincang dengan Ayahnya.
Beda dengan kediaman mempelai perempuan. Di tempat Rian. Usai kedatangan pengiring tadi, rumah kembali seperti semula. Hanya ada Rian, dan Ayahnya. Sedangkan, Arman sendiri belum tampak batang hidungnya.
Menyendok nasi dengan hati-hati. Lalu menuangkannya ke atas piring. Naina sedikit banyak hafal porsi makan Rian. Suaminya itu tak bisa makan banyak.
"Masak apa, Mbak?"
Degh!
Naina menoleh. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Satu wajah tengah tersenyum ke arahnya. Arman.
Arman mendekat. Sementara Naina terburu-buru menyendokkan sayur. Perasaannya campur aduk saat ini. Ada binging, takut, benci, rindu. Semua bercampur jadi satu.
Setengah pikirannya mencoba mengelabuhi rasa. Tetap berpikir waras. Karena statusnya hanyalah saudara ipar saja.
Bagaimana bisa Arman di sini? Batinnya penuh tanya. Ia tak tahu jika ada pintu belakang rumah yang langsung terhubung dengan dapur.
"Hey, tenanglah. Santai saja."
Arman mencengkeram pergelangan tangan kanan Naina. Lalu dengan cepat menyambar piring dan meletakkannya di atas meja.
"Maaf, permisi!"
Naina mencoba lepas dan pergi. Namun, cengkeraman tangan Arman masih membuatnya tertahan.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat saja," ucap Arman pelan. "Bagaimana malam pertamamu? Apa kau menikmatinya gadis tak perawan?" Arman membisik, tepat di telinga Naina yang terhalang hijab.
Plak!
Satu tamparan Naina berikan dengan tangan kiri. Tak menyangka kalimat yang keluar dari mulut Arman. Ia merasa direndahkan. Ah, dasar tak waras!
Naina beringsut pergi, namun Arman menarik pergelangan tangan kanan Naina dan menguncinya. Membuat posisi Naina di depan, namun tertahan.
"Jaga sikapmu, Mas!" Naina berontak.
"Mas? Bahkan kau memanggilku, Mas. Aku masih yakin, hatimu belum benar-benar berpaling," bisik Arman lirih.
Direngkuhnya Naina dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan masih mengunci.
"Kamu sudah salah paham, Arman! Lepaskan!" Naina sedikit membentak. Tak suka. Ia semakin berontak hebat.
Bukannya lepas, Arman semakin gemas dan senang. Sebenarnya, pemuda itu sedang terpengaruh minuman keras. Ia tak sepenuhnya sadar.
"Kamu pikir aku bisa semudah itu melepaskanmu, Nai? Hanya karena satu kesalahan lantas kau perlakukanku seperti ini? Tak apa. Biar kau bukan milikku, setidaknya aku akan mencicipimu suatu hari nanti."
Degh! Astagfirullah!
Mata Naina melebar. Semakin ngeri saja ucapan Arman.
Tak kehilangan akal. Diinjaknya kaki kiri Arman dengan sangat keras. Membuat pria yang pernah menyandang sebagai kekasihnya itu meringis kesakitan. Lalu ... terlepas!
Naina lari ke arah luar. Lupa dengan piring yang berisi nasi untuk Rian.
Ipar adalah maut. Kita tak pernah tahu bahaya apa yang mengancam setelah ini. Karena ucapan Arman, tidak pernah main-main. Ia selain nekat, juga sudah gelap mata saat ini.
Seperti hilang akal, Arman mencium telapak tangan sendiri. Bekas pergelangan tangan Naina yang ia genggam tadi. Menyisakan aroma wangi lotion yang menempel.
Membuat nyalinya semakin besar. Malam nanti, ia akan melncarkan aksi.
***
Hati ibarat cermin. Apabila benci merasuki, maka tak ada sisi baik yang bisa dilihat. Semua dianggap salah. Padahal ia sendiri pelaku utamanya.
Retaknya hubungan. Salahnya jalinan. Semua terjadi karena pikiran yang sempit tanpa memperhatikan berkali-kali.
Mengurai masalah tak bisa hanya satu atau dua kali saja. Ada masa dimana kita butuh waktu untuk menyendiri. Menanyai hati, serta menjalankan akal bagaimana semestinya menghadapi itu semua.
Bukan justeru terjatuh dan terjerembab ke dalam pusaran masalah yang tak ada habisnya.
Bersambung ....