
part 11
____
"Pusing doang gimana, tadi kamu muntah-muntah kenapa?"
Brukk.
Ica tidak menjawab pertanyaan Fikri, melainkan ia ambruk didepan pintu kamar mandi, tepatnya di bawah kaki Firki.
Dengan cepat Fikri mengendong Ica ke ranjang, setelah Ica berbaring Fikri langsung memeriksa Ica.
Kini Ica telah membuka matanya, hampir sekitar setengah jam ia tak sadarkan diri. Dan kini Fikri tengah membantu Ica untuk duduk, setelah Ica duduk dengan nyaman Fikri langsung memeluk erat Ica.
"Selamat sayang, selamat," ucap Fikri yang terus mengecup pipi Ica berkali-kali.
"Selamat untuk apa mas?" tanya Ica heran.
"Kamu.. akan jadi ibu sayang," Fikri melepaskan pelukannya.
"I--i--ibu mas? Maksudnya aku hamil?" tak terasa air mata Ica mengalir begitu saja melewati pipinya.
"Iya sayang, kamu hamil," Fikri kembali memeluk Ica erat.
"Masyaa allah, alhamdulillah. Terima kasih ya allah terima kasih," Ica semakin terisak.
"Mass," rengek Ica, sembari menghapus sisa air mata dipipinya.
"Hemmm," Fikri membalas deheman, dan masih setia memeluk Ica.
"Aku pengen sesuatu deh mas,"
"Pengen apa heum?" Fikri melepaskan pelukannya.
"Kayanya aku pengen mangga muda sama kue ulang tahun deh,"
"Mangga muda? Kue ulang tahun?"
"Iyaa,"
"Ini udah malem sayang, besok yaa,"
"Gak mau pengen nya sekarang,"
"Ini udah malem, besok deh aku janji beliin yaa.."
"Ini ngidam loh mas, nanti anak kamu ngiler mau?"
"Ya gak mau, jadi besok ya,"
"Pengen sekarang!" Ica memalingkan wajahnya.
Fikri yang merasa Ica marah padanya, pada akhirnya ia mangalah, dan ia siap pergi mencari mangga muda plus kue ulang tahun.
"Yaudah iya, aku beliin sekarang,"
"Beneran?" ucap Ica semangat.
"Iya, demi istriku dan calon jabang bayi ayah," Fikri mengecup perut Ica.
"Makasihh, cup." tanpa dipinta Ica memberikan kis malam untuk Fikri, dan itu membuat Fikri bahagia dan semangat mencari keinginan sang calon ibu itu.
"Yaudah aku pergi ya,"
"Jangan, ini udah malem. Kamu tunggu aja dikamar yaa,"
"Tapp--,"
"Gak ada tapi-tapian, turutin yaa?"
"Yaudah deh iya,"
Fikri berdiri dari duduknya seraya mengambil kunci mobil diatas meja, setelah mengecup pucuk kepala Ica, Fikri berjalan ke arah pintu.
"Hati-hati mas," teriak Ica setelah Fikri menutup pintu kamar,"
____
Kini Fikri telah sampai dipintu utama, karna jam masih menunjukan pukul setengah sepuluh jadi diluar masih ada orang yang lewat.
"Mau kemana Fik?" tanya seseorang dibalik punggung Fikri.
"Ehh papah, mau keluar pah,"
"Mau kemana?" Mahesa bertanya heran, sebab hanya malam ini Fikri keluar malam.
"Nyari mangga muda sama kue ulang tahun,"
"Untuk?"
"Ica,"
"Ica? Jam segini mau mangga muda?"
"Oh iya pah," Fikri menepuk jidatnya sendiri.
"Fikri lupa kasih tau, Ica hamil pah."
"Hamil? Papah bakal punya cucu? Jadi dia lagi ngidam?"
"Iya pah,"
"Alhamdulillah, papah kasih tau ibu ya,"
"Iyah, Fikri pamit cari mangga sama kue dulu pah,"
"Emang jam segini ada gitu penjual mangga sama kue?"
"Gak tau, cari aja dulu. Sampe ujung dunia pun tak apa,"
"Kamu ini, yaudah hati-hati,"
"Iya pah, Assalamualikum," ucap Fikri mencium punggung tangan Mahesa, sang papahnya.
"Waalaikumsalam,"
Setelah menutup pintu, Fikri berjalan mendekat ke garasi. Setalah menemukan mobilnya dengam cepat ia menaiki dan mambawa keluar mobil.
Kemudian, ia menutup pintu garasi, lalu pergi melesat mencari mangga muda dan kue ulang tahun ke inginan istrinya yang kini tengah ngidam.
__
Next /Stop