
"Kamu sudah menyatu?" kembali Freya bertanya, gadis berdarah murni itu sungguh penasaran dengan keberadaan mahasiswa polos yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kamu?" Almero mengulang kata yang Freya ucap barusan, "Ah maksud hamba, Tuan, apa kedua jiwa kalian telah menyatu?"
"Cium aku dulu, baru akan aku beri jawaban!" godanya yang membuat Freya serba salah.
Inginnya ia menghindar tapi di sisi lain, ia adalah sang Tuan yang sebentar lagi akan menjadi Lord, pimpinan dari bangsanya, apakah pantas ia menolak permintaan sang Tuan?
Belum juga ia menemukan jawaban ataupun keinginan mengabulkan permintaan dari Benjamin Almero, tangan kekar itu sudah lebih dulu menarik tengkuk Freya hingga menyatu kedua benda kenyal nan manis itu.
Tidak lama namun sesapan Almero begitu kuat, bahkan bibir Freya terasa berdenyut, "Ini sangat manis, aku suka!" cetus Almero dengan bangun dari posisi tidurnya, bola mata merah darah itu merotasi.
Menyapu pandang keseluruh ruangan yang tak seberapa luas itu, "Dimana ini?" tanyanya.
Melotot Freya, "Bahkan ia lupa tempat semalam dia membuatku encok? Astaga, apakah hanya S E X saja yang ada didalam otaknya?!" batin Freya dengan menggeleng pelan, sedang Almero masih melihat ruangan kecil itu dengan tatapan jijik.
"Aku mau kembali ke Kastil!" cetusnya tiba-tiba.
"Tapi Tuan, anda seorang mahasiswa, dan harus menyelesaikan pendidikan anda," cetus Freya.
"Juga anda perlu banyak berlatih," imbuhnya lagi.
"Kau mengatur ku?" tanyanya dengan lirikan tajam, seolah ia tak suka seorangpun mengatur jalan hidupnya.
"Bukan begitu Tuan, tapi..."
"Baiklah, aku mengerti!" akhirnya Benjamin Almero mau mendengar pendapat dari Freya. Ia kini berdiri didepan sebuah cermin.
"Inikah wujud ku?" tanyanya dengan menatap heran.
"Ya Tuan, itu anda," sahut Freya seadanya, jujur saja, gadis itu tak bisa banyak bermain-main kala Almero bangkit seutuhnya.
"Sangat tidak modis!" cetusnya dengan mengusap wajahnya menggunakan tangan kanannya, dan...
Sring!!
Seketika tampilan Almero berubah, ia terlihat lebih tampan dan juga keren, itulah yang ada di dalam pikiran Freya.
Lagi-lagi gadis itu terpesona dengan kharisma yang terpancar dari sang Tuan, "Jangan melihat ku begitu! Aku memang tampan!" sombongnya dengan senyum yang begitu menjengkelkan.
^^^Keesokan harinya...^^^
Tak seperti pagi biasanya, Almero yang biasa rajin dengan pekerjaan rumahnya kini duduk di atas sofa singelnya.
Segala keperluannya, Freya tentu saja yang menyiapkan, "Freya Victoria?" panggilnya saat gadis itu mondar-mandir menyiapkan ini dan itu.
"Bisa kau temani aku ke kampus? Semua seolah baru bagiku," pintanya.
"Kenapa harus hamba? Kenapa tidak anda mempelajari sisi lain anda saja?" tetap halus, sopan, dan penuh hormat, Freya memberikan jawaban.
"Haish... Baiklah!" terdengar malas, tapi Almero terlihat memejamkan kedua matanya.
"Oh iya Tuan, jika berbaur dengan manusia lain, jangan perlihatkan kedua mata merah itu!" pesan Freya yang hanya di anggukki oleh Almero.
Mulai keluar dari kamar kecilnya, Almero melangkah kan gontai kaki jenjangnya, tiba di meja makan, langkah kakinya dihentikan oleh teriakan seseorang.
"Almer! Kemari kau!" teriaknya, tak salah lagi ini suara seorang wanita yang tengah dikuasai amarah.
Berhenti ditempat, serta menoleh dengan lirikan tajam Almero menatap dua perempuan juga ada satu laki-laki di sana.
Freya yang berubah kecil duduk di pundak kiri sang Tuan, "Mereka keluarga anda Tuan, bibi dan paman, juga kakak anda," bisik Freya.
"Lalu aku biasanya seperti apa? Kenapa tatapan mereka seperti itu? Ingin rasanya ku congkel keenam mata itu!" gumam Almero dengan suara lirihnya.
"Anak ini! Benar-benar ya! Setelah pulang dari hutan kau berani melawan ya!" teriak Riana.
