
Hari mulai petang Arman dan Alana kembali ke kediamannya setelah seharian menghabiskan waktu berbelanja serta merubah penampilan Arman.
Saat mereka tiba Arman langsung meminta Pak Tono, tukang kebunnya mengeluarkan barang-barang mereka yang luar biasa banyak.
Terdapat setidaknya lima belas paper bag yang berisi berbagai macam pakaian dan sepatu milik Arman juga Alana.
Saat memasuki rumah para asisten yang bekerja di rumah itu dibuat terkejut sekaligus takjub dengan perubahan Arman yang drastis.
Bahkan Bi Siti sampai mengucek matanya seolah tak percaya bahwa itu majikannya.
"Ada apa bi? Lihat hantu?" Arman yang menggoda Bi Siti dengan mendekatkan wajahnya persis di depan wanita paruh baya itu.
"Oh Astaga..." Seketika Bi Siti terperanjat dan hampir terhuyung.
Arman pun hanya tertawa melihat tingkah asistennya itu. Pemandangan yang sangat jarang terjadi selama ini. Melihat Arman tertawa lepas tanpa menunjukkan wajah seriusnya.
Bi Siti yang telah bekerja lama untuk Arman pun ikut tersenyum haru. Pertama kalinya melihat sang majikan tampak begitu manusiawi. Sama sekali tak ada sisi kejam yang biasanya membuat semua orang tegang.
"Mas ih, nggak baik loh godain orang tua" omel Alana.
"Oh maaf Bi, habisnya Bi Siti bengong terus dari tadi." Arman masih mengulas senyumannya.
"nggak apa-apa tuan, saya hanya kaget melihat tuan terlihat begitu tampan dan muda" senyum bi siti malu-malu.
"Suamiku ganteng kan Bi" ujar Alana sambil memeluk pinggang Arman.
Bi Siti pun langsung mengangguk. Rupanya bukan hanya Arman namun Alana juga tampak ceria. Entah apa yang dilakukan mereka hari ini namun yang pasti semua orang di rumah itu tampak bahagia melihat majikannya yang harmonis.
Alana yang tampak kelelahan langsung diantar Arman ke kamarnya. Dia tidak ingin istrinya itu mengalami masalah pada kehamilannya.
"Istirahat ya, maaf hari ini merepotkanmu." ujar Arman sembari membaringkan Alana di atas ranjangnya.
Alana tertegun melihat perlakuan lembut Arman. Apalagi dengan penampilan barunya Arman benar-benar mempesona. Memang benar kata teman-temannya bahwa pria matang itu lebih sexy.
Tanpa sadar Alana jadi senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan Arman.
"Hey..." panggilan Arman pun langsung membuyarkan lamunan Alana.
"Eh.. Iya mas, ganteng." celetuk Alana.
Arman pun semakin heran dengan tingkah istrinya.
"Sudah-sudah.. Istirahat gih. Makin ngaco kamu ini." gerutu Arman.
Arman pun langsung beranjak dari kamar Alana. Dia masih saja membatasi dirinya. Sebenarnya Arman begitu merindukan sentuhan Alana namun dia masih takut jika hal itu akan membahayakan kehamilannya.
Arman sadar diri jika tak akan mampu memberikan keturunan untuk Alana jika sampai terjadi sesuatu pada kehamilannya. Dia juga tidak akan rela Alana sampai disentuh pria lain lagi.
Sementara Alana hanya bisa mendengus pelan menatapi kepergian Arman. Ingin sekali dirinya dekat dengan Arman namun dia tak bisa memaksa pria itu. Mungkin rasa sakit hatinya yang begitu dalam kepada dirinya yang telah hamil anak pria lain.
Namun yang membuatnya heran kenapa Arman begitu menjaga kehamilan Alana. Bahkan dia selalu kritis terhadap sesuatu yang menyangkut tentang kandungannya.
Sementara Alana pun masih bingung dengan perasaannya sendiri. Dia belum bisa memastikan apakah dia mulai mencintai Arman namun ketika bersama pria itu dirinya merasa lebih tenang dan merasa aman.
Kenyamanan yang diberikan Arman memang berdampak cukup besar. Pandangan Alana yang dulu begitu takut dan benci perlahan mulai hilang dari benaknya.
Tanpa sadar air mata Alana kembali mengalir. Rasa bersalahnya terus membuat dirinya begitu rendah.
...----------------...
Malam berganti pagi, sinar mentari yang mulai memancar menembus jendela kaca serta tirai putih di kamar Alana.
