
Alana sedang sibuk menyiapkan makan malam bersama Bi Siti dan asisten lainnya. Sebenarnya Bi Siti sudah melarang Alana melakukan hal itu namun Alana bersikeras. Tak ada yang dilakukan di rumah ini membuatnya merasa jenuh.
Sebenarnya Alana masih kesal dengan Sikap Arman yang 'lagi dan lagi cuek kepadanya. Hanya pekerjaan saja yang dia pentingkan.
Hingga petang tiba akhirnya Arman baru pulang ke rumah. Alana sejak tadi menunggunya. Namun karena masih kesal akhirnya dia mengabaikannya.
"Suami pulang kok malah cemberut sih." goda Arman.
Alana tak bergeming. Dia hanya duduk di atas ranjang seolah tak mau memperhatikan Arman sama sekali.
Arman pun hanya tersenyum geli lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Tuh kan, cuek lagi. menyebalkan." gumam Alana.
Arman sebenarnya tahu penyebab kekesalan Alana. Akhirnya setelah selesai mandi Arman langsung menghampiri Alana.
Dia hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya serta rambut masih basah yang membuat Arman tampak semakin mempesona.
Arman naik ke atas ranjang tempat Alana berbaring saat ini. Dia memeluk Alana dari belakang.
Alana sempat tersentak namun usapan hangat tangan Arman serta aroma harum sabun membuatnya terasa begitu nyaman.
Perlahan Arman menciumi tengkuk Alana. hembusan nafasnya menyapu lembut kulitnya membuat Alana mulai meremang.
Sejak kehamilannya Alana selalu ingin melakukan kontak fisik dengan Arman. Namun pria itu terus-terusan menjaga jarak padanya membuat Alana merasa frustasi.
Arman Membalikkan tubuh Alana sehingga mereka saling berhadapan. Arman perlahan mulai menciumi wajah Alana. Mulai dari kening, mata, hidung, kedua pipinya hingga yang terakhir bibirnya.
"M-mas nggak makan malam dulu? Aku udah siapin loh." Entah kenapa saat Arman jadi mesra begini justru Alana jadi salah tingkah.
"Nanti saja sayang, mas pengen makan kamu duli." ujar Arman tanpa sedikitpun mengalihkan kegiatannya.
Mendengar ucapan Arman membuat Alana tegang seketika. Jangan-jangan Arman benar-benar ingin 'melakukannya' dengan Alana.
Arman mencium Alana dengan begitu lembut. Menyapu setiap permukaan bibir ranum itu. Sentuhan demi sentuhan terasa begitu hangat. Merabai titik sensitifnya yang tanpa sadar Alana mulai terbuai.
Ciuman itu menjadi semakin dalam. Alana mulai membuka mulutnya dan menerima ciuman Arman. Keduanya saling berbalas pagutan.
"Kenapa kau terlihat sangat cantik sayang?" ucap Arman disela ciumannya.
"Benarkah?" senyum Alana mereka sempurna.
"Aku terus menunggu hari ini. Aku selesaikan pekerjaan dengan cepat agar aku segera busa bertemu denganmu."
Alana memakai gaun tanpa lengan dengan tali kecil yang mengikat di antara pundaknya.
Arman mulai menarik tali tersebut. Menurunkan gaunnya serta menciumi ceruk lehernya.
Begitu manis dan wangi tubuh Alana terasa di sana. Arman berusaha melakukan hubungan sehalus mungkin. Dia tak ingin menyakiti Alana dan dia hanya ingin membuat istrinya terasa nyaman.
Saking menikmati cumbuan Arman dia sampai tidak sadar bahwa saat ini gaun yang dikenakan Alana sudah lepas dari tubuhnya.
Tampak kedua gundukan kenyal Alana terpampang bebas tanpa penghalang. Tubuhnya setengah polos hanya terbalut panties berenda yang menutupi intinya.
Ciuman Arman semakin turun ke bawah hingga sampai di ujung dadanya.
Dia mulai menjilat dan memainkannya dengan gemas. Sedang tangan kirinya aktif memainkan sebelahnya.
"Aahh.. Mmaassshh.." Alana tak mampu lagi menahan suaranya.
Sementara Arman masih terus melanjutkan aksinya. Dia menciumi perut Alana yang mulai sedikit terlihat mengembung. Ternyata aura seorang wanita hamil memang tampak begitu sexy.
Arman menciumi dan mengusap lembut perut Alana. Memperlakukannya dengan begitu halus sebab ada kehidupan di dalamnya.
Ciuman itu rupanya masih berlanjut. Membelai puncak gairah Alana. Arman membuka kedua paha Alana dan mulai melepaskan kain terakhir yang membalut tubuh istrinya.
