My Stepmom My First Love

My Stepmom My First Love
Bab 26 pindah rumah



"Mas, kenapa kita pindah kesini?" Alana tampak mengerutkan wajahnya saat Arman mengajaknya ke sebuah rumah besar dengan desain modern minimalis. Jauh berbeda dengan kediaman lamanya yang berdesain klasik.


"Rumah yang lama sudah aku jual. Dan pembelinya minta kita segera pindah?" ujar Arman beralasan.


"Hah? Kol dijual?" seketika Alana merasa kecewa.


Bagaimana tidak, rumah itu menyimpan banyak kenangan terutama tentang Andra. Dan kini Arman menjualnya. Lalu bagaimana dia mengenang Andra.


"Alana, sudah saatnya kita melupakan semua masa lalu itu. Kita harus terus melangkah menata masa depan." ujar Arman.


Alana terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Entah kenapa sejak kehamilannya dia jadi emosional. Dia langsung berjalan pergi begitu saja meninggalkan Arman.


Arman hanya bisa menghela nafas kasar. Dia harus benar-benar bersabar menghadapi Alana sekarang. Dalam keadaan begini tak mungkin untuk Arman memaksanya.


Rasa simpatinya terhadap Alana kini perlahan berubah menjadi rasa suka. Arman ingin memiliki hati Alana sehingga dia harus mengubah haluan Alana secara perlahan.


Dengan pindah rumah begini Arman berharap Alana bisa melupakan Andra.


"Alana tunggu..." teriak Arman saat Alana hendak berjalan keluar halaman.


"Mas, aku mau rumah kita yang lama. Please, jangan pindah ya mas." mohon Alana.


"Tidak bisa Alana. Kita akan tinggal disini. Atau jika kamu tidak cocok kita cari tempat lain." ujar Arman.


Seketika saja Alana mulai terisak. Arman ingat jika seorang ibu hamil bersedih maka akan mempengaruhi perkembangan janin. Dengan cepat Arman meraih tubuh Alana dan memeluknya.


"Maafkan aku, tapi kita harus pindah. Pelan-pelan ya nanti pasti terbiasa. Dan jangan sedih, nanti janinmu jadi ikut terganggu." begitu saja, Alana mulai terdiam. Jika sudah menyangkut tentang kehamilannya Alana langsung menurut.


Alana sangat menjaga kehamilannya sebab hanya ini kenangan yang diberikan Andra. Dia akan melahirkan darah dagingnya dengan sehat.


Kediaman baru Arman dan Alana ini sebenarnya tergolong dalam kawasan villa. Sebab letaknya yang berada di wisata pegunungan menyajikan pemandangan begitu indah.


Hawa sejuk dan menghadap langsung sebuh danau menambah keindahan tempat itu.


Arman sengaja mencari tempat tinggal yang berada sedikit jauh dari hiruk pikuk kota dengan tujuan agar Alana menjadi lebih nyaman menjalani kehamilannya.


Arman sudah bertekad akan membuat Alana merasa nyaman dan aman bersamanya. Namun satu hal kekurangan Arman yaitu ketidakjujurannya.


Dia sengaja menyembunyikan fakta bahwa perusahan orang tua Alana kini sudah jatuh pada haknya.


Jika tujuan Andra mendapatkan perusahaan itu untuk Alana maka Arman sengaja menahannya karena takut jika Alana mengetahui maka dia akan pergi dari sisinya.


Arman takut jika Alana menjadi wanita karier dan tak lagi mempedulikan Arman. Dia ingin Alana terus bergantung dan dibawah kendalinya.


...****************...


Satu minggu berlalu, Alana dan Arman menempati rumah itu. Para asisten yang bekerja di rumah lama ikut diboyongnya.


Setiap hari Bi Siti menyiapkan semua kebutuhan Alana juga Arman.


Saat sarapan sudah siap Arman memanggil Alana untuk makan bersama. Tapi lagi dan lagi, wanita itu selalu menolak.


Selalu ada drama di pagi hari saat sarapan. Alana yang selalu mual-mual menolak untuk sarapan.


Tapi Arman yang tak berpengalaman mengurusi wanita hamil terkadang ikut terbawa emosi. Akhirnya mereka berujung pertengkaran.


Alana merajuk dan mengurung diri di dalam kamar. Sementara Arman kini duduk termenung di pinggiran danau. Kepalanya sungguh pening.


