
Part 7
Bismillah..
***
Pagi hari pun telah tiba, kini Firki dan Ica tengah sarapan pagi di balkon kamarnya, setelah tadi Fikri membeli nasi kotak plus air mineral di kantin hotel.
"Mau di suapin gak?" tanya Fikri menyodorkan sendoknya.
"Boleh," balas Ica menerima sodoran sendok Fikri.
Ammm, Ica melahap suapan dari Fikri.
"Enak gak?" tanya Fikri.
"Enak," jawab Ica sembari mengunyah
"Mas gak mau disuapin gitu?"
"Oh mas mau?"
"Yaa mau lah, apalagi di suapin sama istri tercintah. Hehe,"
"Nihh, aaaa,"
Dengan senang hati Fikri menerima suapan dari Ica, kini mereka saling suap-suapan sampai nasi di dalam kotak itu tandas, setelah habis mereka meminun air mineral.
Dan kini adalah hari terakhir mereka di pantai bali, mereka tidak menyia-nyiakan hari terakhir mereka di pantai bali ini, mulai dari foto-foto untuk kenang-kenangan, beli oleh-oleh untuk mereka dan anggota keluarga.
Setelah mereka puas dengan foto-foto dan beli oleh-oleh, mereka kembali ke kamar hotel untuk membereskan pakaian-pakaian mereka yang esok akan di bawa pulang.
***
Hari esok pun telah tiba, kini Fikri sedang membayar harga hotel, setelah selesai Fikri menyusul Ica yang sudah menunggunya di mobil.
Sebelum Fikri menaiki mobil, tak sengaja bola mata Fikri melihat seorang nenek-nenek tengah berdangang jagung dan kue-kue kering yang tak jauh dari tempat parkir.
Fikri melesat pergi ke arah nenek-nenek itu, dan membeli jagung dan kue-kue keringnya.
"Jagungnya berapa nek?" tanya Fikri.
"2000 saja mas," jawab nenek itu.
"Kok murah nek?" tanya Fikri.
"Gapapa mas, daripada mahal gak ada yang beli, mending saya murahkan," jawab nenek itu tersenyum
"Oh gitu, nama nenek siapa?"
"Iros mas, mas nya?"
"Saya Fikri nek,"
"Sama siapa mas Fikri kesini?"
"Sama istri saya nek,"
"Loh sekarang istri mas kemana?"
"Jangan panggil mas nek, Fikri saja, istri saya di mobil nek,"
"Oh iya hehe,"
"Yaudah nek, saya beli jagung nya semua,"
"Loh nak Fikri ini masih banyak loh, nanti mubajir kalo banyak-banyak,"
"Gapapa nek, buat di jalan nanti,"
"Yaudah tunggu, nenek kresekin dulu,"
"Kue nya berapa ini nek?"
"2500 per plastik mas,"
"Tambah kuenya 10 bungkus nek,"
"Iyah tunggu,"
Setelah nenek Iros itu memasukan jagung dan kue-kuenya ke dalam kresek, ia langsung memberikan kepada Firki.
"Berapa semua nek?"
"65000 nak Fikri,"
Fikri mengambil tiga uang berwarna merah itu, lalu ia memberikannya ke nenek itu.
"Cuma 65000 mas, ini kebanyakan,"
"Gapapa nek, sisanya buat nenek saja,"
"Masyaa allah makasi banyak nak Fikri," nek Iros itu mau menciumi punggung tangan Fikri.
"Eh nek gak usah," cegah Fikri, lalu Fikri yang menciumi punggung tangan nek Iros itu.
"Semoga allah membalas kebaikan nak Fikri, dan semoga cepat-cepat di kasih momongan oleh allah taalaa," doa nek Iros sembari mengangkatkan tanga nya di depan dada.
"Aamiin allahuma aamiin nek terima kasih atas doa nya, saya permisi. mari nek," pamit Fikri pada nenek itu.
"Sama-sama mas, hati-hati," balas nek Iros di iringi senyum manis yang terlihat di wajah keriputnya.
Fikri kembali berjalan mendekat ke arah mobil nya yang telah terdapat Ica di dalam nya yang sejak tadi menunggu Fikri, Sang suami.
"Maaf lama sayang," ucap Fikri duduk di tempat pengemudi lalu menutup pintu mobil.
