My wife is beautiful

My wife is beautiful
Part 8



Part 8


Bismillah.


***


Kini malam mulai larut, setelah menempuh perjalanan yang jauh dan bikin pegel bokong akhirnya sepasang suami istri itu telah sampai di rumah sang ayah.


Tin tin tin


Bunyi klakson mobil berwarna hitam itu terdengar oleh sang satpam yang tengah menonton televisi sekaligus menikmati kopi hitamnya, ia bergegas pergi ke pintu gerbang untuk membukakan gerbang nya.


"Selamat malam tuan, selamat datang kembali di rumah," sapa satpam yang bernametag Dedi itu tersenyum manis.


Ica yang masih tertidur pulas tidak menyadari bahwa ia telah sampai di rumahnya, Dan yah satpam itu tau bahwa anak majikan nya tengah tertidur jadi ia tak menyapa dan menyebut sang anak majikannya.


"Malam kembali pak, iyah hhe," balas Fikri ramah.


Fikri kembali melajukan mobilnya untuk sampai ke garasi, setelah membuka pintu garasi oleh pak Dedi, Fikri turun dari mobilnya.


"Bangunin jangan ya?" gumam Fikri.


"Jangan aja deh ah, kasian udah tidur,"


Detik berikutnya Fikri memanggil pak satpam satunya lagi untuk membantu mengambil koper, dan oleh-oleh.


"Oh iya tuan, di rumah tidak ada siapa-siapa," ucap pak satpam yang bernametag Dani.


"Loh pada kemana emang?" tanya Fikri heran.


"Tadi sekitar jam 7 non nisa sakit perutnya, mungkin mau melahirkan, jadi di bawa ke rumah sakit," terang Dani.


"Tapi, kenapa mamah gak bilang yah?"


"Mungkin nyonya mau tuan istirahat dulu, atau mingkin nyonya lupa,"


"Ohh yaudah, besok saya sama Ica ke rumah sakit deh,"


"Oh iyah pak, kunci rumah nya dimana?"


"Ada di saya tuan, bentar saya ambil dulu,"


"Oh silahkan pak,"


Beberapa saat kemudian, pak Deni kembali membawa kunci di tangan nya.


"Mari tuan,"


"Iyah,"


Setelah Fikri siap mengangkat Ica ala brydal sytle, mereka berjalan ke arah pintu utama, setelah pak Dani mengunci garasi tadi.


Pak dani mulai membuka pintu dengan kunci yang ia pegang, setelah terbuka lebar mereka mulai memasuki rumah besar bernuasa putih berpadu coklak itu.


Kini mereka telah menaiki anak tangga, dan memasuki kamar Fikri dan Ica, Fikri membaringkan Ica di ranjang lalu ia menyelimutinya sampai batas dada.


"Ini taro dimana tuan?" tanya pak Dedi.


"Di dekat lemari saja pak,"


"Oh siap tuan,"


"Makasih pak sudah bantuin saya, maaf merepotkan,"


"Sama-sama pak, gapapa ini tugas kami kok,"


"Yaudah tuan, saya sama Dani pamit kembali ke bawah,"


"Silahkan pak,"


Setelah dua satpam itu kembali ke bawah tempat mereka semula, Fikri pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu menganti pakaian. Karna mau mandi hari sudah malam.


Beberapa menit kemudian, Fikri keluar dengan baju kaos biasa dan celana selutut. Ia bersiap untuk membaringkan bokongnya yang sejak tadi tidak tidur, setelah bokongkan menempel dengan kasur di ranjang, ia membukaan jilbab milik Ica lalu disimpan nya di meja kecil.


Setelah mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur, ia menarik selimut, selanjutnya ia menutup netra nya menyembuhkan rasa penat nya. Dan tertidur pulas.


Yang pertama kali dilakukan saat bangun tidur adalah membuka mata, dan itulah yang sekarang yang dilakukan oleh Ica. Ia menyempurnakan netra nya, lalu ia melihat ke sekeliling penjuru kamar yang terbalut cat warna putih itu.


