My Stepmom My First Love

My Stepmom My First Love
Bab 25 Hidup dalam kenangan



Tiga hari berlalu, akhirnya Alana sudah diperbolehkan untuk pulang. Entah Mengapa saat mendengar bahwa dirinya akan pulang rasanya Alana sangat enggan.


Kembali ke rumah itu hanya akan menambah kerinduannya terhadap Andra. Apalagi kini dia telah mengandung anaknya.


Helaan nafas kasar berkali-kali Alana hembuskan saat dirinya berada didalam mobil. Perjalanan pulang itu rasanya sangat berat.


Arman yang sedang duduk di sebelahnya pun menyadari kegundahan Alana.


"Alana, apa kamu baik-baik saja?" tanya Arman.


Alana mengangguk pelan. Mencoba untuk terlihat biasa saja padahal hatinya sedang berkecamuk.


"Mau beli sesuatu? Atau pergi ke suatu tempat?" tanya Arman pelan.


Alana terdiam sesaat. Kemudian dia mencoba untuk mengutarakan ya kepada Arman.


"Apa boleh.. Aku pergi ke pelabuhan itu. A-aku hanya ingin mengenang Andra sebentar" ucap Alana ragu-ragu.


Arman pun mengangguk. Kemudian mengintruksikan sopir untuk pergi ke pelabuhan.


Namun sebelum itu mereka mampir ke toko bunga. Alana ingin membawa bunga untuk mengenang Andra. Dia memilih bunga lili putih yang memang menjadi kesukaannya.


Arman pun membelikan sebuah buket bunga lili putih untuknya.


Sampai juga mereka di pelabuhan tempat Andra mengalami kejadian tragis itu. Bahkan di lokasi itu masih terdapat garis polisi untuk menandai TKP.


Tatapan Alana menjadi nanar kala mengingat kejadian mengerikan itu. Dadanya terasa bergemuruh dan jantungnya berdetak keras.


Masih terngiang di telinganya bagaimana suara dentuman senjata api itu yang saling menyahut hingga menumbangkan Andra.


Alana pun tak kuasa menahan kesedihannya. Tubuhnya terasa semakin lemas dan akhirnya terduduk bersimpuh di tanah. Alana menangis sejadi-jadinya sambil memeluk bunga lily yang dia bawa.


Arman segera beranjak untuk menopang tubuh Alana. Tapi wanita itu menolak untuk berdiri, akhirnya Arman memeluknya dari belakang. Mencoba menguatkan Alana.


Suara isak tangis itu terdengar begitu pilu. Duka yang begitu dalam itu telah menorehkan luka besar di hati Alana. Tak ada kat-kata lagi yang bisa dia ungkapkan.


Hatinya terlalu pedih dan tangisan itu yang bisa mewakili bagaimana keadaannya sekarang.


Saking terisaknya tangisan Alana bahkan membuat tubuhnya gemetaran. Nafasnya yang tersengal samar-samar membuat tubuhnya semakin lemas.


Arman mulai menyadari bahwa mulai terjadi sesuatu terhadap Alana dan benar saja tak berselang lama Alana langsung terkulai lemas.


"Alana, ayo kita kembali" ucap Arman sambil memapah Alana.


"Aku mau meletakkan bunga ini." ucap Alana.


Akhirnya Alana dibantu Arman melemparkan buket bunga itu ke laut tepat dimana Andra terjatuh.


'Andra, dimanapun kau berada aku sangat merindukanmu saat ini. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin memberitahukan bahwa aku sedang mengandung anakmu. Aku berharap dia memiliki wajah yang mirip denganmu agar aku bisa selalu mengingatmu.'


Ungkapan hati yang sarat akan kerinduan terlantun dalam benak Alana. Rela, jelas belum rela. Bahkan setumpuk harapan yang dia rancang bersama Andra kini telah sia-sia.


Takdir kadang cukup kejam mempermainkan mereka. Namun bagaimana akhirnya tidak akan ada yang tahu.


Meski sulit Alana mencoba untuk tetap tegar. Setidaknya dia harus menjaga baik-baik kandungannya. Karena hanya itu kenang-kenangan terindah yang diberikan Andra untuknya.


Arman memapah Alana untuk kembali ke dalam mobil. Keadaannya yang masih lemah membuat Arman khawatir jika terlalu lama berada di luar. Apalagi tempat itu telah menorehkan luka hingga membuat trauma mendalam untuk Alana.