"Gapapa mas,"
"Nihh," Fikri menyodorkan dua kresek hitam pada Ica.
"Apa ini mas?"
"Liat aja," jawan Fikri sembari menyalakan mobil.
"Wahh, jagung sama kue, beli dimana?" jawab Ica di iringi tanya pada Fikri.
"Itu tadi mas liat ada nenek-nenek penjual jagung sama kue, yaudah mas beli buat di perjalanan," balas Fikri.
Ica hanya membalas dengan mengaguk-angukan kepalanya tanda ia mengerti, setelah membaca doa perjalanan, Fikri langsung melesat membelah jalanan yang terbilang tidak terlalu macet. Ya karna hari masih pagi mungkin .
***
Kini mobil Fikri telah melaju melewati pohon-pohon yang berjejer di sisi jalan, pohon besar, pohon kecil bahkan sampai tamanan bunga pun ada, indah dan cantik itulah hal yang pantas di ucapan kan.
Tak ada pembicaraan di dalam mobil bernuasa hitam itu, hanya deru mobil yang terdengar oleh telinga mereka. Tidak ada yang membuka pembicaraan, mereka asyik dengan kegiatan mereka. Fikri, ia tengah fokus melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, lain hal dengan alisya, ia tengah memakan kue kering yang tadi Fikri beli.
"Mau mas?" tawar Ica menyodorkan satu biji kue kering.
Fikri yang mendengar ada yang berbicara melirik ke arah kiri tempat Ica duduk.
"Boleh," jawab Fikri membukaan mulutnya.
Ica langsung memasukan kue itu ke dalam mulut Fikri.
"Enak yah mas,"
"Heem, apalagi kamu yang nyuapin nya,"
"Ih kamu ini."
Fikri yang mendapat balasan dari Ica hanya cengegesan tak jelas, kini Ica masih setia menikmati kue itu dan sesekali menyuapi Fikri dengan telaten.
Sudah hampir lima jam mereka di dalam mobil, hari pun sudah semakin siang. Kini jam telah menunjukan pukul dua belas siang, adzan dzuhur telah berkumandang di masjid sekitar, Fikri memasukan mobil ke area tempat parkir yang berada di masjid tersebut.
***
Kini Fikri dan Ica telah berada di dalam mobil, dan kini mobil mereka tengah berada di antara mobil-mobil yang berjejer, yaa kini tengah macet.
"Uhhhh gerah," keluh Ica mengibas-ngibaskan tangannya ke mukanya.
Tok tok tok
"Air nya Pak?" tawar dua orang anak perempuan yang mengetuk kaca mobil Fikri sembari menyodorkan air minum yang bermerek meezon.
"Berapa dek?" tanya Fikri.
"8000 pak,"
"Sayang mau?" tanya Fikri pada Ica.
"Boleh mas,"
"Beli dua de,"
"Ini pak," gadis kecil berumur sekitar 14tahun itu menyodorkan dua botol minuman.
"Ini uangnya," Fikri membalas dengan menyodorkan uang yang berwarna hijau.
"Aduhh, gak ada kembalian pak, saya baru jualan," ungkap anak itu.
"Gapapa dek ambil aja," balas Fikri tersenyum.
"Makasi pak," ucapnya.
"Sama-sama," dua anak kecil yang sekitar berumur 14 tahun dan 12 tahun itu berlalu pergi.
"Nih Ca," Fikri menyodorkan sebotol minuman.
"Makasih," balas Ica menerima minuman.
Fikri hanya membalas dengan mengagukan kepala seraya tersenyum manis.
***
Kini hari telah berganti menjadi malam, sekitar 4-5 jam lagi mereka akan sampai di tempat tinggal mereka. Ica telah mengabari orang tua Ica, ia dan Fikri pasti akan pulang larut. Dan meski pulang larut, pintu gerbang akan dibuka oleh satpam di rumah Sahal.
Ica yang sejak setengah jam yang lalu tertidur, merasa terganggu karna badannya ikut tergerak. Dan akhirnya ia terbangun, setelah mata nya terbuka lebar ia melihat Fikri yang masih fokus menyetirnya.
"Tidurnya gak nyenyak yah?" ucap Fikri yang merasa Ica telah terbangun.
