
Part 27
____
Keesokan harinya.
Mentari telah terbit di ufuk timur, udara pagi pun masih terasa segar. Kini, seorang wanita cantik beserta anggota keluarga tengah melaksanakan sarapan pagi. Siapa lagi kalau bukan Alisya dan keluarganya.
Setelah melayani para suami mereka, Ica, Nisa juga Aminah ikut duduk disamping para suaminya, dengan menyantap makanan.
Sahal sudah tau apa permasalahan hingga tiba-tiba Ica dan Fikri menginap dirumahnya, semuanya telah dijelaskan oleh sang istrinya, Aminah.
Mereka sibuk dengan makanan mereka masing-masing, hingga tinggal beberapa suap lagi makanan dipiring mereka habis, tanpa sisa.
"Tambah Ca makannya, kamu kan lagi badan dua," ucap Nisa setelah makanan nya habis.
"Gak kak, udah kenyang." balas Ica.
"Iya sayang tambah gih," titah Fikri.
"Gak mas, aku kenyang,"
"Oh oke,"
"Nih minum," lanjut Fikri menyodorkan segelas air putih di gelas.
Ica langsung menerima sodoran gelas dari Fikri, dan meminum nya hingga tersisa setengah gelas.
Kini semua anggota keluarga Al-farizi telah selesai dengan makanan mereka, Fikri, Bani juga Sahal bersiap-siap untuk pergi bekerja. Bani berprofesi menjadi menager di kantor, dan sahal berprofesi menjadi pemilik perusahaan, Fikri? Kalian tau lah.
"Mau pulang sekarang sayang?" tanya Fikri pada Ica yang tengah merapihkan jas putih milik Fikri.
"Nanti siang boleh ya?" jawab Ica.
"Em... gimana ya?" Fikri seolah-olah memikirkan sesuatu dengan telunjuk di kening.
"Boleh dong, ya..ya..ya?" mohon Ica dengan menunjukan pupy eyesnya.
"Yaudah deh boleh," balas Fikri dengan mencubit pipi gembul Ica, karna memang semenjak Ica ngisi pipi nya tambah tembem. Mungkin bawaan bayi kali ya.
"Aaaaa makasih," refleks Ica langsung memeluk erat tubuh Fikri.
"Sama-sama sayang," Fikri membalas pelukannya dan mengelus lembut pucuk kepala Ica.
"Hey, hey. Jangan peluk-pelukan disini dong!" ucap seseorang disamping mereka, yang tak lain adalah Bani.
Fikri dan Ica langsung melepaskan pelukannya, mereka lupa kalau mereka tengah berada dengan anggota keluarga.
"Ehehe, yamaap," balas Fikri tersenyum kikuk.
Mereka hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Satu persatu para suami mereka berpamitan pada mereka, istri tercintanya. Setelah selesai berpamitan mereka mulai berjalan ke arah mobil mereka masing-masing, karna memang mereka tidak satu arah.
"Assalamualaikum," ucap Sahal, Bani, dan Fikri berbarengan.
"Waalaikumsalam, hati-hati," jawab para istri mereka.
Para pria itu hanya membalas dengan senyum mania khas mereka.
____
Kini jam berada tepat pukul sepuluh siang, kini Ica tengah bermain dengan Alba, sang sepupu gantengnya.
Alba bayi mungil yang sangat aktif, terlebih kini usia alba delapan bulan, ia telah bisa ngorondang (eh bhs indonya apa? Gak tau wkwk😂😂) dan duduk dengan tengak.
"Ayo sini sayang," ucap Ica menjauh dari Alba, Alba langsung mendekati Ica dengan jurus korondangnya (atulah apa bhs indonya ngorondang?).
Ica sangat asyik dengan Alba, Nisa yang tengah bergulat membuat makanan untuk makan siang Alba.
Beberapa menit kemudian, Nisa telah selesai dengan makanan untuk Alba. Nisa membawa semangkuk kecil juga dot yang telah terisi bubur bayi juga air putih.
Nisa mendekat ke arah Ica dan Alba yang tengah bermain di karpet dengan segala mainan milik Alba, mulai dari mobil-mobilan, robot-robotan dan segala macem.
"Ayo aaa sayang," Nisa menyodorkan sendok kecil yang terisi bubur ke mulut Alba.
Dengan lahap Alba menerima sodoran dari Nisa, sang mamahnya. Ica bermain dengan Alba hingga Nisa menyuapi bubur Alba hingga tandas.
Setelah selesai bubur didalam mangkuk kecil itu habis, Nisa memberi minum di dalam dot, dan setelah selesai Nisa kembali ke dapur untuk cuci tangan sekaligus menyimpan mangkuk.
Tak terasa hari mulai siang, udara pun mulai semakin panas, dan sebentar lagi adzan dzuhur akan berkumandang.
Ica, sang calon ibu itu tengah bersiap-siap untuk berwudhu juga bersih-bersih, karna jam makan siang Fikri ia akan kembali ke rumah sang mertua.
Beberapa menit kemudian, Ica telah selesai dengan acara bersih-bersih badan juga mengambil air wudhu.
Ica mulai berjalan ke arah lemari untuk memakai baju, sebelum sampai di lemari Ica berjalan terlebih dahulu ke arah pintu untuk menguncinya.
Setelah selesai dengan memakai baju Ica mulai memakai mukena dan membentang kan sejadahnya, Ica membuka kitab suci al-quran sembari menunggu adzan berkumandang.
Beberapa menit kemudian, Allahu akbar.. Allahu akbar..
