
Part 5
Bismillah
Ke esokan hari nya.
Seorang wanita juga pria tengah bersiap-siap untuk pergi ke bali, siapa lagi kalau bukan Fikri dan Alisya.
Mereka siap dengan satu koper besar yang telah di pegang oleh Fikri, satu koper? Emang cukup? Ya cukuplah, orang mau ke bali bukan ke luar negri. Dan juga hanya beberapa hari, mungkin tiga sampai empat hari.
Ica, ia hanya membawa tas selempengan berukuran sedang yang telah terkait di pundaknya.
Seluruh anggota keluarga telah berkumpul di sofa ruang tamu, yang ingin melihat kepergian mereka.
"Masyaa allah serasi sekali kalian," puji Aminah tersenyum.
"Hehe.. Mamah bisa aja," balas Fikri.
"Emang iyah kok,"
"Iyah atuh hhe," jawab Fikri.
"Doain semoga sampe di tempat tujuan dengan slamat," ujar Ica.
"Aamiin sayang," ucap Aminah dan Sahal.
"Aamiin semoga slamat sampe tujuan," ucap Nisa.
"Aamiin," kompak semua orang.
"Jangan lupa, pulang-pulang bawa cucu untuk ayah," ucap sahal tertawa.
"Siapp yah," balas Fikri semangat.
Kini Ica dan Fikri menciumi punggung tangan Aminah, Sahal, Nisa dan Bani secara bergantian.
"Assalamualaikum," ucal Fikri dan Ica.
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.
Dan kini, Fikri dan Ica telah berada di mobil milik Fikri. Karna semalam ia telah mengambil mobilnya di rumah sang papah dan bundanya.
Setelah membaca doa bepergian, Fikri menjalankan mobilnya di atas rata-rata. Tidak ada pembicaraan sama sekali di dalam mobil itu, hanya deru mobil yang mereka dengar.
***
Beberapa jam kemudian, mereka berdua telah sampai di tempat tujuan mereka, pantai Bali. Karna hari sudah larut, ya maklum balu kan jauh. Dan sekarang tempat tujuan utama mereka adalah hotel untuk mereka beristirahat.
"Selamat datang di atanaya hotel, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita penerima pesan kamar hotel(gatau namanya wkwk😂) dengan sangat ramah.
"Kami ingin memesan satu kamar mba," jawab Fikri ramah.
"Oh, tunggu sebentar mba, mas, saya ambilkan kunci kamar nya dulu," ujar wanita itu tersenyum, lalu mengambil kunci yang tergantung di belakang nya.
"Silahkan," balas Ica dan Fikri tersenyum.
Beberapa saat kemudian, wanita itu telah mengambil satu kunci berwarna putih dan memberikan kepada Fikri.
"Silahkan mba, mas. Kamar kalian di lantai 3 nomor 138," ucap lagi wanita itu.
"Makasih mba, mari," ucap Ica tersenyum.
Sang wanita itu hanya menggangukan kepalanya seraya tersenyum manis. Dan kini mereka berjalan menuju kamar mereka yang telah dikatakan mba-mba tadi.
Kini, mereka telah sampai di depan kamar yang mereka pesan. Ica membukakan pintu, dan mereka langsung mesuk ke dalam.
Saat pertama kali masuk ke dalam kamar hotel itu, Fikri dan Ica melihat ke sekeliling kamar itu. Harum! itulah udara yang mereka hirupi.
Setelah sampai di dalam, Ica langsung membuka kopernya lalu memasukannya ke dalam lemari yang telah tersedia di kamar itu. Lain hal dengan Fikri, ia langsung berbaring di kasur empuk nan wangi itu.
Setelah selesai membereskan pakaian ke lemari, Ica ikut berbaring di samping sang suami untuk mehilangkan rasa penatnya.
"Cape Ca?" tanya Fikri melihat ke arah Ica.
"Bukan cape tapi pegel," balas Ica.
"Mau di pijitin gak?" tanya Fikri.
"Gak usah, seharusnya aku yang mijitin kamu." jawab Ica.
"Nanti aja yaa, Sekarang aku mau mandi dulu," ujar Fikri berdiri dari baringannya.
"Aku duluan yah pliss, gerah nih," ucap Ica memohon.
"Bedua aja mau?" goda Fikri menaik-naikan alisnya seraya tersenyum jahil.
"Ya udah deh kamu duluan aja," balas Ica memalingkan wajahnya, menyembunyikan bercak pink di pipinya.
"Yaudah deh, bye sayang," ucap Fikri melambaikan tangannya dan berjalan menuju kamar mandi.
***
"Ca mau gak kamu buat mas bahagia?" tanya Fikri melirik ke arah Ica.