"Pak, nona Alana mencari anda" ucap salah satu asisten memberitahu Arman.


"Ada apa lagi? Percuma saja dia memanggilku jika tidak menurut." sanggah Arman.


"Beliau minta disuapi anda, Pak" jawab asisten itu.


Seketika saja Arman bangkit dari tempat duduknya. Dia langsung berjalan kembali ke rumah.


Dengan segera Arman membawa nampan berisi makanan untuk Alana. Dia memasuki kamar itu dan melihat Alana tengah duduk menekuk lututnya sambil memandangi jendela.


Alana langsung menoleh ke arah Arman dan mengangguk.


Dengan senang hati Arman langsung menurutinya. Dia meletakkan nampan itu di nakas kemudian mengambil piring berisi makanan dan perlahan menyuapkannya kepada Alana. Baru saja Alana memakan tiga suapan dia sudah merasa mual lagi.


"Kenapa Alana?" tanya Arman.


"Mas.. Aku mau.." belum sempat Alana meneruskan ucapannya dia langsung memuntahkan semua makanannya.


Arman awalnya sedikit kesal namun melihat wajah Alana yang pucat membuatnya tidak tega.


"Apa sangat tidak enak?" tanya Arman sembari membersihkan tubuh Alana.


"Semua yang ku makan rasanya pahit dan sangat amis" ujar Alana.


"Tapi kamu harus tetap makan Alana. Ada dua kehidupan di tubuhmu. ingat kan kata dokter, kehamilanmu ini sangat rawan jadi harus dijaga." Arman terus mengingatkan.


Alana yang mulai merajuk sedikit luluh. Dia terdiam sejenak kemudian mulai memikirkan kata-kata Arman lagi.


"Baiklah, tapi aku tidak mau makan disini." ucap Alana.


"Maunya dimana?" tanya Arman.


"Di dekat danau." jawabnya.


Akhirnya Arman pun menuruti. Dia mengikuti Alana yang mulai berjalan menuju danau dengan membawa sepiring nasi tadi, persis seperti seorang ayah yang hendak menyuapi anaknya.


Para Asisten yang melihatnya pun mulai heran. Arman yang tampak gahar dan berkuasa itu akhirnya tunduk kepada Alana. Bahkan dia rela melakukan segalanya untuk Alana.


Cinta memang benar-benar bisa mengubah seseorang.


Dan benar saja. Saat berada di dekat danau Alana sama sekali tidak merasa mual. Dia bahkan mampu menghabiskan satu piring nasi itu tanpa tersisa.


Melihat perubahan Alana membuat Arman menjadi lega. Ada kebahagiaan tersendiri apalagi melihat senyum Alana yang perlahan terukir saat dirinya menatap pemandangan indah danau tersebut.


"Mas, Apa danau ini aman jika dibuat berenang?" tanya Alana tiba-tiba.


"Aman-aman saja. Memangnya kenapa?"


"Aku mau berenang. Boleh ya" ucap Alana.


"Boleh, apa tidak di kolam renang saja lebih bersih airnya?" tanya Arman lagi.


"Tidak, aku mau disini. Tapi mas Arman ikut berenang juga ya" pinta Alana.


"hmm.. Baiklah." jawab Arman.


Alana sangat senang akhirnya semua yang diinginkannya dituruti oleh Arman.


Tanpa menunggu lama Alana langsung menceburkan dirinya ke danau. Arman yang khawatir dengan Alana segera melepas pakaiannya dan mengikutinya. Dia terus berusaha menjaga Alana selama berenang di danau.


Saat Alana berbalik dia terkejut melihat Arman yang sudah *shirtless di depannya.


Sejenak Alana menjadi tertegun melihat tubuh Arman yang kekar dan menunjukkan otot-otot tubuhnya yang terlihat begitu menggoda.


Memang Arman sangat suka berolahraga ke gym. Meski usianya sudah kepala empat namun Arman masih terlihat lebih muda dari usianya.


Wajahnya masih terlihat tampan dengan rahangnya yang kokoh. Hanya ada kerutan kecil di dahinya meski begitu tak mengurangi pesona pria itu.


Rambut dan wajahnya yang basah semakin membuat Alana terpesona. Perlahan dia mendekati Arman dan membelai lembut wajah pria itu.


Cupp***..


sedetik kemudian Alana mengecup bibir Arman. Untuk pertama kalinya gadis itu melakukan hal atas dasar nalurinya sendiri.