"Heem, gak enaken goyang-goyang terus,"
"Namanya juga di dalam mobil,"
"Hehe, iya sih,"
Detik berikutnya mereka tidak saling berbicara lagi, Ica yang merasa lapar akhirnya membuka plastik yang berisi jagung tadi, kemudian ia memakan nya.
"Mas, ke pinggirin aja dulu atuh, istirahat dulu makan nih jagung biar gak laper," Ica menyodorkan sebiji jagung yang telah terkupas.
"Iyah... bentar lagi tuh didepan ada lahan kosong,"
Setelah mendapat tempat untuk memakirkan mobil mereka, akhirnya mereka sama-sama menikmati jagung.
"Aduhh mas, Ica kebelet."
"Ayo turun dulu atuh, tuh ada rumah kita ikut ke kamar mandi," ucap Fikri menunjukan rumah yang tak jauh dari mobil mereka yang terpakir.
"Yaudah atuh, ayo."
Mereka menuruni mobil, kemudian mereka berjalan ke arah rumah panggung
"Assalamualaikum," ucap Fikri dan Ica berbarengan.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang di balik pintu rumah itu.
Kemudian, seorang perempuan membukakan pintu.
"Permisi dek, apa boleh saya numpang ke kamar mandi?" tanya Ica pada gadis itu.
"Oh mangga teh, hayu ka lebet hela (oh silahkan kak, ayo ke dalam dulu)," Gadis itu mempersilahkan Ica dan Fikri memasuki rumahnya.
Detik berikutnya Fikri duduk di alas karpet, Ica dan gadis perempuan itu pergi menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit muncul Ica dan gadis itu, serta seorang nenek juga kakek dibelakangnya.
"Ehh, aya tamu (eh, ada tamu)," ucap seorang nenek-nenek yang duduk di sebelah Fikri, di ikuti kakek, suami nenek itu.
"Assalamualaikum nek, kek," Fikri mengucapkan salam seraya mengecup punggung tangan sang kakek dan nenek, di ikuti oleh Ica.
"Walaaikumsalam,"
"Makasih nek, kek, dek atas kamar mandi nya." ucap Ica tersenyum.
"Sami-sami neng,"
"Atos timarana bade kamarana kitu (Udah dari mana mau kemana gitu)?" tanya nenek itu, sebut saja namanya nek esih.
"Abis dari bali mau pulang nek," jawab Fikri sopan.
"Oh ameng (Oh main)?"
"Iyah nek,"
"Jenengan neng saha? (Nama kamu siapa neng?)" tanya nek esih pada Ica.
"Saya Alisya nek, ini suami saya Fikri."
"Oh suami, panya nenek mah raka neng (oh suami, kirain nenek kakak neng),"
"Hehe.. suami nek,"
"Tinggal dimana kitu(gitu) neng?"
"Di bandung nek,"
"Oh sakedap deui ge dugi atuh nya (oh sebentar lagi juga sampai atuh ya)."
"Iyah nek, yaudah kita pamit. Makasi sekali lagi nek," pamit Ica.
"Atuh kehela sakedap deui, istirahat hela didieu (atuh nanti sebentar lagi, istirahat dulu aja di sini),"
"Gak usah nek, soalnya hari udah malam."
"Atuh nya kulem hela we didieu (atuh ya ngindep aja dulu disini),"
"Gak perlu Nek, kami pulang saja. ini ada sedikit rezeki atas dasar terima kasih saya telah numpang ke kamar mandi sama istirahat," ucap Ica memberikan uang seraya salim pada nek esih, diikuti oleh Fikri.
"Teu kedah Neng, pirage istirahat sareng ka cai hungkul (gak usah neng, cuman istirahat sama ke kamar mandi aja)," nek esih itu kembali memberikan uangnya.
"Gapapa Nek saya ikhlas,"
"Nenek oge (juga) ikhlas kok Neng,"
"Gapapa nek ambil aja, saya permisi dulu. Assalamualaikum," ucap Ica, lalu ia dan Fikri berjalan ke arah mobil mereka.
"Enya atuh nuhun pisan Neng,"
"Sama-sama nek, mari Nek,"
"Mangga neng,"
***
Gaje banget nye kan? Maaf