"Maulah, yakali seorang istri tak mau membahagiakan suaminya," balas Ica membalas tatapan Fikri.
"Asli mau?"
"Iya mau mas, emang apa mau mas untuk membuat mas bahagia?" tanya Ica penasaran.
"Oh, mas mau di kupasin apel? Atau di buatin nasgor? gak-gak pasti mas mau Ica temenin besok ke patai, Atau jalan-jalan ke sekeliling pulau bali? Ehh..ehh atau jangan-jangan mas mau di pijitin yaaa?" lanjut Ica dengan banyak sekali pertanyaan.
"Bukan sayang bukan," balas Fikri.
"Lah? Terus maunya apa dong?" tanya Ica heran.
"Mas mau minta hak dari kamu,"
Deg.
"Ha-hak?" tanya Ica gugup.
"Iya sayang, boleh kan?"
Ica tidak langsung menjawab, ia malah melamun. 'Bagaimana nanti aku melahirkan? Pasti sakit, aku gak mau. tapi aku ingin mempunyai baby, yasudahlah aku harus mau, karna kodratku sebagai seorang istri,' itulah ucapan yang terus berbunyi di dalam hatinya dengan muka yang sudah basah oleh keringat.
"Hey, sayang kenapa melamun? dan kenapa juga kamu keringetan? Gerah?" tanya Fikri mengibaskan tangannya di depan muka Ica.
Ica yang langsung terdasar dengan kibasan Fikri, "Eh tadi bilang apa mas?"
"Kamu kenapa?"
"Gapapa mas, hhe..,"
"Bolehkan mas minta hak mas?" tanya Fikri memastikan.
"Bo--bo--boleh mas," jawab Ica gugup.
Setelah mendapat jawaban, Fikri ia langsung memeluk istrinya dari samping. Seraya berbicara, "Makasih sayang."
Ica hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum manis, dan Fikri ia langsung memulai aksinya. (Dan ntahlah apa yang terjadi selanjutnya saya sebagai author tidak mengerti dan gk mau ngerti😂, dan hey kalian para pembaca jan di bayangin ih. Emang tau gtu aksi apa? Haha)
***
Kini subuh pagi telah tiba dan sang surya hampir menampakan dirinya di ufuk timur, Ica telah terbangun dari tidurnya dan kini ia tengah mandi di kamar mandi. Dan Fikri ia masih setia di atas kasur dengan mata yang masih terpejam.
Beberapa menit kemudian, Ica keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melilit di kepalanya. Ia berjalan mendekati suaminya yang masing terbaring pulas dengan alam mimpinya.
"Mas ayo bangun udah subuh," ucap Ica menepuk-nepukan pipi Fikri serta menggoyang-goyangkan badannya.
Merasa terganggu dengan tepukan hangat serta goyangan ia terbangun dari tidurnya, dan yang ia lihat pertama kali adalah istri tercintanya.
"Emm iya sayang,"
"Makasih buat semalem, aku bahagia." lanjut Fikri yang akan memeluk Ica, tapi Ica malah berdiri menjauhi pelukan Fikri.
"Ihh, jan peluk-peluk aku punya wudhu mas," ucap Ica berjalan ke arah meja rias.
"Kamu mandi gih, terus ambil wudhu. Kita shalat subuh dulu sebelum waktunya abis," perintah Ica yang masih Fokus dengan menyisir rambutnya.
"Yaudah iyah, tunggu yah,"
***
Kini jam dinding telah menunjukan pukul 8pagi, setelah suami istri itu melaksanakan kewajiban mereka. Mereka langsung membereskan ranjang yang sudah berantakan, bak seperti kapal pecah. Pakaian, bantal, guling semua berserakan di lantai. Dan iru semua perbuatan mereka.
Dan kini, mereka telah menyelesaikan semua pekerjaan mereka. Kamar hotel itu telah rapi seperti sediakala mereka masuk ke dalam kamar ini.
"Dek, mau jalan-jalan gak?" tanya Fikri.
Memang iyah, setelah kejadian semalam. Fikri telah menganti nama panggilan untuk Ica menjadi dek, lebih tepatnya seperti para suami istri lainnya
"Boleh mas, sekarang atau nanti?"
"Taun depan sayang, ya sekarang lah."
"Hhe, kirain nanti kalau pantainya mulai rame,"
"Sekarang aja we, ayoo," ucap Fikri menarik lengan Ica.
"Ehh, tunggu mas Ica pake dulu jilbab," cegah Ica.
"Eh lupa, kirain udah pake jilbab, hehe..," jawab Fikri cengegesan.
"Yaudah gih, mas tunggu diluar," lanjut Fikri.
"Iyah."
***
Next atau stop?