
Part 18
____
"Semur telor?" Ica hanya mengaguk agukan kepalanya.
"Tapi aku gak bisa bikin,"
"Tanya si abah kek, atau apa gitu,"
"Kan abah aku gak disini sayang, terus abah aku kan gak bisa masak,"
"Ihhh... Maksudnya abah gugel. Bukan abah kakek kamu,"
"Oh hehe salah ya,"
"Udah tau salah, malah nanya," gumam Ica kesal.
"Apa sayang?"
"Gak."
Fikri mulai merongoh ponselnya yang berada disaku celana, ia mulai mencari cara-cara membuat semur telor.
Setelah mendapat bahan dan langkah nya, Fikri berjalan kearah kompor sekaligus mengumpulkan bahan-bahan nya.
Fikri mulai merebus telor, sekirar lima sampai enam biji. Setelah telor direbus, dia masukan kedalam air dingin, setelah telor dingin ia mengupas cangkang-cangkang telornya dan seterusnya melihat langkah-langkah dibah gugel.
"Udah mas?" tanya Ica berjalan kearah Fikri.
Ica telah menghabiskan mangga mudanya, ia sangat menyukai mangga terlebih lagi ia tengah ngidam.
"Belum,"
Fikri yang tengah mencari mangkuk di lemari, Ica berjalan kearah kompror untuk mencicipi sedikit air semurnya. Kurang garam, Ica mengambil garam dan menaburkan sedikit. Lalu ia aduk-aduk dan kembali dicicip, pas. Semuanya pas.
"Kamu duduk aja Ca, ini biar sama aku," Ica langsung menurut perintah Fikri, Ia berjalan dan duduk dikursi meja makan.
Beberapa menit kemudian, semur telur telah matang. Fikri mulai menuangkan ke mangkuk sedang, dan membawanya ke meja.
"Nih cobain," Fikri menyodorkan mangkuk yang berisi semur telur.
Ica mulai mencicipi lagi enak, sangat enak.
"Enak?" Ica hanya mengagukan kepalanya, seraya terus memakan semur telur itu.
"Sama nasi ya?"
"Yaudah boleh," Fikri langsung melesat mengambil nasi dimejikom.
"Nih," Fikri menyodorkan piring yang sudah berisi nasi.
Ica mulai memakan semur telur plus nasi hangat dengan sangat lahap.
"Mas mau?" Ica menyodorkan sendok yang terisi nasi juga potongan telur.
"Boleh," Fikri menerima sodoran suapan dari Ica.
"Mas dimaafin kan?"
"Iyaa," jawab Ica yang terus mengunyah nasi.
"Mau lagi mas?"
Fikri mengaguk seraya membukakan mulutnya, menerima suapa kedua dari Ica.
"Sekarang giliran mas yang suapin kamu," Fikri merebut sendok yang tengah dipegang Ica.
"Aaaa nih,"
"Aamm," Ica melahap sodoran Fikri.
Mereka saling suap-menyuap sampe telur tinggal tersisa dua lagi.
"Uhh, kenyang."
"Makasii mas, masakan kamu enak,"
"Sama-sama sayang,"
"Lain kali bikinin lagi ya mas hehe,"
"Apapun yang kamu mau, mas akan turutin,"
Setelah selesai mengunyah, mereka melanjukan meminum air putih didepan mereka.
"Ca?"
"Iyah mas?"
"Kamu pernah ada hubungan sama orang yang bernama Adit?"
"Adit?"
"Iyah, waktu kita bertemu ditaman."
Bukannya membalas ucapan Fikri, Ica malah bengong.
"Ca?" Fikri mengkibas-kibas kan tangannya di depan muka Ica.
Ica yang tersadar langsung melirik ke arah Fikri, lalu ia berkata. "Eh iya mas?"
"Jujur sama aku Ca, kamu punya hubungan apa dulu sama Adit?"
"Dulu ak--,"
"Ca?"
"Iyah mas?"
"Kamu pernah ada hubungan sama orang yang bernama Adit?"
"Adit?"
"Iyah, waktu kita bertemu ditaman."
Bukannya membalas ucapan Fikri, Ica malah bengong.
"Ca?" Fikri mengkibas-kibas kan tangannya di depan muka Ica.
Ica yang tersadar langsung melirik ke arah Fikri, lalu ia berkata. "Eh iya mas?"
"Jujur sama aku Ca, kamu punya hubungan apa dulu sama Adit?"
"Dulu ak--,"
Kringg kringg.
Ponsel Fikri berbunyi diatas meja tanda ada telpon masuk, Fikri langsung melihat dan mengeser tombol hijau.
"...."
"Waalaikumsalam,"
"...."
"Ada Don,"
"...."
"Kapan?
"...."
"Sekarang? Gue gak bisa, gue lagi temenin istri gue,"
"...."
"Gawat apa?"
"...."
"Operasi? Kan ada dokter lain,"
"..."
"Yaudah deh, gue otw sekarang,"
"..."
"Waalaikumsalam,"
Fikri memutus sambungan telpon, Ica yang tengah memikirkan sesuatu teralih pada Fikri yang mau berdiri dari duduk nya.
