My wife is beautiful

My wife is beautiful
Part 16



Part 16


selamat membaca


____


Hari sudah semakin siang, dan hari ini mas Fikri tidak bekerja. Ya sebab aku gak mau jauh dari mas Fikri, hehe.


Dan begitupun aku, aku juga tidak masuk ngajar karna kepala pening dan slalu ingin muntah jika ada bau-bau farpum atau nasi.


Siang ini, aku dan mas Fikri tengah duduk dikursi balkon. Setelah tadi sarapan selesai, aku dan mas Fikri kembali ke kamar.


Dan kini, kami sedang menikmati kue bolu yang semalem mas Fikri cari-cari ke ujung kota. Maafin istrimu ini mas telah menyusahkan kamu.


"Mas,"


"Hemm," balas mas Fikri yang masih melihat langit biru diatas sana.


"Mas ihhh."


"Apa sayang?" jawab mas Fikri melihat padaku.


"Tau gak?"


"Gak,"


"Ihh kan belum dikasih tau,"


"Nah, tuh tau,"


"Makannya dengerin dulu ih."


"Yaudah apaan?"


"Em... apaya?"


"Loh kok balik nanya?"


"Gak tau,"


"Kamu sakit sayang? Aku periksa ya?"


"Gak."


"Aaaa nih," mas Fikri menyodorkan potongan kue bolu.


"Gak!"


"Aaa dong, pengel nih,"


"Gak mau ih, maksa deh."


"Yaudah," mas Fikri mencoret pipiku dengan krim kue.


Aku langsung menatap tajam mas Fikri, mas Fikri yang ditatap olehku langsung cengir-cengiran tak jelas. Dasar aneh!


"Gak segaja hehe," ucap mas Fikri cengegesan.


"Sini deh mas," ucapku manis, mas Fikri langsung mendekat kearahku.


"Apa?"


Tanpa mas Fikri tau, tangan ini mencoel krim kue diatas meja, dan...


Srettttt


Tepat sasaran, aku memoles wajah nya dengan berbentuk panjang. Bhaha tau rasa kau.


"Ups, gak sengaja," ucap ku mengacungkan jari berbentuk V seraya tersenyum nyengir (menampakan gigi lah pokonya mh:v)


"Awas kamu yaaa," dengan cepat aku berlari ke dalam kamar, setelah mas Fikri mempunyai senjata untuk membalas, ia mengejar.


Kami saling kejar-kejaran sampai selimut, bantal, guling, bantal sofa amburadul gak tau tempat.


Tiba-tiba aku merasakan pening, pening sekali. Akhirnya aku berhenti dari acara lari-larin, dan mas Fikri langsung menakap ku dari belakang seraya menyoret wajahku dengan krim ditangannya.


Aku memengangi kepala yang pening ini, seraya memejamkan mata.


"Sayang?"


"Kamu kenapa?" ucap mas Fikri membalikan badanku kearah nya.


Aku hanya membalas dengan geleng-geleng kepala, dengan mata yang masih terpejam juga tangan yang masih memengangi kepala.


"Kamu istirahat aja ya?"


Aku yang masih merasakan pening yang tinggal sedikit lagi, langsung berlari kekamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang tadi pagi dimakan, lagi dan lagi hanya air bening yang terbuang kewastapel. Mungkin ini awal hamil ya?


Mas Fikri masuk ke dalam kamar mandi yang tidak dikunci olehku, seraya memijit pelan punggung ku.


"Pusing lagi?" aku hanya membalas dengan mengagukan kepala.


"Kamu istrihat ya?" lagi, aku membalas dengan mengagukan kepala.


Mas Fikri mulai memapahku untuk sampai ke ranjang. Setelah sampai, ia mulai membaringkanku dengan hati-hati.


"Mas ambilin minum dulu ya?"


"Iya,"


"Kamu istirahat dulu,"


"Iyah mas."


Setelah diperiksa oleh Fikri, dan meminum vitamin. Ica memejamkan matanya untuk beristirahat. Ica sering pusing dan mual, memang itu adalah gejala hamil muda.


Hari ini adalah hari senin, dan hari pun sudah semakin siang. Setelah Fikri membereskan kamarnya bak seperti kapal pecah. Ia melanjutkan degan mambaca buku-buku tebal kedokteran disofa, sembari menikmati segelas kopi hitam.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuat Fikri menghentikan membacanya, seraya berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu.


"Eh bu," ucap Fikri saat tau bahwa yang mengetuk pintu adalah Dwi, ibunya.


