
Sudah hampir seminggu Arman di Lombok. Alana harap-harap cemas jika Arman pulang. Mau tak mau dia harus merasakan kembali siksaan Arman.
Yang menjadi bingung Alana adalah sosok Arman seolah memiliki kepribadian ganda. Saat didepan orang lain Arman akan memperlakukan Alana bak seorang ratu.
Namun saat hanya berdua dia justru sering berlaku kasar dan tak segan menyiksanya.
Sementara Andra tak kunjung memberi kabar padahal dia sudah berjanji kepada Alana untuk segera mengeluarkannya dari rumah itu. Kini Andra justru semakin sibuk ke kantor dan sering lembur.
Besok hari terakhir Arman di Lombok. Alana yang melamun di rumah merasa bosan akhirnya memutuskan berjalan-jalan di taman depan rumah. Sekedar menikmati udara bebas meski kenyataannya dirinya sama sekali tak bebas.
Tiba-tiba datang dua orang pria bermasker membawa sebuah koper besar mengaku petugas perbaikan yang dikirim Andra untuk memperbaiki AC dan kulkas di rumah yang kebetulan rusak.
Alana pun mempersilahkan kedua pria itu untuk masuk ke dalam rumah. Sebelumnya satpam juga sudah memeriksanya dan koper yang dibawa mereka memang berisi peralatan untuk memperbaiki barang elektronik.
Alana mengantar kedua pria itu ke kamar Andra untuk memperbaiki AC. Di dalam kamar kedua pria itu langsung membekap Alana. Jeritannya tertahan dengan obat bius yang sudah disiapkan di saput tangan. Kemudian pria itu mengeluarkan semua barang-barangnya dan memasukkan Alana ke dalam koper.
Sementara Bi Siti yang sejak tadi sibuk di dapur membuatkan minuman untuk petugas tersebut sangat terkejut melihat peralatan yang berserakan di dalam kamar Andra dan tidak menemukan mereka bertiga terutama Alana.
Aksi dua pria tersebut terbilang beruntung karena saat itu satpam sedang pergi ke toilet sehingga keduanya sama sekali tidak dicurigai.
Di dalam mobil Alana yang masih pingsan langsung segera dikeluarkan dari koper dan wajahnya ditutup kain hitam serta kedua tangannya diikat.
Setengah jam mereka membawa Alana di jalan dan kini dia mulai sadar.
Alana terkejut saat nafasnya terasa sesak dan pandangannya gelap semua.
Dia mulai meronta akhirnya terpaksa Alana dibius lagi.
Sementara Bi Siti yang panik langsung menghubungi Andra. Dia mengatakan bahwa seseorang menculik Alana.
Andra langsung datang ke rumah dan memastikannya. Tak lupa dia menghubungi Arman bahwa Alana telah diculik seseorang. Sementara Arman belum bisa pulang karena harus menunggu satu kolega lagi dari Australia untuk meeting. Dia tidak bisa membatalkannya.
"Andra, Papa minta kamu bantu cari Alana. Papa sudah mengerahkan seseorang untuk mencarinya." ujar Arman melalui sambungan telepon. Andra pun menyanggupinya.
Sementara Alana kini dibawa di sebuah Villa di daerah terpencil. Dia yang setengah sadar dibawa masuk ke bangunan itu kemudian direbahkan di atas ranjang. Tak lupa pria itu mengunci kamarnya.
"Bos, target sudah aman di tempat" ujar salah satu pria tersebut menelepon seseorang.
Alana yang masih lemas dan kebingungan karena tempat itu sangat asing untuknya. Saat sudah sadar sepenuhnya barulah dia tahu bahwa saat ini seseorang telah menculiknya.
Alana mencoba kabur namun sia-sia. Tempat itu sangat tertutup rapat. Bahkan semua jendela lengkap terpasang teralis.
"Tolong... Buka pintunya. Bukaaa...." Alana terus menggedor-gedor pintu namun sama sekali tidak ada balasan.
Sudah setengah jam dia berteriak lama kelamaan dia mulai merasa haus dan lapar.
Di sudut kamar terdapat makanan dan minuman tersedia. Namun makanan tersebut tergolong mewah untuk seorang tawanan. Bahkan lengkap dengan desert dan buah-buahan.
