My Stepmom My First Love

My Stepmom My First Love
Bab 27 membentengi diri



Arman langsung terpaku saat Alana tiba-tiba mencium bibirnya. Kecupan hangat daei bibir lembut itu sudah lama sekali tidak ia rasakan.


Jika sebelumnya Arman yang selalu mengawali ciuman, kini berbeda karena Alana yang lebih dulu melakukannya.


Alana memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Arman. Sementara tubuhnya semakin merapat ke tubuh Arman.


Alana yang hanya menggunakan bra tentunya bisa Arman rasakan kedua tonjolan kenyal di dadanya yang semakin berisi.


Ciuman itu semakin membara dan terasa panas padahal tubuh mereka tengah berendam di dalam air dingin. Tak peduli dengan para asisten yang melihatnya dari kejauhan.


Alana terus menjelajahi setiap jengkal tubuh Arman. Dia mengusap lembut perut Arman yang sixpack.


Pikiran kotor Alana terus menguasai. Entah kenapa sejak hamil Alana menjadi lebih agresif dan menginginkan berhubungan suami istri. Namun sejak hamil pula Arman tak pernah menyentuhnya. Hal itu semakin membuat Alana frustasi.


Jika kemarin-kemarin Alana mencoba untuk membentengi diri kini dia berusaha menebalkan wajahnya bahkan melupakan sejenak harga dirinya. Alana memberanikan diri menyentuh Arman terlebih dahulu sebab pria itu terus menghindarinya.


Arman sekuat tenaga menahan hasratnya yang sebenarnya hampir memuncak. Berkat dinginnya air danau sedikit menahan gejolak di tubuh Arman yang kian meremang.


Namun tangan nakal Alana tak berhenti di situ saja. Dia terus mengusap kulitnya hingga ke bagian tubuh bawahnya. Seketika itu juga Arman langsung mencekal tangan Alana.


"Stop, jangan diteruskan." Arman langsung berenang ke tepi danau dan beranjak pergi meninggalkan Alana sendirian.


"Tunggu di situ. Asisten akan memberikan handuk untukmu." ucap Arman sebelum pergi.


Ada rasa kecewa sekaligus bersalah. Alana menatap punggung Arman yang kian menjauh.


Tiba-tiba saja rasa sedih menyelimuti hatinya. Sebegitu bencinya Arman terhadap dirinya. Akibat ulahnya yang telah bermain gila dengan Andra.


Apakah Arman benar-benar tak ingin menyentuh Alana karena dia sedang mengandung benih Andra? Pikiran itu terus berkecamuk di kepala Alana.


Sementara Arman yang masih mengenakan pakaian basah segera ke kamar mandi. Dia melepas semua pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dibawah shower. Lagi-lagi dia menyirami tubuhnya dengan air dingin. Detak jantungnya masih saja bergejolak. Dia memukul-mukul dadanya sendiri dengan frustasi. Godaan Alana hampir saja membuatnya hilang kendali.


Arman bukannya tidak ingin menyentuh Alana namun dia hanya ingin menjaga kandungan istrinya. Meski bukan darah dagingnya namun Arman begitu menyayangi Alana juga janin yang ada di perutnya.


Arman takut jika terbawa nafsu akan lepas kendali seperti dahulu. Kelemahan Arman dalam mengelola emosi benar-benar masih sulit dia kendalikan.


Sedangkan Alana kini masih diam mematung di dalam danau. Dia bahkan tak menghiraukan panggilan asistennya yang sejak tadi berteriak memanggil namanya.


"Nona.. Nona.. Ayo keluar nanti nona kedinginan." asisten itu terus memperingati Alana.


Namun Alana terlanjur sakit hati terhadap Arman sehingga dia merajuk dan menolak untuk naik ke atas. Hingga hampir satu jam lamanya Alana masih berdiam diri di dalam air. Padahal wajahnya sudah tampak memucat serta sinar matahari yang perlahan mulai terik. Asisten yang panik akhirnya kembali memanggil Arman.


"Tuan, sejak tadi nona Alana menolak untuk naik. Dia masih berendam di dalam air." ucap Asisten dengan panik.


"Apa? Baiklah. Aku akan menyusulnya." ujar Arman dengan sedikit jengkel.


Saat berjalan menuju danau dia melihat Alana yang masih berada di tempat yang sama.


"Maunya apa sih anak itu" gumam Arman dengan kesal.


