
#part 2
Setelah selesai shalat subuh dengan istri tercinta, gue kembali rebahan di kasur. Ehhh, si ngantuk malah nyerang gue. Yaudah gue lanjut lagi bobonya, nerusin mimpi gue yang terjeda tadi. Wkwk..
Seperti ada yang menggoyang-ngoyangkan badan gue, seperti apa yaa? Oh gempaaaa! astagfirullah cepat-cepat gue bangun dan lari ke arah pintu, tapi..
"Hey mas mau kemana?" Tanya seseorang di balik punggung gue, suaranya gue tau. Pasti ini istri gue.
"Sayang ada gempa, ayo keluar." Ucap gue panik.
"What gempa? Mana ada, aku gak ngerasain tuh." Jawab istri gue, Alisya.
"Ihh iya, tadi aku ngerasain badan aku goyang-goyang." Jawab gue masih panik, dan menarik tangan istri gue. Tapi dia malah nahan, lah kenapa dia? Gak takut gitu sama gempa?
"Ihh kamu ini, tadi badan kamu di goyang-goyang sama aku. Aku bangunin kamu buat sarapan pagi, eh kamu malah lari terbirit-birir ke arah pintu. Kan aneh aku." Jawab Ica.
Ternyata oh ternyata bukan gempa euyy, istri gue yang goyang-goyang badan gue. Haduhh parah amat, sampe gue panik minta ampun. Eh gue lebay gak sih? Eh bodo amat yekan, yang penting masih ada yang sayang sama gue. Siapa cik? Istri gue lah, masa you. Haha..
"Aduhhh kamu ini, bikin aku panik setengah mati." Jawab gue dengan muka ngambek.
"Dih, dih, kok ngambek? Orang aku bangunin kamu buat sarapan kok." Balas istri gue jutek.
"Ehehe, bukan ngambek."
"Tapiii.."
"Aku sayang kamuu." Lanjut gue dengan mengecup kening istri tercinta gue.
"Ishh, ayo ah ke bawah. Mamah, ayah, kak nisa dan kak bani nungguin." Ucap Ica menyeret tangan gue.
"Jan diseret dong sayang, emang aku sapi apa?" Ucap gue.
"Ehehe, maaf. Yaudah ayo." Dih kok gue malah ditinggal sih? Bukannya di tarik dengan mesra gitu.
"Sayang tungguin." Langsung aja gue melesat ngejar Ica.
Sesampai gue di meja makan, eh baru ada istri gue yang menata piring. Mertua dan kakak ipar pasti masih di kamar.
Mumpung gak ada orang, gue peluk aja istri gue dari belakang. Aduh anget maaa.
Awww.
Eh gileee tangan gue di cubit, sakit hikss. Ih lebay gue!
"Sakit yang ih." Ucap gue yang masih setia memeluknya dari belakang.
"Kamu sih, main peluk-peluk. Nanti mamah liat gimana? Malu tau." Ucap Ica yang berusaha melepaskan pelukan gue yang erat ini.
"Biarin, udah sah ini." Jawab gue enteng.
"Gak dimana-mana kalian ini kerjaannya pacaran muluuu." Ucap seseorang dibalik punggung gue. Dan gue langsung lepas, setelah dapat bisikan dari istri gue.
"Gak papa dong, kan pacaran abis sah itu enak." Ucap gue pada orang di belakang, siapa lagi kalo bukan kakak ipar Ica, kak bani.
Emang sih, semenjak gue dulu pacaran ama istri gue. Gue udah kenal bener ama keluarga Ica, apalagi kaka iparnya. Akrab bangett malah.
"Terserah luu." Jawab kakak ipar gue, bani.
Yang tadinya mau lanjut meluk lagi, ehh keluarga Ica hampir ngumpul semua. Yaudah gak jadi.
***
Pov author.
Kini keluarga al-farizi itu sedang melaksanakan sarapan paginya. Tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali, mereka asyik dengan makanan mereka masing-masing.
15menit kemudian.
Semua anggota keluarga itu telah habis dengan makanan mereka masing-masing.
"Mau honeymoon dimana Ca? Fik?" Tanya Sahal, ayah Ica.
"Emm gak ak.." ucap ica terpotong.
"Di bali kayanya yah." Jawab Fikri mengunyah apel.
"Kok deket?" Tanya ayah Ica.
"Gapapa, yang penting honeymoon. Yakan Ca." Tanya Fikri melirik ke arah ica, menaik-naikan alisnya.
Alisya, wanita itu masih setia dengan membereskan piring-piring kotor. Dan tersenyum sekilas melirik ke arah Fikri.
"Yaudah terserah kalian, ayah kedepan dulu."
Setelah ayah Ica pergi, disusul oleh kakak ipar Ica. Dan kini hanya tersisa Nisa, mamah, Ica dan Fikri.