"Ada apa?" tanya Almero dengan tatapan sinis bin bengisnya.
Ternganga semua kala melihat sorot mata Almero yang tak biasa, tunggu! Itu bukan sorot mata yang biasanya nurut dan pendiam.
"Bagus itu! Bukankah dia sudah besar? Dan calon mertua diluar sana akan menyukai anak menantu yang rajin, bukan yang pemalas!" cetusnya, tak hanya ketiga orang yang duduk di meja makan, bahkan Freya yang duduk di pundak Almero tak kalah terkejutnya.
"Kau!..." Terdiam Maya saat mata tajam itu beralih menatapnya yang menunjuk wajah Almero menggunakan jari telunjuk.
"Jarimu tidak layak menunjuk wajahku!" ketus Almero dengan nada dinginnya.
"Dan Kau!" kali ini sepasang mata mahasiswa dingin itu menatap Erwin atau ayah Maya.
"Uruslah perusahaan dengan benar! Jangan sampai aku melihatmu melakukan korupsi!" cetusnya.
Riana berdiri ingin memberi pelajaran kepada Almero, "Beraninya kau..."
"Berlutut!" titah Almero dengan tatapan mata yang mulai memerah.
"Tuan!" bisik Freya, namun kali ini Almero tak mendengarkan gadis itu.
Brugh!!
Bingung Riana karena tubuhnya seolah tak bisa ia kendalikan, seolah terkena hipnotis, tapi akal dan pikirannya masih jalan, tapi raganya menuruti perintah yang diucapkan Almero.
"Baik-baiklah kalian! Aku akan berangkat ke kampus!" pamitnya seraya berjalan keluar dari ruang makan.
"Tunggu Almer!" setibanya di ambang pintu keluar, Erwin mengejar keponakannya.
Berhenti langkah kaki Almero, "Ini bawalah bekal untuk di makan kau tidak sempat sarapan, tubuhmu semakin kurus nanti," perhatian kecil itu entah mengapa membuat trenyuh hati si Benjamin Almero.
Tanpa mengucap sepatah kata, Almero meraih bingkisan bekal itu kemudian segera langkah kakinya meninggalkan hunian yang tak seberapa besar itu.
"Tuan, kendalikan emosi anda! Jangan sampai ada yang melihat mata merah anda!" lagi-lagi Freya di abaikan oleh sang Tuan.
Berjalan dengan langkah kaki gontai, Almero masih tetap memasang ekspresi datar, bahkan tak ada buku catatan yang biasa ia bawa.
Disepanjang lorong kampus yang ia lewati, entah gadis maupun perjaka, semua berbisik kala Almero melewati mereka.
"Itu Almer, kan?"
"Gila! Sejak kapan dia jadi sekeren itu?"
"Keren apanya sih?!"
"Oh ya Tuhan, kemana aja gue selama ini? Kok gue baru liat tu cowok keren sih?"
Kurang lebih begitulah perbincangan yang memenuhi telinga Freya yang masih setia mengikuti kemana arah kaki Almero berjalan.
Sedikit geram gadis itu saat banyak gadis yang menyanjung sang Tuan.
"Tuan, bisa nggak, jangan terlalu tebar pesona!" keduanya ngobrol lewat jalur telepati.
"Memangnya kenapa? Kau jangan egois, ingin memiliki ketampanan ku seorang diri!" sahut Almero yang tanpa sadar menarik sedikit ujung bibirnya.
Melihat senyum tipis itu Freya melotot tak suka, berkacak pinggang gadis itu, kini ia berdiri di hadapan raga sang Tuan yang terpaksa berhenti.
"Ada apa? Kau jangan memasang ekspresi seperti itu! Memangnya kau mau kita bermain di sini?" masih melalui jalur telepati Almero menggoda sang kekasih hati.
"Buang senyum mu itu! Hamba tidak mau berbagi dengan gadis lain!" pernyataan terang-terangan itu membuat Almero meredup senyum, dapat dilihatnya bahwa sang kekasih saat ini tengah berbicara menggunakan hati.
"Ya sudah, segeralah menyingkir dari hadapanku, apa kau sengaja menahanku di sini agar mereka puas mengagumiku?" lagi Almero membuat Freya melotot, tapi setelahnya sepasang netra Freya melihat banyak gadis yang berbisik-bisik dengan melirik sang Tuan.
Menyingkir Freya dari hadapan Almero, hingga sang Tuan segera melanjutkan langkah kakinya, sedang Freya menarik napas panjang dan...
Whuuuuuussss!!!
Terbang semua buku dan kertas yang ada di hadapan para gadis, seketika keadaan menjadi semakin riuh.
Dibalik berjalannya Almero ia menyimpan rasa yang menggelitik hati, "Lucu juga dia, ternyata bisa marah juga...