
Part 6
Bismillah.
Dua jus apel, sepiring kripik kentang, payung besar peneduh panas yang telah tertancap di tanah plus dengan dua kursi panjang untuk sekedar baring-baring sekaligus menatap pemandangan indah nan cantik di depan mata, yah kini sepasang suami istri tengah menikmati jus apel plus kripik kentang kesukaan mereka, sekaligus memandang pemandangan indah di depan mata mereka.
Banyak sekali orang yang berlalu lalang, kesana kemari melewati mereka. Alisya ia tidak peduli dengan orang yang menghalang-halang pemandangan di depan sana, yang terus berjalan kesana dan kemari. Ica hanya fokus dengan pantai di depan mereka, lain hal dengan Fikri, ia memandang wajah Ica sejak Ica memandangan pemandangan pantai, kalian tau siapa mereka? Dan memang iyah, sepasang suami istri itu ialah Fikri dan Alisya.
"Dek?" ucap Fikri terus memandang Ica, tanpa berniat mengalihkan pemandangannya di depan sana.
"Hemm," gumam Ica, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Pemandangan pantai gak terlalu indah yah," ucap Fikri tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Ica.
"Loh? Tadi kamu liatinnya lama, berarti indah dong,"
"Gak tuh,"
"Dan ada yang jauh lebih indah dari pantai," lanjut Fikri.
"Apa?" tanya Ica mengalihkan pemandangannya, dan yang ia lihat mata hitam milik Fikri.
"Kamu,"
Blush, dan kini pipi Ica telah berubah warna bak seperti udang rebus.
"Ihhh, kerjaannya gombal mulu. Gak bosen?!" tekan Icca mengalihkan mukanya.
"Biarin, wlee." balas Fikri mengulurkan lidahnya
"Ishh, cubit nih yahh." ujar Ica.
"Jangan dong, kamu mah jahat sama suami main cubit-cubit aja," jawab Fikri sedih.
"Bukan jahat, tapi TUMAN!" ucap Ica menekan kata 'tuman'
"Loh kok tuman? Tuman apaan?" tanya Fikri heran.
"Tuman, kerjaannya baperin anak orang mulu."
"Udah ah jan bahas itu, ayo ke sana." ucap Fikri menunjukan telunjuknya ke arah sisi pantai.
"Ayoo," balas Ica girang.
Fikri langsung menggandeng lengan kanan Ica dengan mesra, hampir semua orang melirik ke arah mereka. Karna bisa di bilang mereka sangat sangat serasi di tambah wajah tampan dan cantik itu menghiasi mereka
Setelah sampai, Ica langsung mengambil air dengan tangannya lalu mencipratkan ke bawah Fikri.
"Ituu, akibatnya kamu baperin anak orang," teriak Ica berlari.
"Ihh awas kamu, kalo kena gak akan aku kepasin!"
"Wleee, coba aja kejarr," teriak Ica yang terus berlari-lari, sembari mengulurkan lidahnya dan melirik ke belakang.
Bak seperti anak kecil mereka berkejaran, orang-orang yang melihat mereka mungkin merasa aneh, tapi Ica maupun Fikri tidak mempedulikannya. Ica terus berlari menjauhi Fikri, dan Fikri pun terus mengejar Ica.
Senang dan bahagia, itulah yang sekarang di rasakan oleh mereka.
***
"Wleee, coba aja kejarr," teriak Ica yang terus berlari-lari, sembari mengulurkan lidahnya dan melirik ke belakang.
Bak seperti anak kecil mereka berkejaran, orang-orang yang melihat mereka mungkin merasa aneh, tapi Ica maupun Fikri tidak mempedulikannya. Ica terus berlari menjauhi Fikri, dan Fikri pun terus mengejar Ica.
Senang dan bahagia, itulah yang sekarang di rasakan oleh mereka.
Ica terus berlari sekuat tenaga, tapi karna ia cepar sekali cape ia berhenti dan nenggok ke belakang, tidak ada Fikri dibelakang nya hanya orang lain yang berlalu lalang.
"Dari tadi sia-sia dong, lari udah jauh tapi gak ngejar?" lanjutnya.
Tanpa disadari Ica, Fikri ngumput dipunggung Ica. Saat tadi Ica berhenti dari larinya dan mengatur napasnya, Fikri langsung berhenti lari nya dan cepat-cepat bersembunyi dipunggung Ica.
Saat Ica tengah fokus mencari Fikri, dengan celinguk kanan dan kiri. Ada sebuah tangan kekar yang melingkar di perutnya.
"Yeeeee, kenaa," ucap Fikri kegirangan.
"Astagfirullah, eh kamu mas? Sejak kapan kamu berdiri di belakang aku?" jawab Ica kanget.
"Dari kamu berhenti larinya," ucap Fikri yang masih setia memeluk Ica.
"Lahh? Tapi aku gak ngerasain kamu di belakang yah?"
"Kan tadi kamu fokus cari suamimu yang ganteng bak artis ini,"
"Ihh," Ica langsung mencubit lengan Fikri yang masih melingkar di perutnya.
"Lepas ih!" tekan Ica
"Gak akan, kan tadi kamu cipratin aku air jadi, ini balasannya," balas Fikri mengeratkan pelukannya.
"Ihh malu, diliatin orang."
"Biarin."
Fikri masih setia memeluk Ica dari belakang, tapi ada salah seorang pengunjung yang menganggunya.
"Heh mas mba, jangan peluk-pelukan di sini! Gak malu gitu diliatin banyak orang!" ucap pria itu sewot.
"Gak kenapa?" tanya Fikri santai.
Pria yang tadi menengornya langsung pergi ntah kemana.
"Orang dia istri saya, kenapa harus malu?" lanjut Fikri.
"Mas lepas ih," bisik Ica.
"Gak sayang!"
"Mas ih,"
"Iya deh."
***
Setelah Ica maupun Fikri puas dengan jalan-jalan di sekitar pantai, mereka pergi ke sebuah warung makan untuk mengisi perut mereka karna sejak pergi mereka belum mengisi perus mereka dengan nasi, hanya jus apel dan kripik kentang yang mereka makan pagi tadi.
Malam hari pun telah tiba, kini jam menunjukan pukul 9malam, setelah mereka mengisi perut mereka tadi mereka langsung pergi ke kamar hotel mereka. Dan kini mereka pun telah santai karena mereka telah mengerjakan shalat maghrib maupun isya.
Disini, di balkon kamar mereka tengah duduk di kursi yang telah tersedia. Di temani dengan dua cangkir teh hangat plus kripik kentang. Mereka sedang menikmati pemandangan indah di malam hari, banyak sekali lampu-lampu yang bersinar menghiasi jalan raya maupun saung (kaya rumah gitu, orang sunda mah pasti tau😅) maupun langit y
Sudah hampir satu jam mereka memandang pemandangan itu sembari menikmati cemilan, canda dan tawa yang kini menghiasi malam mereka.
Fikri yang merasa kantuk menyerangnya, sama hal nya dengan Ica. Mereka kembali ke kamar untuk tidur, setelah Ica menutup pintu dan gordeng.
"Selamat malam sayang, cup." ucap Fikri di iringi kecupan hangatnya.
"Malam kembali," balas Ica tersenyum.
Kini mereka merebahkan badannya, memarik selimut, dan bersiap untuk memejamkan matanya menjemput mimpi nya di alam mimpi.
***
Gak seru kya cb yg orang lain punya yh? Stop aja kali ya?