My Stepmom My First Love

My Stepmom My First Love
Bab 28 menyadari perasaannya



Sudah satu minggu ini Alana ditinggal Arman untuk urusan bisnis. Tak banyak yang diperbuat. Dia hanya melakukan aktivitas membosankannya setiap hari.


Alana rindu melakukan kegiatannya yang dulu, bekerja sambil kuliah. Namun tampaknya hal itu tak akan terjadi. Jelas Arman tidak akan mengijinkannya apalagi keadaan Alana yang kini sedang mengandung.


Hidup Alana benar-benar seperti burung yang terkurung didalam sangkar emas. Meski semua kebutuhannya dijamin oleh Arman serta tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitasnya.


Namun hati Alana terasa kosong. Orang yang dicintainya telah pergi dan Arman pun kini semakin membatasi diri. Tak pernah lagi menyentuh Alana.


Bahkan kamar Arman dan Alana kini terpisah. Alana hanyalah seperti piaraan di rumah ini.


Entah kenapa Arman menjadi seperti itu. Perubahan sikapnya yang semula sangat kasar dan semena-mena kini berubah menjadi lebih sabar dan santai. Namun cenderung cuek.


Alana sendiri tak menampik jika Arman sebenarnya merasa jijik untuk menyentuh Alana sebab skandalnya yang telah bermain api dengan Andra, anak tirinya sendiri.


Dan janin yang berkembang di rahim Alana merupakan buah cinta terlarang mereka. Sebagai seorang suami jelas Arman pasti merasa marah.


Namun kemarahan itu tak bisa dirasakan Alana sebab Arman sama sekali tak melampiaskannya hanya diam dan menghindarinya.


Sementara Arman sebenarnya mati-matian menahan diri agar tidak tergoda oleh Alana. Gadis cantik itu sedang mengandung dan Arman tidak ingin melukainya.


Jika sampai terjadi sesuatu pada kandungan Alana dia akan merasa sangat bersalah sebab Arman tak akan bisa memberinya keturunan lagi.


Entah kenapa akhir-akhir ini Alana jadi merindukan Arman. Apakah diam-diam dirinya menaruh hati pada pria itu?


Alana berjalan menuju kamar Arman. Saat memasuki ya dia sudah mencium bau parfum khas pria itu. Padahal kamar itu sudah seminggu tak di huni namun aroma Arman masih saja tertinggal. Apakah mungkin karena kehamilan Alana membuat indera penciumannya menjadi peka.


Alana berjalan menuju walk in closet milik Arman. Semua pakaian serta barang-barang mewahnya berjajar rapi dan sempurna. Khas sekali dengan gaya Arman.


Alana mengambil salah satu kemeja putih milik Arman. Dia menanggalkan pakaiannya sendiri dan menggantinya dengan kemeja tersebut.


Sungguh saat ini Alana ingin sekali dipeluk pria itu. Namun sikap dingin Arman membuatnya enggan meminta. Dia terlalu merasa rendah diri di hadapan pria itu.


Alana membaringkan tubuhnya di atas ranjang milik Arman. Perlahan bayangan pria itu mulai terbersit di kepalanya.


Jika dipikir-pikir dahulu Arman memang kejam. Namun saat dirinya mulai dekat kembali dengan Andra sebenarnya Arman mengetahui hal itu.


Namun justru Arman memberi kesempatan mereka dengan meminta Andra mengawasi Alana. Arman juga diam ketika mengetahui perselingkuhan keduanya.


Alana menjadi semakin bersalah karena telah memanfaatkan Arman selama ini. Demi rasa dendamnya yang semula memaksa dirinya menikah membuat Alana merasa gelap mata.


Memikirkan hal itu membuat mata Alana menjadi terasa panas. Sesak di hatinya tak terbendung lagi. Bulir-bulir air mata pun akhirnya jatuh membasahi pipinya.


Meratapi bagaimana nasib hidupnya yang terlalu pedih ini. Selalu dan selalu ditinggal orang-orang yang dicintainya. Mulai dari kedua orang tuanya bahkan Andra kekasihnya.


Alana menjadi semakin terisak dan tak bisa menahannya lagi. Dia melampiaskan semua rasa yang menumpuk di dalam hatinya.


Terlalu banyak ketakutan dan kecemasan. Bagaimana jika suatu hari nanti Arman benar-benar akan membuangnya.


