
Tak ada romansa cinta paling indah kecuali yang dibangun di atas landasan yang sah. Semua aktivitasnya berkah. Bahkan bersentuhan kulit bisa bernilai pahala. Maka nikmat menikah bukan sekadar sentuhan fisik semata. Tapi ada pundi-pundi pahala yang terkumpul bersamanya. -
***
Membelah jalanan Kota Gresik. Melewati jalur tol nan mulus agar cepat sampai tujuan. Mobil berwarna putih yang telah dipesan Rian via aplikasi online telah mengantar pasangan pengantin baru itu di depan pintu utama Stasiun Surabaya Gubeng.
Ramai orang berlalu lalang, bising kendaraan juga peluit kereta yang bersahut seakan menjadi harmoni yang indah di tempat ini. Orang berbincang, bertegur sapa, aktivitas padat yang penuh celoteh juga tangis perpisahan seakan terdengar seperti bunyi dengung kawanan lebah. Bahkan dari gerbang utama. Suara-suara itu beradu jadi satu.
"Terima kasih, Pak."
Rian mengeluarkan selembar kertas berwarna biru dengan nominal angka sebesar lima puluh ribu rupiah. Sopir pengemudi mobil online menerima dengan senyum terkembang. Rejeki ia dapat dengan rasa syukur dalam hati. Saat sang sopir hendak menyodorkan kembalian, Rian menolaknya dengan halus.
"Ambil saja kembaliannya, Pak."
Sopir dengan rambut beruban itu lagi-lagi tersenyum berterima kasih. Setelah ini ia akan bergegas pulang. Karena anaknya sedang menunggu hasil kerjanya barusan. Tagihan sekolah yang menunggak membuat lelaki beruban itu harus melecut usaha lebih pagi. Bersyukur berkat pemberian Rian, ia bisa membayarkan sekolah dan pulang cepat ke rumah.
Nominal memang tak seberapa bagi mereka yang ada, tapi akan sangat berharga bagi mereka yang membutuhkannya.
Perlahan, Rian membimbing Naina turun dari dalam mobil. Hanya dalam beberapa menit keduanya siap melenggang masuk. Naina tersenyum seraya menggelayut manja pada lengan sang suami. Bayang keindahan Kota Jogja merambati labirin kepalanya. Naina sudah tak sabar
***
- Stasiun Gubeng Surabaya -
"Kita check in aja langsung, ya? Sekalian nunggu di dalam."
Naina mengangguk pelan. Ia yang tadinya duduk di bangku luar. Kini membuntut masuk ke tempat check in tiket kereta.
"Tunggu, Mas."
Naina menghentikan langkah. Mendadak ia ingin ke kamar kecil.
"Kenapa, Sayang?"
"Mau ke toilet dulu. Sebentar aja."
"Aku antar, ya?"
"Ih, enggak, Mas. Bentar doang, kok."
"Emang tahu jalannya? Mas anter, ya? Anter?"
"Enggak, ih."
Naina tersenyum geli. Malu kalau membuat Rian harus ikut mengantar. Sementara ekspresi suaminya itu terus saja menatap menggoda.
"Ya udah, jangan lama-lama. Takut ada yang ngambil."
Rian mencolek hidung mungil Naina dengan gemas. Tak peduli di tempat umum. Ingin sekali ia tunjukkan bahwa ia sangat mencintai Naina.
***
Naina berjalan melewati beberapa stand makanan. Karena letak toilet berada cukup jauh dari tempat check in tadi. Naina bisa bebas menyisir seluruh sisi stasiun dengan kedua matanya.
"Nai!"
Suara seseorang terdengar memanggil. Seketika Naina menoleh. Kedua matanya melebar mendapati wajah yang berada tepat di belakangnya. Arman.
Perasaan Naina jadi tak tenang. Gegas ia berlalu pergi menuju toilet, tapi tarikan tangan Arman membuatnya tertahan. Pergelangan tangan Naina dicengkeram erat. Hingga terasa sakit dan panas.
