My Majesty

My Majesty
Masuk Perangkap



Seperti air danau yang tenang, sampai tak siapapun tau bahaya yang tengah mengintai dari dalamnya.


Begitu juga sepoi angin yang menerpa, tak dapat dipungkiri jika semilir itu akan menjadi badai besar yang akan menghancurkan kota.


Begitulah kehidupan, tak waspada maka dia yang akan masuk kedalam perangkap. Juga perlu kepercayaan diri tinggi untuk memasang perangkap yang mematikan, tapi terkadang terlalu percaya diri membuat kita lupa diri, siapa yang menjadi lawan diri sendiri.


Ketenangan pemuda tampan yang tengah menyandarkan punggung di sandaran permukaan sofa lembut, membuat dua kubu bertolak rasa.


Di sisi lain, ada Rosalie bersama sang ibunda tengah memandang rendah Almero dengan segala rencana busuknya.


Sedang di depan gerbang bangunan mewah itu, Freya bersama dengan dua saudaranya tengah mengumpat, mengutarakan kekecewaannya kepada Benjamin Almero yang duduk santai di sofa empuk itu.


Lalu Lovie dengan segala kekhawatirannya terus berusaha menerobos masuk demi menyelamatkan pemuda tampan yang ia kira manusia polos biasa.


Dibalik segala pandangan itu, Benjamin Almero tengah tersenyum puas, "Akhirnya aku kembali menemukan batu mustika itu," batinnya dengan tangan kanan yang membuka dan tanpa paksaan ataupun usaha yang berat batu mustika berwarna merah menyala itu perlahan keluar dari tempat penyimpanannya.


Perlahan namun pasti batu mulia itu melayang mendekat kearah tangan Almero, "Tuan! Apa maksud anda bersama wanita lain? Bahkan anda masuk kedalam kediamannya!" telepati yang Freya kirim terdengar ditelinga Almero, namun demi fokus kepada batu mulia itu, Almero rela tak menjawab pertanyaan Freya.


"Maaf Fe, aku tak mau membuang kesempatan ini!" gumamnya yang sengaja memutus signal telepati yang Freya kirimkan.


Tap!!


Terjingkat kedua bahu Freya, seolah hatinya tersayat sebilah pedang tajam, sesak rasa di dada, rasanya sudah seperti ABG yang chat-nya hanya di read saja.


Apalagi Freya melihat dengan jelas sang Tuan digandeng dengan mesra oleh gadis lain untuk masuk kedalam hunian mewah itu.


"Apa ini salah ku? Apa aku salah karena tidak menuruti keinginannya yang ingin kembali ke kastil?" gumamnya lirih, sesak yang ia paksa untuk bergumam berhasil meluruhkan bulir bening yang tak lagi mampu terbendung.


Alvin iba melihat raut Freya juga gestur nya yang tak seperti biasanya, "Kau baik-baik saja?"


Freya hanya memalingkan pandangan, "Kita balik ke London!" cetusnya dengan mengusap bulir bening yang jatuh membasahi pipi.


"Jangan gegabah! Dia masih didalam kau tak tau di sana..."


"Aku tidak perduli! Aku mau kembali!" sela Freya, ia tak menunggu ucapan dari Alvin sampai selesai gadis itu sudah lebih dulu menghilang dari hadapannya.


Slap!!


"Ough Shial! Salah paham! Ini salah paham!" teriak Alvin.


"Apa maksud mu?! Freya sudah memutuskan untuk kembali pulang," ucap Alan.


"Kau! Kalian, apa tidak mencium aroma penyihir? Aku melihat di dalam sana yang Mulia dalam bahaya!" cetus Alvin yang membuat Lovie tercuri atensi.


"Apa maksud mu?! Yang mulia dalam bahaya? Yang dalam bahaya itu pemuda tampan yang sedang ada di dalam sana!" cetus Lovie tak kalah ngotot.


"Ya! Dan pemuda itu adalah yang Mulia, dia adalah calon Lord bangsa kami! Dan karena termakan api cemburu Freya malah pergi meninggalkan Tuannya, dan kau Al..." terdiam sejenak Alvin menatap sang adik yang ototnya lebih besar dari dirinya.


"Jangan terus menggunakan ototmu! Gunakan juga otakmu!" cetus Alvin.


Tercengang keduanya, ya Lovie terkejut dengan pengakuan Alvin, sedang Alan terdiam dengan kata-kata tohokan dari sang kakak tentang otot dan otaknya yang tidak seimbang.


