
Almero dengan kekuatannya menyusup masuk diantara bayangan-bayangan hitam yang mengelilingi Freya, ia menggapai tubuh Freya demi melindungi kekasih hatinya itu.
"Jauhkan tangan kotor kalian dari kekasih ku! Atau nyawa kalian jadi mkanan ku!" ucap Almero dengan amarahnya.
Tak mau menjauh sedikitpun bayang-bayang hitam itu, hingga...
Wussss!!!
Benjamin Almero mengepakkan sayapnya, sampai banyak yang terpental jauh, bahkan ada yang sampai jatuh ke luar bangunan kastil.
Terbelalak Zaros dan juga Bastian, mereka ternganga melihat sayang yang tak asing dengan sayang seseorang, bahkan itu seperti nyata.
"Dia kembali..." lirih Zaros dengan memegangi jantungnya, "Ayah? Anda tak apa?" Bastia menopang tubuh sang ayah dengan kedua tangannya.
Lirikkan tajam Almero seolah mampu mengoyak dada Zaros, bahkan sampai menembus jantungnya.
"Kau apakan ayahku?" teriak Bastian kala melihat sang ayah tak berdaya hanya karena tatapan mata Bastian saja.
"Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan terhadap kekasihku, bukan kah itu impas?" senyum miring terulas diwajah arogan Almero.
"Kau tidak berhak melakukannya! Dia Ayahku!"
"Dan dia kekasihku!" sela Almero dengan merangkul pundak Freya.
"Tidak! Dia calon istri ku!" kilah Bastian.
"Tapi dia mengandung anak ku!" cetus Almero yang membuat semua mata terbelalak kaget, tak hanya Bastian, bahkan Alvin, dan Victor pun ikut terkejut oleh ucapan Almero.
Sedang Freya memejamkan mata dengan mengusap wajahnya, "Mati aku! Setelah ini Daddy pasti akan marah besar!" batinnya.
"Lancang kau!" teriak Bastian, ia tersulut amarahnya kemudian ia melesat mendekati Almero, niat hati ingin menyerangnya, namun kecepatannya kalah telak dengan Almero, kini leher Bastian ada pada cengkeraman Almero.
Tercekik sampai terasa akan putus leher Bastian oleh Almero, "Makhluk bodoh seperti mu seharusnya tidak usah lahir!" cetus Almero, dan...
Krak!!!
Patah leher yang Almero cengkeram, "Tidak! Bastia!" teriak Zaros, kemudian ia bangkit dan melebarkan sayapnya.
Menggunakan kekuatannya, Zaros mengangkat tubuh Almero, bukan tak mau melawab, Almero tau jika ia yang melawan orang tua itu maka citranya di depan calon mertua akan hancur.
"Zaros! Hentikan! Lawan mu adalah aku! Dia sama sekali tidak ada urusan dengan mu!" teriak Victor, bahkan ayah tiga anak itu sudah terbang sejajar dengan Zaros.
"Dia telah membunuh putra ku!" cetus Zaros.
"Lalu bagaimana dengan kematian ratu?" pertanyaan itu membuat Zaros merinding, tiba-tiba ia teringat sesuatu, ya... masa lalu, cara ia bisa sampai di atas tahtanya saat ini.
"Kau licik Zaros! Kau mengelabui semuanya, padahal kau lah dalang dibalik semua kejadian itu!" imbuh Victor.
"Omong kosong apa ini?" masih berkilah, Zaros enggan mengakui kesalahannya.
Melihat raut wajah Zaros yang seperti ketakutan semua rakyat klan darah itu berdiri, menatap wajah sang Lord yang selama ini mereka percayai.
"Kalian lihat sayap anak ini! Tidakkah kalian hafal dengan kilaunya?" teriak Victor.
"Tidak! Itu tidak benar! Di palsu! Dia penipu!" teriak Zaros dengan histeris.
Namun melihat tingkah Zaros yang seperti itu, semua vampir yang semula berpihak kepadanya berbalik dan mendengarkan Victor yang mana ia berkata untuk memperhatikan sayap milik Almero.
Kilauan indah itu terasa nyata, bahkan mereka merindukan sosok si pemilik sayap megah itu, "Dimana beliau?" cetus salah satu kaum Vampir.
"Dialah putra Lord Athan Arrow," cetus Victor, tanpa menunggu nanti semua kaum Vampir berlutut kepada Almero, "Mohon ampun yang Mulia," ucapnya serempak.
"Berdirilah!" cetus Almero.
Zaros tercengang, dengan begitu mudahnya semua rakyatnya bertekuk lutut kepada Almero yang bahkan masih terbilang muda.
"Yang Mulia mau diapakan si pengkhianat ini?" tanya salah seorang rakyat vampir, yang saat itu sudah mencekal kedua tangan Zaros.
"Tunggu sebentar!" Almero mendekati Zaros kemudian...
"Aaarrgghhh!!!" teriak Zaros kala kedua sayapnya dipenggal oleh Almero.
"Lalu ini..."
"Aaarrrggghhhh!!!" teriak Zaros lagi saat kedua kalinya dilumpuhkan oleh Almero.
"Ini untuk Ayahanda!" cetuanya kala Zaros menjadi berlutut karena tak mampu berdiri dengan kedua kalinya yang sudah mati rasa.