"Mau kemana mas?"
"Mas harus kerumah sakit sayang,"
"Loh kan mas izin dulu,"
"Maaf sayang ini darurat,"
"Darurat apa?"
"Nanti deh yah mas ceritain, sekarang mas harus buru-buru ke rumah sakit,"
Ada sebuah kekecewaan diwajah milik Ica, tapi ia tak berani menampakan didepan suaminya. Toh memang tugas dokter untuk pergi kerumah sakit saat darurat.
"Yaudah gih,"
Fikri melangkah pergi kekamar, untuk mengambil jas putih juga kunci mobilnya.
Setelah selesai Fikri kembali menuruni anak tangga, dan pergi kedapur untuk berpamitan pada Ica.
Ica mengantar Fikri hingga depan rumah.
"Sayang mas pergi dulu ya,"
"Iya hati-hati mas," Ica menciumi punggung tangan Fikri.
"Pulangnya malem gak?"
"Gatau Ca, gimana nanti operasi saja,"
"Kalau kamu udah ngantuk kamu tidur duluan aja ya," Fikri mengecup dahi Ica.
"Iya,"
Fikri mulai berjalan ke arah mobil diluar garasi, karna tadi pagi mobilnya dikeluarkan.
"Hati-hati mass," teriak Ica saat Fikri melewati gerbang rumah.
____
Hari sudah semakin sore, yang biasanya langit tak mendung, kini berubah menjadi mendung dan akhirnya rintik-rintik hujan membasahi tanah.
Ica, sang wanita cantik itu tengah duduk manis disofa ruang tamu sembari membaca novel kesukaannya. Dan ditemani segelas teh hangat dan kripik kentang kesukaannya.
Tanpa diduga dan segaja, Ica meneteskan air matanya.
"Ca?" pangil seseorang dibelakangnya.
Ica menoleh kebelakang, yang telah terbapat wujud sang ibu mertuanya.
"Fikri kemana?" Dwi duduk disamping Ica.
"Tadi katanya ke rumah sakit bu,"
"Loh kan udah izin, kenapa pergi?"
"Gatau, kata mas Fikri gawat,"
"Emm yaudah, kamu kekamar gih. Ujan diluar,"
"Gak bu, Ica mau nunggu mas Fikri aja,"
"Kapan pulangnya?"
"Gatau,"
____
Adzan magrib telah berkumandang indah dimasjid, Ica yang sejak tadi duduk disofa akhirnya ia beranjak pergi kekamarnya untuk menunaikan kewajibannya.
Ica mulai memutar knop pintu kamar, setelah terbuka lebar ia memasuki kamar yang khas berbau apel.
Ica kembali menutup pintu kamar, kemudian Ica membuka kerudungnya, dan berjalan kekamar mandi.
Setelah selesai ia kembali keluar dan membengtangkan sejadahnya dan memulai shalat tiga rakaat itu.
Ica mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam kekanan dan kekiri, kemudian ia melanjutkan dengan berzikir dan membaca ayat suci al-qur'an. Sembari menunggu adzan isya berkumandang.
Allahu akbar allahu akbar..
Ica menutup al-qur'an seraya beraya berbica 'shodakallah hulazim' , setelah adzan selesai Ica mulai menunaikan shalat Ica
____
Kini ica telah selesai dengan shalat isya, ia tengah duduk diatas ranjang menunggu sang suami pulang.
Bosan. Itulah yang kini melanda Ica, untuk menghilangkan kebosanannya Ica mengambil ponsel yang tergeletak indah dimeja sofa.
Ia berjalan untuk mengambilnya dan kembali duduk diatas ranjang.
"Loh ini siapa yang chatan sama Adit?" gumam Ica.
"Eh tunggu, Adit?" Ica mulai membaca chatan yang dikirim oleh adit dari atas hingga bawah.
"Hah? Ini artinya mas Fikri yang chatan sama Adit,"
"Astagfirullah, pasti ini ni maksud mas Fikri tadi. Tiba-tiba ia tanya tentang Adit,"
Ting.
[Ca?]
Satu pesan muncul diponsel Ica, Ica langsung membuka chat yang dikirim oleh sahabatnya, Disya.
Ica mulai mengetik dan membalas chatan dari sahabatnya itu.
[Iyh? Apa?]
[Tadi adit ada ngechat ke lo?]
[Oh jadi dari lo Adit punya nomor gue?]
[Hehe iyah, soalnya si Adit maksa terus, pusing gue yaudah gue kasih deh]
[Tapi dia ngechat lo gak?]
[Iya ngechat, asal lo tau ya]
[Apa?]
[Suami gue yang balas chat Adit]
[Whattttt, sumpah? Demi apa lo?]
[Sumpah demi gue bahagia sama keluarga gue, haha] diakhiri emot ngakak.
[Ih serius, Icott!] diakhiri emot marah.
[Hahaha, iyah asli disyot trulala]
[Mulai deh lo sebut nama gue dengan embel-embel trulala jiji gue bacanya]
[Bdamt] dengan emot mengulurkan lidah.