"Jangan diam saja! Bantu aku untuk masuk kedalam rumah besar ini!" cetus Alvin.


Tanpa undangan dari si pemilik rumah bangsa Vampir tidka bisa seenaknya keluar masuk hunian yang berpenghuni itu.


^^^Di dalam ruangan lantai tiga... ^^^


Rosalie dengan menggunakan mantranya membawa sang ibu untuk duduk di pesanggrahannya.


"Mommy tunggu di sini, Rosa akan segera kembali membawa pemuda tampan itu, kita akan berpesta di sini!" cetusnya sebelum ia pergi dari ruangan gelap itu.


Berjalan dengan penuh semangat, Rosalie kini menghampiri Almero, gadis itu masih memasang senyum polosnya, ia tak tau apa yang ada di hadapannya saat ini bukanlah pemuda polos yang hanya tergila-gila padanya.


"Mer..." bisik Rosalie tepat di samping telinga Almero, sengaja Rosalie menggoda teman satu kampusnya itu agar ia mudah mengendalikannya.


Terbuka perlahan kedua mata yang kini berwarna merah nyala, "Mer..." lagi Rosalie berbisik dengan sedikit meniup cuping telinga Almero.


"Kau menggoda ku?!" suara maskulin itu terdengar sangat bergairah, seolah di atas awan, Rosalie merasa dirinya berhasil menggoda, si tampan Almero.


Brugh!!


Dengan gerakkan cepat, Almero membalikkan posisi, kini posisi Rosalie ada dibawah kungkungan Almero.


"Pelan sedikit Mer," masih berpura-pura polos Rosalie berucap.


"Kenapa kita tidak ke kamar saja, mungkin di sana lebih nyaman," ucap Rosalie, sambil membelai dada bidang yang ada di hadapannya.


"Jika di sana kau tidak akan ditemukan!" kilatan mata merah itu membuat Rosalie tersadar.


"Mer, mata lo merah? Sejak kapan pake soflent!" tanya Rosalie.


"Ini mata asli gue, dan..." belum sempat melanjutkan ucapan...


Dubrak!!!


Terdengar suara hantaman keras dari luar. Terdiam sejenak Rosalie, ia pun menoleh kearah pintu, dan saat kembali ia menatap Almero...


"Yak!! Kenapa lo punya taring sepanjang itu?" terkejut Rosalie, ia berteriak sekencang mungkin. Tak lupa tubuhnya terus berontak, berusaha terlepas dari kungkungan Almero.


"Kenapa memangnya? Kau berhak mengetahuinya, bahkan kau berhak merasakannya," masih halus nada yang Almero gunakan, namun tersirat bumbu-bumbu psychopath didalamnya.


Kedua lengan Rosali dengan paksa Almero cekal dan tahan di atas kepala, dengan sebelah tangannya.


Sedang tangan yang lain menyibak rambut yang menutupi leher mulus gadis itu, Almero menghirup aroma kulit leher gadis itu dan...


"Aroma mu tidak selezat Freya! Tapi kau telah mencuri yang bukan milikmu! Bahkan lebih parahnya lagi, itu benda keramat milikku!" cetus Almero.


"Maksud lo apa?! Mer! Gue nggak ngerti! Lepasin gue!" Rosalie terus memberontak.


Namun Almero dengan cepat menusukkan kedua taringnya pada permukaan kulit halus itu dan...


"Aaaaaa!!!" suara melengking itu memenuhu ruangan, bahkan terdengar sampai keluar.


Alan, Alvin, dan Lovie terkejut, yang awalnya mereka ingin menerobos masuk menjadi urung, "Teriakan siapa itu? Seperti suara wanita," cetus Lovie.


Alvin dengan kemampuan pandangannya segera menerawang masuk kedalam bangunan meeah itu.


Sedang di atas, tepatnya di lantai tiga bangunan itu seseorang yang tengah menunggu kehadiran Lovie bersama dengan hadiahnya mendadak bergetar hebat.


"Lovie?" gumamanya saat mendengar suara teriakan itu, terbang wanita tua itu keluar dari persembunyiannya, melesat menuju lantai dimana sumber suara itu.


Terlihat di sana anak gadisnya terkapar tak berdaya, sedang pemuda yang tengah mengungkungnya terlihat puas dan menyeka ujung bibir yang terlihat merah.


"Kau! Siapa kau?!" teriaknya dengan menunjuk kearah pemuda bermata merah darah.


Merasa ditanya, Almero dengan santai menoleh, "Heh keluar juga akhirnya," batin Almero.


"Aku adalah..."


Brak!!...


"