My Stepmom My First Love

My Stepmom My First Love
Bab 21 selamatkan Alana



"Alana.... Alana... Dimana kamu Alana..." Arman terus berteriak mencari keberadaan Alana. Dia tak menemukan istrinya dimanapun.


Tak berselang lama Andra pun datang ke rumah. Dia tampak khawatir juga gelisah.


"Pa, apa yang terjadi? Dimana Alana?"


Arman menghela nafas kasar. Dari raut mukanya saja sudah terlihat bahwa pria itu sedang mengalami masalah.


"Papa juga tidak tahu, tadi Hendro paman Alana kesini membawa banyak orang. Saat papa memeriksa Alana sudah tidak ada di kamar." ujar Arman.


"Apa? Jangan-jangan orang yang menemui Alana tadi anak buah Hendro. Karena tadi Andra sempat menelepon Alana. Belum selesai bicara dia berteriak seperti ada seseorang yang menangkapnya." Andra coba menjelaskan kepada Arman.


Sementara itu mereka mendengar suara seperti teriakan di salah satu ruangan.


Arman dan Andra bergegas menghampirinya berharap itu adalah Alana.


Rupanya suara itu berasal dari dapur yang dikunci dari luar. Arman membuka kunci tersebut dan langsung masuk ke dalam.


Ternyata itu adalah Bi Siti dan tiga asisten rumah tangga Arman sedang diikat dan disumpal mulutnya.


"T-terima kasih Tuan."ucap Bi Siti ketakutan.


"Dimana istriku?" geram Arman.


"I-itu tuan.. Tadi saya melihat orang-orang berpakaian hitam membawa Nyonya. Saat kami hendak menolong malah mereka mengikat dan menyekap kami. Maafkan kami tuan" Bi Siti menjelaskan dengan menunduk. Tak berani menatap Arman yang sedang diliputi kemarahan.


"Kurang ajar... Awas saja kau Hendro" Arman mengepalkan tangannya dengan emosi yang membara.


Tak berselang lama ponsel Arman berdering. Dia melihat Hendro yang menelepon. Dengan segera Arman mengangkat teleponnya.


"Kurang ajar, kau bawa kemana Alana?" ucap Arman dengan kemarahannya.


"hahaha... Aku hanya ingin mengajak keponakanku jalan-jalan sebentar Arman. Apa kau sudah merindukannya?" ujar Hendro melalui sambungan teleponnya.


"Jangan basa-basi. Apa maumu. Kembalikan istriku"


"Kau tentu sudah tahu mauku. Aku ingin uang jika kau mau istrimu kembali." ucap Hendro.


"Berapa?" ucap Arman datar.


"dua milyar. Maka aku akan melepaskannya. Tapi jangan membuat perlawanan apalagi telepon polisi kalau ingin istrimu selamat."


Belum sempat Arman menjawab tiba-tiba Hendro mematikan panggilannya. Dia juga mengirim alamat serta video Alana yang tengah terikat dan mulutnya diplester. Tampak dia terkulai lemas tak sadarkan diri.


"AARRGHH... SIALL.." Arman tak mampu lagi membendung emosinya.


Dia bergegas pergi bersama Andra. Mereka menyuruh semua anak buahnya untuk ikut mencari Alana.


Andra sengaja membawa mobil sendiri untuk berjaga-jaga. Tak lupa dirinya meminta anak buahnya sendiri berjaga tanpa sepengetahuan Arman.


Sampai juga mereka di tempat yang ditujukan Hendro. Sebuah gudang tua di dekat pelabuhan.


"Aku akan masuk, Andra kamu tunggu di luar. Papa akan memberi aba-aba saat butuh bantuan." ucap Arman.


Andra pun menyetujuinya. Diam-diam mereka mengepung area gudang tersebut.


Di depan pintu terdapat beberapa orang berpakaian serba hitam. Sudah dipastikan bahwa itu adalah anak buah Hendro.


Sementara Arman mulai berjalan memasuki tempat tersebut dengan membawa koper berisi uang sejumlah yang diminta Hendro.


Arman datang sendirian saat itu. Sesuai permintaan Hendro. Namun Hendro sendiri juga tak bodoh. Dia sudah mengira jika Arman pun membawa pasukannya di luar.


Sebelum memasuki area tersebut Arman diperiksa seluruh rubuhnya. Bahkan ponselnya pun dirampas oleh anak buah Hendro.


