
Part 20
____
Fikri, Ica juga Aisyah menduduki sofa yang kosong. Fikri merasa heran pada adik laki-lakinya sejak ia menampakan diri didepan sang adik, ia tidak milihat sedikit pun. Yang ia lihat hanya Istrinya, Ica.
Ehem.
Deheman Fikri mampu membuat Fattah yang sejak tadi bengong memandang Ica tersadar, ia langsung melirik ke arah deheman itu.
"Uwaaa, abangggg." suara Fattah mampu membuat seisi rumah tutup telinga.
"Sutttt! Berisik Fattahh! Ini rumah bukan hutan." ketus Aisyah.
"Abangg Attah Rindu abanggg," Fattah langsung berlari ke arah Fikri dan memeluknya dengan erat.
"Abang juga," Fikri membalas pelukan Fattah.
Kini Fikri dan Fattah berpelukan bagaikan seseorang yang tak mau dilepas, sangat erat.
"Lepas ih, enggap," ucap Fikri berkomentar, karna sejak tadi sang adiknya itu memelukanya erat sekali.
"Ehehe, maaf," Fattah melerai pelukannya.
"Duduk gih." Fattah langsung mematuhi perintah sang abangnya.
"Kenapa kamu liat-liat istri abang kayak gitu?" ketus Fikri menatap tajam sang adik.
"Eh, gak.. gak papa bang," ucap Fattah tersenyum sembari mengaruk kepala yang tak gatal.
Kini mereka asyik dengan bercerita, mulai dari Aisyah yang bercerita banyak dipondoknya dan begitupun Fattah.
Jam sudah menunjukan pukul 21.30 sejak sejam yang lalu mereka asyik mendengarkan cerita dari Aisyah juga Fattah.
"Sekarang udah jam setengah sepuluh, pada tidur gih," perintah Mahesa.
"Mau tidur sekarang sayang?" tanya Fikri pada Ica, Ica hanya mengagukan kepala sebagai jawaban.
"Yaudah pah, bu aku sama Ica kekamar ya," pamit Fikri.
"Yaudah gih," balas Dwi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Ica dan Fikri berjalan menaiki tangga, menit berikutnya mereka telah sampai didepan kamarnya. Mereka memasuki kamar bernuasa hijau berpandu putih itu.
Kini mereka bersiap-siap untuk menyambut mimpi indah dialam sana, Ica maupun Fikri telah berbaring diatas kasur putih nan empuk itu.
"Selamat tidur sayang, cup." ucap Fikri dengan mengakhiri kecupan hangat yang mendarat dikening Ica.
"Selamat tidur pula mas," balas Ica tersenyum manis.
"Selamat tidur anak ayah, jan nakal diperut bunda," kini Fikri berganti mencium perut rata milik Ica.
"Selamat tidur pun ayah," balas Ica dengan suara seperti anak kecil
_________
6 bulan kemudian.
Kini usia kandungan Ica telah menginjak enam bulan, dan perut Ica pun semakin membesar.
Disiang hari ini, Ica sangat bersemangat untuk memasak untuk diantar kerumah sakit yang dimana suaminya tengah bekerja.
Ica tengah berkutat dengan bahan-bahan masakan, mulai dari sayur sop tulang, ayam goreng, perkedel, kerupuk dan masih banyak lagi.
Sekitar setengah jam lebih Ica membuat makanan, dan kini telah selesai. Ica mulai mewadahi makanan demi makanan kedalam rantang.
Selelah selesai, Ica kembali ke kamar untuk ganti gamis juga khimar. Beberapa menit kemudian Ica telah rapi dengan gamis berwana pink dan khimar hitam, ia kembali berjalan ke pintu utama.
"Mau kemana kak?" tanya Aisyah saat mereka bertemu di pintu.
"Isyah ikut boleh?"
"Boleh, ayo." Ica dan Aisyah berjalan ke arah garasi untuk mengambil mobil.
Sebelum sampai di depan garasi, Ica terlebih dahulu berpamitan ke sang mertua yang tengah duduk dikursi depan.
Aisyah mulai memasangkan kunci mobil, ya kini Aisyah yang akan membawa mobil. Setelah mobil keluar dari garasi, Aisyah mulai melajukan mobilnya ke rumah sakit pelita.
____
Seorang pria berjas putih khas seperti seorang dokter tengah duduk dimeja kerjanya, tak lama kemudian, seorang wanita cantik berjas putih dengan rambut tergerai mendekati pria tampan itu.
"Selamat siang Fik," sapa wanita itu mengibas-ngibaskan rambut hitamnya.
"Siang." balas Fikri tanpa melirik sedikitpun kearah wanita itu.
"Aku bawain makanan loh, kamu mau?" tawar wanita itu pada Fikri, yah memang Fikri lah pria dengan jas putih.
"Gak, buat kamu aja," jawab Fikri yang sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya.
"Ayolah, mau yah?" paksa nya.
"Aku sibuk, kamu pergi saja."
"Aku suapin mau?"
"Gak!" tekan Fikri.
"Ayolah Fikri, aku cape-cape loh beliin untuk kamu,"
"Emang aku nyuruh kamu gitu?"
"Kan aku inisiatif sendiri,"
Fikri tidak lagi membalas ucapan wanita, ia sibuk dengan berkas-berkas pasien.
"Heyy." wanita itu mendekat ke arah Fikri dan mengangkatkan dagu Fikri, beberapa saat mereka bertatapan.
"Alamaaa ganteng syekalih pujaanku," jerit wanita itu dalam hati.
Fikri yang tersadar langsung membuang muka nya ke arah lain.
"Ih kok buang muka? Masih enak loh liatin kamu,"
"Jaga sikap kamu Nay! Pergi kamu dari sini!" murka Fikri.
"Gak..mau!"
"Pergi atau aku seret?"
"Aku mau disini Fik, nemenin kamu," wanita itu mengedipkan sebelah matanya. Nay, Nayla ya wanita itu bernama Nayla.
"Pergi!!"
"Gak Fik,"
Fikri menyeret Nayla dengan kasar. Ia tak suka perempuan macam Nayla, murahan! Sudah tau Fikri punya istri masih aja godain suami orang.
Fikri terus menyeret Nayla, Nayla yang diseret terus meberontak untuk dilepas. Tapi Fikri tidak merespon ucapan-ucapan Nayla, Nayla terus memcoba melepaskan cekalan Fikri.
Nayla mendorong keras dada Fikri, Fikri yang tidak seimbang akhirnya terjatuh kebawah dan tanpa segaja menarik Nayla. Alhasil mereka berjatuh berbarengan, Fikri dibawah dan Nayla diatas.
Prang!
Makanan yang tertata rapi didalam rantang, tanpa segaja dan diduga. Rantang itu terjatuh, akibat kaget dan sok melihat adegan didepannya.
"M--aass.." ucap seorang wanita dengan getaran hebat di depan ruangan, yang telah terbuka pintunya.
____