
Naina sedang sibuk di dapur. Bersama Mila, ibunya. Naina sedang menyiapkan piring dan sendok untuk sarapan. Sementara jemari tangan Mila terampil mengaduk sayur di atas wajan. Wangi rendang daging menyeruak di dalam dapur.
Aneka sayur dan lauk sudah dimasak. Hanya tinggal menghangatkannya saja. Setiap kali hajat selalu membayar orang untuk bagian dapur. Jadi, keluarga Naina terima bersih. Hingga hari ke tiga nanti.
"Nduk," panggil Mila.
"Iya, Bu?"
"Kamu nggak papa?"
Mila menatap lembut wajah anak gadisnya itu. Naina mengangguk. Tak perlu menjelaskan panjang lebar ia sudah mengerti ke mana arah pembicaraan ibunya.
"Nggak papa, Bu. Inshaa Allah Nai ikhlas," ucap Naina.
"Apa kalian sudah berhubungan?" Mila bertanya setengah berbisik. Padahal di dapur hanya ia dan Naina. Berdua saja.
"Ih, ibu kok nanya gitu. Enggak, belum ngapa-ngapain, kok. Mas Rian juga butuh waktu. Pernikahan ini juga bukan inginnya. " Nai menghela napas. Jemarinya bergerak mengelap piring. Tapi, sekelebat bayangan akan ciuman tadi pagi terlintas di pikirannya.
Naina menggeleng pelan.
"Bukan begitu, ibu takut. Apa, Rian sudah tahu masalah kamu?" tanya Mila lagi. Semalaman ia mondar-mandir di depan kamar Naina. Takut jika terjadi sesuatu dengan anaknya itu.
"Mas Rian sudah tahu, Bu, dan beliau tidak keberatan." Kalimat itu meluncur dengan lancar dari bibir Naina. "Hanya saja, kami butuh waktu."
Naina sudah selesai mengelap sendok dan piring. Sudah siap dibawa ke luar.
"Ibu butuh ngobrol lagi. Tapi, nanti, bukan sekarang. Kamu bawa sarapannya ke depan, ya. Tanyain, suamimu itu suka kopi, teh, atau susu? Nanti ibu buatkan."
Naina tersenyum mendengar ucapan ibunya.
"Nggih, Bu."
Naina lalu bergerak meninggalkan dapur. Tepat di ambang pintu, Bulek Tutik juga masuk ke dalam dapur.
"Hayoh, nabrak!" seru Bulek Tutik.
"Eh, Bulek!"
Naina terperanjat ke belakang. Beruntung sudah ditahan piringnya oleh dua tangan Naina. Jadi tak sampai jatuh dan pecah.
"Nggak ada yang jatuh, tho?"
Naina menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Yawis sana, sudah ditungguin sama yang lain. Ibumu ini gimana, udah mau jam delapan kok baru nyiapin sarapan!" cerocos bulek Tutik lagi.
Naina tak menyahut. Sudah khatam tabiat kakak ibunya itu. Bahkan, dulu kasus pelecehan yang Naina alami. Justeru dianggap berlebihan oleh bulek Tutik. Katanya, Naina yang mengada-ada.
Tak banyak protes. Karena kejadian itu sudah sangat lama. Bulek menganggap Nai belum sempurna akalnya. Ngomong fitnah ke mana-mana. Daripada terjadi perdebatan dan selisih yang tak berujung. Mila, ibu Naina memilih diam.
Hanya terus berpikir bagaumana nasib sang putri saat menikah nanti. Dan yang tak diinginkan pun terjadi. Calon suami yang harusnya menikahi Naina. Telah membatalkan saat tahu kenyataannya.
***
Rian memperhatikan dengan seksama. Dilihatnya satu wajah dengan pipi yang merona di depannya. Nai sedang menyendokkan nasi ke dalam piring. Sepertinya ia tahu kalau Rian terus memperhatikan. Tingkah suaminya itu membuat debar-debar di hati Naina.
Di ruang makan, semua penghuni rumah duduk melingkar beralaskan tikar.
"Segini, Mas?" tanya Naina.