"Sayang aku nyusul ayah ke depan yah." Pamit Fikri pada Ica dengan mengecup kening Ica, dasar tak tau kondisi pikir Ica.
"Yaudah gih."
"Mah, kak, Fikri ke depan yaa." Pamit Fikri pada mamah dan kakak iparnya.
"Iyah." Jawab keduanya.
"Ca kapan nyusul kakak kaya gini?" Tanya Nisa, menunjukan perutnya yang besar. Yang di dalamnya ada jabang bayi.
"Ah kakak." jawab Ica malu-malu.
"Mah, kak, kalian istirahat aja. Ini biar aku yang kerjain." Lanjut ica.
"Iyah Ca, tinggal dikit kok." Ucap Nisa.
"Yaudah deh."
Setelah mereka selesai dengan membereskan piring-piring kotor dan makanan, mereka berjalan beriringan dengan canda tawa menuju ruang tv. Menyusul suami-suami mereka.
"Ehh, para bidadari cantik udah dateng." Ucap sahal, ayah Ica.
Kedua pria yang sedari tadi fokus mengobrol, menengok ke arah belakang. Dan tersenyum.
"Ehh, sini duduk." Ucap ketiga pria itu mempersilahkan duduk di samping mereka, di alas karpet.
Ya memang ruang tv hanya beralas karpet, tidak memakai sopa. Biar apa? Biar kalo bosan duduk, ya rebahan. Kan enak wkwk..
Tidak ada pembicaraan di antara mereka, mereka tengah asyik menontom siaran televisi. Ica, gadis itu membuka pembicaraannya.
"Emm, mah, pah, kak aku ke atas dulu yaa." Pamit Ica.
"Mau ngapain sayang?" Tanya Fikri.
"Bersiin kamar dulu." Balas Ica.
"Aku ikut yahh."
"Yaudah terserah."
"Dasar pengantin baru! Maunya beduaan muluu." Sahut Bani.
"Gapapa dong wlee." Ucap Fikri mengulurkan lidahnya.
"Ihh pengen gue sentil ya!?" Balas Banu, yang siap dengan tangan yang akan menyentil telinga adik iparnya itu.
"Dih kalian ini. Kaya anak tk tau." Ucap Nisa.
"Hahahaha." Yawa semua anggota keluarga.
"Assalamualaikum!" Ucap Fikri sewot menarik tanga Ica.
"Waalaikumsalam." jawab mereka berbarengan.
Sahal dan Aminah hanya menggeleng-ngelengkan kepalanya, melihat sang menantu muda dan pertamanya itu merajuk karna di tertawakan. Dasar aneh!
***
Sesampainya mereka di kamar, Ica langsung membukakan pintu dan memasuki kamarnya. Dan di ikuti oleh Fikri, suaminya.
Huffft, harumm. Itulah yang di rasakan mereka saat sampai di ruangan bercat biru berpadu putih itu.
"Mau di bantuin beres-beresnya gak?" Tanya Fikri.
"Gak usah. Kamu duduk aja. Biar aku sendiri." Balas Ica tersenyum.
"Gapapa deh di bantuin aja yaa? Kan biar cepet kelar."
"Yaudah terserah kamu."
Kedua pasangan serasi itu tengah membereskan kamar mereka, mulai dari sapu-sapu lantai, pel lantai, lap kaca, ganti seprei, dan masih banyak lagi.
20menit kemudian.
Mereka sudah selesai dengan pekerjaan mereka, sekarang mereka tengah duduk di atas sofa yang berada di kamar mereka.
"Hufft, capeenyaa." Keluh Fikri, mengusap keningnya yang basah oleh keringat.
Ya maklum cape, orang kamarnya besar. Butuh waktu beberapa menit untuk mereka bereskan semuanyanya.
"Ya kenapa atuh bantuin aku." Ujar Ica.
"Gapapa atuh, pan suka." Jawab Fikri.
"Suka apa?"
"Suka kamu."
"Dasar gombal!" Ucap Ica tersenyum-senyum sendiri.
"Ciee senyum-senyum, tuh kenapa pipinya pink? Pake pewarna?"
"Ihhh." Ica, wanita itu langsung memukul lengan suaminya.
"Mandi gih, Ca." Perintah Fikri.
"Mau kemana?" Tanya Ica heran.
"Jalan-jalan ke taman? Atau beli buah apel?" Tanya Fikri.
"Beli buah apel sekalian ke taman yaa." Jawab Ica kegirangan.
"Iya-iya boleh, cepet gih mandi." Balas Fikri mengacak balutan jilbab yang Ica kenakan.
"Siapp." Bagaikan seorang prajurit yang tengah hormat kepada sang raja, itulah yang sedang Ica lakukan di depan suaminya.
***
Gmana udah panjang? Atau mau lebih panjang? Yaudah komen yang panjang juga dong. Biar adil wkwk. Bukan ngemis minta komen cuma mau tau aja siapa yang mau lebih panjang dari ini aja.😅