My Stepmom My First Love

My Stepmom My First Love
Bab 23 mengejutkan



"ALANA.." teriak Arman ketika melihat Alana di kamarnya.


Dengan cepat Arman berlari mendekati Alana dan meraih pisau di tangannya. Dia langsung melempar ke sembarang arah.


"Alana apa yang kau lakukan? Mau menyakiti diri kamu sendiri? Jangan gila kamu" bentak Arman seketika.


Alana tak memberi jawaban dan hanya menangis terisak. Dia tak sanggup untuk berbicara. Hatinya terasa padam dan otaknya pun tak mampu untuk bekerja dengan baik.


Terlalu dalam memendam duka justru membuatnya semakin terpuruk. Bagaimana bisa Alana melanjutkan hidup jika harapan dalam kehidupannya telah pergi meninggalkan dirinya.


Selama ini hanya Andra alasannya untuk bertahan. Namun takdir seolah mempermainkannya. Cukup sudah, Alana tak akan sanggup terlalu lama hidup di dunia sendirian begini.


"Biarkan saja mas, biarkan aku mati. Tak ada gunanya lagi aku hidup, jika seseorang yang aku cintai tak ada di sini" ucap Alana frustasi.


Kini Alana tak takut lagi mengatakan kebenaran hubungannya dengan Andra. Persetan jika Arman akan marah dan menghukumnya. Bagi Alana siksaan yang dia terima tak sebanding dengan luka yang terlalu dalam menyayat hatinya.


"Alana, jangan seperti itu. Ingatlah bahwa Andra mengorbankan dirinya agar kamu tetap hidup" ucap Arman mencoba untuk menenangkan Alana.


"Tapi untuk apa aku hidup? Aku capek mas, aku terluka, aku tidak bahagia, takdir selalu membuatku dalam kesengsaraan. Aku ingin bebas. Terbebas dari belenggu dunia ini. Aku lelah..." Alana semakin terisak. Emosinya sudah memuncak dan tak mampu dia bendung lagi.


Arman sempat terpaku melihat Alana semarah ini. Tampak jelas bagaimana kesedihannya. Dan hal itu menjadi tamparan keras bagi Arman.


Alana juga manusia, dia juga ingin bebas dan bahagia, tapi apa yang dilakukan Arman selama ini hanyalah merenggut kebahagiaannya dan mengurung kebebasannya.


Kini Arman sadar, kenapa Alana nekad berhubungan dengan Andra, karena Andra yang mampu memberinya kebahagiaan. Dia yang bisa membuat Alana tersenyum.


"Maafkan aku Alana. Maaf.." gumam Arman lirih. Tenggorokannya terasa tercekat, lidahnya pun kelu tak mampu meneruskan kata-katanya.Arman hanya bisa tertunduk lesu. Tak berani memandangi Alana karena terlalu banyak dosa yang telah dia perbuat untuknya.


Alana yang masih bergelung dengan emosinya sempat melihat Arman. Pria didepannya itu seolah seperti bukan Arman yang dia kenal biasanya.


Bisa-bisanya Arman menunjukkan sisi kelemahannya didepan Alana. Selama ini pria itu selalu tampak angkuh dan mengintimidasi.


"Hukum saja aku jika kau mau, aku tak keberatan. Dosaku terlalu banyak padamu Alana. Maafkan aku, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Jangan sakiti dirimu sendiri. Cobalah sebisa mungkin untuk tetap hidup." Akhirnya Arman mengumpulkan energinya untuk mengatakan hal ini.


Alana terdiam. Dia pikir Arman akan marah dengan fakta perselingkuhannya. Tapi hal itu justru diluar dugaan.


Arman meminta maaf dan mengakui kesalahannya langsung kepada Alana. Dia bahkan rela melupakan harga dirinya.


"Mas.. Ada apa denganmu?" Alana seolah tak percaya.


Arman hanya menggeleng kemudian berdiri dan hendak meninggalkan Alana.


"Jangan macam-macam lagi" ucapnya sebelum keluar dari kamar itu.


Alana masih tertegun. Bahkan tadi dia sempat melihat mata Arman yang tampak basah dan memerah seperti habis menangis.


Apa kini Arman mulai berubah? Apa justru pria itu memang aslinya seperti itu. Sampai disini Alana tak mau terlalu banyak berpikir. Sudah lelah dengan hatinya yang selama ini porak poranda.