[Eh terus terus, suami lo gimana marah? Atau gimana]
[Ya gitu deh, dan tadi mas Fikri tanya-tanya soal gue sama Adit punya hubungan apa]
[Wattt? Terus lo jawab apa?]
[Belum jawab panjang lebar]
[Sekarang suami lo dimana?]
[Rumah sakit] diakhiri emot sedih.
[Ngala lo sedih? Gak mau ditinggal lo]
[Yaiyalah]
[Its oke, bay the way lo ngajar lagi kapan?]
[Gatau, mungkin satu sampe dua hari lagi]
[Lama bener, murid lo bawel bener nanyain lo kapan masuk kapan masuk]
[Yauda si lo ini]
[Eh udah dulu ya, gue dipanggil mertua gue] lanjut Ica mengetik.
[Oh yaudah gih, nanti dilanjut boskuuu]
[Asyiap ahaha]
Ica mengakhiri chatannya dengan sahabat ngajarnya, ia mulai keluar dari kamar untuk menemui sang mertua yang tadi memanggil namanya.
Ica menuruni anak tangga dengan hati-hati, kini ia telah sampai di ruang tamu, yang telah terdapat sang ibu mertua dan seorang gadis juga pria muda.
"Iyah bu? Ibu manggil?" ucap Ica pada Dwi yang tengah mengobrol dengan dua remaja itu.
"Eh iyah Ca, sini duduk," Ica mulai duduk disamping sang ibu mertua.
"Ca, ini Aisyah dan Fattah adik nya Fikri." ucap Dwi pemperkenalkan sang adik-adik Fikri. Aisyah dan Fattah menciumi punggung tangan Ica secara bergantian.
"Oh yang baru pulang dari pondok ya?"
"Iyah kak," Aisyah, gadis itu tersenyum manis.
"Kenapa waktu nikahan kakak gak dateng?"
"Maaf kak, waktu itu kami sibuk dengan hapalan-hapalan untuk kelulusan kami kak," ucap Fattah yang ikut berbicara.
"Oh yaudah gapapa,"
"Kakak cantik banget ya, pantes bang Fikri pilih kakak," puji Aisyah.
"Makasih, kamu lebih cantik kok,"
"Makasi hehe," Ica hanya membalas dengan tersenyum manis.
"Ih kakak jangan senyum," ucap Fattah berkomentar.
"Loh kenapa?" tanya Ica heran.
"Senyum kakak manis banget, nanti aku jatuh cinta gimana?" ucapnya senyum-senyum
"Huss, kamu ini De! Kak Ica milik bang Fikri," ucap Aisyah seraya mencubit pelan tangam adiknya itu.
"Aww, sakit kak. Jahat ih!"
"Buu, liat tuh kak aisyah mah gitu cubit-cubit aku terus," adu Fattah pada Dwi.
"Kamu sih," ucap Aisyah memutar bola matanya.
"Loh kok aku?"
"Udah, udah," lerai Dwi mengakhiri perdebatan adik kakak itu.
Ya Fikri memang mempunyai dua orang adik, adik pertamanya Aisyah, Aisyah Humaira Az-jaya. Dan kedua Fattah asyidik jaya, umur Aisyah 16tahun dan Fattah 15tahun mereka hanya berbeda satu taun. Dan kini mereka telah menyelesaikan mondoknya.
"Oh ya kak, bang Fikri kemana?" tanya Aisyah.
"Dirumah sakit," balas Ica.
"Kok belum pulang? Ini kan udah malem,"
"Gatau mungkin masih banyak pasien,"
"Oh iya, syah fat kalian bakal punya ponakan lo," ucap Dwi.
"Ponakan? Kak Ica lagi hamil?" tanya Aisyah pada ibunya.
"Iyah sayang," balas dwi.
"Wahh selamat kakak, akhirnya ada dede bayi dikeluarga ini. Gak sabar deh nunggu lahir,"
"Hehe makasih,"
Ica memang seperti itu, ia gampang sekali akbar pada siapapun.
"Sah, fat. Kalian masuk kamar gih, cape kan?"
"Iyah sih bu, yaudah deh kita ke kamar. Ayo dek," tarik Aisyah pada adiknya.
"Bu, kak kita kekamar yah,"
"Iyah,"
Aisyah dan Fattah menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya.
Ica yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. "Ica juga kekamar ya bu," pamitnya.
"Yaudah gih, istirahat."
"Iyah bu," ica beranjak dari duduknya untuk sampe kekamar.
Ica mulai memasuki kamarnya, dan menutupnya kembali.
"Huftt, kapan mas Fikri pulang," ucap Ica sembari berjalan.
Ia berjalan ke arah jendela kamarnya, dan membukakan sedikit gordeng kamar.
"Masih ujan, apa mas Fikri pulang nya larut ya?"
Tanpa Ica ketahui sejak tiga menit yang lalu seorang pria telah berdiri tegak dibelangkan, pria itu memeluk Ica dari belakang.
"Ini udah ada kok," ucap seseorang memeluk Ica dari belakang.
_