My wife is beautiful

My wife is beautiful
part 14



Part 14


____


Jam telah menunjukan pukul setengah dua belas, yang tadi tinggal beberapa mobil dan motor belalu lalang. Kini tidak ada sama sekali yang berlalu lalang didepan rumah Fikri.


Sekitar lima menit yang lalu Fikri telah sampai melewati gerbang, ia kembali memasukan mobilnya ke garasi. Setelah mobil terpakir rapi digarasi Fikri keluar dari mobil dengan menenteng dua kresek.


Ia mengunci kembali garasi, lalu ia berjalan ke arah pintu utama rumahnya. Rumah sudah dikunci dari dalam, tapi untung Fikri membawa kunci cadangan. Ia mulai membuka kuncinya, setelah terbuka lebar ia memasuki rumahnya dan kembali mengunci pintu.


Fikri mulai menaiki anak tangga untuk sampai kekamarnya, beberapa saat ia melangkah akhirnya ia telah sampai didepan pintu kamarnya. Ia mulai membuka pintu kamar dengan hati-hati takut Ica telah tertidur.


Dan, memang iyah saat Fikri sampai didalam kamarnya, ia melihat sang istrinya tengah tertidur pulas disofa dengan keadaan duduk, yang bersandar pada bantal yang ia gunakan dipunggungnya.


Fikri mendekat ke arah Ica, ia mengendong Ica dan membaringkan diranjang dengan sangat hati-hati. Kemudian, Fikri menyelimuti Ica sampai batas dada.


"Ica udah tidur, bangunin atau simpen dikulkas ya?" ucap Fikri bigung.


"Hadeuh dasar ibu ngidam. Tadi suruh beli makanan kemauannya eh udah sampe dan udah ada malah udah tidur aja, sabar Fik sabar. Allah pasti menyayagimu, termasuk istrimu ahaha," omel Fikri diiringi tawa-tawa kecilnya.


"Yaudah lah ke kulkasin aja kali ya," Fikri kembali berjalan ke arah pintu untuk pergi kedapur, menyimpan makanan dikulkas.


"Huaa, ngantuk banget," Fikri menguap dengan sangat panjang.


Fikri kembali ke kamarnya untuk memejamkan matanya sekaligus membuang rasa penatnya.


____


Malam telah berganti menjadi pagi, udara pun telah berganti menjadi sejuk, dam adzan shubuh pun telah berkumandang. Fikri dan Ica masih setia dengan selimut juga bantalnya.


Kringgg kringg


Jam beker terus berbunyi sejak setengah jam yang lalu, seperti orang tuli. Mereka tidak mendengar bahwa jam telah memanggil-manggil mereka untuk bangun.


Satu menit..


Tiga menit..


Lima menit..


Tujuh menit..


Ica mengeliat dan mulai menyempurnakan pandangannya, setelah pandangannya tidak buram ia teringat dengan kejadian semalam, bahwa dia tengah menunggu sang suami disofa. Dan sekarang ia sudah ada diranjang?


"Alhamdulillah udah pulang," ucap Ica mengelus dadanya, setelah ia melihat seorang pria tengah tidur disisi kanannya.


Fikri yang terganggu dengan suara-suara sang istri ia membukaan matanya dengan sempurna, ia melihat sang istri yang tengah duduk diranjang sembari mengelus dadanya.


"Kenapa Ca?" tanya Fikri heran.


"Eh mas udah bangun,"


"Hem, kamu kenapa ngelus-ngelus dada kaya gitu? Sakit?"


"Engak mas, aku kaget,"


"Kaget?"


"Iya, aku lupa tadi malam aku kan nungguin kamu disofa eh malah ketiduran, pas bangun langsung keinget sama kamu,"


"Emm gitu, semalem aku liat kamu tidur disofa dengan keadaan duduk, yaudah aku ngendong deh ke ranjang."


"Eh iya, mangga sama kue nya udah ada dikulkas tuh,"


"Wahh kamu dapet?"


"Yaiyalah, yakali aku pulang tanpa kemauan istriku ini," Fikri mencubit gemas pipi Ica.


"Hehe makasi yaa mas,"


"Eitt tapi..,"


"Tapi apaan?"


"Gak gratis loh,"


"Loh kok kamu itungan sih sama istri sendiri," ucap Ica memalingkan wajahnya.


"Tau ah! Aku mau shalat dulu."


"Eh bareng dong,"


Ica tidak membalas ucapan Fikri, melainkan ia meninggal Fikri.


________