
Di ruangan yang begitu hening dan terasa dingin. Hanya detak jam dinding yang sejak tadi mengisi kekosongan itu.
Dua orang yang berada di dalam ruangan itu tak ada sekalipun yang bicara.
Alana yang masih terbaring lemah di atas brankar dengan selang infus menancap di tangan kirinya.
Sedangkan Arman sejak tadi hanya duduk diam di sofa sambil menunggu istrinya terbangun.
Harap-harap cemas sebab bagaimana dia harus bersikap setelah semua ini. Pantaskah dia menyebut Alana sebagai istrinya sekarang?
Ah, nampaknya kini Arman benar-benar menjalani hukuman dari Tuhan. Apa yang dia tanam akhirnya kini dia tuai juga. Karena selama ini dia begitu acuh dan membenci Andra.
Arman teringat vonis dokter sepuluh tahun yang lalu. Saat dirinya mengecek kesehatan dan dokter menyatakan bahwa dirinya mengalami kelainan pada sel reproduksinya sehingga tak mampu memiliki keturunan alias mandul.
Kenyataan pahit itu pula yang membuatnya menjadi pria yang dingin dan tak percaya akan cinta.
Dia terlalu takut jatuh cinta sebab nanti akan memiliki harapan yang mungkin tak bisa dia gapai.
Hingga keputusannya menikahi ibu Andra yang memiliki perbedaan usia delapan tahun lebih tua darinya.
Arman berpikir bahwa ibu Andra tak akan menuntutnya memiliki keturunan sebab di usia itu dia tak lagi memiliki kesuburan yang baik.
Sejujurnya Arman masih mencintai ibu Andra, namun semua orang telah mengecap dirinya sebagai gold digger atau memanfaatkan ibu Andra.
Namun kini karena emosi sesaatnya justru menikahi Alana yang berusia jauh di bawahnya. Sontak saja hal itu menimbulkan banyak kritikan.
Saat Arman sibuk bergelut pikirannya yang terus berkecamuk tiba-tiba mendengar suara rintihan dari Alana.
"Alana" Arman langsung berdiri dan menghampiri Alana.
"A-aku dimana?" Alana mengerjapkan matanya dan melihat sekitar.
"Kamu di rumah sakit Alana. Tadi pingsan di rumah" ucap Arman.
Alana menatap Arman kemudian melihat tangannya yang terpasang selang infus.
Alana terdiam kemudian mencoba untuk mengingat apa yang terjadi. Dan benar saja, sebelumnya dia mengalami pusing dan mual. Saat hendak berdiri dari sofa tiba-tiba pandangannya menjadi gelap dan setelah itu tak ingat apapun.
Tak lama setelah itu dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Alana.
"Bagaimana keadaan Nona? Apakah masih pusing dan mual?" tanya dokter tersebut sembari memeriksa tekanan darah Alana.
"Sedikit dok, tapi masih mual" jawab Alana.
"Baiklah, nanti saya beri obat untuk mengurangi rasa mual. Memang rasa mual itu hal wajar saat usia kehamilan masih trimester pertama. Selama tidak berlebihan anda tidak perlu khawatir." dokter coba menjelaskan.
"Apa? Saya hamil dok?" seketika Alana terkejut.
"i-iya.. Apa Suami anda tidak mengatakannya?" tanya dokter.
Alana menggelengkan kepalanya. Kemudian menatap Arman yang sedang berdiri tak jauh darinya. Seketika saja matanya terasa memanas. Entah ini berita baik atau buruk, Alana belum sanggup mencerna itu.
Setelah dokter dan perawat yang memeriksanya pergi barulah Alana mencoba untuk bertanya kepada Arman.
"Mas.. Apa benar aku hamil?"
Arman hanya mengangguk. Tak mengucapkan sepatah kata pun.
Dan saat tahu dirinya hamil maka sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah darah daging Andra.
Namun masalahnya kini Andra telah tiada. Alana pun pasrah, jika Arman akan mengusirnya dia tak akan kaget. Mungkin sudah jalannya begini.
Namun perkiraan Alana tampaknya meleset. Arman berjalan mendekati Alana dan mengusap kepalanya.