Dia yakin dengan begitu Arman tidak akan bisa meminta bantuan ke luar.


Saat memasuki gudang tersebut Arman langsung disambut oleh Hendro. Wajah pria tua itu bahkan ingin sekali Arman hancurkan.


"Wah, tuan Arman. Akhirnya datang juga." sambut Hendro dengan senyum liciknya.


"Tidak usah basa-basi. Dimana Alana." bentak Arman.


"Tenang dulu bos. Aku akan memberikan bidadarimu itu. Tapi berikan apa yang aku mau." ujar Hendro


Arman pun melempar koper besar yang dia bawa kepada Hendro. Sementara Hendro langsung menangkapnya. Dia meminta anak buahnya membuka koper itu dan memeriksa isinya, dan benar saja semua isinya uang.


Tangannya terikat serta mulutnya diplester.


"hhmmm... Hhmmm..." Alana mencoba untuk berteriak dan menatap Arman. Terlihat sekali ketakutan yang dia alami sekarang.


"Alana..." Arman langsung berlari menghampiri Alana.


Sementara Anak buah Hendro melepas plester di mulut Alana dengan kasar hingga wanita itu memekik kesakitan.


"Akh.."


"Jangan sakiti istriku.." bentak Arman.


Arman mencoba untuk membuka ikatan yang melilit tangan Alana.


Namun tiba-tiba anak buah Hendro menendang punggung Arman hingga keduanya tersungkur di lantai.


"Kau pikir mudah keluar dari sini hidup-hidup hah?" ucap Hendro dengan liciknya.


"Sialan" umpat Arman. Dia coba untuk bangkit namun anak buah Hendro menendangnya lagi.


"Mas..." pekik Alana.


Anak buah Hendro langsung mengikat tangan dan kaki Arman.


"Cepat kesini" ucap Arman yang tiba-tiba saja membuat semua orang heran.


Tak berselang lama terdengar suara gaduh di depan pintu. Dan sejurus kemudian datanglah anak buah Arman beserta Andra.


Hendro sangat terkejut dengan kedatangan Andra. Pria yang telah merenggut hartanya.


"K-kau.. Mau apa kau kesini?" ujar Hendro sambil menunjuk Andra.


"Mau apa lagi kalau bukan menghancurkan mu" Andra tersenyum miring.


Alana tampak sangat lega melihat kehadiran Andra. Tak disangka pria itu ikut menyelamatkannya.


Sementara Arman yang melihat senyum Alana merasa semakin cemburu. Kehadirannya tetap kalah oleh Andra. Tapi saat ini bukan waktunya untuk saling cemburu. Dia harus segera menyelamatkan Alana dan dirinya agar terbebas dari tempat itu.


Perkelahian pun tak dapat dihindari. Anak buah Arman dan Hendro pun saling adu kekuatan.


Anak buah Hendro rupanya cukup banyak hingga membuat pasukan Arman mulai kewalahan.


Namun tak berselang lama datang orang-orang yang entah dari mana ikut menghajar pasukan Hendro.


Rupanya Andra yang memerintahkan langsung. Arman dan Alana pun hanya bisa termangu melihat orang-orang Andra yang tampak lebih profesional dan tak sembarangan.


Andra menghampiri Alana dan Arman lalu melepas ikatan mereka.


"Terimakasih Andra" ucap Arman.


"Andra aku takut.." keluh Alana.


Kemudian Andra memegang pipi Alana dan mengusapnya pelan.


"Jangan takut. Kamu pasti akan selamat. Ikuti Papa dan jangan sampai terpisah. Pa tolong selamatkan Alana apapun yang terjadi." ucap Andra penuh harap.


Arman pun mengangguk. Meskipun Andra sempat menyentuh Alana dengan mesra didepannya namun tak membuat Arman meradang.


Justru Arman melihat tatapan tajam Andra yang entah kenapa membuatnya khawatir. Seolah tersirat akan terjadi sesuatu dengannya.


"Andra, jaga dirimu." Arman memegang bahu Andra.


Andra membalas Arman dengan anggukan.


"Baik Pa, tapi untuk sekarang tolong jangan marah. Akan ku jelaskan nanti." ucap Andra yang entah kenapa mengatakan hal itu.


Cupp...


Tiba-tiba Andra mengecup bibir Alana dengan singkat sebelum mengejar Hendro yang hendak kabur membawa uangnya.


Alana hanya bisa terpaku dengan apa yang telah dilakukan Andra.