Meski begitu Alana masih sangat ketakutan dan tak berhenti menangis. Nasibnya yang begitu malang sejak kepergian kedua orang tuanya hingga kini belum juga mendapatkan kebahagiaan.
"Siapapun tolong aku" gumam Alana lirih sebelum akhirnya dia tertidur di lantai karena kelelahan.
Samar-samar Alana mendengar suara seseorang berbicara. Dia segera beranjak dari tidurnya dan langsung menguping pembicaraan orang-orang tersebut.
"Target sudah aman bos," ujar pria yang membawa Alana tadi.
"Baiklah. Apa kalian mendapatkan kendala selama menculiknya?" ujar seseorang lainnya.
"Tidak. Semua beres sesuai rencana bos. Ternyata lebih mudah saat eksekusi"
Suara pria tersebut sangat familiar dengan Alana. Namun dia belum bisa memastikan karena dia belum melihat pria itu secara langsung.
Terdengar suara seseorang membuka pintu kamar tersebut. Alana hanya melihat samar-samar sepatu pria tersebut yang semakin mendekatinya.
"Alana... Kenapa kamu tidur di lantai?" ucap pria itu.
Alana semakin kenal dengan suara itu. Dia langsung membuka matanya dan sangat terkejut saat pria yang berada di depannya adalah Andra.
"A-Andra... Jadi, jadi kamu yang telah menculikku?" Alana menutup mulutnya dengan tangannya karena tak percaya dengan apa yang dia lihat didepan matanya.
"Alana, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini..." belum sempat Andra menjelaskan lebih lanjut Alana sudah ketakutan dan berlari menjauhi Andra. Dia mengambil vas bunga yang berada di sudut kamar.
"Alana, aku bisa jelaskan jangan takut dulu" ujar Andra.
"Jangan mendekat. Atau aku akan melemparmu dengan ini" Alana menodongkan vas bunga yang berbahan dasar kaca tersebut.
Andra tidak peduli dan semakin mendekati Alana yang sudah sangat ketakutan.
Dia tidak percaya bahwa Andra pria yang dia percaya selama ini justru tega menculiknya. Air mata Alana sudah membanjiri wajahnya.
Andra langsung mendekati Alana dan meraih vas yang dia pegang. Kekuatan Alana jelas kalah dengan Andra yang bertubuh lebih besar darinya.
Andra menarik tubuh Alana ke dalam pelukannya.
"Maaf aku melakukan ini adalah untuk menyelamatkanmu dari Arman. Aku tidak ingin Arman merasa kamu telah kabur" Andra coba menjelaskan.
Alana langsung tertegun. Dia benar-benar tidak menyangka cara Andra yang terbilang ekstrem.
"Tapi kamu mengejutkanku. Aku sangat takut" Alana masih terisak.
"Maafkan aku Alana. Tapi kamu akan aman disini" Andra mengusap air mata yang berada di wajah Alana.
Pria itu tersenyum mengamati Alana yang terlihat memanyunkan bibirnya karena sebal dengan kejutan Andra.
Tapi dalam hati Alana begitu lega. Akhirnya dia terbebas dari Arman. Janji Andra kepadanya benar-benar dilakukan.
"Terimakasih Andra" Alana kembali memeluk Andra. Kali ini dia merasa begitu aman.
Pelukan hangat yang sangat dia rindukan untuk Alana yang haus akan kasih sayang.
Sementara Arman terus menghubungi orang-orang suruhannya yang ditugaskan untuk mencari Alana.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Arman didalam teleponnya.
"Kami masih mencari tahu pelakunya bos. Kami mendapatkan rekaman CCTV nya namun kedua pelaku terus memakai masker dan topinya sehingga sulit dikenali." ujar suruhan Arman.
"Aku tidak mau tahu. Segera temukan Alana." teriak Arman.
"Bos, sebaiknya kita minta bantuan polisi juga. Supaya lebih cepat menemukan nyonya"
Mendengar kata polisi justru Arman langsung menolak. Dia tidak ingin Alana buka mulut tentang apa yang dia alami kepada polisi.
"Tidak. Temukan saja Alana tidak usah manja sok-sok an minta bantuan polisi"
.
.
Bersambung...