My Majesty

My Majesty
Menyatu



Mengangguk santai Lovie kala Alvin menyebutkan nama sang ayah, ya jika memang benar kenyataannya begitu, kenapa Lovie harus malu, toh dia mempunyai kakak yang hebat juga keluarga yang kompak, memangnya selain perpecah belahan kekeluargaan apa lagi yang mampu membuat takut?


Bagi Lovie, selama keluarganya masih menyatu ia tak takut pada siapapun.


"Jadi kau tau, masalah di klan kami?" tanya Alvin yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alan.


"Vin!" cetusnya dengan mata elang yang menajam. Dengan santainya Alvin malah mengangguk, "Diamlah dulu, kita lihat, seberapa jauh dia mengetahui masalah keluarga kita, yang bahkan kita tidak tau jelas," Alvin mengirim signal telepatinya kepada sang adik.


Interogasi santai Alvin lakukan, vampir tampan dan rupawan, juga jangan lupa ia terlampau ramah ketimbang sang adik, semuanya membuat Lovie nyaman.


Bahkan gadis dari klan Serigala itu mengatakan semua yang ia tau, "Tapi Kak! Berjanjilah, jangan kau bocorkan semua yang aku katakan! Aku mau menukar informasi ini dengan makanan," cetus gadis bertelinga runcing itu.


Alvin mengangguk pelan, "Santai saja, jadi kau tau siapa yang memberikan racun kepada wanita yang baru saja melahirkan bayi itu?" tanya Alvin setelah ia mencerna semua cerita yang Lovie utarakan.


"He'em, jelas tau, karena di dalam hutan wilayah kami juga tanaman beracun itu dipetik, oleh keluarganya sendiri, tapi sebenarnya tangannya hanya di pinjam oleh pimpinan kalian yang sekarang," cetus gadis itu.


"Sudah jelas, Zaros yang sejak awal mengincar kedudukan Lord Athan Arrow," gumam Alan dengan kedua tangan yang mengepal erat.


Sedang Alvin masih berusaha menenangkan emosinya, sungguh ia ingin sekali menyerang Zaros dan keluarganya saat ini juga.


"Kak! Kapan kita berburu?" suara Lovie memecahkan kebungkaman dua vampir bersaudara itu.


Mengerucut imut bibir mungil berwarna merah itu, "Perutku sudah lapar," celetuknya.


"Baiklah, kita cari makan dulu, setelahnya kita akan lanjut mencari Freya!" kali ini Alan yang berucap dan mengambil keputusan, entah apa yang membuat si dingin itu berubah pikiran tapi itu bagus karena Alvin dan Lovie memang sudah menahan lapar sejak tadi.


^^^Malam hari di dalam kamar Benjamin Almero...^^^


Pemuda tampan itu duduk bersila, meditasi yang ia lakukan sejak sore tadi belum juga usai ia lakukan.


Sedang Freya dengan setia menunggu di sampingnya, tak mau gadis itu jika sampai si Tuan tampannya ini diganggu oleh pihak lain.


^^^Didalam alam bawah sadar...^^^


Ruangan gelap, kosong nan hampa, tak ada satupun makhluk di sana, Almero terus menyapukan pandangan ke sekeliling, "Kau mencari ku?" suara yang terdengar elegan itu membuat Almero menoleh kebelakang.


Sedikit terlonjak kaget Almero kala melihat dirinya menjadi dua, padahal ini bukan pertama kalinya mereka bertemu.


"Kau!"


"Akulah dirimu yang sesungguhnya!"


Seperti berbicara dengan cermin, Almero merasa ia tengah berbicara sendirian.


"Apa kau siap untuk kita menyatu?" tanyanya dengan mata yang memerah.


"Tapi..."


Sring!!!


Sebuah cahaya melintas di hadapan Almero, dan pecah buyar, seolah membentur dinding, tapi setelahnya, cahaya itu memenuhi dinding, bak layar tancap dinding itu memperlihatkan gambar di sana.


Terlihat seorang laki-laki dengan busana kerajaan tengah menimang bayi kecil, Almero melihat dirinya yang lain membungkuk memberi hormat kepada laki-laki yang berada didalam layar cahaya itu.


Mau tak mau Almero mengikuti gerakannya, hanya saja ia bingung, kenapa harus begitu hormat?


Bukankah ini hanya seperti layar tancap yang sering ada dipertunjukkan?


"Bangunlah nak!" suara itu membuat Almero semakin tercengang. Berdiri tegak ia seraya bertanya...


"Kau bisa bicara?" tanyanya spontan.


"Kau bicara kepada ku?" dan lagi ia bertanya, mahasiswa berdarah vampir itu masih terheran dengan situasinya saat ini.