Perlahan Alana mulai mengerjapkan matanya. Rasa kantuk yang masih tersisa itu membuatnya begitu malas untuk bangun.
Namun ketukan di pintu kamarnya terus terdengar membuat dirinya mau tak mau harus segera membuka mata.
"Iy-iya Bi.. Sebentar. Aku masih ngantuk." rengek Alana yang hendak memejamkan matanya. Dia tak peduli entah jam berapa sekarang.
Semalaman di sulit tidur. Ada rasa gelisah yang terus menggelayuti pikirannya. Sehingga kini dia telat untuk bangun pagi.
Namun tak berselang lama dia mendengar suara pintu terbuka dengan langkah kaki yang berat mendekatinya.
"Alana, bangun.. Sudah jam berapa ini? Kita kan ada janji temu dengan dokter." suara berat pria itu seketika mengusik dirinya.
Arman kini sedang duduk di pinggiran ranjang sembari mengusap lembut pipi Alana.
"Mas.. Aku masih ngantuk." gumam Alana masih memejamkan mata.
"Sayang... Ayolah. Ini sudah jam delapan pagi" ujar Arman.
Alana seketika terbelalak. Dia tak biasanya bangun setelat ini. Sontak dirinya langsung duduk dengan gerakan cepat.
"Hey pelan-pelan." ujar Arman memegangi pundak Alana.
"Mas.. Kok nggak bangunin aku dari tadi sih." protes Alana.
"Dari tadi Bi Siti panggilin kamu tapi nggak ada respon. Pasti semalam begadang lagi ya" omel Arman.
Alana pun mengangguk pelan. Dia mendengus pelan. Namun saat melihat wajah Arman dia dibuat tertegun. Betapa pria ini semakin hari semakin tampan. Dengan kaos putih polos berlapis kemeja flanel kotak-kotak serta celana jeans hitam.
"Bangun ya, mandi dulu terus kita sarapan." ujar Arman. Alana langsung menurutinya.
Setelah beberapa saat Alana pun selesai mandi. Dia hanya melilitkan handuk di tubuhnya sambil berlari menuju kamar. Tak disangka rupanya Arman sedang menunggunya di dalam kamar dengan sebuah nampan berisi makanan dan susu lengkap dengan buah-buahan.
"Alana jangan berlari." teriak Arman.
Alana yang terkejut langsung berhenti namun dia kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya nyaris terpelanting.
Beruntung Arman dengan sigap menangkapnya. Sehingga insiden tersebut tak sampai melukai dirinya.
Tanpa diduga handuk yang dikenakan Alana justru terlepas hingga sebagian tubuhnya terekspos.
Arman sempat tertegun melihat pemandangan indah di depannya. Susah payah dia menelan salivanya. Namun seakan sadar dan cepat-cepat Arman menutupi tubuh Alana dan mengangkatnya menuju ranjangnya.
Arman langsung mengalihkan pandangannya sambil sekuat tenaga menahan hasratnya.
"Maaf.." ucap Alana lirih.
Arman hanya mengangguk pelan. Kemudian berjalan menuju balkon.
"Cepat pakai baju lalu makan sarapanmu." ujar Arman singkat.
Kenapa perasaan Alana jadi campur aduk begini. Apalagi sikap Arman yang terkesan begitu dingin semakin meyakinkan Alana bahwa Arman kini benar-benar sudah tak menginginkannya.
Karena pengaruh hormon kehamilannya Alana pun tak kuasa menahan kesedihannya. Diam-diam dirinya mulai terisak. Mengutuki dirinya dalam hati.
Sementara Arman yang sedang menunggu di balkon tak sengaja mendengar suara isak tangis.
Dengan segera Arman menghampiri Alana. Dia melihat istrinya itu sedang menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Alana, ada apa? Kenapa menangis?" Suara Arman begitu lembut sambil mengusap rambut Alana yang masih setengah basah.
"Apa aku begitu hina di mata Mas Arman sampai segitu jijiknya Mas tak ingin melihatku?" ujar Alana dengan isak tangisnya.
"B-bukan begitu Alana. Aku.. Aku hanya belum bisa melakukannya. Aku takut menyakitimu. Maaf" ucap Arman.
Alana hanya bisa menatap kecewa kepada pria yang ada di depannya. Perasaannya yang menggebu-gebu justru semakin mendapat penolakan dari Arman.
Seolah takdir sedang menghukumnya. Jika dulu Alana selalu berusaha menghindari Arman kini justru Alana lah yang terus mengejar Arman.