"Alana.. Ayo cepat naik. Ini sudah siang. Jangan macam-macam kamu. Alana.." suara Arman sedikit meninggi membuat Alana sadar dari lamunannya.


Alana melihat Arman yang sudah berganti pakaian santai. Dia mengenakan kaos polo serta celana bahan se lutut. Tampak rambutnya masih sedikit basah.


Akhirnya Alana perlahan naik ke daratan. Arma langsung menangkap tubuh Alana dan memakaikan bathrobe ke tubuhnya.


Tampak Alana mulai menggigil dan bibirnya sedikit membiru. Tatapannya sayu dengan matanya yang sedikit memerah. Sepertinya dia habis menangis.


Tak ingin menunggu lama Arman langsung mengangkat tubuh Alana ala bridal dan membawanya memasuki rumah.


Arman menatap mata Alana yang sejak tadi memperhatikannya. Tak ada perkataan apapun di antara mereka. Namun kerutan di kening Arman Menunjukkan bahwa pria itu sedang kesal.


Tak habis pikir dengan tingkah Alana yang semakin hari semakin menjadi-jadi.


Arman berkali-kali menghela nafas hingga akhirnya sampai pada kamar mandi. Arman segera membawa Alana menuju bathub dan membiarkan dirinya berendam dalam air hangat.


"Apa kau sudah gila? Kamu mau mengakhiri hidupmu dengan cara seperti itu?" omel Arman sambil menyabuni tubuh Alana.


Alana hanya terdiam dengan tatapan kosong. Entah ini bentuk protes atau Pa Arman Tak ingin menghiraukannya dahulu. Dia fokus membersihkan tubuh Alana agar tak terasa gatal terkena air danau.


Selesai memandikan Alana dengan telaten Arman memakaikan baju untuknya. Lagi-lagi Alana hanya menurut tanpa protes sama sekali.


Seharian ini Alana benar-benar bertingkah seperti anak kecil. Arman yang sebelumnya tak telaten merawat seseorang harus ekstra sabar menghadapi istri mudanya.


Selesai menyisir dan mengeringkan rambut Alana kini Arman membaringkan tubuh Alana dan menyelimutinya agar tidak kedinginan.


"Istirahatlah.. Aku mau mengecek pekerjaan dulu." Arman hendak meninggalkan Alana ke ruang kerjanya namun dengan cepat Alana meraih tangan Arman dan menahannya.


"Jangan pergi" ucapnya singkat.


Awalnya Arman hendak menghempas tangan Alana namun saat melihat wajah gadis itu yang memelas akhirnya mau tidak mau Arman jadi mengalah. Dia menuruti Alana saat wanita itu menepuk ranjangnya agar Arman berbaring di sebelahnya.


Arman Membaringkan tubuhnya dan menyusupkan tangannya di dalam selimut untuk memeluk tubuh mungil Alana.


Dekapan tubuh Arman terasa semakin hangat dan menenangkan untuk Alana. Dia membalas pelukan Arman dengan semakin mempererat tubuhnya kedalam pelukan Arman serta menghirup dalam-dalam aroma parfum yang menempel di tubuh Arman.


Alana memejamkan matanya dan berusaha membayangkan bahwa pria yang memeluknya saat ini adalah Andra bukannya Arman. Namun entah kenapa sekeras apapun dia membayangkan Andra tetap saja wajah Arman yang terbersit dalam ingatannya.


Otak Alana terlalu merekam wajah Arman yang basah oleh air saat dia baru saja menceburkan diri di danau tadi. Kilatan air yang membasahi wajahnya serta sinar matahari yang memantul membuat sosok Arman yang terlihat semakin maskulin dan sexy.


Kemudian Alana membuka matanya dan menatap Arman yang sedang berdiam diri menatapnya. Kedua metra itu saling bertemu dan menatap dengan dalam.


"Mas, apa aku terlalu hina dan menjijikkan di matamu sehingga Mas Arman enggan menyentuhku lagi?" gumam Alana yang masih menatap netra Arman dengan lekat.


"Tidak.. Tidak begitu" ucap Arman pelan. Tak ada nada tinggi lagi seperti tadi.


"Tapi kenapa mas kamu menolak sentuhanku?" kini wajah Alana serasa memanas.


"Karena kamu tidak menginginkanku Alana. Kamu melakukan ini hanya iseng kepadaku, kan?" sanggah Arman. Ada rasa sesak kala mengucapkan kalimat itu.


"Tapi mas.. Aku tidak seperi itu.."


...****************...