
Part 13
____
Fikri kembali melajukan mobilnya, untuk kembali mencari toko kue. Toko demi toko kue sudah ia lewati tapi semua sudah tutup, tidak ada yang buka sama sekali.
Sekarang jam sudah menunjukan pukul setengah sebelah Fikri masih setia mencari toko kue dengan kantuk yang menyerang.
Akhirnya ia berhenti sejenak, karna tangan dan kaki nya sudah pegel karna sejak tadi terus nyetir.
Ia keluar dari mobil, hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang didepannya. Tidak ada orang yang melewatinya ia sendiri.
____
Malam ini, malam dimana gue harus mondar mandir cari toko kue, kalau bukan untuk istri dan juga calon jabang bayi. Ogah gue malam-malam keluar rumah.
Mangga muda sudah dipertemukan dengan gue, eh sekarang tinggal si kue bolu, Yaa allah tolong hambamu ini.
"Permisi mas," akhirnya ada juga orang yang lewat sini.
Cepat-cepat gue lirik ke arah orang yang panggil gue, dan yah alhamdulillah ada seorang pria muda yang kini di belakang gue.
"Eh, iya?" gue berbalik ke arah kebalang.
"Ngapain kak disini malam-malam?" tanya pria itu.
"Saya lagi cari toko kue ulang tahun dek,"
"Masyaa allah kak, ini udah malem mana ada toko kue, tapii..."
"Tapi?"
"Ada sih toko kue yang buka 24jam, tapi lumayan jauh dari sini kak,"
"Kira-kira berapa lama harus sampe,"
"Sekitar 15-20 menit kak,"
"Jauh juga yah, tapi tak apalah," gumam Fikri.
"Dari sini kemana dek,"
"Mau saya anter kak?"
"Takut ngerepotin dek,"
"Gapapa, sekalian saya juga saya mau kesana beli kue juga,"
"Oh yaudah ayo,"
Setelah pria muda yang kini bersama gue masuk kedalam mobil, cepat-cepat gue meluncur pergi ke toko itu seperti instruksi dari anak muda itu.
"Oh ya, nama kamu siapa dek?" tanya gye membuka pembicaraan.
Pria muda itu melirik ke arah gue. "Padil kak, kalau kakak?" jawabnya.
"Saya Fikri,"
"Oh, bay the way kakak cari kue ulang tahun untuk apa?" tanya Padil, pria disamping gue.
"Untuk istri, dek." jawab gue yang masih fokus menyetir.
"Oh ulang tahun ya?"
"Bukan dek,"
"Lah terus?"
"Ngidam de,"
"Emang iyah minta, tuh dibelakang ada kresek item isinya mangga muda,"
Padil melihat ke arah belakang seraya mengaguk-agukan kepalanya, uhh alhamdulillah ada temen juga.
"Kalau kamu untuk siapa?" tanya gue penasaran.
"Oh aku, untuk pacar kak,"
"Pacar? Minta kue ulang tahun?"
"Bukan minta kak, cuman saya yang mau kasi suprise buat dia,"
"Oh ulang tahun?"
"Iya kak,"
"Eh itu ada pertigaan belok kemana?"
"Kiri kak, udah itu lurus aja."
Gue hanya mengagukan kepala, sekitar sampe 15 menit akhirnya gue dan bocah bernama padil itu sampe di toko kue, yang memang benar masih buka. Dan di depannya sudah ada tulisan 'buka 24jam'
Gue dan Padil memasuki toko itu, ternyata rame. Setelah sampai gue langsung pilih deh kue yang berwarna hijau yang memang kesukaan gue dan istri gue dan juga kue nya sudah ada hiasan-hiasan cantik.
Setelah mendapat kuenya gue pergi ke kasir, sama halnya dengan bocah yang bareng gue tadi. Ia juga sudah membawa kue bolu pilihannya.
"Ini berapa mba?" tanya Padil pada mba kasir.
"Yang itu 150ribu dek,"
"Yang ini berapa mba?" tanya gue.
"Itu 170ribu mas,"
"Oh sebentar,"
"Sama yang punya adek ini, jadi berapa mba?" gue nunjukin Padil sebagai adek yang gue maksud.
"320ribu mas," jawab mba kasir.
"Eh kak gak usah, Padil punya uang kok," tolak Padil pada gue.
"Gapapa dil, ini mba," gue menyodorkan beberapa lembar uang, dan si mbak itu langsung nerimanya seraya membungkus kuenya.
"Terima kasih banyak kak," ucap Padil menciumi pungung tangan gue.
"Sama-sama Dil," gue mengelus punggung Padil.
"Ini mas, dek," ucap mba kasir seraya memberika kue yang telah dibungkusnya.
"Terima kasih mba, mari.." ucap gue seraya meninggalkan mba kasir itu.
Kini gue dan padil berjalan dengan menenteng kresek, setelah sampai di depan mobil. Padil malah belok, dengan cepat gue cegah tuh bocah.
"Eh dil, mau kemana?"
"Pulang kak,"
"Naik apa?"
"Taksi aja kayanya,"
"Gak usah, ayo bareng lagi,"
"Gak ngerepotin lagi kan kak?"
"Gapapa ayo