
#part 1
Menikah dengan seseorang yang sangat dicintai itu bahagia bukan? Tentu iya, kenapa tidak? Toh suami istri harus saling mencintai, kalau tidak? Bagaimana membangun rumah tangga yang harmonis. Iya kan?
Hari ini, hari dimana yang sangat dinanti-nanti oleh kedua insan yang saling mencintai. Dan yah, hari ini adalah hari pernikahan mereka.
"Saya terima nikahnya alisya ayudia alfarizi binti sahal alfarizi dengan maskawin 5gram cincin mas dan 3gram kalung mas dibayar tunai." Dengan lantang dan menggema didalam ruangan, seorang pria tampan telah mengucapkan ijab kabul dengan sekali tarik napas.
"Bagaimana para saksi, sahh?" Ucap pak penghulu.
"Sahhhh"
Ditempat lain, seorang wanita yang terbalut pakaian putih syar'i khas baju pengantin dengan mahkota kecil yang menempel diatas kepala yang terbalut oleh hijab. Sangat cantik, cantik sekali.
Mendengar kata 'sah' seketika air mata wanita cantik itu menetes.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya seorang wanita paruh baya yang berada disampingnya.
"Gapapa mah, aku bahagia." Balasnya tersenyum, memeluk sang mamah.
"Yaudah, sekarang kita kebawah." Ucap mamahnya, sembari melepaskan pelukannya dan alisya sang wanita cantik itu membalas dengan menganggukan kepalanya.
Sang pengantin wanita, ibunya dan juga kakaknya kini tengah berjalan berdampingan menuruni anak tangga, untuk sampai ke sang pengantin pria, Yang kini telah sah menjadi suaminya.
Banyak sekali pujian yang terdengar oleh telinganya, ia hanya menundukan kepalanya. Malu mungkin, atau ntahlah.
Kini ia duduk disamping sang suami, memasangkan cincin. Lalu, menciumi punggung tangannya. Dan dibalas dengan kecupan hangat dikening sang istri.
Dan sekarang, mereka tengah duduk diatas pelaminan yang sangat indah itu. Meski digelar dirumah, tetapi pernikahan itu sangat mewah dan meriah.
"Kamu sangat cantik sayang." Puji sang suami, sebut saja namanya Fikri, Fikri taufik jaya.
Dan, sang empu yang dipuji hanya menundukan kepalanya menyembunyikan wajahnya bak seperti udang rebus.
"Hey, hey jangan nunduk dong sayang. Kan gak keliatan wajah yang cantiknya." Godanya lagi, sembari menganggatkan dagu sang istri.
Alisya, sang empu itu hanya mampu tersenyum sekilas dan kembali menundukan kepalanya lagi.
"Hey kalian, malah asyik pacaran. Bukannya sambut para tamu." Ucap seorang pria paruh baya dengan nada candanya. Sang mertua Alisya, bapak mahesa andrajaya.
"Ihh, gakpapa dong pah, Orang udah sah ini." Balas sang anaknya, fikri.
Alisya mendonggak melihat orang yang berbicara pada mereka, dan wanita itu hanya tersenyum malu-malu dihadapan sang mertua.
"Terserah lah, yang penting sekarang kalian sambut tuh para tamu." Ucap mahesa, ayah keduanya.
"Siap papahku yang ganteungg."
Dan kini, mereka tengah menyambut para tamu. Tak luput senyuman manis yang menghiasi bibir mereka.
***
Kini, jam menunjukan pukul 9malam. Kedua insan itu tengah berada dikamar pengantin mereka, setelah para tamu pulang semua dan acara selesai.
"Fik mandi gih." Perintah ica, alisya.
"Kok masih manggil fik sih? Kan aku udah jadi suami kamu, panggilnya sayang kek, papah kek, ayah kek, mas kek, atau kakak gitu." Rajuk fikri, dengan muka sedih.
Alisya yang mendapat rajukan dengan muka sedih hanya menutup mulut dengan tangan. "Ehh, lupa hhe. Panggil mas aja boleh yah?"
"Boleh dong, apasi yang enggak buat istri tercinta ini, cupp." Jawab fikri mengecup kening ica.
"Ihh, main nyosor aja." Jawab ica dengan membalikan mukanya, melanjutkan menyisir rambutnya.
"Gak papa dong, ke istri sendiri ini. Dari pada ke tetangga." Jawabnya, memeluk ica dari belakang.
"Ihh peluk-peluk lagi. Mandi sana! Kamu bau."
"Gak bau kok, harum gini."
"Cepet mandi, atau tidur disofa?" Ancam ica.
"Iya deh iya aku mandi." Balas fikri melepaskan pelukannya, dan berjalan ke arah kamar mandi.
***
Kini mentari hampir menampakan dirinya, udara pagi yang masih terasa segar. Seorang wanita cantik telah terbangun setelah ia mendengar suara adzan menggema dimasjid, ia mengeliat sedikit. Menyempurnakan semua nyawanya.