Almero mengeluarkan batu mulia yang sedari tadi di simpannya, dan...
Ssssrrrrrriiiiiinnggg!!!
Cahaya menyilaukan itu membuat semua mata penasaran dengan apa yang akan terjadi setelahnya.
"Kalian merindukan ku?" suara yang familiar itu membuat semua mata tercengang terbelalak.
"Lord..." hampir semua berucap kemudian menundukkan kepala dengan hikmat, hormat yang mereka tunjukkan masih sama seperti dulu sekitar 20 tahun silam.
Senyum miring masih terlihat sama menjengkelkannya, ya... senyum khas Athan Arrow kala ia merasa menang.
"Kau kembali?" lirih Zaros yang kehilangan air muka, sungguh ia menyesal tapi tak ada guna bahkan semua yang ia miliki telah hilang.
"Bukan, aku hanya punya waktu sebentar, sesungguhnya aku tak lagi ada harapan untuk kembali ke dunia ini, aku hanya ingin menyampaikan bahwa tahta ku akan aku wariskan kepada putra tunggal ku..." terdiam sejenak Athan Arrow, ia merangkul pundak Almero.
"Benjamin Almero, dia putra ku," imbuhnya, semua mata saling pandang satu sama lain, seolah tak percaya, Victor angkat suara.
"Tapi Lord, tidakkah anda ingin memimpin kaum kita lagi?" seolah tak setuju tapi Victor lebih ke mencegah agar Athan Arrow tidak pergi.
"Hey Victor, kenapa kau membantah? Sejak kapan kau tidak menuruti kemauan ku?" tanya Athan Arrow dengan senyumnya yang masih saja mengembang, jujur saja dibalik senyum yang selalu ia tampakkan itu tak ada satupun orang yang mampu menebak isi hati si Lord terdahulu itu, dan yah... itu menurun kepada Benjamin Almero tentunya, tindakan yang diluar nalar juga susah dibaca oleh lawan.
"Maaf Tuan ku, hamba hanya tidak mau kehilangan sosok yang bijak dalam menjadi pemimpin," cetus Victor, itupun dengan menundukkan kepala.
"Wahai seluruh kaum abadi, mulai saat ini aku Lord Athan Arrow memberikan tahta ku sebagai pemimpin kalian kepada putra ku Benjamin Almero, bersediakah kalian menghormati putra ku?" suara lantang itu menggema, bahkan guntur menyahut dengan kilat silaunya.
"Ya, kami siap!" sahut seluruh rakyat kaum vampir.
"Dan kau Freya Victoria..." kini Athan Arrow beralih menatap Freya.
"Saya yang Mulia?" menunduk sopan Freya menanggapi panggilan Athan Arrow.
"Malam ini, aku melamar mu untuk putra ku, ku ikat kalian berdua dengan ikatan cinta, kuharap kalian dapat menjadi Raja dan Ratu yang bisa mengayomi kaum abadi ini," Freya hanya mengangguk, saat tangannya di satukan dengan tangan Almero ada getaran yang merasuk kedalam hatinya.
"Lord?" bisik Victor.
"Victor, aku titip mereka, bimbinglah sampai kaum kita hidup tanpa perselisihan," ucap Athan Arrow.
Tak bisa menolak karena perlahan tubuh Athan Arrow seperti debu yang terbang tertiup semilir angin malam, hingga habis hilang tanpa bekas.
"Kalian sudah resmi menikah, bahkan di depan Lord Athan Arrow," cetus Victor dengan menepuk pundak kedua mempelai.
Pesta pernikahan dadakan tetap meriah, karena semua bekerja sama tidak ada lagi perselisihan, mereka masih memegang pesan dari Lord yang sangat mereka hormati.
Benjamin Almero bahagia bersama istrinya Freya Victoria, sedangkan Alan masih berjuang mengejar cinta Lovie, bahkan ia rela ikut kehutan kaum serigala, Alvin masih sendiri, ia setia dan menjadi penasihat Benjamin Almero, seperti Victor kepada Athan Arrow di jamannya, Alvin seperti tangan kanan Almero.
Bagaimana dengan Zaros? Tentu saja ia dipenjara didalam ruang bawah tanah, tanpa siksaan fisik, memangnya sudah kehilangan kedua sayap, dengan kaki yang lumpuh juga anak dan istri, kurang menderita apa lagi dia? Bahkan didalam benaknya lebih baik mati dari pada hidup seperti ini.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Hari terus berlalu, benar kata Almero beberapa hari sebelum pernikahannya dilaksanakan, bahwa ada janin didalam perut Freya.
Malam ini tepat dimalam bulan purnama penuh, tangis seorang bayi mungil memecah keheningan malam.
"Oeeekkk... Oeeeekkk!!!"
Bahagia semua kala mendengar tangis si mungil yang baru menyapa dunia.
"Dia tampan seperti mu," lirih Freya yang duduk di tepi ranjang, Almero tersenyum ia menatap wajah mungil yang berada gendongannya, "Kau beri nama siapa?" tanya Freya.
"Alfe Purnama, biarkan dia bersinar seperti purnama malam ini," tercetus nama bayi mungil nan tampan itu dihiasi senyuman kedua orang tuanya.
...~T A M A T~...