Adzan dhuzur berkumandang sangat indah, Ica mengakhiri membaca kitab suci nya dan menunggu adzan hingga iqomat selesai.
Adzan juga iqomat telah selesai, Ica mulai berdiri dan memulai shalat dengan khusu dan tertib.
Lima menit kemudian, Ica telah selesai dengan melaksanakan kewajibannya. Ia mulai membawa tas selempengan yang telah terisi hp juga uang. Dan Ica segera berjalan ke arah pintu dan menuruni anak tangga.
Tinggal dua tangga lagi yang belum Ica lewati, ia melihat ke arah Sofa yang telah ada seseorang pria duduk disana.
Ica tau dari dibelakang bahwa itu suaminya, cepat-cepat Ica munuruni dua tangga itu dan berjalan ke arah pria yang tengah duduk itu.
"Udah lama mas?" tanya Ica dari belakang dengan memeluk leher pria itu.
Pria itu tidak membalas pertanyaan dari Ica, pria itu malah diem dan menyingkirkan tangan Ica dari lehernya.
"Kok malah disingkir-singkir sih mas? Gak mau yah aku peluk kek gitu,"
Lagi dan lagi pria itu tidak membalas pertanyaan kedua Ica, perlahan pria itu menengok ke arah belakang.
Saat melihat wajah sang pria itu betapa terkejutnya Ica dengan menutup mulutnya oleh dua tanganya.
"Ma--maaf mas, saya kira suami saya," ucap Ica gugup dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Its oke," balas pria itu.
"Oh iya, makasih Nis. Saya permisi," ucap pria itu, Rizki ya mana nya Rizki, Teman Bani.
"Oke, hati-hati," balas Nisa.
Ica hanya memandang punggung pria itu, memang sangat mirip sekali dari belakang ia seperti Fikri, suaminya.
"Hey Ca, ngapain liatin gitu?" tanya Nisa membuyarkan pandangan Ica.
"Tadi siapa kak?" balas Ica bertanya balik.
"Temen Bani Ca, kenapa?"
"Dari belakang mirip mas Fikri ya, tadi aku gak segaja peluk lehernya. Aku kira mas Fikri, hehee..," jawab Ica tersenyum kikuk dengan cekikikan gak jelas.
"Emang iyah sih, yaudah deh lupain."
"Oh iya tadi Fikri nungguin kamu diluar, gih susulin," lanjut Nisa.
"Oh mas Fikri udah ada?"
"Udah,"
"Yaudah kak aku pamit dulu ya, dadah ganteng, cup," pamit Ica yang diakhiri pengecup pipi gembul Alba yang berada di pelukan Nisa.
Alba hanya tersenyum manis. "Hati-hati Ca," ujar Nisa.
"Okee, oh ya mamah dimana?"
"Diluar sama Fikri," Ica berjalan keluar dan diikuti oleh Nisa dari belakang.
"Tuh Ica udah dateng," ucap Aminah, Fikri langsung melihat kebelakang.
"Udah siap sayang?"
"Udah ayo,"
"Mah, kak kita pamit dulu ya, assalamualaikum," pamit Fikri mengecup punggung tangan Aminah dan Nisa, sama halnya dengan Ica.
____
Ica dan Fikri kini tengah berada di dalam mobil, Fikri menjalankan mobilnya di atas rata-rata.
"Mau makan dulu gak?" tanya Fikri mengakhiri kehening.
"Gak deh mas, nanti aja di rumah," balas Ica tersenyum.
"Oh oke deh,"
"Nanti mas mau di masakin apa pulang kerja?"
Drett.. drett..
Suara ponsel Fikri berbunyi di dalam kantung celana Fikri, Fikri tidak membalas pertanyaan Ica. Ia malah merongoh ponselnya dan memasangkan earphone ditelinga nya.
"Hallo?"
"..."
"Gue lagi di jalan nih,"
"..."
"Nanti aja abis nganterin istri gue,"
"..."
"Gabisa,"
"..."
"Oke deh bentar lagi gue kesana," Fikri mencopot earphone ditelinganya.
"Kenapa mas?" tanya Ica.
"Ini ada operasi dadakan,"
"Yaudah mas kerumah sakit aja, Ica naik taksi aja,"
"Gak sayang, mas anterin kamu dulu aja,"
"Kan beda arah mas jauh pula,"
"Gak papa mas anterin aja,"
"Gak usah mas Ica naik taksi aja,"
"Gapapa kok asli," lanjut Ica dengan mengangkat tangan tangannya berbentuk V
"Asli?" tanya Fikri memastikan.
"Iyah mas,"
"Hati-hati ya,"
"Oke, berhentiin dong mobilnya,"
"Eh iya lupa,"
Setelah mobil berhenti Ica langsung menciumi punggung tangan Fikri dan dibalas kecupan hangat dikening Ica.
____
Hampir tiga menit Ica menunggu taksi, Ica terus celinguk kanan, kiri mencari taksi lewat. Tanpa segaja mata Ica teralih pada sosok anak kecil yang tengah mengambil anak kucing di tengah jalan.
Dilawan arah ada sebuah truk yang melaju sangat cepat, Ica berteriak ke arah anak kecil itu untuk pergi dari tengah jalan.
"Dek, awass dek!" Ica terus berteriak, tapi anak kecil itu tidak menjawab teriakan Ica.
Sekuat tenaga Ica berlari, dan semakin lama truk itu semakin dekat pada anak kecil itu. Ica mendorong kuat anak kecil itu ke sisi jalan, dan..
Brukk!
____