My Stepmom My First Love

My Stepmom My First Love
Bab 31 Konsultasi dokter



Arman dengan telaten menyuapi Alana. Meski masih terlihat gurat kesedihan di wajah Alana namun Arman tak mau mengungkitnya.


Dia sebenarnya tidak tega terus-terusan menghindari Alana begini. Tapi ini semua demi kebaikan Alana.


"Mas sudah kenyang." Hampir satu piring nasi dengan lauknya tandas di perut Alana.


Arman begitu lega setidaknya makanan bisa masuk tanpa drama mual dan muntah. Melihat istrinya yang begitu tersiksa dengan gejala hamil muda itu membuat Arman stres sendiri.


"Kita siap-siap ke dokter ya?" Alana pun menuruti Arman.


Mereka bersiap-siap ke dokter. Kebetulan jadwal kuliah Alana hari ini sedang tidak ada bimbingan sehingga dia bisa mengambil cuti.


Sementara Arman dia sengaja mengundur semua pekerjaannya demi mengantar Alana ke dokter.


Sampai di rumah sakit mereka mengambil nomor antrian. Beruntung tak terlalu banyak mengantri. Hanya ada dua pengantri sebelum dirinya.


Selama menunggu giliran Alana melihat beberapa pasangan suami istri yang tengah menunggu antrian.


Tampak mereka begitu romantis. Mengelus lembut perut istrinya seolah tak sabar menunggu bayi dalam kandungannya lahir.


Ada perasaan mengiris dalam hati Alana. Sebagai seorang wanita tentu saja dia ingin diperlakukan seperti itu. Namun dia tak mau berharap lebih. Arman mau menerima dirinya saja sudah beruntung.


Tiba-tiba saja Arman yang sejak tadi duduk di dampingnya bangkit dan berjalan pergi. Alana hanya bisa terkejut sembari menatapi punggung pria itu yang semakin menjauh.


"Mungkin Mas Arman bosan menemaniku." gumam Kasih dalam hati.


Setelah beberapa saat Arman kembali dengan membawa sebotol air putih di tangannya. Dia membuka botol tersebut dan memberikannya kepada Alana.


"Alana, minumlah kamu pasti haus" ujar Arman dengan penuh perhatian.


Alana yang awalnya terkejut akhirnya menerima dengan senang hati. Kemudian Arman mengelap bibir Alana yang terkena bekas air.


"Makasih.. Mas.." bisik Alana malu-malu.


Arman hanya mengangguk kemudian menggenggam tangan Alana dengan erat.


"Wah, suaminya perhatian sekali mbak. Pasti jadi ayah siaga nanti." celetuk salah seorang pasien yang berada di samping Alana.


Alana hanya menimpali dengan senyuman manis. Meski dalam hatinya membuncah senangnya. Tapi seketika dia sadar bahwa hal itu tak mungkin diharapkan dari Arman.


"Tentu saja, saya akan selalu menjaga istri dan anak saya." tak disangka Arman langsung menimpali ucapannya.


Alana mendadak tertegun mendengar respon Arman. Namun suara perawat memanggil Alana langsung membuyarkan lamunannya.


Dia bergegas menuju ruangan dokter untuk periksa. Arman menemani Alana yang sedang melakukan USG. Keduanya tertegun saat mendengar detak jantung janin yang ada di dalam perut Alana.


Baik Alana maupun Arman tak kuasa menahan haru bahagia.


Tak disangka ada kehidupan malaikat kecil di dalam perutnya. Bahkan Arman terlihat menitikkan air matanya.


"Anakku..." gumam Alana pelan.


"Kita jaga bersama ya," ujar Arman.


Alana pun mengangguk pelan. Dia begitu bahagia melihat respon Arman yang ternyata sama sekali tak mencampakkannya.


Kemudian dokter menjelaskan tentang pertumbuhan janin yang ada di dalam rahim Alana. Arman dengan begitu antusias memperhatikan setiap ucapan dokter.


Alana bisa melihat betapa tulusnya Arman dengan sosok bayi yang ada di dalam kandungannya.


Sementara Alana masih berada di brankar Arman menghampiri dokter dan mengajukan beberapa pertanyaan.


"Silahkan Pak Arman," ucap dokter tersebut.