"Ica mana Fik?" tanya Dwi.


"Tidur bu,"


"Loh kenapa?"


"Tadi Ica mual-mual lagi, dan kepalanya pusing, Fikri udah kasih vitamin. Dan suruh Ica istirahat deh," terang Fikri.


"Ada apa bu?"


"Itu ibu udah beli jamu untuk Ica,"


"Jamu?"


"Iyah, jamu biar Ica dan cucu ibu sehat,"


"Oh gitu yaudah nanti Fikri kebawah,"


"Oke, ibu kembali ke bawah lagi ya,"


"Iya bu,"


Dwi meninggalkan Fikri dikamar, dan Fikri kembali menutup pintu dan kembali duduk disofa untuk membaca lagi.


Ting.


Satu notif watsapp masuk ke ponsel milik Ica, dengan kilat Fikri menyambar ponsel dimeja bundar depan sofa.


[Icaaa]


Fikri membaca chatnya, ia melihat nama kontak nya. Tapi, tidak ada nama hanya ada nomor yang tidak diketahui.


[Siapa?] balas Fikri, yang mulai curiga karena poto profilnya laki-laki.


[Ini aku Ca, Adit. Masa kamu gak tau pp aku, kan itu foto aku]


Fikri mulai mengingat siapa Adit itu, dan yah ia ingat sangat ingat. Pria yang beberapa bulan lalu bertemu dengannya ditaman.


[Pnya no aku dri mn?]


[Gak biasanya kamu balas chat aku singkat]


[Trs?]


[Gak, gak biasanya aja gitu]


[Hm.]


[Ca?]


[Apa!]


[Ih jan bentak-bentak dong] diakhiri emot sedih.


[?]


[:*]


[Jiji!]


[Maaf.]


[Trs?]


[Maafin dong]


[Trs]


[Aku kangen kamu Ca] dengan emot love.


[Oh.]


[Kamu gak kangen?]


[Gak!]


[Ah.. masa iya, dulu kamu kan sayang sama aku.] dengan emot ketawa.


Fikri hanya meread chatnya, tanpa mau membalasnya lagi. Ia muak dengan pria bernama Adit itu, tak mikir apa. Ica kan udah punya suami, Masih berani-beraninya nyebut kangen.


Fikri semakin memikirkan apa hubungan Ica dengan Adit itu, setelah Ica sadar ia akan menanyakannya pada Ica. Sampe akar-akarnya pun, pikir Fikri.


____


Sudah hampir setengah jam Fikri membaca dengan tak fokus, begitupun Ica, ia masih tertidur pulas diatas ranjang.


Jam sudah pukul dua belas siang, beberapa menit lagi adzan dzuhur akan berkumandang. Fikri pergi kekamar mandi untuk membersihkan badannya dan mengambil air wudhu.


Sekitar sepuluh menit Fikri berada didalam kamar mandi, ia mulai berjalan keluar kamar mandi dan mendekat ke arah lemari. Ia memakai baju koko serta sarung juga kopiah.


Ia tidak berpamitan pada Ica, sebab Ica masih tertidur pulas. Fikri langsung kebawah dan berpamitan pada ibunya, karna papah Fikri tidak ada dirumah. Mahesa sedang bekerja.


____


Huamm.


Ica menguap serta mengeliat, sekitar satu menit yang lalu ia terbangun, dan setelah pandangannya sempurna ia melihat ke arah jam dinding. Dan ia bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi, Ica tidak melihat Fikri dikamar. Mungkin dibawah atau pergi ke masjid, pikir Ica.


Ica membersihkan badanya, serta mengambil wudhu. Sebab beberapa menit lagi adzan akan berkumandang.


Setelah ia selesai dengan acara mandi dan wudhunya, ia mulai pergi keluar kamar mandi. Dan berjalan kearah lemari untuk memakai baju.


Setelah selesai, Ica mulai membentangkan sejadahnya seraya melantunkan beberapa ayat untuk menunggu adzan berkumandang.


Allahu akbar allahu akbar..


Adzan berkumandang dengan merdu dimasjid dekat rumahnya, setelah adzan selesai berkumandang. Ica mulai berdiri, ia menunggu Fikri beberapa menit yang lalu. Biasanya setelah adzan berkumandang, Fikri langsung pergi kekamar. Tapi ini tidak?


"Mungkin mas Fikri kemasjid kali ya," fikir Ica.


Ica mulai melaksanakan shalat empat rakaat dengan khusu dan tertib.


____


maaf makin garing


ini foto toko yg ada di cerita ini


Alisya



fikri