"Loh udah di kamar?"


"Kapan sampe?"


"Siapa yang ngendong aku ke kamar?"


"Ohh mas Fikri pasti."


Drett drett


Suara handpohe milik Alisya berbunyi diatas meja, secepat mungkin Ica mengambilnya. Tertera di layar handpone nya bertulisan 'mamah♡' dengan cepat ia menggeser tombol berwarna hijau itu, kemudian mendekatkan ke telinga nya.


"Halo, assalamualaikum Ca," ucap seseorang disebrang sana yang tak lain adalah Aminah, sang mamah Alisya.


"Waalaikumsalam mah," balas Ica.


"Kamu udah sampe rumah Ca?"


"Udah mah,"


"Emang mamah gak tau aku udah nyampe gitu? Dan terus kenapa mamah telpon, kan bisa langsung naik ke atas mah ke kamar Ica,"


"Ya gak tau lah, orang mamah gak dirumah kok,"


"Lah terus mamah sekarang dimana?"


"Loh, emang kamu gak tau?"


"Ya gak lah orang belum dikasih tau,"


"Suami kamu gak kasih tau gitu? Atau pak dedi sama pak dani?"


"Gak mamah, orang Ica baru bangun kok,"


"Allahuma, ini udah jam 5pagi belum shalat dong?"


"Belum hehe, tadinya mau bangunin mas Fikri. Eh mamah telpon,"


"Yaudah gih shalat dulu, nanti agak siangan ke rumah sakit pelita sehat,"


"Hahhh? Siapa yang sakit? Mamah? Ayah? Kak bani atau ka nisa? Ihh kenapa gak bilang kalo mamah di rumah sakit, kan aku bisa pas malem langsung ke rumah sakit,"


"Kasian kalian kan baru pulang, oh ya kakak kamu mau lahiran,"


"Wahhh,"


"Loh kok wah?"


"Eh hehe, bayinya perempuan laki-laki mah?"


"Belum juga brojol udah nanyain jenis kelaminnya,"


"Yaudah atuya, nanti agak siangan kalian berdua susul ke rumah sakit,"


"Siap bos,"


"Mamah tutup telponnya, assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Setelah selesai memutuskan sambungan telpon, ia membangunkan suaminya yang berada tepat di sampingnya, yang masih merem, mungkin cape.


Ica terus mengoyang-goyangkan serta memanggil nama sang suami, tapi tidak ada balasan atau deheman. Fikri masih tertidur pulas sangat pulas, Ica tidak menyerah ia masih mengoyang-goyang tubuh Fikri.


Setelah 5menit Fikri tak kunjung bangun, tak ada cara lain yang harus lakukan sekarang selain mencipratkan sedikit air ke wajah Fikri. Bukan tidak sopan atau gimana, karna inilah cara terbaik membangunkan seseorang.


Ica berjalan ke arah meja bulat di depan sopa kamarnya, ia mengambil satu botol aqua, lalu ia menumpahkan sedikit air kemudian menyipratkan ke wajah Fikri.


Berhasil, Fikri langsung membuka netranya menyempurnakan penglihatannya, dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik Alisya.


"Ih kamu yang cipratin aku air?"


"Iyah, abis kamu sih dibangunin gak bangun-bangun. Jadi gak ada pilihan lain selain itu hehe,"


"Ayo shalat subuh mas, keburu siang nanti. Oh iya nanti sehabis sarapan kita ke rumah sakit pelita sehat,"


"Lah ngapain?"


"Ih kata mamah kamu tau, dikasih tau sama pak dani,"


"Ohh iya, kak nisa mau lahiran. Lupa aku hehe,"


"Yaudah ah, gih ambil wudhu,"


"Emang kamu udah?"


"Belum hehe,"


"Ihh dasar. Yaudah atuh ayo barengan,"


"Iyah ayo,"