Tatapan Alana tampak begitu sayu. Dia telah dikuasai oleh nafsu dan gairah yang memuncak.
Sentuhan Arman yang sejak lama telah dia rindukan rupanya berhasil meningkatkan gairahnya.
Arman terus mer angsang Alana hingga wanita itu hampir mencapai puncaknya.
"Yess mass Aahh.. Aku mau.. Keluar.." Arman semakin gencar menggoda tubuh Alana hingga akhirnya pertahanan Alana pun runtuh.
Akhirnya setelah puas menggoda tubuh Alana kini Arman mulai memposisikan dirinya untuk melakukan penyatuan.
Namun saat hendak melakukannya tiba-tiba Arman berhenti.
"Kenapa lagi mas..?" Alana menatap Arman dengan penuh permohonan.
"Apa.. Boleh?" tanya Arman ragu-ragu.
Alana pun mengangguk. Meski ada keraguan dalam hatinya. Sebenarnya dalam hatinya yang terdalam masih terukir nama Andra.
Namun Alana harus segera melupakan nama itu. Dia tak ingin terus terjebak dalam pusaran kenangan yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.
Sudah cukup dia mengalah dan mengorbankan dirinya untuk orang lain. Kini Alana hanya ingin menikmati sisa hidupnya sesuai dengan kemauannya.
Dia tahu tak mudah melupakan masa lalu dan menumbuhkan cinta baru untuk orang lain.
Namun Alana harus memikirkan masa depannya. Dia harus memikirkan anak salam kandungannya.
Tak ada yang lebih penting dari itu. Dan Arman satu-satunya orang yang kini mau menerima dirinya juga bayi yang dikandungnya.
"Aku akan melakukannya dengan lembut. Sayang jika sakit bilang ya." ucapan Arman yang berada di atasnya sontak membuyarkan lamunannya.
"i-iya." ucapnya singkat.
Tubuh keduanya pun akhirnya bersatu. Saling memacu untuk mendapatkan kepuasan.
Sesuatu yang begitu dirindukan Arman kini telah dia tiba. Kini Alana kembali menjadi miliknya seutuhnya.
"Oh Alana.. Kau milikku Alana. Hanya milikku." Arman mulai nggeram menikmati setiap permainan yang dilakukan dengan Alana.
Meski sebenarnya Arman masih sakit hati dengan penghianatan yang dilakukan Alana. Tapi rasa cintanya yang dalam perlahan mulai memudarkan sakit hatinya.
Kini yang ada di benak Arman adalah bagaimana mencintai Alana dengan benar. Dia hanya ingin Alana merasa nyaman dengannya dan tidak lagi tergoda dengan pria lain.
Ditengah pergumulan hatinya Arman semakin memacu tubuhnya di atas Alana. Yang dia inginkan hanyalah mencapai puncak kenikmatannya dan memulai babak baru di hidupnya bersama Alana.
Setelah sekian lama saling berpacu dan memuaskan satu sama lain keduanya oun tampak terkulai lemas.
Arman merebahkan dirinya di atas ranjang sementara Alana berada di sampingnya sembari memeluk tubuh Arman.
"Mas capek ya?" tanya Alana sembari bergelung di dalam selimut tebal bersama Arman.
"Capek, tapi puas." ucap Arman dengan senyumannya.
"Apa kamu kesakitan?" Arman kembali menanyai Alana.
"Tidak, semuanya terasa begitu nikmat. Aku mau sering-sering ya." ucap Alana dengan entengnya.
Arman menaikkan kedua alisnya. Tak percaya bahwa Alana gadis polos dan lugu itu akhirnya menjadi sebinal ini.
"nggak boleh ya." Alana menundukkan wajahnya yang terlihat murung.
Buru-buru Arman mengangkat dagu Alana agar menatap dirinya.
"Dengar, apapun yang kamu inginkan akan aku turuti. Jadi jangan khawatir." Arman mengulas senyum. Begitupun dengan Alana.
"Maaf ya mas, bawaan hamil maunya seperti itu." ucapnya lagi dengan senyum nakal
Jika begini terus mana mungkin Arman menolaknya.
...****************...
"Bagaimana keadaannya?" ucap seorang pria paruh baya kepada seorang dokter yang ditugaskan khusus.
"Dia belum sadar. Butuh waktu yang cukup lama. Luka yang di deritanya cukup parah. Aku tidak yakin dia akan kembali menjadi normal seperti sedia kala. Terutama ingatannya, sebab benturan di kepalanya cukup parah dan mengganggu beberapa kinerja syarafnya." ujar dokter tersebut.
Pria itu menatap nanar seseorang yang tengah terbaring lemah dengan banyak sekali alat medis menancap di tubuhnya.
"Malang sekali nasibmu anakku."
...****************...