
Alvin melesat dari lantai tiga bangunan tua itu hingga ia tiba di ruang tengah, niat hati ingin mengejar kedua adiknya, namun saat ia menggunakan penglihatannya yang mampu menembus beberapa mil jauhnya, ia melihat Alan tengah berhadapan dengan tubuh kekar yang begitu besar dan kekar, sedikit nyalinya menciut.
"Mereka berlima dengan tubuh yang begitu besar?" gumam Alvin yang berusaha memutar otak, namun belum sampai ide briliant ia temukan, seseorang lebih dulu mengejutkannya...
"Kenapa Kau takut?" menoleh Alvin mendengar suar yang terdengar dingin dan berwibawa itu.
"Kau..." terdiam sejenak Alvin, ekor matanya melirik kearah lukisan tua yang tak jauh dari kedua makhluk itu berdiri.
Berlutut Alvin di depan sosok yang tengah berdiri di hadapannya, "Lord, maafkan hamba, hamba tidak bermaksud mengangkat kepala di hadapan yang mulia," ucapnya dengan kepala yang menunduk.
"Berdirilah! Jangan buang waktumu untuk duduk seperti orang bodoh di sana!" cetus pria yang Alvin panggil sebagai Lord.
"Tunggu yang Mulia, anda mau ke..." belum sempat Alvin menyelesaikan ucapannya, pintu utama kastil sudah lebih dulu terbuka lebar tanpa tersentuh tangan.
Wuuuusssss!!!
Angin menerpa mengibarkan jubah hitam yang dikenakan pria yang berdiri didepan pintu besar itu. Begitulah yang ada didalam pandangan Alvin.
Alvin menundukkan kepala tanda memberi hormat, "My Majesty," cetusnya dengan tangan kanan yang menempel pada dada kiri.
Di depan sana, terlihat Freya tengah meronta didalam dekapan seorang laki-laki bertubuh besar, semakin memerah kilatan mata pria yang saat ini berdiri di ambang pintu utama kastil tua.
"Hey! Lepaskan mereka!" teriaknya dengan suara lantang.
Mendengar suaranya, kelima laki-laki bertubuh kekar itu menoleh kearah yang sama, atensi mereka terpecahkan dengan rasa penasaran kepada pemuda tampan yang masih berdiri mengenakan kaos putih panjang, dengan celana training.
"Siapa kau! Beraninya menghentikan rencana kita?!" teriak Aldo dengan berkacak pinggang.
"Aku? Memangnya sepenting itu kah identitasku?" sahutnya sengaja membakar emosi kelima laki-laki itu.
"Beraninya kau! Tidak taukah..."
"Tunggu Jack! Dia..." sela Aldo yang tiba-tiba teringat bayangan-bayangan yang ada didalam ingatan Lovie.
Sementara kelima bangsa serigala itu berunding melewati tatapan mata masing-masing, Freya menatap mata pria yang saat ini berdiri diambang pintu masuk kastil.
"Tuan! Sedang apa anda di sana? Ini berbahaya! Cepatlah kembali masuk kedalam kamar!" Freya mengirim telepati kepada pemuda yang tak lain adalah Benjamin Almero.
Almero yang menangkap signal telepati itu segera mengalihkan pandangan, ia kembali fokus kepada Freya yang masih terus menatapnya.
Almero mengulurkan tangan kanannya, dan dengan ajaib Freya terlepas dari dekapan Maxentius, hanya dalam sekejap saja kini tubuh Freya sudah berada didalam dekapan Almero.
"Tuan?" lirihnya dengan mendongakkan kepala demi menatap wajah tampan Almero.
Wajah tampan dengan bola mata hitam pekat itu melirik kearah Freya, "Kau meninggalkan aku di kamar sendirian hanya untuk menemui cecunguk-cecunguk yang bau anjing itu?!"
Freya sedikit bingung dibuatnya, sebenarnya siapa yang sedang dihadapannya saat ini? Kenapa kekuatannya hampir sama dengan sang Tuan yang lama tertidur, tapi kenapa cara bicaranya seperti Mahasiswa yang polos itu?
Freya masih berpikir dengan posisi yang masih sama, yaitu stay didalam dekapan Benjamin Almero.
"Fe! Dia yang Mulia..." bisik Alvin yang saat ini berdiri dibelakang Freya, tepatnya di samping Almero.
"Tunggu gue..."
Srraaaattt!!!
Dengan kecepatan secepat kilat menyambar, Aldo menyerang wajah tampan Almero dengan menggunakan kuku-kuku tajamnya.
Berhasil menghindar, namun kulit tulang pipi Almero tergores hingga mengeluarkan setetes darah yang berwarna merah kehitam-hitaman.
"Lancang kau!" murka Alvin, kemarahannya meledak kala ia melihat darah sang Lord menetes.