Dinginnya sikap pria itu saja sudah membuat Alana merasa bersalah apalagi jika Arman sudah tidak lagi mempedulikannya. Kemana lagi tujuan hidupnya?


Alana terus menangis sambil memeluk guling di atas ranjang Arman. Tanpa sadar bahwa seseorang telah memperhatikannya sejak tadi.


Arman hanya bisa diam terpaku melihat Alana yang tengah menangis sesenggukan di dalam kamarnya. Ingin sekali dia menghampiri dan menenangkan istrinya namun ada rasa bersalah juga membuat Arman mengurungkan niatnya.


Perlahan Arman mundur dan mengurungkan niatannya untuk memasuki kamarnya sendiri. Dia memilih untuk menunggu Alana menangkan dirinya sendiri.


"Kasian ya lama-lama melihat tuan dan nyonya. Mereka sepertinya saling membatasi diri." ujar salah seorang maid yang ada di kediaman Arman.


"Sstt.. nggak baik ngomongin majikan. Sudah, kerja-kerja." ucap Bi Siti membuyarkan obrolan para maid tersebut.


Kurang lebih satu jam sudah Alana di dalam kamar. Tampaknya suara juga sudah hening. Rupanya dia tertidur seelah kelelahan menangis.


Arman yang sejak tadi memilih untuk menunggu di balkon rumahnya kini mulai mendatangi kamarnya.


Dia mendekati Alana dan perlahan mengusap kepala wanita itu.


Tampak wajah sendunya sedang terlelap dengan bulu-bulu lentiknya di matanya yang masih menyimpan gumpalan air. Bahkan pipi dan bantalnya basah oleh air matanya.


Merasakan usapan di kepalanya Alana cepat-cepat bangun dan membuka matanya. Dia terkejut saat melihat Arman didepannya.


"Mas Arman"


Tanpa membuang waktu Alana langsung beranjak memeluk tubuh Arman dengan erat.


"Aku merindukanmu mas" ucap Alana sambil menyembunyikan wajahnya di dalam dada Arman.


"Aku juga merindukanmu Alana. Kenapa kamu menangis?" ucap Arman pelan.


Alana terdiam sebentar. Kemudian Arman menarik dagu Alana agar wajahnya menghadap dirinya.


"Maaf ya, aku selalu menyulitkan mu. Aku tak pernah bisa membuatmu bahagia." ujar Arman.


Alana pun menggeleng. Secepatnya dia menghapus air mata yang tersisa di wajahnya kemudian berusaha mengulas senyumannya.


"Mas Arman tidak menyulitkanku. Tapi justru aku saja yang kurang ajar dan tidak bersyukur. Aku kurang sabar menghadapi Mas Arman sehingga Mas Arman kini muak kepadaku." ujar Alana terus terang.


Arman pun mengernyitkan keningnya. "Muak? Kata siapa aku muak?"


"Mas Arman terus menghindariku. Bahkan Mas Arman selalu menolak sentuhanku. Apanya nggak muak? Ya memang aku hanya anak kecil yang kurang ajar di mata Mas" Suara Alana berubah lirih. Sarat akan kekacauan.


Arman tersenyum simpul kemudian kembali meraih dagu Alana.


"Bukannya menolak Alana, aku hanya takut saja jika nanti kembali menyakitimu. Aku tidak ingin membahayakanmu. Apalagi saat ini kamu sedang hamil. Tahu sendiri kan jika bersamamu aku terlalu bernafsu hingga lupa diri." Arman tersenyum getir.


"Tapi mas Arman jijik sama aku nggak?" tanya Alana lagi.


"Nggak lah, justru saya sangat sayang sama kamu. Oh ya makasih loh dipanggil Mas, padahal usiaku sudah sangat tua untukmu. Bahkan mungkin usiaku seperti-"


Belum sempat Arman meneruskan ucapannya Alana langsung membungkam mulut Arman dengan kecupan singkatnya.


"Biar usia kita jauh, tapi Mas Arman mau kan memulai semua ini denganku. Kita sama-sama memperbaiki diri." ucap Alana.


Arman pun langsung mengernyitkan dahinya. Kemudian mencubit gemas pipi Alana.


"Baiklah.. Kita mulai semua dari awal." ujar Arman menyetujui.