My Stepmom My First Love

My Stepmom My First Love
bab 13 cemburu



Alana terperanjat seketika saat melihat Andra yang sedang makan malam mesra dengan seorang wanita.


Apalagi wanita itu terlihat lebih dewasa dari dirinya. Penampilan cantik dan seksi tentu saja membuat setiap pria pasti meliriknya.


Sepanjang makan malam itu mata Alana tak henti-hentinya mengawasi kedua insan tersebut.


Untung saja saat ini Arman begitu menikmati makanannya hingga tak terlalu mempedulikan Alana yang sedang uring-uringan dalam hatinya.


Wajah cantik yang semula biasa kini berubah menjadi gelap dan murung.


Ingin sekali Alana menghampiri Andra dan memakinya namun dia tetap bisa menahan perasaan itu.


"Sayang kenapa tidak di habiskan makanannya?" Arman melirik Alana yang sejak tadi hanya mengaduk makanannya.


"Em.. Perutku sedang kurang enak mas" ujar Alana berbohong.


Bagaimana dia bisa melahap makanan sedangkan di depannya ada sang kekasih tengah berduaan dengan wanita lain.


Setelah selesai makan Alana meminta Arman untuk segera pulang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, saat mereka hendak keluar restoran ternyata Andra dan Miranda juga sama.


"Pa-Papa?" Andra sangat terkejut saat melihat kehadiran Arman dan Alana.


"Dari tadi papa dinner di sini, tapi sengaja gak nyapa kamu. Takutnya ganggu" ujar Arman sembari melirik Miranda.


Andra menatap Alana yang tampak membuang muka padanya. Dia merasa begitu bersalah. Jadi dari tadi Alana mengetahui bahwa dirinya sedang dinner dengan Miranda.


"Eh, Pak Arman apa kabar?" sapa Miranda.


"Oh, kamu Miranda kan?" sapa Arman.


"Iya, Pak Arman lagi dinner juga, kok kenal sama Andra?" tanya Miranda lagi.


"Dia adalah anak saya" ujar Arman.


Miranda pun terkejut mendengar pernyataan Arman.


Sementara Alana hanya diam mematung didamping Arman. Hatinya benar-benar sakit saat ini. Bak dihujam ribuan pisau menembus jantungnya.


"Pa aku duluan ya, masih ada urusan" ujar Andra.


Andra tahu Alana begitu marah dan tidak nyaman berada didepannya terutama melihat Miranda.


Sampai juga Arman dan Alana di rumah. Alana langsung beranjak ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia mengenakan piyama two piece berwarna baby pink.


Tiba-tiba dia teringat bahwa Andra sangat menyukai Alana yang memakai pakaian dengan warna itu.


"Ah, menyebalkan." Alana langsung melepas piyamanya dan mengganti dengan warna berbeda.


Entah meski perasaannya sangat kacau saat ini tapi dia ingin menunggu Andra pulang.


Akhirnya Alana menunggu di ruang tengah sembari menonton tv. Ruangan itu berhadapan langsung dengan kamar Andra.


Satu jam berlalu namun Andra masih belum menampakkan batang hidungnya. Alana semakin dibuat gundah karenanya.


"Apa mungkin Andra memang benar-benar memiliki hubungan dengan wanita itu? Apa mereka saat ini sedang bercinta?" pikiran buruk terus berkecamuk di dalam otak Alana.


"Ahhh... " Alana menghela nafas kasar.


"Kenapa sayang?" tiba-tiba Arman menghampiri Alana.


"Apa ada masalah?" Arman duduk di sebelah Alana dan langsung meraih tubuhnya untuk duduk di pangkuan pria itu.


"Mas, malu nanti dilihat banyak orang" ujar Alana sambil mencoba untuk bangkit. Namun tangan kekar Arman langsung memeluknya.


"Aku tidak peduli. Toh sekarang tidak ada siapapun" ujar Arman santai.


"Nanti kalau dilihat Andra gimana?" tiba-tiba nama Andra terlontar dari bibir Alana. Lidahnya mendadak kelu.


Alana kembali memikirkan apa yang sedang dilakukan prianya itu?"


"Andra mungkin tidak pulang ke rumah, kan tahu sendiri tadi dia sedang bersama Miranda. Sebagian besar pria yang jalan dengan Miranda tak akan bisa lolos begitu saja. Pasti berakhir di ranjang" ujar Arman sembari memainkan rambut Alana.