Segera Alvin menyerang Aldo, keduanya terlibat pertarungan yang begitu sengit, bahkan rasa takut yang ada didalam diri Alvin hilang entah kemana, yang ia tau saat ini ia hanya ingin membalas setetes darah Benjamin Almero yang jatuh menetes.
Ketika Maxentius mendekat, dengan segera Almero mengibaskan tangannya, berharap akan keluar kekuatan seperti saat dirinya membuka pintu dan menarik tubuh Freya kedalam pelukannya, namun saat ini berbeda...
"Ada apa Tuan?" tanya Freya yang cukup ikut merasa kebingungan.
Almero menunduk sedikit dan berkata di samping telinga Freya, "Kakuatan ku yang tadi hilang," bisiknya.
Dari sana Freya tau jika yang memeluk tubuhnya saat ini adalah Mahasiswa polos yang berusaha membangkitkan kekuatannya, ingin sekali Freya tertawa tapi ia tau saat ini bukanlah saat untuk bercanda, lengah sedikit saja nyawa yang jadi taruhannya.
"Biar saya yang urus!" cetus Freya kemudian...
Cup!
Kecupan singkat Freya daratkan di pipi sang Tuan, setelahnya, Freya seolah mendapat kekuatan dan semangat baru, terbang dan dari kepakan sayap hitamnya mengeluarkan asap ungu yang memenuhi halaman kastil.
"Alan! Sekarang!" telepati Freya kirim kepada kakak keduanya, di satu sisi Alan berusaha menyerang didalam kepungan asap ungu yang menghalangi pandangan para serigala jadi-jadian itu.
Aldo dan Stevan sadar jika asap ini tidak aman untuk jantung kaum mereka, "Mundur! Ini kabut beracun!" teriak Aldo yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan halaman kastil bersama Stevan.
Sedang Jack dan dua serigala yang lainnya segera mengikuti intruksi dari sang pimpinan, "Shial! Lepas!" umpat Alan dengan memukuk udara kosong.
Brugh!!
Terdengar suara orang jatuh, dan Freya baru menyadarinya, "Tuan!"
Gadis itu turun dari ketinggian terbangnya, segera ia mendekati tubuh Benjamin Almero yang sudah terkapar lemah di tanah.
"Lord? Yang Mulia! Kenapa bisa begini?" panik Alvin mendapati kondisi pemuda yang ia sebut sebagai Lord.
"Vin, tenanglah dulu! Dia ini manusia, mana mungkin dia tahan dengan kabut beracun yang Freya keluarkan!" cecar Alan dengan alis yang mengerut.
"A... Apa? Manusia? Tidak-tidak-tidak!! Penglihatan ku tidak mungkin salah mengenali!" menggeleng juga menyengkal, Alvin tak percaya adik laki-lakinya tidak mempercayai dirinya.
"Sadarlah dulu Vin!" cetus Alan dengan menepuk pundak sang kakak.
Di tengah-tengah perdebatan kedua kakak Freya, gadis itu lebih memilih membawa Almero untuk kembali ke kamar, Slap!!
Setibanya dikamar, Freya meletakkan tubuh lunglai sang Tuan di atas permukaan kasur yang lembut.
"Tuan? Sadarlah, maafkan hamba yang terlalu gegabah, hamba lupa jika Tuanku masih mempunyai sisi lemah," lirih Freya dengan membelai wajah yang masih memejamkan kedua netranya.
"Tuan, hamba mohon, jangan membuat hamba gagal, hamba ingin Tuanku bangkit seutuhnya," bisiknya lagi, kemudian Freya perlahan mengecup bibir merah yang sedikit memucat itu.
Lumayan lama kedua benda kenyal itu menempel, tak ada sedikitpun tuntutan diantara keduanya, namun tiba-tiba...
Srat!!
Tubuh Freya ditarik hingga gadis itu menjauh beberapa langkah kebelakang, menoleh gadis itu mendapati kedua kakaknya yang memegangi pundaknya kanan dan kiri.
"Kalian apa-apaan sih?!" menatap tajam Freya meluapkan amarah.
"Kamu yang apa-apaan! Dia itu Lord kita! Dan kau seenaknya mencium nya?!" Alvin meninggikan suara.
"Vin! Dia itu manusia!" Cetus Alan.
"Dan kau Fe! Sudahkah kau lupa jika kita tidak boleh menjalin hubungan dengan manusia!" Alan mengingatkan pesan dari sang ayah.
"Tapi kalian tidak tau cerita lengkapnya!" ngotot Freya, tapi sejujurnya ia sendiri pun bingung, mau dia katakan atau dia simpan saja.
"Ceritakan, bagaimana kelengkapan ceritanya!" tatapan serius bin tajam tersorot dari kedua netra Alvin, tak seperti biasa, Alvin kali ini tidak sedikit pun slengekan.
"Jadi dia itu..."
"Brisik! Sayang! Kemarilah, aku membutuhkan dirimu!...