"Hm?"
Semua orang menatap ke arah Rian. Lelaki itu sedikit salah tingkah. Tertangkap basah sedang tak fokus.
"Ini, nasinya segini atau mau nambah?" tanya Naina lagi.
"Udah, segitu aja," jawab Rian sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
"Hadeh, anak Bapak kenapa nggak fokus?" Danu menyeletuk. Membuat Naina dan Rian saling pandang.
"Udah, ayo, makan. Keburu dingin," ujar Bulek Tutik tak sabaran.
"Iya, udah lapar banget ini," sahut yang lain.
Ada Paman, Bibi, sepupu, keponakan, semua berkumpul menjadi satu. Masing-masing menyuap makanan ke dalam mulut. Naina duduk tepat di samping Rian.
Sambil sesekali keduanya saling curi-curi pandang. Sejak kejadian tadi pagi, sentuhan yang Rian berikan. Membuat Naina merasakan gelenyar yang berbeda. Tak biasa.
***
Hingga siang menjelang. Kediaman orang tua Naina tak juga reda akan kehadiran tamu. Naina dan Rian pun turut menemani, menyalami dan berbincang pada setiap tamu yang datang.
"Kalau capek istirahat aja, Nai. Biar Mas yang di luar," ujar Rian.
Naina menggeleng. Ia tak enak pada tamu-tamu. Dilihatnya mayoritas yang datang adalah saudara jauh. Masih pagi, tapi sudah banyak yang berdatangan. Maklum, ibunya dulu pedagang di pasar. Jelas banyak sekali yang diundang.
"Hueeeeek!"
Mendadak Naina mual-mual. Merasakan sebuah dorongan kuat dari dalam perut. Seakan semua isinya ingin dimuntahkan dengan segera. Refleks, Rian memijit tengkuk kepala Naina.
"Kenapa, Nai?" tanya Mila seraya mendekat. Ada rasa khawatir melihat wajah pucat Naina.
"Nggak tahu, Bu. Sepertinya masuk angin," jawab Naina sambil memegangi perut. Sementara satu telapak tangannya menutup mulut.
"Ya sudah, dikerokin, mau? Kamu pasti kecapaian," sahut Rian.
Naina melirik lalu menggeleng cepat berkali-kali. Bagaimanalah Rian bisa menawari hal itu? Dikerok? Oleh dia maksudnya? Woah, tidaaak!
"Hey, kamu mikir apa?" Rian melambaikan tangan di depan muka Naina. Ekspresi dengan kerutan di dahi, membuat Rian yakin kalau istrinya itu sedang berpikir yang tidak-tidak.
"Enggak, Mas. Nggak papa."
"Entar makin pusing. Masih pagi, lho. Siang nanti banyak tamu. Biar enakan dikit," paksa Rian lagi.
Sedikit terpaksa. Naina pun mengangguk.
"Ya udah, iya," jawabnya pasrah.
***
Di dalam kamar. Dengan minyak di tangan serta uang logam mengerok punggung. Mila mencerocos tak kunjung berhenti.
"Walah, Nduk. Kamu ini pengantin baru sehari, kok ya malah bau minyak urut."
"Gimana suamimu nanti. Mana mau deket kalau bau minyak begini."
Naina terkekeh mendengar omelan ibunya. Sengaja ia. Hatinya sendiri diam-diam menyimpan rasa takut. Rian sudah berani menciumnya walau hanya sebentar. Jangan-jangan malam ini ia meminta lebih? Wah, jangan sampai. Sungguh, pikiran Naina sudah melayang jauh.
"Diajak ngobrol kok malah geleng-geleng kepala," tegur Mila lagi.
"Nggih, Bu. Udah, deh ngeledeknya. Mas Rian bukan pria seperti itu." Naina menimpali.
Mila menghela napas. Dengan sangat hati-hati ia mengerok punggung putrinya. Naina memang sudah akrab dengan minyak urut, balsem dan obat gosok sejak masih kecil.
"Ibu perhatikan, Rian tampak baik sama kamu. Apa kalian memang dekat sejak dulu?"