Menepuk keningnya laki-laki dibalik cahaya di dinding itu, "Setolol itu kah keturunan ku?" gumamnya.


"Benjamin Almero!" suara panggilan itu menggema memenuhi ruangan yang begitu hampa.


"Ya saya?"


Sahut kedua belah jiwa itu bersamaan, setelahnya Almero menoleh kearah jiwa yang menyerupai dirinya, yang kata Freya itu adalah bagian dari dirinya.


"Jangan melihat dirimu sendiri dengan tatapan seperti itu!" tegur laki-laki dengan pakaian bangsawan itu.


"Oh iya, gue lupa kalo nama kita sama," batinnya dengan masih melirik menggunakan ekor matanya.


"Berilah hormat kepada Ayahanda! Beliau yang selalu menjaga kita, bahkan racun apapun tak mampu melukai raga indah nan sempurna mu itu, semua berkat Ayahanda," cetus Benjamin Almero dengan sekilas menatap dirinya yang masih sebagai mahasiswa atau pemuda polos yang tak tau apa-apa.


"Ayah?" gumamnya, dan laki-laki itu tersenyum lembut, terlihat bengis dan tajam tatapannya, namun sangat hangat kala senyum tulus terulas di sana.


"Anda, Ayah saya?" sedikit ragu, namun memang benar wajahnya sangat mirip dengan dirinya bahkan bayi yang di gendongnya terlihat mirip dengan Almero kecil.


"Ya, dan menyatulah dengan jiwa asli mu!" pesan itu membuat Almero kembali menatap jiwa nya yang masih berdiri di sampingnya.


Dan ketika ia hendak berucap, gambaran didalam cahaya itu telah lenyap, hilang tak ada bekas.


"Loh? Loh? Kok hilang?" bingungnya.


"Ayahanda memang tidak bisa lama-lama menampakkan wujudnya," cetusnya.


"Lalu, bagaimana kita bisa menyatu?" tanya Almero.


"Kemarilah!" membentangkan kedua lengannya jiwa vampir Almero, sedang Almero polos masih bingung dengan keadaannya.


"Ayolah, aku bukan tipe yang sangat penyabar!" ketusnya lagi masih dengan kedua tangan yang bersiap menerima pelukan.


"Kau bukan suka dengan sesama jenis, kan?" tanya Almero polos dengan kepolosannya, bahkan wajah tak berdosa itu membuat Almero mode vampir sedikit gemas.


"Astaga! Kau mengatai ku seperti itu, sama saja dengan kau mengatai dirimu sendiri! Bodoh!" cetusnya.


"Tunggu! Jika aku bodoh, berati kau juga?" polos Almero dengan menunjuk hidungnya kemudian menunjuk hidung Almero mode vampir.


"Hastahgah!!! Iya, iya, iya, iya! cepatlah kemari!" lagi pintanya dengan sedikit memaksa.


Terpaksa Almero menurut, akhirnya keduanya berpelukan, dalam keadaan itu terasa ringan tubuh Benjamin Almero, pemuda tampan itu seolah terbang bagai kapas tertiup angin, dan...


Slap!!


Cahaya yang menyilaukan membuat Almero tak sadarkan diri, hingga membuat Freya panik bukan kepalang.


"Tuan?" panggil gadis itu kala ia menyaksikan sang Tuan tiba-tiba ambruk pingsan.


"Bangun Tuan! Anda tidak apa-apa, kan?" tanya Freya dengan sedikit menggoncang tubuh Almero.


Karena tak sedikitpun memberi respon, Freya terpaksa mencoba cara terakhir, ia mencoba untuk memberikan napas buatan.


Baru saja gadis itu menundukkan wajahnya, tiba-tiba sepasang mata merah darah itu terbuka.


Dengan jarak pandang yang hanya berkisar enam sampai sepuluh sentimeter itu keduanya saling pandang satu sama lain.


"Kalau mau cium, jangan main curi! Kemarilah!" cetusnya yang dengan segera menarik tengkuk Freya dan menyatu lah kedua benda kenyal yang begitu lembab dan manis itu.


"Tuan?" panggil Freya dengan mendorong dada Almero, bukan ia tak mau menerima perlakuan manis sang Tuan, tapi jujur Freya sangat mengkhawatirkan raga polos yang biasa digodanya.


"Iya sayang? Ada apa hem?" tanyanya dengan menyelipkan anak rambut Freya yang menutupi sebagian wajah cantik itu.


"Dimana Benjamin Almero yang pendiam?" tanya Freya tanpa takut apapun.


"Kau menyukainya? Bukankah raga ini tetap sama?" imbuhnya bertanya.


"Ya sama, tapi beda sifat," celetuk Freya.


"Dimana dia?" sekali lagi Freya bertanya.


"Kamu sudah menyatu...