Alana pun hanya mengangguk. Entah kenapa di kehamilannya ini dirinya merasa gampang lelah dan sering mengantuk. Sehingga saat mereka berada di mobil tak lama kemudian Alana mulai tertidur.


Arman membiarkan Alana yang bersandar di bahunya. Wajah sendu wanita itu benar-benar membuat jantung Arman berdebar.


Arman mengusap lembut kepala Alana. Memperhatikan setiap lengkung wajah cantiknya. Begitu tenang dan teduh. Namun sesekali masih ada isakan yang menghiasi tidurnya. Menyadarkan betapa pelik situasi yang dihadapinya saat ini.


Tanpa sadar Arman kembali diliputi rasa bersalah. Diraihnya tubuh Alana lalu dipeluk dan didekapnya penuh arti.


Kecupan-kecupan singkat mendarat di kening wanita itu. Kini Arman benar-benar dibuat jatuh cinta kepada wanita itu.


.


Setelah perjalanan cukup panjang akhirnya mereka sampai di rumah. Alana yang semula tidur mulai terbangun.


Dia sedikit terkejut saat mendapati kepalanya tau-tau berada di atas paha Arman. Alana langsung bangkit karena merasa canggung.


Saat mulai memasuki rumah Alana langsung disambut oleh beberapa asisten yang biasa melayani dirinya. Alana tersenyum kepada mereka kemudian melanjutkan memasuki rumah itu dengan di papah Arman.


Saat melintasi kamar Andra, Alana sempat berhenti. Dia menatap pintu kamar itu dan mengingat dirinya yang sering menghabiskan waktu bersama Andra.


"Alana ayo istirahat dulu" ucap Arman lembut.


Alana pun beranjak pergi. Dia memasuki kamar dan membaringkan tubuh lemahnya di atas ranjang.


Arman melihat tubuh ringkih itu meringkuk membelakanginya sambil memegang perut yang masih rata itu.


"Mau makan apa? Biar disiapkan Bi Siti nanti." tanya Arman.


Alana hanya diam tak menjawab sama sekali. Kemudian dengan sekali helaan nafas dia mulai membuka mulutnya.


"Kenapa Mas Arman masih mempertahankan ku? Aku telah mengkhianatimu. Aku bukanlah istri yang baik. Tak apa jika kamu mengusirku, aku terima" suara itu terdengar dingin dan putus asa.


Arman tak langsung menjawab. Dia ikut membaringkan tubuhnya disamping Alana kemudian mengusap lembut bahu wanita itu.


"Tidak ada alasan apapun untuk mengusirmu. Kau adalah istriku, dan apapun yang telah kamu lakukan untukku tak akan mengubah keputusanku."


Alana terpaku dengan jawaban Arman. Kemudian dia berbalik menatap pria matang yang memiliki wajah tegas dengan sorot mata tajam itu.


"Kenapa? Dan sampai kapan kamu akan melakukan ini mas?" protes Alana lirih.


"Sampai kau menerima pernikahan kita" jawab Arman singkat.


Alana yang mulanya tertegun kini mulai menutup mulutnya dan tertawa getir.


"Hah, jangan membuang waktumu mas. Percuma saja karena sampai kapanpun aku tak akan menerima pernikahan ini. Mas Arman tahu sendiri kan siapa yang sudah mengisi hatiku. Andra, hanya Andra yang ada dalam hatiku." kata-kata itu begitu tajam hingga membuat Arman merasa cemburu.


"Tapi dia sudah tiada Alana." protes Arman.


"Kalau begitu biarlah aku hidup dengan kenangan itu." Tatapan Alana pun tak kalah tajam. Kali ini dia tak mau lagi diinjak-injak oleh Arman seperti dulu.


Arman yang mulai kesal meraih dagu Alana dan sedikit mencengkeramnya. Terlihat sekali deru nafas Alana yang nampaknya mulai terintimidasi. Bahkan bibirnya tampak bergetar saat melihat Arman yang sudah begini.


"Terserah apapun yang ingin kau lakukan. Tapi ingatlah Alana. Saat ini kau hanya punya aku. Dan aku pun hanya memilikimu. Pikirkan baik-baik sebelum kau melakukan sesuatu." Tatapan tajam Arman kini mulai melembut. Dia mengusap lembut pipi wanita itu yang mulai terisak. Arman mengecup keling Alana dengan pelan kemudian merengkuhnya dalam pelukan.


Sekali lagi, Arman harus sabar. Dia akan tetap berusaha memenangkan hati Alana. Meski kini hati wanita itu telah mengeras seperti karang, Arman akan menjadi ombak yang perlahan memecahkannya.