"Tidak apa-apa. Saya akan bertanggung jawab penuh terhadap kehamilanmu. Asal kau jaga dengan baik." ucap Arman lugas.
Alana yang mulanya tertunduk kini memberanikan diri untuk menatap Arman. Pria matang yang kini sah menjadi suaminya.
"T-tapi.. Dia bukan-" ucapan Alan terpotong seketika Arman menyelanya.
"Anggap saja itu hadiah dari Tuhan" Untuk pertama kalinya Alana melihat sebuah senyum tulus yang terukir di wajah pria itu.
Ada perasaan merinding juga kagum. Arman yang dia kenal dulu sangatlah jauh berbeda dengan yang sekarang.
Jika dulu Alana begitu ketakutan dan ingin sekali menjauhinya kini justru Alana merasa aman saat bersama Arman.
Alana tak mampu lagi membendung air matanya. Netranya terasa memanas dan tak kuasa menangis. Tangisan yang awalnya tertahan kini berubah menjadi isakan.
"m-maaf.. Maafkan aku.." Ucap Alana disela isakannya.
Arman yang sedari tadi menahan perasaannya kini langsung memeluk Alana. Membiarkan wanita itu memproses segala emosi yang berkecamuk di hatinya.
"Maafkan aku mas.. Aku sudah berdosa, aku mengkhianatimu. Aku istri yang buruk dan kotor.." Alana terus memaki dirinya sendiri.
Arman hanya diam dan tetap memeluk Alana. Dia pun mengusap kepala istrinya mencoba untuk memberikan ketenangan untuknya.
"Ini bukan salahmu Alana. Aku yang kejam telah membawamu dalam kesengsaraan ini. Aku telah merenggut kebebasanmu, aku juga sering menyiksamu. Jadi ijinkan aku untuk menebus semua kesalahanku". Ungkapan tulus dari Arman ini membuat tubuh Alana serasa gemetar.
Bagaimana bisa akhirnya seperti ini. Akankah Alana menerima permintaan maaf Arman ataukah masih mempertahankan egonya? Alana masih bingung dan sulit mencernanya.
Tiba-tiba Alana melepaskan diri dari pelukan Arman dan menatap pria itu dengan tajam.
Menerka-nerka apakah itu akan benar-benar dilakukan oleh Arman atau hanya kamuflase seperti biasanya. Arman hanya mempermainkan perasaannya dan kembali menyiksanya.
"Kenapa Alana?" tanya Arman.
"Mas Arman aku memang lemah, aku tak punya kuasa apapun tapi, tapi aku hanya ingin hidup tenang. Ku mohon jangan permainkan perasaanku lagi. Jangan mengatakan hal yang tak mungkin Mas Arman lakukan. Aku.." tiba-tiba saja nafas Alana terasa sesak hingga dia tersengal.
"Alana.." panggil Arman lirih. Dia mencoba menenangkan Alana namun dengan cepat Alana menampik tangan Arman.
Trauma yang dia alami saat pertama kali bertemu Arman masih terngiang di kepalanya. Betapa kejam perlakuan pria itu membuatnya tak percaya dengan segala ketulusan Arman saat ini.
"Aku sudah sangat terluka. Jadi tolong jangan menambah luka lagi mas. Jangan membuatku berharap dengan kenyataan yang tak dapat ku gapai." tolak Alana.
Arman tak mengerti dengan maksud Alana. Tapi penolakan yang dinyatakan wanita itu tampaknya berkaitan dengan traumanya. Sehingga Arman mencoba untuk memberi pengertian terhadap Alana.
"Alana, dengarkan aku. Aku tidak pernah bermaksud untuk membohongimu. Kita buktikan saja apakah aku berbohong atau tidak. Tapi tolong sekali lagi jangan bahayakan dirimu. Jaga kandunganmu dan jangan banyak pikiran." Ujar Arman.
Alana pun hanya diam. Ada benarnya ucapan Arman, namun dia tak bisa begitu saja terlena dengan ucapannya saja. Perlu pembuktian yang benar-benar Arman lakukan kepadanya.
Dan kini tugas Arman adalah membuat Alana percaya bahwa apa yang dilakukan untuknya adalah sebuah ketulusan.