Hatinya terasa semakin perih. Sayatan yang sebelumnya belum hilang kini ditambah lagi dengan fakta tentang wanita yang bersama Andra tersebut.


Alana tak mampu menyembunyikan kegundahan tersebut.


"Sayang kamu kenapa? Sepertinya tidak suka Andra bersama wanita itu?" tanya Arman.


"Tidak, untuk apa aku mengurusi Andra? Biar saja toh itu hak dia. Apa peduliku?" Alana seolah acuh padahal dalam hatinya sangat emosi.


Pagi ini cuaca cukup mendung. Langit Pun terlihat gelap segelap suasana hati Alana saat ini.


Semalaman dia terus memikirkan Andra. Bahkan pria itu sama sekali tak memberi kabar.


"Sayang ayo sarapan, semua sudah siap" Arman membangunkan Alana yang masih bergumul dengan selimutnya.


Dengan malas Alana bangkit dan menuju toilet. Lima belas menit kemudian dia turun ke ruang makan untuk sarapan.


Rupanya disana sudah ada Arman dan Andra yang menunggu. Alana memicingkan matanya saat melihat pria yang semalaman membuatnya gelisah tersebut.


Tak ada kata-kata yang muncul di bibir Alana. Dia langsung memposisikan diri dan mulai melahap makanannya.


"Kamu nanti berangkat kuliah jam berapa?" tanya Arman tiba-tiba.


"Nanti jam delapan" balasnya singkat.


Andra hanya diam memperhatikan Alana.


Sementara Alana yang terbakar cemburu mencoba untuk menggoda Andra sekalian.


"Mas nanti bisa antar aku nggak? Aku pengen diantar sama Mas Arman" rengek Alana sengaja menggunakan suara manja.


"Tapi aku ada rapat setelah ini. Nggak bisa sayang. Barengan sama Andra aja ya." ujar Arman.


Alana memanyunkan bibirnya seolah dia marah. Lalu melihat bekas makanan di sudut bibir Arman membuatnya ingat kejadian semalam.


Alana langsung mengambil tisu dan mengelap bibir Arman. Dia sengaja berlama-lama melakukannya.


Andra yang melihatnya langsung tersedak. Seolah tidak terima Alana begitu dekat dengan Arman.


Sarapan selesai dan kini Arman sudah berangkat ke kantor. Alana hendak kembali ke kamarnya namun dicegat Andra.


"Kamu siap-siap kita akan berangkat sebentar lagi?" ujar Andra datar.


"Tapi ini masih jam setengah tujuh. Aku kuliah jam delapan" balas Alana ketus.


"Ayolah Alana..." Andra tampak memohon.


Akhirnya Alana bersiap dan mengikuti Andra berangkat.


Saat mobil melaju keduanya masih tak saling bicara. Namun Alana menyadari bahwa ini bukan jalan arah ke kampusnya.


"Kita mau kemana? Ini bukan jalan ke kampus" ujar Alana sedikit sewot.


Andra tak mengatakan apapun dan dia terus memacu mobilnya hingga sampai di sebuah bangunan besar.


Andra memasukkan mobilnya ke basemen apartemen kemudian meminta Alana keluar.


"Ki-kita mau kemana?" Alana tampak bingung.


"Ayo ikuti aku. Jadwal kuliahmu masih lama" Andra menarik lengan Alana dan bergegas menuju lift.


Alana ingin berontak namun melihat wajah Andra yang serius membuatnya mengurungkan niat.


TING...


Alana dan Andra sampai di sebuah apartemen. "I-ini dimana?" Alana tampak bingung.


"Ini di apartemenku" balas Andra singkat.


"Andra antar aku ke kampus. Aku tidak mau disini. Aku tidak mau bertemu kamu. Aku benci kam...."


Belum sempat Alana meneruskan ocehannya Andra langsung menyambar bibir ranum gadis itu dan me lu mat nya dengan rakus.


"Hmmmmpp..." Alana mencoba untuk melepaskan diri dari Andra namun pria itu justru memeluknya erat.


Kemudian Andra mengangkat tubuh Alana dan membawanya ke sebuah kamar.


"Aku merindukanmu sayang" Andra langsung memenjara tubuh Alana didalam kungkungannya.


.


.


.


Bersambung...