"Hm? Mas Rian? Ah, enggak, kok. Dulu, jangankan bicara. Menyapa saja tidak." Naina mengukir segaris senyuman di bibir. Wajah Rian terbayang di kedua matanya.
"Ibu lebih suka Rian daripada Arman. Bapak juga begitu. Apalagi sekarang kalian sudah menikah. Semoga langgeng sampai ajal menjemput nanti. Sebisa mungkin lupakan Arman dan semua kenangannya."
Arman?
Ah, hati Naina kembali meredup. Sedih.
"Nduk," panggil Mila lagi.
"Iya?"
"Beri hak suamimu secepatnya."
"Tapi ...," suara Naina seakan tercekat di tenggorokan.
"Tabiat perempuan itu, kalau sudah terikat pernikahan apalagi sudah menyerahkan dirinya secara utuh. Akan sangat sulit membagi hati. Ibu yakin, kamu perempuan yang seperti itu."
Naina mengembus napas pelan. Ia bingung harus berkomentar apa. Tak sedikit pun menyahut. Ia sendiri sedang berusaha menumbuhkan rasa. Meski sedikit, ia akan terus menyuburkannya. Rasa yang memang sepantasnya untuk sang kekasih halal. Rian. Suaminya sendiri.
Menurutnya, memberi hak kepada suami yang tak dicintai tidaklah semudah membalik telapak tangan. Mungkin, jika menyerahkan tubuh saja tanpa rasa, sudah barang tentu ia diperlakukan seperti benda mati. Tak memiliki hati .
***
Klek!
Tepat pukul sebelas siang Rian masuk ke dalam kamar. Ia bersiap hendak ke mesjid. Ingin mandi dulu karena merasa gerah.
Kedua matanya menyisir ke seluruh ruangan. Dilihatnya di atas ranjang, Naina tengah tertidur pulas. Rian melangkahkan kaki, mendekat. Ingin membangunkan istrinya itu karena sudah menjelang Zhuhur.
Rian lalu duduk di tepian ranjang. Menatap lamat pada wajah Naina. Ia tersenyum kecil, jemarinya lantas mengusap pipi gadis itu.
Dalam hitungan detik. Naina seakan merespon dari alam bawah sadarnya. Ada senyuman terlukis di wajah yang tengah terpejam itu.
"Mas Arman ...."
Deg!
Naina mengigau menyebut nama Arman. Membuat gerakan jemari Rian terhenti.
"Jangan pergi, Mas ...."
Naina mengigau lagi.
Ah, ada yang tercubit. Sakit dalam hati Rian. Himpunan rasa yang ia miliki seakan tercerai berai. Disentuhnya dada sendiri. Meremas kemeja yang ia pakai.
Apakah aku egois? Apakah bahagia yang kumiliki salah? Rasa cinta yang tumbuh di atas derita.
Seperti tertampar. Bukankah pernikahan ini juga tanpa landasan kasih sayang? Bukan jalanku yang semestinya.
Bahkan, Arman juga adikku. Bagaimana bisa aku bahagia di atas deritanya?
Sudut-sudut hati Rian menjerit.
Di depannya. Naina perlahan mengerjapkan kedua mata. Mengumpulkan kesadarannya secara utuh. Ada satu wajah yang tertangkap oleh kedua matanya. Rian.
"Mas?" tanya Naina setengah terkejut.
Rian menatap lamat. Ada bening yang tersamar di kedua matanya. Beruntung terhalang oleh kaca mata, Naina tak sampai melihat itu.
"Aku cerai kamu, Naina."
Bibir Rian bergetar mengucap kalimat itu. Bukan, bukan karena marah pada gadis yang baru bangun itu. Tapi, mencoba merasai diri. Seandainya Rian berada di posisi Naina. Tentu itu menyakitkan sekali. Menjalani takdir yang salah. Menurutnya.
"Astagfirullah! Mas!"
Naina memekik. Tak menyangka kalimat itu ia dengar dari Rian. Bahkan dalam posisi seperti ini. Saat Naina baru bangun tidur.
Bersambung ....