"Mas ayo bangun, udah adzan subuh." Sang istri terus mengoyang-goyangkan tubuh suaminya.
"Emm, bentar sayang." Jawabnya, masih setia menutup mata sembari menarik sang istri ke dalam pelukannya.
"Ihh lepas." Wanita itu terus berusaha melepaskan pelukan sang suami, tapi nihil. Tenaganya sangat lemah, apalagi baru bangun dari alam mimpi.
"Bangun mas ih! Mau aku tumpahin seember air dingin haa?" Ancam wanita itu terus berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Tega sekali kamu sayang," jawabnya dan ia langsung membuka netranya dengan sangat lebar.
"Bukan tega ih, cepet bangun. Dan lepasin pelukannya"
"Gak! Bangun ih. Bandel kamu, mau aku cubit?"
"Tinggal cubit balik, udah gede ini. Sama-sama makan nasi lagi."
"Mas ihhhh! Nanti shalat subuhnya kesiangan, terus nanti aku gak bantuin mamah masak lagi." Ucap wanita itu dengan muka sedihnya.
"Iya deh iya, aku lepass."
Wanita itu langsung tersenyum manis, manis sekali.
"Tapi.."
"Apa!"
"Cium pipi kanan dulu dong."
"Ihhh tinggal lepas aja, banyak mau kamu." Balasnya sewot.
"Ihhh tinggak cium aja, susah kamu." Balasnya meniru apa yang diucapkan sang istri.
Dan memang iyah, kedua insan itu adalah pangantin baru. Siapa lagi kalau bukan Alisya dan Fikri?
Cupp
Satu kecupan hangat disubuh pagi ini, mendarat pas dipipi kanan Fikri. Yang dilakukan oleh Alisya, sang istri tercintanya.
"Satu lagi dong."
"Tadi mintanya satu,"
"Kasih aja ngapa."
Cupp
"Keningnya dong, kasian dia cemburu gak dicium kamu."
'Untung suami, kalau bukan, udah aku buang ke kandang raja hutan.' Kesalnya dalam hati.
"Hey, kok ngelamun? Ayo lakuin." Perintah fikri, dengan memajukan keningnya. Mendekat ke arah bibir alisya.
Cupp
Setelah selesai melakukan apa yang Fikri mau, Fikri langsung melepaskan pelukannya. Alisya, wanita itu langsung turun diatas ranjang.
"Eitt..eitt.." lagi, dan lagi. Fikri kembali menahan Alisya dengan mencekal tangannya, untuk kembali duduk.
"Ini belum lohh, nanti dia nangis gimana?" Ia menunjukan arah bibirnya.
"Ihh tau ah." Dengan cepat, Alisya langsung melepaskan tangan Fikri dari pergelangannya. Ia langsung pergi ke kamar mandi tanpa menghiraukan panggilan dari Fikri.
***
Setelah kedua pengantin baru itu selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah, Ica bergegas pergi ke dapur untuk memasak makanan.
"Mau kemana sayang?" Tanya Fikri, melihat sang istri yang ten memakai kerudung instannya.
"Mau pergi mancing ikan! Ya mau kedapur lah."
"Mau ngapain ke dapur?"
"Belanja." Balasnya langsung membukakan pintu kamar, dan pergi ke dapur.
"Ke dapur belanja? Masa iya sih? Bukannya belanja di mall atau pasar ya? Sejak kapan dapur ibu mertua jadi pasar?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Ahh bodo amat lah pusing gue." Lanjutnya, dan ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur lembut nan besar itu. Dan kembali tertidur, menyambut mimpi yang sempat tadi terjeda.
***
Seorang wanita cantik kini tengah bergulat dengan bahan-bahan makanan, untuk menyiapkan segala masakan untuk menu makan hari ini.
Kangkung oseng, sayur sop, ikan goreng, tempe, tahu, dan ayam goreng telah tertata rapi dimeja makan. Tak lupa nasi putih dan air putih pun tersedia.
"Masyaa allah udah beres lagi aja." Ucap seseorang dibalik punggung wanita itu. Siapa lagi kalau bukan mamahnya.
"Ehh, hhe iya mah." Balasnya tersenyum.
"Maaf yah mamah gak bantu, abis cape bangett." Keluh sang mamahnya.
Memang iyah. Semua masakan yang telah tersaji rapih di meja makan, Ica yang membuatnya. Sendiri tanpa bantuan.
"Gakpapa mah."
"Yaudah mah aku bangunin mas Fikri dulu." Pamit Ica pada mamahnya.
"Iyah."
Wanita cantik bernama Alisya itu sampai di depan pintu bercat putih, membuka knop pintu. Dan memasuki ruangan yang khas berbau wangi apel, Memang iyah Ica sangat suka dengan apel.