Arman sedikit ragu saat hendak mengatakannya kepada dokter, kemudian dia memelankan suaranya agar suster dan Alana tak mendengar dirinya.


Padahal jarak brankar dan meja dokter tidaklah jauh, sehingga Alana bisa mendengar semua percakapan Arman dan dokter.


"Begini dok, apa keadaan Alana itu baik-baik saja? Sebab setiap kali memakan atau meminum sesuatu dia selalu memuntahkannya." ucap Arman dengan khawatir.


"Baik pak Arman, gejala mual dan muntah yang di alami istri anda itu masih dalam hal wajar. Kehamilan di trimester awal memang seperti itu karena peningkatan hormon yang ada di tubuh Nona Alana. Yang penting anda harus menjaga pola makan dan asupan gizi seimbang agar Nona Alana tetap memiliki tenaga dan nutrisi dalam tubuhnya." ujar dokter menjelaskan.


"Lalu, itu dok.. " ucapan Arman tiba-tiba terhenti. Entah kenapa belum-belum dia malu sendiri hendak menanyakannya.


"Untuk hubungan badan, apa boleh dia melakukannya? Saya tak berani menyentuhnya sebab takut nanti malah mengganggu kehamilan istri saya" tampak sekali gurat kegelisahan di wajah Arman.


Dokter pun hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi Arman. Tapi secepatnya di menetralkan dirinya dan kembali fokus menjelaskan.


"Berhubungan badan saat istri sedang hamil itu boleh-boleh saja asalkan melakukannya dengan hati-hati dan dalam posisi yang aman, justru wanita hamil baik melakukan hubungan suami istri karena bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan menghindari stres." jawab dokter.


"Oh, pantas saja istri saya ngebet banget dok, tapi saya takut melakukannya." ujar Arman dengan polosnya.


Sementara Alana yang mendengar hal itu langsung memerah wajahnya seperti kepiting rebus karena menahan malu. Bisa-bisanya Arman begitu jujur mengatakan hal itu kepada dokter.


Dia hanya bisa melirik perawat yang berada di sampingnya dengan malu.


Setelah selesai dengan sesi konsultasi mereka pun keluar ruangan. Arman dengan santai menggandeng tangan Alana. Sementara Alana tak berani menunjukkan wajahnya yang masih merona di hadapan Arman.


"Alana kamu mau sesuatu?" tanya Arman.


Alana hanya menggeleng. Dia ingin cepat-cepat menuju mobil.


Sampai di parkiran Alana langsung masuk ke dalam mobil Arman. Kebetulan hari ini mereka tidak di antar oleh sopir. Sehingga Alana sedikit lega.


"Sayang, kok dari tadi diam terus sih? Capek ya?" tanya Arman.


Alana hanya menggeleng. Namun tetap menyembunyikan wajahnya dari Arman.


Karena terus-terusan memalingkan wajahnya Arman pun jadi gemas sendiri. Dia meraih tengkuk Alana dan mengarahkan wajahnya tepat didepannya.


Arman sedikit terkejut melihat kedua pipi Alana yang tampak merona. Secepatnya dia berusaha tampak tenang.


"Ada apa?" tanya Arman pelan.


"Mas tadi koo ngomong gitu aih ke dokter, kan aku jadi malu." ujar Alana.


Arman sedikit berpikir sejenak. Lalu dia mengingat apa yang dikatakan kepada dokter.


"Oh itu, kan aku hanya jujur. Memang setiap hari kamu mual-mual kan." jawab Arman dengan entengnya.


Alana pun langsung terbelalak dengan jawaban Arman. Bukan itu yang dia maksud padahal.


"Mas, maksudku.."


"Ah sudah jangan di pikirkan. Mending kita pulang terus kamu istirahat. Saya ada meeting sebentar lagi." potong Arman.


Alana hanya bisa berdecak sebal, lagi-lagi Arman begitu tidak peka. Padahal tadi dia mendengar jelas tentang apa yang dibicarakannya dengan dokter.


Sementara Arman hanya bisa menahan tawa saat melihat ekspresi mupeng Alana. Dia tahu maksud istrinya tapi Arman tak ingin membahasnya saat ini. Dia takut kelepasan.


'Sabar, nanti ada waktunya sendiri. Aku akan memberimu kebahagiaan yang tak akan terlupakan.' Batin Arman.