Arman mencoba menenangkan Naina. Gadis itu menatap tajam dan juga berontak hebat.
"Lepaskan! Apa mau kuteriaki? Ini di tempat umum!" ancam Naina.
"Nai, kamu salah paham. Tenanglah. Aku hanya ingin berpamitan." Arman menyela cepat. Dikendurkannya pegangan hingga akhirnya terlepas.
Naina masih diam terpaku. Kalimat Arman barusan. Maksudnya apa?
"Maaf untuk segala khilafku. Termasuk kejadian waktu itu. Aku ... sangat menyesal."
Arman mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah bingkisan dengan sampul motif hati berwarna merah. Diserahkannya kotak itu pada Naina.
"Aku ambil proyek kerja di luar kota dan mungkin akan menetap lama di sana. Maaf untuk banyak hal yang tak bisa dijelaskan. Semoga kamu bahagia bersama Mas Rian."
Diraihnya kembali tangan Naina. Lantas menggenggamkan jemari gadis itu pada kotak hadiah. Segaris senyuman Arman berikan. Senyum yang dipaksakan. Juga penuh kepedihan.
Hati Naina berdentum lagi. Wajah yang teramat dicintainya itu perlahan melenggang pergi. Untuk sesaat tadi, Naina melihat ada embun yang menggenang di pelupuk mata Arman. Sakit.
"Mas ...,"
Suara Naina tercekat di tenggorokan. Dilihatnya Arman berlalu pergi. Tak sedikit pun menoleh ke arahnya. Lelaki dengan tas ransel di belakang punggung itu membawa hatinya yang hancur.
Seperti ucapannya tadi. Arman mengambil proyek di luar kota. Bukan tanpa alasan. Karena setelah kejadian memuakkan yang ia lakukan. Arman bahkan jijik dengan perbuatannya sendiri. Memilih pergi dan mengubur masa lalu adalah tujuannya. Ia tak ingin mengganggu Naina lagi.
Benar kata gadis itu. Semuanya berawal dari Arman. Sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah atau dielak. Bukan jodoh. Begitu pikirnya.
Hingga punggung Arman menghilang dibalik kerumunan orang-orang. Naina masih menyesap pedih juga nyeri yang menghunjam.
***
Tak bisa jika menutupi rasa. Raut wajah Naina menunjukkan ada rasa luka yang sama. Rian yang melihat perubahan ekspresi istrinya itu menjadi sedikit tak nyaman.
"Kenapa ditekuk aja mukanya? Senyum, Sayang."
Rian mencolek pipi Naina.
"Nggak papa, Mas. Maaf."
"Beneran?"
"Bener."
Naina menyandarkan kepala di bahu Rian. Sementara jemari tangannya dibiarkan menggenggam erat. Ada gemuruh dalam hati perempuan itu. Diembuskannya napas dengan cepat. Mencoba menetralkan beragam rasa yang berkecamuk dalam dada.
Ikhlas. Naina akan menerima semuanya. Bahkan dari awal ia telah berusaha. Lembaran baru dimulai. Awal kisah bersama suami tercinta akan ia ukir di Kota Jogjakarta.
Naina memejamkan kedua matanya. Menikmati perjalanan panjang bersama Rian. Kereta api Ranggajati merambat melalui rel yang didesain menuju Kota Yogyakarta.
"I love you, Nai."
Rian menggenggam semakin erat jemari tangan Naina. Dua puluh menit sudah kereta melaju kencang, dari luar gerbong terdengar bunyi desing yang berisik. Kurang lebih lima jam lagi kereta itu akan tiba.
Drrrrttttttt!
Gawa Rian bergetar. Cepat diraihnya dari dalam saku kemeja. Satu pesan masuk dari Arman ia terima.
[Aku pergi, Mas. Selamat untuk yang kesekian kalinya. Kamu menang dan aku kalah. Nikmatilah honeymoon kalian. Ramaikan rumah almarhum ibu dengan derai tawa anakmu. Aku akan pergi untuk waktu yang lama.]
Bersambung ....