...****************...


"Apa? Jadi Andra melakukan ini semua demi Alana? Bagaimana bisa dia memiliki uang sebanyak ini?" Arman tak percaya dengan berkas data peralihan saham PT Hansen yang semula dikuasai Hendro kini menjadi atas nama Alana.


Tak disangka Andra memperjuangkan hak Alana hingga sejauh ini. Arman benar-benar tak habis pikir.


"Benar pak, ini dilakukan sebelum kejadian itu. Dan hal ini pula yang memicu kemarahan Hendro hingga ingin melukai nona Alana" ucap Noah.


Arman terdiam. Tak mampu lagi mengucapkan kata-kata.


Hatinya terlanjur diliputi rasa bersalah. Andai waktu bisa diputar kembali Arman akan memperbaiki semuanya. Dia akan mendukung hubungan Alana dan Andra dan berperan sebagai ayah yang baik.


Saat sibuk memikirkan hal yang berkecamuk dalam otaknya tiba-tiba saja suara seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Arman mempersilahkan masuk orang itu ternyata adalah Bi Siti, asisten rumah tangganya.


"Tuan.. Tuan.. Nyonya Tuan.." ucap Bi Siti panik.


"Ada apa bi?" tanya Arman.


"Nyonya pingsan..." ucap Bi Siti panik.


"Apa? Alana pingsan?" Arman langsung beranjak dari kursinya dan berlari menghampiri Alana. Tak mempedulikan lagi keberadaan Noah.


Dan benar saja, Alana tengah tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Ada beberapa Asisten perempuan yang berusaha menyangga kepalanya.


"Alana.." Arman memekik menghampiri Alana.


Kemudian dia langsung mengangkat tubuh Alana. Tak menghiraukan luka bekas operasinya akibat tembakan peluru beberapa waktu lalu.


"Siapkan mobil, cepat kita ke rumah sakit." ucap Arman kepada asistennya.


Arman pun langsung membawa Alana ke dalam mobil. Dia membaringkan tubuh Alana sambil memeluknya posesif. Wajah Alana tampak pucat dan tubuhnya terasa dingin.


Pikiran Arman sudah kemana-mana. Jangan-jangan Alana bertindak nekad dan ingin mengakhiri hidupnya lagi.


"Pak tolong cepat" pinta Arman kepada sopirnya.


"Maaf pak, ini sudah berusaha. Tapi jalanan sedang macet." ucap sopir tersebut.


Arman pun berdecak sebal. Ingin sekali berteriak dan memaki para pengguna jalan agar segera minggir.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Arman langsung menyerahkan Alana untuk segera mendapatkan tindakan.


Selama itupun dirinya sama sekali tak bisa tenang. Pikirannya terus berprasangka buruk. Jika sampai terjadi sesuatu terhadap istrinya maka Arman tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Ya Tuhan, selamatkan istriku" gumam Arman sembari berjalan mondar-mandir didepan ruang pemeriksaan.


Tak berselang lama akhirnya dokter yang memeriksa Alana keluar dari ruangan itu.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Arman seketika.


Dokter tersebut tak langsung menjawab. Dia justru mempersilahkan Arman untuk memasuki ruangan itu dan membuat Arman semakin gelisah.


"Dimana istri saya? Bagaimana keadaannya?"tanya Arman lagi.


"Selamat, istri anda sedang mengandung. Usia kehamilannya memasuki minggu ke empat.


DEGG!


Hamil? Alana hamil?


Otak Arman seolah berhenti bekerja. Sebuah kenyataan yang sama sekali tidak disangkanya.


"Istri saya hamil dok?" Arman tak percaya.


"Iya Pak, tapi kondisi Nona Alana masih sangat lemah. Mohon untuk selalu menjaga keadaannya. Jangan sampai kelelahan dan banyak pikiran. Karena stress akan mempengaruhi kondisinya. Apalagi ini kehamilan pertama untuk Nona Alana." Dokter menjelaskan keadaan Alana.


"i-iya Dok," Arman terbata.


Kenapa masalah datang silih berganti. Dan kini Arman harus menerima kenyataan bahwa istrinya tengah mengandung benih Andra, anak tirinya sendiri.